Aussie Sempat Tertekan Tidak Respons Perumahan, Indonesia Keluarkan Obligasi Ritel

998232_513416485399053_538979552_nGreenback, atau mata uang USD, dilaporkan tengah bergerak di dekat level tertinggi hampir dalam kurun waktu dua pekan ini pada awal perdagangan pasar di hari Selasa (22/ 09/ 2015). Hal tersebut terjadi karena Greenback tampaknya mencoba untuk pulih dari kekecewaan mereka atas keputusan The Fed di FOMC pekan lalu yang menunda kenaikan tingkat suku bunga Amerika. Para pelaku pasar berasumsi, mengatakan bahwa permintaan mata uang USD menjelang akhir kuartal, melonjaknya imbal hasil Treasury dan serangkaian komentar dari pejabat Federal Reserve masih mempertahankan ekspektasi untuk kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini di balik perputaran yang cepat.

Ini berlawanan dengan ekspektasi untuk prospek bank sentral utama lainnya yang termasuk diantaranya adalah European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan (BoJ) yang dimana mereka kemungkinan akan memperluas program stimulus moneter. Hasilnya, indeks USD pada pagi ini kembali ke dekat level 96.00, bergerak rebound sekitar 2% dari hari Jumat lalu yang telah menyentuh level 94.06. Terhadap mata uang Jepang, Yen, nilai apresiasi Greenback menguat ke level 120.50, menjauh dari level rendah 119.04 yang dicapai pada sesi perdagangan pasar di hari Jumat lalu. Sedangkan gerak nilai apresiasi mata uang Uni Eropa, yaitu mata uang Euro, dilaporkan  tergelincir nilai apresiasinya ke level $1.1195, dari level puncak pekan lalu di kisaran $1.1460.

Salah seorang analis di ANZ Bank mengatakan bahwa pasar mata uang fokus pada kenaikan imbal hasil obligasi Amerika dan serangkaian pernyataan yang hawkish dari pejabat Fed yang membuka kemungkinan untuk kenaikan suku bunga di tahun 2015. Kondisi tersebut telah menggiring dollar AS untuk reli secara luas.

Dilaporkan bahwa, naiknya harga rumah di Australia belum banyak di respon oleh mata uang Australia, yang lebih dikenal dengan istilah Aussie, yang harus turun nilai apresiasinya menjauhi level tertinggi tiga pekan pada Senin kemarin. Apresiasi mata uang AUD/ USD sempat diperdagangkan dikisaran 0.7135 pagi tadi, dengan level terendah harian 0.7126, dan tertinggi 0.7147.

Biro Statistik Australia melaporkan harga rumah naik 4,7% di kuartal kedua, dari kuartal sebelumnya yang naik 1,6%. Kenaikan tersebut lebih tinggi dari estimasi ekonom sebesar 2,5%, dan merupakan yang tertinggi sejak kuartal ke-empat 2009 ketika naik 5,5%. Dibandingkan dengan kuartal kedua 2014, harga rumah naik 9,8%.

Aussie pada sesi perdagangan hari Senin kemarin tertekan akibat apresiasi mata uang USD yang kembali menunjukkan ketangguhan setelah Presiden The Fed Atlanta, Dennis Lockhart, mengatakan “cukup nyaman” dengan inflasi, dan yakin suku bunga akan naik di tahun ini. Komentar Lockhart tersebut mengikuti tiga pernyataan pejabat The Fed lainnya yang memberikan indikasi kenaikan suku bunga di 2015 pasca rapat moenter pekan lalu.

Dennis Lockhart, Presiden The Fed Atlanta, pada hari Senin kemarin mengatakan bahwa keputusan pekan lalu sebagian besar adalah latihan untuk “manajemen resiko” untuk memastikan volatilitas pasar akhir-akhir ini tidak akan menjadi hambatan untuk ekonomi Amerika. Dia juga mengatakan bahwa dia sendiri masih berharap Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.

