Badai Joaquin Bikin Ketar-Ketir Para Pelaku Pasar, Ekonomi Zona Eropa dan Amerika Masih Negatif

mulan-jameelax-netPada sesi perdagangan pasar Asia hari Jumat (02/ 10/ 2015) ini, dilaporkan bahwa tingkat belanja konsumen/ Consumer Spending di Jepang bergerak naik di bulan Agustus untuk pertama kalinya dalam 3 bulan. Hal tersebut berhubungan dengan ketersediaan pekerjaan yang meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari 2 dekade. Kondisi tersebut tentunya dapat mengikis kecemasan para pelaku pasar bahwa gerak laju perekonomian Jepang dalam pasar global telah jatuh ke dalam resesi.

Laju kenaikan tahunan sebesar 2.9% pada tingkat belanja konsumen bulan Agustus jauh melewati estimasi sebesar 0.4% dan menyusul penurunan tahunan sebesar 0.2% di bulan Juli seiring meningkatnya tingkat pembelanjaan mobil. Survey terpisah dari Bank of Japan (BoJ) telah menunjukkan bahwa ekspektasi angka inflasi oleh korporat melemah tipis pada kuartal lalu, yang mana dapat menopang argumen bahwa bank sentral akan melonggarkan kebijakan moneter pada akhir bulan ini saat merilis proyeksi ekonomi jangka panjang terkini.

Belanja konsumen dan ketatnya pasar tenaga kerja merupakan sinyal positif bagi perekonomian, dan nampaknya pihak BoJ tidak akan melonggarkan kebijakan pada pertemua pekan depan, menurut analis. BOJ kemungkinan akan menurunkan proyeksi CPI pada akhir bulan, sehingga kredibilitas BOJ akan diuji jika tidak melonngarkan kebijakan setelahnya, tambahnya.

Gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, dilaporkan telah mendapatkan pukulan lebih besar pada sesi perdagangan pasar hari Kamis (01/ 10/ 2015) kemarin. Hal tersebut terjadi, setelah data domestik memberikan sinyal positif sekaligus pula mencemaskan para pelaku pasar. Tidak hanya data domestik, para pelaku pasar juga lebih tertarik dengan pasar saham Jepang yang kembali telah membukukan keuntungan setelah sempat merugi sampai dengan 4,1% di dalam dua sesi pertama dalam pekan ini.

Hasil survei Tankan yang dilakukan Bank of Japan (BoJ) mengindikasikan bahwasannya adanya penurunan keyakinan perusahaan manufaktur raksasa Jepang terhadap kondisi bisnis negara perekonomian terbesar ketiga dunia tersebut. Hal tersebut memicu spekulasi BoJ untuk menambahkan stimulus di bulan ini. Penambahan stimulus bias dilakukan saat ketika BoJ mengadakan rapat kebijakan moneter. Hasil survei untuk sektor jasa sendiri memberikan sentimen yang lebih baik, membukukan kenaikan selama 4-kuartal beruntun dan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.

Perkembangan gerak laju ekonomi Amerika dapat berjalan dengan “tekanan tinggi” untuk sementara ini. Hal tersebut berguna untuk membantu mendorong laju inflasi kembali naik menuju target dari Federal Reserve yaitu sebesar 2% bias dicapai lebih cepat, demikian menurut salah satu petinggi The Fed pada hari Kamis kemarin. Namun pihak berwenang The Fed harus mulai segera mencabut kebijakan moneter longgarnya tahun ini sehingga kenaikan tingkat suku bunga dapat memperlamban perekonomian sebelum tercipta ketidakseimbangan pada sektor keuangan, menurut John Williams, Presiden The Fed bagian San Francisco.

Sebagian banyak anggota The Fed merasa bahwa dampak dari mata uang USD dan minyak terhadap inflasi hanya sementara. Pada hari Kamis kemarin, John Williams mengatakan bahwa The Fed akan terus memperhatikan resiko terhadap outlook global, namun dirinya optimis bahwa Federal Reserve akan harus menaikkan suku bunga pada salah satu pertemuan di bulan Oktober ataupun Desember.

