Apresiasi Euro Kembali Terhempas, Minyak Turun Gugah Selera Pasar Ke Saham

255484_531207980230119_1051934421_nTelah dilaporkan bahwa kondisi pergerakan nilai apresiasi mata uang Uni Eropa, yaitu mata uang Euro, tengah kembali terkoreksi pada sesi perdagangan pasar hari Rabu (30/ 09/ 2015) kemarin. Bahkan di awal sesi perdagangan pasar hari Kamis ini, gerak nilai apresiasi mata uang Euro masih tertekan. Zona Eropa yang kembali mengalami kondisi deflasi, telah membuat nilai apresiasi mata uang Euro semakin terpuruk. Ekspektasi European Central Bank (ECB) akan menambah stimulus moneter semakin meningkat setelah rilis laporan tersebut.

Zona Eropa kembali mengalami deflasi untuk pertama kalinya sejak ECB merilis program pembelian aset pada bulan Maret lalu. Sebelumnya nilai apresiasi mata uang Euro telah tertekan oleh rilis data penjualan ritel Jerman yang secara mengejutkan turun 0,4% di bulan Agustus, dari bulan Juli yang naik 1,6%.

Eurostat melaporkan bahwa nilai Consumer Price Indeks di zona Eropa di bulan September untuk year-on-year telah dirilis dengan hasil -0,1%. Nilai Consumer Price Indeks zona eropa mengalami deflasi, sebagian besar akibat rendahnya harga energi. Para pelaku pasar sebelumnya telah memperkirakan bahwa nilai Consumer Price Indeks zona Eropa masih akan stagnan 0%. Inflasi di blok 19 negara tersebut berada di bawah 0,5% sejak bulan Juli 2014. Indeks harga konsumen inti, yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan tetap sebesar 0,9% di bulan September.

Yang terjadi justru lain atas nilai apresiasi mata uang Inggris, Poundsterling, pada sesi perdagangan pasar hari Rabu kemarin. Nilai apresiasi mata uang Inggris, Pounsterling, bergerak positif, melonjak setelah pemerintah Inggris melaporkan penyempitan deficit neraca berjalan di kuartal ke-dua, yang ternyata hasilnya jauh lebih baik dari perkiraan sebelumnya.

Kondisi positif lain yang terjadi di Inggris adalah, nilai standar kehidupan rakyat Inggris diperhitungkan naik dengan laju tahunan yang paling cepat dalam 5-tahun. Data hari ini membantu Poundsterling untuk mencoba menghapuskan penurunan selama 9-sesi beruntun sebelum data kondisi sektor manufaktur Inggris dirilis besok.

Kondisi defisit neraca berjalan Inggris telah dilaporkan turun menjadi 16,8 miliar Poundsterling di kuartal ke-dua tahun ini dari data periode sebelumnya yang direvisi naik menjadi defisit 24,0 miliar Poundsterling di kuartal pertama. Data ini juga dilaporkan lebih tinggi dari perkiraan para pelaku pasar sebelumnya. Para pelaku pasar meperkirakan bahwa angka defisit akan mencapai 22,3 miliar Poundsterling.

Pemerintah Inggris juga pada saat yang sama merilis laporan mengenai pemasukan warga yang siap dibelanjakan atau household disposable income menjadi 3,7%. Angka ini tercatat lebih tinggi jika dibandingkan pada laporan setahun sebelumnya. Angka household disposable income sebesar 3,7% ini merupakan angka kenaikan terbesar sejak kuartal pertama tahun 2010. Perekonomian Inggris naik 0,7% di kuartal kedua tahun ini, tidak berubah dari estimasi pasar sebelumnya yang dirilis di akhir Agustus.

Secara keseluruhan, data-data yang dirilis pada sesi perdagangan pasar hari Rabu tersebut, telah menunjukkan bahwa gerak laju pertumbuhan perekonomian di negara Inggris lebih kuat di pertengahan tahun. Kuatnya sinyal pemulihan ekonomi Inggris ini mendukung pernyataan gubernur bank sentral, Mark Carney, yang telah mengatakan bahwa waktu kenaikan suku bunga dari rekor terendah semakin dekat.

