Apresiasi USD Terlawan karena Kondisi Pasar Global

Apresiasi USD Terlawan karena Kondisi Pasar Global

255484_531207980230119_1051934421_nPada sesi perdagangan pasar Asia hari Selasa (21/ 10/ 2014) ini, apresiasi mata uang USD masih pertahankan gerak pelemahannya mulai dari kemarin terhadap sebagian besar major currencies. Hal ini terjadi karena melambatnya pertumbuhan ekonomi global yang turut memicu sentiment permintaan safe-haven. Indeks dollar dilaporkan telah melemah sebesar 0.8% sepanjang bulan ini di tengah pergeseran ekspektasi The Fed sebelum pertemuan para pembuat kebijakan selanjutnya pada tanggal 28-29 Oktober.

Para para pelaku pasar berspekulasi perlambatan pertumbuhan global akan menunda waktu kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. “Mata uang USD kemungkinan akan sedikit berjuang setidaknya sampai pertemuan The Fed minggu depan. Ini akan memperburuk kecemasan tentang pertumbuhan global jika kita mengambil kombinasi dari GDP yang relatif rendah dan produksi industri yang tidak menguat,” demikian menurut kepala analis mata uang di National Australia Bank Ltd., Ray Attril, di Sydney. Mata uang AUD terhentikan penguatannya dari kemarin menjelang laporan yang di perkirakan akan menunjukkan ekspansi GDP China melambat, sementara pertumbuhan produksi meningkat. Mata uang aussie terlihat kesulitan melanjutkan momentum penguatan setelah RBA kembali mengkritik nilai tukar mata uang Australia tersebut. RBA menegaskan bahwa aussie masih terlalu kuat untuk membantu rebalance ekonomi. “Nilai tukar masih tinggi, terutama dengan turunnya harga komoditas. Ini juga akan mengurangi bantuan yang diharapkan untuk membantu rebalance ekonomi,” tulis minutes pertemuan RBA pada 7 Oktober silam yang dirilis pagi ini. Dilaporkan bahwa apresiasi mata uang AUD/USD telah diperdagangkan di kisaran level harga 0.8773 setelah sempat meraih level tinggi harian 0.8795. Kondisi global ini juga mempengaruhi apresiasi mata uang Jepang, yen. Mata uang yen berbalik menguat aprsiasinya terhadap mata uang USD juga karena akibat terus adanya kekhawatiran para pelaku pasar akan pertumbuhan global. Kondisi ini membuat para pelaku pasar berhati-hati terhadap aset berisiko. Mata uang yen sebelumnya bergerak melemah apresiasinya pada perdagangan sesi Asia. Gerak lemah terjadi saat setelah surat kabar Nikkei mengatakan Government Pension Investment Fund segera akan menaikkan target kepemilikan saham dan aset asing dalam portofolionya. GPIF berencana untuk me-review kepemilikan asetnya paling lambat bulan Desember. Para pelaku pasar saat ini juga masih tetap kuat berasumsi atas kondisi perkembangan seputar ekonomi zona eropa untuk berpeluang kembali memburuk. Dilaporkan bahwa bank sentral Jerman pada hari Senin kemarin mengatakan ekonomi Jerman berisiko mengalami resesi, dan memperkirakan sedikit atau tidak mengalami pertumbuhan pada semester kedua tahun ini. Sementara itu European Central Bank atau ECB mulai membeli covered bonds, langkah terbaru untuk menghidupkan kembali ekonomi zona eropa dan menjauhkan dari deflasi. Para pelaku pasar hendaknya untuk juga memperhatikan perkembangan ekonomi di negara Yunani. Seperti yang telah dilaporkan sebelumnya bahwa negara tersebut pada minggu lalu tercatatkan imbal hasil obligasi jangka panjang negara naik diatas 7%, dan berada mendekati level 10% pada hari Jum’at minggu lalu. Kenaikan yang signifikan pada imbal hasil obligasi Yunani seharusnya akan membawa angin segar pada perdagangan komoditas, karena telah membawa spekulasi bahwa negara Yunani akan kembali mencari bailout dari Uni Eropa. Hal ini juga telah memicu Uni Eropa untuk segera mengadakan pertemuan di Berlin selama 2 hari, yang akan dimulai pada 23 Oktober 2014.

Apresiasi mata uang Inggris, Poundsterling, dilaporkan telah diperdagangkan menguat terhadap mata uang USD. Penguatan ini memperpanjang gerak penguatan apresiasi mata uang Inggris tersebut pada minggu lalu. Seperti yang telah terjadi, bahwa gerak apresiasi sterling terhadap mata uang USD mencatatkan angka penguatan dalam dua minggu secara beruntun. Poundsterling kini menyentuh level tertinggi mingguan terhadap mata uang USD. Naiknya harga rumah dalam dua bulan beruntun serta peningkatan sentimen konsumen menopang pergerakan mata uang Inggris tersebut hari ini. Rightmove Plc. melaporkan harga jual di situsnya naik 2,6% pada bulan ini, setelah pada bulan September lalu naik 0,9%. Dilaporkan juga bahwa Barclays Plc. menurunkan perkiraan kenaikan suku bunga pertama sejak tahun 2007 oleh Bank of England menjadi bulan Febuari tahun depan, dari perkiraan sebelumnya November tahun ini. Minutes rapat kebijakan moneter terakhir BOE akan dirilis pada 22 Oktober mendatang. Pada sesi Amerika nanti, para pelaku pasar akan fous pada rilis data Existing Home Sales. Para pelaku pasar juga akan kembali melihat perkembangan seputar pertemuan FOMC pada akhir bulan Oktober mendatang.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

GDP Australia Kuatkan Aussie

Aussie menguat setelah data GDP Australia menegaskan keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi negeri Kangguru tersebut. GDP kuartalan Australia tumbuh 1,1% untuk Q1 2014; lebih tinggi dari estimasi 1,0% dan publikasi sebelumnya

Berita 0 Comments

Terorisme Berimbas Pada Pasar, Loonie Terkoreksi Greenback

Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang USD/ CAD tampak masih diperdagangkan naik sekitar 0,08% di kisaran level $1.3424 pada awal sesi perdagangan pasar di hari Kamis. Hal tersebut terjadi,

Komoditas 0 Comments

Cadangan Minyak Amerika Bagus, Pasar Masih Pantau Perkembangan Konflik Dunia

Kemarin, para pelaku pasar juga pantau data perkembangan terakhir di Ukraina dan Libya, serta data ekonomi makro seperti indeks manufaktur Amerika, yang naik di atas expektasi pasar. Hal ini juga

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image