John Williams juga mengatakan bahwa ia memperkirakan tingkat pengangguran dapat turun hingga serendah 4.5% tahun depan sebelum kembali naik menuju 5% di tahun 2017. Jika bukan karena perlambatan laju pertumbuhan ekonomi global, kita sudah bertumbuh jauh di atas trend, demikian kata John Williams. Menurutnya, pihak berwenang The Fed akhirnya akan harus menaikkan suku bunga meski belum sepenuhnya yakin terhadap outlook. Jika suku bunga sudah dinaikkan, maka The Fed dapat kembali memangkasnya jika outlook perekonomian berubah secara dramatis, demikian tambahnya.

Pada sesi perdagangan pasar Asia hari Jumat (02/ 10/ 2015) ini, dilaporkan bahwa Sterling, mata uang Inggris, bergerak menguat nilai apresiasinya terhadap mata uang USD. Hal tersebut terjadi setelah rilis data menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur di Inggris lebih baik dari perkiraan. Kondisi sebaliknya, aktivitas manufaktur di Amerika justru lebih buruk dari perkiraan. Telah dilaporkan pula bahwa bahwa nilai Indeks aktivitas manufaktur di China dilaporkan naik melampaui perkiraan para pelaku pasar pada bulan lalu. Kondisi tersebut berbalik dengan kondisi di Amerika dan zona Eropa. Aktivitas manufaktur di Amerika dan di zona Eropa justru tengah mengalami penurunan pada bulan September.

Markit melaporkan bahwa nilai indeks aktivitas manufaktur Inggris turun menjadi 51,5 di bulan September, dari 51,6 di bulan Agustus, dan lebih baik dari perkiraan ekonom sebesar 51,3. Sentimen psoitif bagi Poundsterling juga datang dari Office for National Statistik (ONS) yang pada hari Rabu lalu telah melaporkan konfirmasi pertumbuhan ekonomi Inggris 0,7% pada kuartal kedua, sesuai dengan ekspektasi ekonom dan rilis awal. Data terpisah menunjukkan defisit current account Inggris berkurang menjadi £16,8 milyar di kuartal kedua, dari £24,0 milyar di kuartal pertama.

Sementara itu Institute for Supply Management (ISM) telah melaporkan indeks aktivitas manufaktur Amerika bulan September turun menjadi 50,2 dari 51,2 di bulan Agustus dan dibawah perkiraan analis sebesar 50,8. Sebelumnya Departemen Tenaga Kerja Amerika telah melaporkan bahwa, jumlah warga yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran tengah naik sebanyak 10.000 sehingga menjadi 277.000 dalam sepekan yang berakhir pada 26 September, dari sebelumnya 267.000, jika dibandingkan dengan ekspektasi penambahan 6.000.

Pasar saham global bergerak secara rally disertai dengan pergerakan positif dari gerak nilai harga minyak. Gerak nilai harga minyak dilaporkan telah kembali ke atas area level harga $45 US/ barel. Kondisi ini tentunya telah menyiratkan preferensi para pelaku pasar pada aset-aset berisiko/ risk appetite. Hal ini merupakan sentimen negatif untuk safe haven, seperti halnya mata uang Yen Jepang yang menjadi pilihan ketika ada ketidakstabilan di pasar keuangan.

Pada sesi predagangan pasar hari Jumat ini, gerak nilai harga minyak dilaporkan mengalami koreksi. Gerak nilai harga minyak mentah berbalik melemah, dengan data manufaktur global maupun prediksi terbaru tentang badai Amerika menjadi faktor yang membebani gerak nilai harga minyak.

