Apresiasi USD Didongkrak Lockhart, Puerto Rico Temani Yunani

analisa forex mata uang Dollar ASSetelah turun tajam selama tiga hari, imbal hasil Treasury Amerika semalam nilai apresiasi mata uang USD bergerak positif. Nilai apresiasi mata uang USD bergerak melonjak karena komentar Dennis Lockhart. Indeks USD pada pagi ini bergerak di kisaran level puncak dua pekan terakhir, yaitu pada kisaran 98.15.

Mata uang Uni Eropa, Euro, untuk pertama kalinya di sesi perdagangan pasar Asia di pekan ini bergerak melemah cukup signifikan nilai apresiasinya terhadap mata uang USD pada hari Rabu (05/ 08/ 2015) ini. Dalam sesi perdagangan pasar pada dua hari sebelumnya di sesi Asia, nilai apresiasi mata uang Euro cenderung bergerak flat dalam rentang yang sempit. Dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang EUR/ USD telah diperdagangkan di kisaran level harga 1.0863. Gerak nilai apresiasi mata uang EUR/ USD dilaporkan sempat menyentuh level terendah harian di 1.0848, dengan level tertinggi harian 1.0893.

Mata uang gabungan dai 19 negara zona Eropa ini akhirnya bergerak melemah, setelah pejabat Federal Reserve Amerika memberikan indikasi bahwa suku bunga akan naik di bulan September. Mata uang USD menjadi semakin berjaya menyusul pernyataan yang dilontarkan oleh Presiden Federal Reserve cabang Atlanta, Dennis Lockhart, yang juga merupakan anggota voting kebijakan moneter tersebut.

Dennis Lockhart mengatakan bahwa hanya kemerosotan signifikan dalam perekonomian Amerika yang dapat menunda kenaikan suku bunga di bulan September. Seperti diketahui saat ini bahwa kondisi perkembangan ekonomi Amerika di kuartal kedua terlihat solid setelah tumbuh 2,3%, dan kemungkinan akan berlanjut pada kuartal ketiga. Lockhart, yang memiliki hak voting tahun ini untuk keputusan Federal Open Market Committee, mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa The Fed semakin dekat untuk naikan suku bunga dan diperlukan data ekonomi yang buruk untuk tidak mengambil tindakan di bulan September.

Kepala analis di Americas G10 FX Strategy di New York mengatakan bahwa Lockhart tidak memiliki jadwal untuk berpidato sampai hari Senin (10 Agustus), jadi komentar dia yang hawkish, dan waktu dari wawancara tersebut cukup mengejutkan.

Pejabat The Fed berwenang yang lain pun juga turut angkat bicara, memberikan pernyataan yang berujung efek positif atas nilai apresiasi mata iuang USD terhadap major currencies. Pada hari Jumat minggu lalu, telah disampaikan bahwa Presiden Federal Reserve cabang St. Louis, James Bullard, mengatakan apabila data-data ekonomi Amerika belakangan ini dapat memperbesar kemungkinan peluang kenaikan suku bunga di bulan September mendatang.

Faktor pasar tenaga kerja Amerika juga turut menjadi acuan kenaikan suku bunga, dan pada hari ini akan dilaporkan penambahan tenaga kerja swasta bulan Juli oleh Automatic Data Processing. Sebanyak 216.000 tenaga kerja diperkirakan bakal direkrut pada bulan Juli, dibandingkan dengan bulan Juni yang sebanyak 237.000. Sementara rilis data dari Pemerintah Amerika akan dirilis pada hari Jumat mendatang.

Mata uang Negara Australia, Aussie, nilai apresiasinya turut bergerak negative, melemah pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Rabu (05/ 08/ 2015) ini, setelah menguat tajam pada sesi perdagangan pasar hari Selasa kemarin. Keputusan Reserve Bank of Australia (RBA) untuk menahan suku bunga 2,00% membuat mata uang Aussie bergerak melesat.

Sentimen positif lainnya juga datang dari Biro Statistik Australia melaporkan penjualan ritel bulan Juni naik 0,7% dari bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut lebih tinggi dari ekspektasi ekonomi sebesar 0,5%. Dilaporkan bahwa, nilai apresiasi mata uang AUD/ USD telah sempat diperdagangkan pada kisaran 0.7363, dengan level tertinggi harian pada level 0.7383 dan level terendah pada 0.7354.

Mata uang Jepang, Yen, ternyata juga turut mengalami hal yang sama. Dilaporkan bahwa nilai apresiasinya juga turut tertekan oleh gerak nilai apresiasi mata uang USD. Mata uang USD pada sesi perdagangan pasar Asia pagi ini dilaporkan telah bergerak di kisaran 124.40 yen setelah sempat menjauh dari level rendah semalam di 123.80.