Setelah merosot di awal pekan kemarin, indeks Korea Selatan, Kospi, mencoba bangkit di awal di awal perdagangan hari ini (22/9), termotivasi Wall Street yang berhasil melakukan gerak rebound di sesi perdagangan hari Senin kemarin. Sementara itu rally harga minyak mentah membuat saham-saham sektor energi menguat.

Dilaporkan bahwa gerak nilai Indeks utama Kopsi (KS11) naik 0.24% menjadi 1.970,20, Kospi (KS200) menguat 0,2% menjadi 237,20. Sementara Kospi Futures diperdagangkan dikisaran 237.80, dengan level terendah harian 236.75 dan tertinggi 238.00. Dari lantai bursa saham Korsel, Hyundai Motot dan Kia Motors masing-masing menguat lebih dari 2%. Saham sektor energi, S-Oil melesat 3,1%, dan SK Innovation naik 1,3%. Namun saham “kelas berat” seperti Samsung Electronics dan Posco masing-maasing melemah hampir 1%.

Dari Jepang, dilaporkan bahwa gerak nilai Indeks Nikkei Futures telah melesat di awal perdagangan merespon mata uang Yena yang berbalik melemah terhadap Greenback pada sesi perdagangan pasar hari Senin kemarin. Gerak nilai Indeks Nikkei Futures dilaporkan telah diperdagangkan di kisaran 17960 pagi tadi, dengan level terendah harian 17955, dan tertinggi 18005. Indeks Nikkei dan mata uang Yen cederung memiliki korelasi negatif, sehingga pelemahan mata uang Yen akan menguntungkan bagi Nikkei. Gerak nilai apresiasi mata uang Yen kembali ke atas level 120.50/ USD setelah sempat menyetuh level terendah intraday 119.72 pada hari Senin. Spot Nikkei masih libur hingga hari Rabu besok.

Sentimen positif juga datang dari Wall Street yang berhasil menguat di hari Senin dan menghentikan penurunan dua sesi sebelumnya. Sementara itu pejabat Federal Reserve kembali menunjukkan keyakinan suku bunga akan naik di tahun ini,. Setelah John Williams, pada hari Senin giliran Dennis Lockhart yang mengungkapkan hal tersebut. Kedua pejabat The Fed tersebut merupakan anggota voting kebijakan moneter. Bursa Wall Street pada sesi perdagangan hari Senin kemarin sempat bergerak menguat tajam, namun harus memangkas penguatan terbebani kemerosotan saham sektor biotek. Tekanan terhadap saham biotek terjadi setelah kandidat Presiden dari Partai Demokrat Amerika, Hillary Clinton, akan menyusun rencana untuk membendung kenaikan tinggi harga beberapa jenis obat.

Telah dilaporkan bahwa bursa Wall Street ditutup menguat pada hari Senin kemarin. Hal tersebut karena para pelaku pasar mempertimbangkan pelemahan pada saham sektor bioteknologi dan fokus pada komentar dari petinggi The Fed. Dow Jones dan S&P 500 ditutup menguat, memulihkan sebagian penurunan pada Jumat lalu. Nasdaq berhasil meraih penguatan sebesar 1.7 poin, tertekan oleh penurunan saham bioteknologi. Bursa saham mencoba mempertahankan gain menjelang penutupan. Dow ditutup menguat sekitar 125 poin setelah sempat naik sebanyak 194 poin. Sebelumnya S&P 500 dan Nasdaq sempat anjlok ke area negatif seiring saham bioteknologi anjlok dalam kecemasan mengenai kontroversi terhadap kenaikan harga yang cukup tajam pada sejumlah obat-obatan. Saham Merck, Pfizer dan Johnson & Johnson memimpin pelemahan pada saham blue chip.

