Apresiasi Mata Uang USD Masih Dominasi Pasar, Minyak Masih Tertekan

10689965_1470617203215320_3191280695750340552_nNilai apresiasi mata uang USD dilaporkan telah sedikit menguat terhadap mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen pada awal sesi perdagangan perdagangan pasar hari Selasa (08/ 09/ 2015) ini. Hal tersebut terjadi, seiring dengan adanya gerak penguatan pada sesi perdagangan pasar sebelumnya di dalam pasar ekuitas di Tokyo dan di Eropa. Hal tersebut telah meredam permintaan untuk mata uang Jepang yang dianggap oleh kalangan para pelaku pasar merupakan aset safe haven.

Pada awal sesi perdagangan pasar Asia hari ini, gerak nilai apresiasi mata uang USD/ JPY tampak berjalan lesu. Hal tersebut terjadi karena sesi perdagangan pasar Amerika yang ditutup pada hari Senin kemarin. Seperti yang telah diketahui bahwa, sesi perdagangan pasar Amerika di hari Senin kemarin libur, dengan gerak nilai apresiasi mata uang USD/ JPY bergerak naik sekitar 0.1% di kisaran level 119.35, menjauh dari level terendah kemarin di 118.66.

Seorang analis pasar di salah satu sekuritas di kota Tokyo, Jepang, berasumsi bahwa dengan kondisi pasar Amerika yang ditutup karena libur pada hari Senin kemarin, potensi resiko pasar yang berasal dari China masih menjadi penggerak utama dalam gerak perdagangan pasar mata uang. Gerak nilai saham di bursa saham Shanghai akan menjadi fokus perhatian utama para pelaku pasar dan terutama bagaiman dampak sentimen para pelaku pasar global atas laporan rilis data perdagangan wilayah China.

Dilaporkan bahwa gerak nilai saham Asia diperdagangkan mixed pada awal sesi perdagangan pasar hari Selasa ini. Hal tersebut terjadi seiring para pelaku pasar global menunggu rilis data terbaru dari perkembangan perekonomian Negara dengan kondisi ekonomi terbesar ke-2 di dunia. Negara China dijadwalkan akan merilis data perdagangan bulan Agustus pada hari Selasa ini. Para pelaku pasar global dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan bahwa nilai ekspor telah menyusut dengan kecepatan tahunan 6% setelah anjlok 8,3% di bulan sebelumnya. Impor bulan lalu juga diprediksi merosot 8,2% menyusul penurunan 8,1% di bulan Juli.

Para pelaku pasar juga tegah mencerna hasil serangkaian rilis laporan data China yang dirilis setelah penutupan sesi perdagangan pasar hari Senin kemarin. Cadangan devisa China dilaporkan turun $93,9 milyar US pada bulan Agustus menjadi $3,557 trilyun US. Penurunan nilai devisa tersebut adalah merupakan rekor penurunan bulanan terbesar. Hal itu juga mencerminkan bahwa telah ada upaya intervensi pasar yang dilakukan oleh pihak terkait Beijing dalam menghentikan gerak pelemahan nilai apresiasi mata uang Yuan dan menstabilkan kondisi pasar keuangan.

Dilaporkan bahwa nilai indeks saham Shanghai Composite China telah dibuka dengan kondisi turun sekitar 0,93% sebelum kemudian memangkas pelemahan untuk kembali ke level pembukaan. Di Hong Kong, gerak nilai harga indeks Hang Seng 33 terpantau masih bertengger di zona hijau dengan mencatatkan nilai gain 0,25%.

Sempat dibuka positif, indeks saham negara Jepang, indeks Nikkei 225, harus berbalik turun sekitar 0,6%. Hal tersebut terjadi setelah adanya rilis data GDP kuartal ke-2. Angka pertumbuhan ekonomi Jepang direvisi menjadi minus 1,2%, lebih baik dibandingkan estimasi awal para pelaku pasar sebelumnya, yang menunjukkan kontraksi 1,6%.
Laju pertumbuhan ekonomi di Jepang dilaporkan menyusut lebih kecil dari perkiraan di kuartal kedua meskipun belanja modal turun lebih banyak dari perkiraan awal, ditunjukkan dalam data yang direvisi, kondisi tersebut masih berikan tekanan kepada para pembuat kebijakan untuk berbuat lebih banyak dalam memulihkan energi pada ekonomi yang masih rapuh.

Para pelaku pasar memperkirakan bahwa, setiap gerak rebound di dalam periode pertumbuhan Juli - September akan berjalan lemah karena output pabrik yang secara tak terduga turun di bulan Juli serta perlambatan di dalam ekonomi China telah meredam prospek untuk pemulihan ekspor yang solid. Laju pertumbuhan ekonomi negara dengan tingkat ekonomi terbesar ketiga di dunia tersebut menyusut sebesar 1.2% di periode bulan April-Juni, hasil tersebut sedikit di bawah pembacaan sebelumnya yang turun sebesar 1.6%, data ditunjukkan oleh Cabinet Office pada hari Selasa. Estimasi median dari perkiraan analis menyerukan untuk kontraksi sebesar 1.8%.

Jumlah belanja modal turun sebesar 0.9% dari kuartal sebelumnya, angka tersebut lebih besar dari pembacaan sebelumnya untuk penurunan 0.1%, hasil tersebut kembali membayangi prospek untuk negara dengan tingkat ekonomi terbesar di dunia. Namun pelemahan di belanja modal diimbangi oleh kenaikan dalam invesntori, yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Inventori menambahkan sebesar 0.3% untuk pertumbuhan, lebih besar dari pembacaan sebelumnya yang hanya naik 0.1%, angka ditunjukkan dalam data hari ini.