Melirik ke belahan benua Amerika, di kawasan Amerika Latin. Dilaporkan bahwa negara Puerto Rico telah resmi dinyatakan bangkrut pada hari Senin kemarin, dan pemerintahnya masih belum mempunyai solusi untuk mengatasi masalah keuangan dan krisis ekonomi. Namun ada kelompok yang berani menawarkan jalan keluar, yaitu menutup sekolah-sekolah supaya pengeluaran bisa dihemat.

Sebuah grup yang terdiri dari 34 lembaga keuangan (dipimpin oleh Fir Tree Partner) merekomendasikan agar pemerintah menutup beberapa sekolah, mengurangi subsidi pendidikan dan mem-PHK guru dan pengajar. Dengan begitu maka Puerto Rico bisa menghemat pengeluaran dan memakai uangnya untuk membayar hutang.

Meski terdengar kejam, saran tersebut cukup realistis. Sudah jadi rahasia umum bahwa biang keladi dari kebangkrutan negara ini adalah kebiasaan boros pemerintahnya. Populasi siswa di Puerto Rico sudah turun 25% atau nyaris mencapai 200.000 orang antara tahun 2004 dan 2013. Namun biaya belanja pemerintah untuk sekolah-sekolah justru meroket 39% atau setara $1,4 miliar dalam periode tadi. Jumlah warga yang meninggalkan kepulauan ini juga berkurang 212.000 selama tahun-tahun tersebut, namun belanja pemerintah untuk keperluan masyarakat juga melonjak 29%. Artinya, negara Puerto Rico mengalami krisis akibat miskalkulasi anggaran yang sudah kronis selama bertahun-tahun.

Seperti diberitakan kemarin, Puerto Rico resmi dinobatkan sebagai ‘Yunani-nya benua Amerika’ karena negara ini terbelit masalah hutang yang sama dengan negeri para Dewa. Bedanya, Yunani mendapat pertolongan Uni Eropa sedangkan Amerika Serikat sudah terang-terangan ‘ogah’ membantunya.

Untuk pertama kali dalam sejarah, Puerto Rico gagal membayar hutangnya yang jatuh tempo Senin waktu setempat. Negara tujuan wisata ini resmi mengalami default atau bangkrut. Pemerintahnya hanya mampu melunasi cicilan $628.000 dari total hutang yang mencapai $58 juta yang expired kemarin. Secara total, Puerto Rico memiliki tanggungan $70 miliar kepada beberapa pihak. Gubernur Alejandro Garcia Padilla menegaskan negaranya tidak bisa membayar semuanya, dan menyebut perekonomian berada dalam ‘spiral kematian’. Padilla sudah membentuk tim kerja yang akan mencari solusi masalah ini selambatnya musim panas mendatang.

Puerto Rico mengalami krisis karena pemerintahnya kelewat boros belanja selama beberapa tahun terakhir, padahal perekonomian domestik terpuruk parah. Sebagai informasi, negara ini memiliki jumlah hutang yang sama dengan pemda kota New York, tetapi populasi warganya hanya sebanyak kota Connecticut.
Pemerintah seharusnya wajib membayar tagihan $483 juta pada hari Senin. Pasar keuangan regional memang tidak akan merasakan efek dari krisis Puerto Rico namun warganya jelas menderita. Situasi perekonomian di sana sedang sakit, terlihat dari jumlah pengangguran yang sudah mencapai 12%.

Efeknya, arus eksodus warga mulai terjadi. Ribuan warga mulai migrasi ke negara lain, khususnya Amerika Serikat, untuk mencari mata pencarian. Pemerintah Amerika Serikat sendiri tidak punya rencana untuk membantu tetangganya itu. Kebangkrutan Puerto Rico kemungkinan tidak akan memicu aksi jual obligasi secara besar-besaran. Sebanyak 20% dari total surat hutang yang beredar di Amerika Serikat memang berisi instrumen hutang negara itu, namun porsinya tidak dominan.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

USD Berjaya Jelang FOMC, Spekulasi Pasar Masih Dalam Asumsi Kontra

Mata uang negeri paman Sam diperdagangkan pada level tertinggi dalam sepekan terakhir terhadap mata uang major lainnya di sesi perdagangan pasar Asia akibat pelaku pasar mengurangi posisi bearish menjelang dirilisnya

Berita 0 Comments

Pound Menguat Terhadap Euro Jelang Testimoni BOE

Pound menguat ke level tertinggi dalam tujuh tahun terhadap euro sebelum pejabat Bank of England yang termasuk Gubernur Mark Carney berikan testimoni ke anggota parlemen pada perkiraan ekonomi terbaru bank

Forex News 0 Comments

Aussie Melemah, Fokus Pertemuan RBA

Aussie melemah terhadap Greenback dengan pasar fokus pada pertemuan Reserve Bank of Australia (RBA) esok hari dan data perekonomian lokal yang mengecewakan. Pasar memprediksi bank sentral Australia akan kembali memotong

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image