Gerak rally nilai harga komoditas ’emas hitam’ juga terhambat oleh komentar Menteri Luar Negeri Rusia, yang meredakan kekhawatiran tentang eskalasi dalam perang Suriah. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada hari Kamis mengatakan bahwa negaranya tidak menganggap pemberontak Tentara Suriah, yang didukung Amerika, sebagai kelompok teroris dan sebaliknya mereka harus menjadi bagian dari solusi politik di Suriah. Sebelumnya, Para pelaku pasar berasumsi bahwa premi resiko politik telah memasuki pasar minyak terkait Suriah, di mana Rusia dan Amerika Serikat menjalankan kampanye pemboman tanpa koordinasi, memicu kecemasan adanya bentrokan yang tidak diinginkan.

National Hurricane Center (NHC) Amerika telah mengubah prediksinya atas pola pergerakan badai Joaquin. Perubahan prediksi tersebut telah meredam kekhawatiran para pelaku pasar tentang potensi kerusakan instalasi minyak di kawasan Pantai Timur Amerika. Badai Joaquin, yang telah menguat menjadi badai Kategori 3, diperkirakan akan menghantam sekitar 100 mil sebelah timur New York City. Sebelumnya, pihak terkait NHC telah memperkirakan bahwa badai akan melanda pantai New Jersey dan New York Harbor. Badai topan Joaquin menguat di samudera Atlantik dan tidak menutup kemungkinan untuk dapat berubah menjadi badai besar, meski diperkirakan tidak akan bersinggungan dengan wilayah Amerika Serikat, demikian menurut laporan dari U.S. National Hurricane Center (NHC). Lokasi-lokasi tersebut adalah yang menjadi lokasi dari beberapa kilang dan pipa minyak serta infrastruktur energi lainnya.

Gerak nilai harga minyak mentah merangkak naik pada sesi perdagangan pasar hari Kamis kemarin, seiring tingkat permintaan diperkirakan akan tetap kuat kendati melambatnya tingkat permintaan dari negara Asia. Selain itu kondisi yang mendukung penguatan gerak nilai harga minyak pada sesi perdagangan pasar hari Kamis kemarin adalah, adanya serangan udara oleh Rusia dan pihak Barat di Suriah yang memicu kecemasan pada pasar.

Telah dilaporkan sebelumnya bahwa tingkat permintaan minyak global melejit dalam 6 bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan di tahun 2014. Hal tersbut terjadi berkat gerak nilai harga minyak yang turun lebih dari separuh dan penurunan tajam harga bahan bakar pada sejumlah negara konsumen, menurut estimasi Joint Oil Data Initiative (JODI). JODI melaporkan tingkat konsumen mencapai rata-rata 71.4 juta barel per hari pada semester pertama 2015, naik dari 69.1 juta barel per hari setahun lalu, kenaikan sebanyak 2.3 juta barel per hari atau sekitar 3.3%.

About author

You might also like

Komoditas 0 Comments

Emas Lokal Turun, Terpicu Sentimen Positif Terhadap Dollar AS

Emas di pasar spot hari ini ( 28/01, 16.09 GMT) terpantau turun setelah dibuka pada kisaran 1658.98 USD/tr oz di awal perdagangan (00.00 GMT). Emas spot telah melemah sekitar -1.88

Berita 0 Comments

Persetujuan Pembangunan Australia Lemahkan Aussie

Aussie melemah setelah data persetujuan pembangunan Australia menggerogoti optimisme investor terhadap outlook perekonomian negeri Kangguru tersebut. Persetujuan pembangunan Australia turun 5,6% untuk bulan April; lebih buruk dari estimasi kenaikan 1,8%

Komoditas 0 Comments

Nikkei Terdongkrak, Rupiah Tertekan

Gerak nilai apresiasi mata uang Yen dilaporkan tampak telah bergerak dalam volatilitas yang kecil di awal sesi perdagangan pasar Asia pada hari Jumat ini. Hal tersebut terjadi, setelah rilis hasil

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image