Pada sesi perdagangan pasar Asia hari Kamis (01/ 10/ 2015) ini, dilaporkan dari bursa Korea Selatan bahwa, Indeks Kospi telah bergerak mengikuti optimisme pasar saham global. Dengan data mengenai surplus perdagangan untuk bulan September yang telah dirilis dengan lebih tinggi dari perkiraan pasar dan dari data di periode sebelumnya, telah menambahkan sentimen positif untuk indeks Kospi.

Bersamaan dengan pembukaan aktivitas indeks, biro statistik nasional melaporkan surplus perdagangan Korea Selatan naik menjadi $8,9 miliar di bulan September, jauh lebih tinggi dari surplus $4,27 miliar di bulan sebelumnya. Surplus bulan September ini merupakan rekor tertinggi kedua seiring penurunan besar impor dan melambatnya penurunan ekspor. Detail data menunjukan, di bulan September Korea Selatan mencatatkan penurunan tajam impor sebesar -21,8% dari -18,3% di bulan sebelumnya. Sementara tingkat ekspor hanya -8,3%, tidak sebanyak sebesar -14,9% yang terjadi di bulan sebelumnya.

Kembalinya gerak nilai harga minyak ke atas level $45 US/ barel juga turut membantu dalam memulihkan kembali selera dari para pelaku pasar untuk mencoba bertransaksi kembali ke aset-aset yang lebih berisiko seperti halnya saham. Untuk data korporat, saham-saham blue-chips telah sempat diperdagangkan secara mixed pada sesi perdagangan pasar hari Kamis ini. Nilai saham Samsung Electronics tercatat bergerak melemah turun sekitar 0,26%. Untuk gerak nilai saham Hyundai Motor dilaporkan sempat bergerak positif naik sekitar 1,2%.

Telah dilaporkan mengenai pergerakan nilai harga dari komoditas emas hitam, atau minyak bahwa, gerak tren penurunan nilai harga minyak semakin kronis dari waktu ke waktu. Untuk kuartal III saja, kontrak minyak mentah mengalami gerak pelemahannilai harga sampai 24%.

Kepastian itu didapat setelah harga kembali anjlok di hari Rabu (30/ 09/ 2015) kemarin akibat terpengaruh oleh laporan suplai minyak Amerika Serikat. Persediaan minyak Amerika meningkat untuk pertama kalinya dalam 3 pekan terakhir sehingga membuat para pelaku pasar semakin alergi untuk membeli komoditi ini. Para pelaku pasar cenderung untuk kembali bertransaksi pada aset-aset yang lebih berisiko seperti halnya saham. Untungnya, dalam laporan suplai juga ada indikasi penurunan hasil produksi domestik, sehingga koreksi lebih dalam jadi urung terjadi.

Di New York Mercantile Exchange, dilaporkan bahwa gerak nilai harga minyak telah diperdagangkan pada posisi antara $45.85 US dan $44.68 US (data FactSet). Kontrak minyak melemah 8,4%/ bulan, 24% selama kuartal kuartal III dan lebih dari 15% sepanjang 2015. Kontrak minyak WTI terpantau bergerak stabil di $45.58 US setelah beberapa jam sebelumnya sempat merapat ke $45.09 US/ barel. Mengenai gerak nilai harga minyak Brent, dilaporkan telah tercatat di posisi $48.37 US/ barel di London ICE Futures exchange. Sepanjang 2015, harganya minyak Brent sudah mengalami koreksi lebih dari 15%.

About author

You might also like

Berita 0 Comments

Dollar Berpotensi Bullish Lebih Lanjut Jelang FOMC

Dollar AS bergerak stabil di sesi Asia pada hari Rabu hanya beberapa jam menjelang pertemuan Federal Reserve yang diperkirakan akan mengambil langkah besar menuju menaikan suku bunga untuk pertama kalinya

Forex News 0 Comments

Aussie Coba Naik di Tengah Suasana Libur

Kurs Aussie (AUDUSD) nampak tidak banyak bergerak di perdagangan hari Jumat (25/4) akibat sepinya perdagangan berkenaan hari libur nasional Anzac Day. Anzac Day merupakan hari libur nasional guna memperingati aksi

Forex News 0 Comments

Aussie Cemaskan Outlook Perekonomian Cina

Aussie melemah setelah data manufaktur Cina membuat investor khawatir dengan outlook perekonomian terbesar No.2 di dunia tersebut. Indeks manufaktur Cina (versi HSBC) mencapai level 48.3 untuk bulan Februari; lebih rendah

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image