Data Ekonomi dan FOMC Kecewakan Greenback, Saham Fast Retaing Dicermati Pelaku Pasar Jepang

110050297_803301923077173_1637413408000980951_nGerak nilai apresiasi mata uang Australia, yang lazim disebut dengan Aussie, dan mata uang New Zealand, atau lazim disebut dengan Kiwi, tampak masih bergerak optimis nilai apresiasinya. Gerak nilai apresiasi mata uang AUD/ USD dan NZD/ USD masing-masing dilaporkan pada sesi perdagangan pasar hari Jumat pagi ini, sempat bergerak naik hampir sekitar 0,1%.

Gerak nilai apresiasi ke dua mata uang tersebut tetap positif, tetap melanjutkan penguatannya terhadap Greenback pada sesi perdagangan pasar hari Jumat (09/ 10/ 2015) ini. Hal tersebut terjadi setelah hasil Federal Open Market Committee (FOMC) meeting minutes menunjukkan kekhawatiran para pejabat Federal Reserve terhadap kondisi gerak laju perekonomian global.

Para pejabat berwenang The Fed dinilai cukup dovish, ingin lebih yakin tingkat inflasi (Consumer Price Index) Amerika tetap dalam jalur pertumbuhan menuju target The Fed sebesar 2%. Potensi penundaan kenaikan suku bunga ini menjadikan pergerakan nilai harga di perdagangan pasar saham dan komoditas, terutama untuk produk komoditas yang diperdagangkan dengan menggunakan mata uang USD, seperti halnya minyak mentah. Gerak nilai apresiasi mata uang Aussie dan Kiwi dikenal dengan mata uang komoditas karena ketergantungannya yang besar pada produk-produk komoditas.
Data ekonomi yang dirilis hari ini hanyalah tingkat Home Loans (Kredit Pemilikan Rumah/ KPR) di Australia. Para pelaku pasar tidak banyak bereaksi pada laporan bulan Agustus yang hanya naik 2,9% dari penurunan 0,3% di bulan Juli. Sebelum rilis data pasar memprediksi tingkat KPR dapat bertumbuh 4,9%.

Telah dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi Greenback terkoreksi kuat oleh major currencies saat sesi perdagangan pasar Amerika di hari kamis kemarin. Gerak nilai apresiasi mata uang USD terkoreksi negative dan bergerak melemah tajam hingga tembus dibawah 1.1300 terhadap mata uang Uni Eropa, yaitu mata uang Euro, untuk kali pertama dalam seminggu terakhir.

Hal tersebut terjadi lantaran akibat dari ketegangan kondisi pasar dalam merespons FOMC meeting minutes yang menambah ketidakpastian mengenai perkembangan perubahan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi Amerika. Kekhawatiran para pelaku pasar atas hasil rilis FOMC meeting minutes juga menekan gerak nilai apresiasi mata uang USD terhadap mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen dan juga mata uang Swiss Franc.

Federal Reserve telah urung menaikkan tingkat suku bunga pada bulan September seiring sebagian besar pembuat kebijakan berpikiran jika resiko penurunan telah meningkat, menurut hasil rapat kebijakan yang dipublikasikan hari Kamis. Para pembuat kebijakan Amerika terlihat berupaya untuk lebih berhati-hati dengan menunggu, meskipun terdapat pemikiran bahwa melemahnya prospek pertumbuhan di China dan penurunan gerak nilai harga saham di seluruh dunia kemungkinan hanya akan berdampak kecil terhadap laju perekonomian negara Amerika. Sementara beberapa anggota voting komite kebijakan The Fed mengatakan jika perkembangan global sejauh ini masih belum mendongkrak keyakinan mereka bahwa tingkat inflasi akan kembali mengarah ke target 2% yang ditetapkan The Fed.

Hasil FOMC meeting minutes semalam juga memperlihatkan masih adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed mengenai waktu kenaikan tingkat suku bunga. Beberapa pembuat kebijakan menyatakan kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga yang terlalu cepat akan menekan inflasi lebih rendah.

Sementara pembuat kebijakan lainnya berpendapat jika penundaan kenaikan suku bunga untuk lebih lama lagi beresiko memicu pertumbuhan inflasi yang tidak diinginkan. Dalam pertemuan kebijakan 16-17 September lalu, hasil voting menunjukkan perbandingan suara 9-1 untuk mendukung suku bunga tidak berubah.

Laporan yang berimbas kondisi negatif ini dikombinasi dengan serangkaian data ekonomi Amerika yang cenderung lemah, sehingga menyebabkan perubahan ekspektasi para pelaku pasar atas kenaikan suku bunga The Fed di tahun ini dan digeser hingga akhir tahun. Sebagian besar pelaku pasar kini memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve tidak akan dilakukan sebelum awal 2016.