Merespons kondisi ekonomi global saat ini, dilaporkan dari Indonesia bahwa, untuk penjualan Obligasi Ritel Indonesia seri ORI12, pemerintah menggandeng 21 agen penjual, yang terdiri dari bank dan perusahaan sekuritas. Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan dan Risiko Robert Pakpahan, persiapan untuk penjualan ORI12 sudah dimulai dari kuartal II - 2015, dimana pada awal april telah dilakukan pengadaan untuk agen penjual.

“Kemudian, 21 agen penjual tersebut, ditetapkan pada 6 Mei 2015,” katanya saat peluncuran ORI12 di Aula Djuanda, Kementerian Keuangan pada Senin (21/09). Ke-21 agen tersebut adalah Bank ANZ Indonesia, Bank Bukopin, Bank Central Asia, Bank CIMB Niaga, Citibank, Bank Danamon Indonesia, Bank DBS Indonesia, The Hongkong and Shanghai Banking Corporation, Bank Internasional Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank OCBC NISP, Bank Panin, Bank Permata, Bank Rakyat Indonesia, Standard Chartered Bank, Bank Tabungan Negara, Danareksa Sekuritas, Reliance Securities, Sucorinvest Central Gani, serta Trimegah Securities.

Di kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menjelaskan bahwa dengan membeli ORI, masyarakat dapat memberikan kontribusi kepada negara, selain dari membayar pajak. “Masyarakat dapat memberikan kontribusi pada negara melalui 2 cara, yaitu bayar pajak dan beli surat utang negara,” katanya. Ia juga menyampaikan harapannya akan keberhasilan penjualan ORI12 tahun ini. “Besar harapan kami agen penjual bisa menyukseskan penjualan ORI kali ini. Saya mengapresiasi dan memberikan selamat kepada yang terpilih. Dan juga kepada yang sudah lama menjadi penjual dan selalu punya prestasi, kita juga ingin memberikan apresiasi setinggi-tingginya,” pungkasnya.

Gerak harga minyak mentah melemah di awal sesi perdagangan pasar Asia hari Selasa (22/ 09/ 2015) ini. Hal tersebut terjadi karena para pelaku pasar mengambil untung setelah kenaikan 4% pada sesi sebelumnya. Dilaporkan bahwa gerak nilai harga minyak WTI berjangka diperdagangkan di $46.20 US/ barel, turun sebesar 48 sen dari level penutupan terakhir mereka. Sementara itu harga minyak Brent di kisaran $48.51 US/ barel, turun 41 sen.

Penurunan di harga minyak datang setelah harga minyak reli pada hari Senin, dengan minyak WTI reli lebih dari 4% pada tanda-tanda menurunnya cadangan dan aktivitas pengeboran, yang memberikan gambaran pada lebih rendahnya produksi minyak. Sebuah hasil jajak pendapat Reuters pada hari Senin perkirakan bahwa cadangan minyak Amerika secara keseluruhan turun sebesar 2.1 juta barel pada pekan lalu.

Para pelaku pasar saat ini juga fokus pada kontrak minyak WTI yang akan berakhir dalam waktu dekat. Kontrak minyak WTI untuk bulan Oktober akan berakhir pada akhir perdagangan hari Selasa, dan selanjutnya kontrak bulan November yang akan berjalan. Salah seorang trader mengatakan bahwa setelah kenaikan kemarin, adanya sedikit aksi jual pada pagi ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Namun saya pribadi tidak dapat membaca pergerakan minyak teralu banyak karena harga akan segera berganti kontrak. Trader tersebut menambahkan bahwa saya pribadi mungkin akan lebih baik menunggu data yang relevan untuk bertindak lebih lanjut.

Mengikuti gerak harga emas dunia, gerak nilai harga emas yang dijual PT. Aneka Tambang, Tbk (Antam) telah dilaporkan bergerak turun sekitar Rp 2.000/ gram sehingga menjadi Rp 571 ribu/ gram pada sesi perdagangan pasar hari Selasa (22/ 09/ 2015) ini. Harga jual turun juga diikuti harga pembelian kembali emas Antam yaitu turun Rp 2.000/ gram sehingga menjadi Rp 503 ribu/ gram.