Indeks KOSPI Korea Selatan juga harus memupus penguatan di awal perdagangan untuk kemudian melemah sekitar 0,2%, di tengah membaiknya kinerja saham-saham industry otomotif. Produsen mobil seperti Hyundai Motor dan Kia Motors terapresiasi masing-masing sekitar 1,3% dan 0,4%. Hal tersebut ditopang harapan bahwa pelemahan gerak nilai apresiasi mata uang Korea Selatan, Won, akan membantu mendongkrak angka penjualan.

Telah dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Euro dilaporkan bergerak stabil di kisaran level $1.1165. Gerak nilai apresiasi mata uang Uni Eropa, Euro, dilaporkan telah bergerak dengan stabil dalam kisaran sempit di periode dua hari terakhir. Gerak nilai apresiasi mata uang Euro telah bergerak di antara rentangan level $1.1122 - 1.1177.

Bagaimanapun juga, gerak penguatan nilai apresiasi mata uang USD masih terlihat tentatif terhadap mata uang Jepang, Yen. Hal tersebut dikarenakan gerak nilai apresiasi mata uang USD terlihat pergerakannya tergantung pada bagaimana pasar aset beresiko bereaksi terhadap rilis data perdagangan di wilayah China, dan bursa saham Shanghai pada sesi perdagangan pasar hari Selalsa ini.

Mata uang dollar Kanada, atau lazim oleh para pelaku pasar disebut dengan istilah Loonie, dilaporkan pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa (08/ 09/ 2015) ini, kembali tertekan nilai apresiasinya. Nilai apresiasi Loonie tertekan lemah dan mendekati level terendah dalam kurun waktu 11 tahun terhadap Greenback, atau mata uang USD. Nilai apresiasi mata uang USD/ CAD dilaporkan pada penutupan sesi perdagangan pasar hari Senin telah berakhir di kisaran level 1.3306, dengan level terendah harian 1.3244 dan tertinggi 1.3309. Hal tersebut terjadi, karena akibat dari berlanjutnya gerak penurunan nilai harga minyak mentah.

Gerak nilai harga minyak mentah melemah lebih dari 3% pada sesi perdagangan pasar di hari Senin (07/ 09/ 2015) kemarin, terpukul oleh gerak pelemahan yang terjadi atas nilai bursa saham China. Selain itu yang juga memicu tekanan atas gerak nilai harga minyak mentah adalah, karena produksi di North Sea yang telah menyentuh rekor tertinggi.

Minyak mentah merupakan komoditas ekspor utama daari negara Kanada. Maka oleh karena itulah, sehingga pergerakan Loonie sangat terkait sekali dengan gerak nilai harga di perdagangan pasar komoditas tersebut. Ketika gerak nilai harga minyak melemah, bahkan hingga ke bawah $40 US/ barel untuk pertama kalinya sejak 2009 pada bulan Agustus lalu, nilai apresiasi mata uang Loonie juga turut bergerak negatif, meluncur merosot ke level terendah dalam kurun waktu 11 tahun. Sejak bulan Juni 2014 lalu, gerak nilai harga minyak mentah telah bergerak melemah, bergerak merosot sampai sekitar 60%.

Di dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir ini, gerak nilai harga minyak mentah telah bergerak dengan kondisi volatilitas pasar yang tinggi. Hal tersebut terjadi adalah karena akibat dari adanya kecemasan dari para pelaku pasar global akan pelambatan gerak laju pertumbuhan ekonomi di negara China.

Pihak berwenang dari Bank of Canada (BoC) akan mengadakan rapat moneter pada hari Rabu besok. Pihak berwenang di BoC diperkirakan oleh para pelaku pasar, akan memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga di kisaran 0,50%. Hal tersebut dipertahankan, karena dipertimbankan dengan adanya kondisi menjelang pemilu di Kanada pada pertengahan bulan Oktober mendatang. Meski demikian bank Credit Agricole memperkirakan bahwa, pihak berwenang dari BoC akan menurunkan suku bunga pada rapat moneter bulan Oktober mendatang, oleh karena akibat dari rendahnya harga minyak dan data-data ekonomi domestik yang masih lemah.

About author

You might also like

Fundamental 0 Comments

Sterling Terkoreksi Akibat Inflasi, Pasar Fokus Ke Amerika

Laju inflasi CPI negara Inggris tengah mengalami penurunan 2.4% di tahun ini dibawah estimasi sebelumnya yaitu 2.6%, dan lebih rendah dibanding sebelumnya 2.8%. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya harga minyak

Forex News 0 Comments

Nantikan Laporan Inflasi Kuartalan, Sterling Melemah

Pasca menguat di awal pekan kemarin, pound sterling kini berbalik melemah terhadap dollar di awal perdagangan sesi Asia. Fokus hari ini tertuju pada laporan inflasi dari Bank of England di

Komoditas 0 Comments

Greenback Bergerak Rebound, Minyak Melemah Tipis

Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang USD naik ke level tertinggi dalam kurun waktu sebulan. Hal tersebut terjadi, setelah data menunjukkan penjualan ritel bulan April telah mengalami kenaikan terbesar

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image