Lembaga IMF juga di saat berbeda turut berkontribusi dalam mempengaruhi arah pergerakan pasar global, dimana lembaga tersebut telah memangkas outlook pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun ini. Kondisi ini semakin meningkatkan kecemasan para pelaku pasar bahwa The Fed akan menunda tindakannya untuk kenaikan suku bunga hingga tahun depan. Lembaga IMF memperkirakan dalam laporan “World Economic Outlook” bahwa, gerak laju perekonomian global kemungkinan hanya menunjukkan pertumbuhan sekitar 3.1% di 2015, atau 0.2% lebih rendah dibanding proyeksi IMF sebelumnya pada bulan Juli.

Juga telah dilaporkan sebelumnya, berkaitan dengan gerak nilai apresiasi mata uang Euro khususnya bahwa, Peter Praet, anggota dewan eksekutif European Central Bank (ECB), mengatakan bahwa ekspektasi yang pesimis terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang tampaknya masih membebani pemulihan di kawasan zona Eropa.

Peter Praet yang tengah berada di Mannheim, Jerman, telah mengatakan bahwa lingkungan ekonomi saat ini ditandai oleh meningkatnya rasa pesimisme terhadap pertumbuhan jangka panjang. Peter Praet juga telah mengatakan bahwa di saat siklus pemulihan “telah bergerak secara progresif” di dalam sisi negatif, itu akan kembali menahan pemulihan yang lebih kuat, karena ketidakpastian terhadap masa depan dapat memberi suplai kembali ke investasi yang lebih lemah dari hari ini.

Pihak ECB saat ini sedang berupaya untuk menahan gempuran dari tekanan harga yang lesu dalam beberapa bulan terakhir, dengan tingkat inflasi zona Eropa secara tak terduga kembali negatif di bulan September untuk pertama kalinya sejak pelonggaran kuantitatif dimulai di bulan Maret. Di saat harga yang turun yang sebagian besar merupakan konsekuensi dari harga energi yang rendah, Presiden Mario Draghi telah sinyalkan bahwa dia siap untuk memperbesar stimulus jika diperlukan untuk menghindari kondisi deflasi.

Pergerakan nilai harga di bursa saham Amerika dilaporkan pada sesi perdaganagn hari Kamis kemarin, telah ditutup lebih tinggi dengan indeks Dow dan S&P 500 berada di atas level psikologisnya, karena para pelaku pasar merespons hasil FOMC di bulan September. Peter Cardillo, kepala ekonom di Rockwell Global Capital, telah mengatakan pendapatnya bahwa, ”saya pikir kombinasi dari “penguatan” minyak dan FOMC The Fed telah melambungkan indeks pada saat ini, dengan dia melihat minutes telah mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga di tahun ini”.

Telah dilaporkan bahwa gerak nilai harga indeks Dow Jones ditutup sekitar 140 poin lebih tinggi untuk di atas level 17,000 untuk pertama kalinya sejak 19 Agustus. Sebelumnya, indeks Dow Jones sempat menguat lebih dari 150 poin untuk bertahan di atas 17,000 dalam perdagangan intraday untuk pertama kalinya sejak 20 Agustus.

Saham IBM dan Nike turut berkontribusi terhadap sebagian besar penguatan gerak nilai harga indeks. Namun gerak nilai saham Apple adalah merupakan sebagai beban terbesar indeks blue chips. Saham Apple ditutup turun sekitar 1.2%.
Dilaporkan juga bahwa gerak nilai harga di indeks Nasdaq telah pulih dari kerugiannya dengan ditutup lebih tinggi. iShares Nasdaq Biotechnology ETF telah ditutup turun 0.2% setelah sempat jatuh lebih dari 3%.

Gerak nilai harga indeks S&P ditutup naik sekitar 0.9%, ditutup diatas level psikologi kunci di 2,000 untuk pertama kalinya sejak 20 Agustus. Indek sempat jatuh ke wilayah negatif dalam perdagangan choppy setelah perilisan minutes. Terakhir kali indeks S&P 500 melampaui level 2,000 dalam perdagangan intraday di tanggal 17 September, ketika The Fed merilis pernyataan mereka.

Gerak nilai harga indeks saham Jepang, yaitu indeks Nikkei, dilaporkan turut bergerak positif, bergerak menguat sejak awal perdagangan melanjutkan estafet penguatan dari pergerakan nilai harga di bursa Eropa dan di Wall Street. Indeks Nikkei tetap merespons positif, meskipun gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, masih menguat tipis di bawah level psikologis 120.