Berikut daftar harga emas yang dijual Anta, yaitu untuk pecahan 500 gram - Rp 265.800.000, pecahan 250 gram - Rp 133.000.000, pecahan 100 gram - Rp 53.250.000, pecahan 50 gram - Rp 26.650.000, pecahan 25 gram - Rp 13.350.000, pecahan 10 gram - Rp 5.370.000, pecahan 5 gram - Rp 2.710000, dan untuk pecahan 1 gram - Rp 571.000.

Gerak harga emas berjangka melemah di awal pekan ini seiring sentimen penguatan mata uang USD. Hal tersebut sehingga dapat mempengaruhi permintaan investasi emas. Penguatan Greenback itu juga dipicu dari prospek kenaikan suku bunga pada 2015. Gerak harga emas turun $ 5 US atau 0,4 % ke level $ 1.132,80 US/ ons di divisi Comex. Padahal pada sesi perdagangan pasar di pekan lalu, gerak nilai harga emas naik 1,9 %. Hal tersebut terjadi seiring The Fed yang memutuskan mempertahankan suku bunga. Sementara itu, harga perak untuk pengiriman Desember naik sekitar 5,8 sen atau 0,4 % menjadi $ 15.221 US/ ons.

Jim Wyckoff, Senior Analis Kitco mengatakan penurunan harga emas ini juga terjadi secara teknikal lantaran telah mencatatkan kenaikan signifikan pada pekan lalu.Selain itu, indeks dolar AS menguat juga membebani harga emas. Ditambah penguatan bursa saham Amerika yang juga turut memicu para pelaku pasar menjauhi investasi emas.

Pergerakan bursa Asia hari ini sepertinya masih akan mendapat pengaruh besar dari sentimen bursa saham Amerika akibat minimnya data ekonomi penting yang dirilis. China baru akan merilis data aktivitas manufaktur versi Caixin pada Rabu besok. Keputusan Federal Reserve untuk menunda kenaikan suku bunga pekan lalu sebagian besar merupakan manajemen resiko yang dijalankan agar yakin volatilitas pasar belakangan ini tidak akan menyeret perekonomian Amerika.

Menurut pendapat dari Dennis Lockhart, presiden The Fed bagian Atlanta, dirinya masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga oleh The Fed tahun ini. Gubernur Utama The Fed, Janet Yellen, akan berpidato pada hari Kamis mendatang. Indeks bursa saham berjangka Amerika mempertahankan gain setelah James Bullard, Presiden The Fed bagian St. Louis, mengatakan bahwa dirinya menentang keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga.

About author

You might also like

Umum

Gerak Apresiasi Greenback Melandai, Inggris Cemaskan Warganya di Rusia

yeezy 500 Gerak nilai apresiasi Greenback dilaporkan bergerak melandai rendah di bawah level 90 seiring pasar Asia yang dibuka pada Senin pagi. Didorong oleh risk aversion, mata uang anti risiko

Forex News 0 Comments

Di Tengah Kurangnya Minat terhadap Safe Haven Yen Makin Anjlok

Pada perdagangan hari ini nilai tukar yen Jepang terpantau makin lesu terhadap dollar AS dan kembali mencapai posisi paling rendah dalam lebih dari lima tahun belakangan. Yen makin anjlok karena

Fundamental 0 Comments

Index Utama Asia Menguat, Harga Minyak Pada Kisaran Tertinggi

Pergerakan index utama Asia menguat menjelang dirilisnya data manufacturing di beberapa negara. Tercatat bahwa MSCI Asias Pacific Index menguat 0,2%, S&P/ASX 200 Index menguat 0,7%, Topix Index menguat 0,4% dan

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image