Telah dilaporkan bahwa pada waktu sesi perdagangan pasar hari Kamis semalam, gerak nilai harga indeks-indeks di Eropa terkatrol penguatan gerak nilai harga minyak mentah. Sementara di bursa Wall Street mengumpulkan keuntungan moderat setelah notula rapat menunjukkan kehati-hatian para pejabat menentukan waktu perubahan kebijakan moneter di Amerika dan ingin lebih yakin pertumbuhan inflasi sudah tepat dalam jalur menuju target 2%.

Pada sesi perdagangan pasar di hari Jumat ini, perhatian utama para pelaku pasar saham Jepang tertuju pada perusahaan ritel, Fast Retailing. Penurunan tajam saham Fast Retailing ke dasar indeks Nikkei 225 membatasi penguatan indeks. Gerak nilai saham Fast Retailing terkoreksi melemah, bergerak anjlok hampir 9%. Penurunan gerak nilai harga saham Fast Retailing ini merupakan gerak penurunan harga tertajam sejak bulan April 2014.

Perusahaan Fast Retaling, yang merupakan induk dari produk pakaian bermerk Uniqlo ini, telah gagal memenuhi prediksinya sendiri. Perkiraan pihak Fast retailing sendiri adalah, bahwasannya nilai laba operasional sampai dengan akhir bulan Agustus adalah mencapai angka keuntungan sebesar 200 miliar Yen. Namun nilai laba operasional sampai dengan akhir bulan Agustus yang terjadi adalah, angka pencapaian justru hanya sebesar 164,5 miliar Yen, atau setara dengan $1,37 miliar US.

Pada sesi perdagangan pasar di hari Jumat, ini di perdagangan pasar saham Asia, termasuk juga Jepang, tampaknya masih akan kembali menantikan pergerakan indeks Shanghai Composite China. Pada sesi perdagangan pasar hari Kamis kemarin, perdagangan pasar saham di China dilaporkan telah berhasil mengumpulkan angka keuntungan sekitar 3% di akhir sesi perdagangan.

Gerak nilai harga minyak dilaporkan bergerak kuat, melesat ke level tertinggi sejak bulan Juli pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis kemarin. Hal tersebut terjadi, seiring rally kuat pasar ekuitas China mendorong pembelian, dengan keterlibatan militer Rusia di Suriah turut membawa premi resiko geopolitik ke pasar.
Tentara Suriah dan milisi sekutu yang didukung oleh serangan udara dan rudal jelajah Rusia kembali melancarkan serangan terhadap pasukan pemberontak di wilayah barat negara. Yang menambah ketidakpastian di Timur Tengah, salah satu kawasan penghasil utama minyak dunia.

Sementara pelaku pasar justru cenderung mengabaikan kekhawatiran tentang pertumbuhan pasokan yang lebih tinggi dari perkiraan di Amerika, seperti yang dilansir Energy Information Administration (EIA) hari Rabu lalu. Persediaan minyak mentah Amerika dilaporkan meningkat sekitar 3,1 juta barrel dalam sepekan yang berakhir sejak 2 Oktober, yang menjadi kenaikan pekan ke-2 berturut-turut.

Pelemahan gerak nilai apresiasi mata uang USD setelah rilis data FOMC meeting minutes terbaru juga berkontribusi cukup besar atas kenaikan gerak nilai harga minyak. Greenback yang lebih rendah membuat harga komoditas berdenominasi mata uang USD menjadi lebih terjangkau untuk pemegang mata uang lainnya.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Poundsterling Kembali Coba Intai Level Tertinggi Sejak Agustus 2011

Mata uang poundsterling Inggris tampak masih berniat untuk melanjutkan pergerakan menguatnya terhadap dollar AS pada perdagangan Senin ini (30/12). Mata uang Inggris ini di sesi perdagangan Jumat mengalami lonjakan hingga

CFD News 0 Comments

FOMC Pertahankan Keputusan, Data PPI Korsel Jeblok Terimbas Minyak

Pada sesi perdagangan pasar hari Jumat (18/ 09/ 2015) ini, dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang USD telah kembali pulih. Gerak nilai apresiasi mata uang USD telah kembali pulih

Fundamental 0 Comments

Loonie Sempat Tekan Greenback, Minyak Tutup Akhir Bulan Dengan Kerugian

Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang USD memangkas hasil penguatannya terhadap Canadian Dollar pada sesi perdagangan pasar di hari Jumat. Hal tersebut terjadi, terutama setelah perilisan laporan data pertumbuhan

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image