Gerak Harga Saham Cenderung Koreksi, Pasar Awasi Kebijakan Bank Sentral Dunia

0a0aay0ab0511Dilaporkan bahwa pada sesi perdagangan hari Jumat (11/ 09/ 2015) ini, pihak berwenang dari Bank of Korea (BoK) masih memberlakukan kebijakannya atas tingkat suku bunga. Pihak BoK dilaporkan pada hari Jumat ini, masih tetap mempertahankan suku bunga utamanya. Suku bunga yang diterapkan oleh pihak BoK tidak berubah yaitu berada di level 1,5% untuk bulan ke-3 berturut-turut.

Kondisi tersebut terjadi karena pihak berwenang dari BoK masih mempertimbangkan kondisi ekonomi di dalam pasar global. Selain itu, pihak berwenag BoK juga menunggu untuk melihat dampak dari pergeseran kebijakan yang mungkin dilakukan pihak berwenang dari Federal Reserve Amerika atas kebijakan yang diambilnya. Perlambatan gerak laju perekonomian di wilayah Cihina, sejauh ini telah membatasi permintaan untuk ekspor Korea, dengan prospek kenaikan suku bunga dari The Fed juga telah menambah ketidakpastian dan volatilitas pasar.

Sudah 4 kali penurunan tingkat suku bunga oleh BoK sejak Agustus 2014 telah gagal untuk mendorong pertumbuhan, dengan ekonomi hanya berekspansi 0,3% pada kuartal ke-2 dan inflasi tertahan di bawah 1%. Menteri Keuangan Choi Kyung Hwan pada bulan ini juga telah memperingatkan jika perlambatan ekonomi China akan mendatangkan “dampak yang sangat besar” terhadap Korea. Yang mendorongnya memangkas proyeksi pertumbuhan untuk tahun 2016 menjadi 3,3%, sedangkan proyeksi untuk tahun ini dipertahankan di 3,1%.

Pergerakan nilai harga saham Asia diperdagangkan mixed di awal sesi perdagangan terakhir pekan ini. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve Amerika yang krusial pada pekan depan. The Fed diperkirakan akan mulai memperketat kebijakan paling cepat pada pertemuan minggu depan seiring membaiknya fundamental ekonomi Amerika. Tapi devaluasi mengejutkan mata uang China, yaitu mata uang Yuan oleh otoritas China pada bulan Agustus lalu telah memicu gejolak baru di pasar global, yang turut mengikis harapan kenaikan suku bunga Amerika.

Sempat dibuka menguat tipis, indeks Nikkei 225 Jepang harus tergelincir sekitar 0,3%. Hal tersebut terjadi seiring melemahnya kinerja komponen kelas berat. Saham SoftBank dan Fanuc juga sama-sama terkoreksi, bergerak merosot lebih dari 2%. Gerak nilai saham Toyota Motor juga dilaporkan bergerak melemah, terkoreksi turun sekitar 1,4%. Sementara aksi bargain hunting menopang sektor keuangan, menyusul penurunan tajam hari sebelumnya. Saham Mitsubishi UFJ Financial Group dan Sumitomo Mitsui Financial Group bergerak naik masing-masing 0,6% dan 0,2%. Juga dilaporkan bahwa gerak nilai harga saham milik Nomura Holdings telah terapresiasi sekitar 1,3%.

Dari wilayah China dilaporkan bahwa, gerak nilai indeks Shanghai Composite dilaporkan mampu kembali ke teritori positif setelah sempat dibuka negatif. Fokus para pelaku pasar pada hari Jumat (11/ 09/ 2015) ini tertuju ke beberapa data ekonomi yang dijadwalkan rilis di akhir pekan. Penjualan ritel di China diperkirakan masih akan stabil di kisaran 10,5% pada bulan Agustus, sedangkan output industri bulan Agustus kemungkinan akan menunjukkan kenaikan 6,4% dari 6,0% pada bulan sebelumnya. Sentimen positif di bursa China daratan tersebut membantu indeks Hang Seng 33 Hong Kong mamppu bergerak beranjak sekitar 0,6% lebih tinggi.

Pada sesi perdagangan pasar di hari Jumat ini, gerak nilai harga indeks KOSPI Korea Selatan  bergerak melemah sekitar 0,8%. Hal tersebut terjadi setelah pihak berwenang dari Bank of Korea (BoK) memutuskan untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tidak berubah. Kebijakan tersebut sesuai dengan harapan para pelaku pasar. Di antara saham-saham yang berkinerja lemah di awal sesi, komponen kelas berat seperti Posco, Kepco dan Samsung Electronics terpantau bergerak melemah, merugi di kisaran antara 0,9% sampai 2,1%.

Pada sesi perdagangan pasar hari Kamis (10/ 09/ 2015) kemarin, dilaporkan bahwa mata uang Inggris, yaitu Poundsterling, bergerak secara positif. Mata uang Sterling dilaporkan kembali menguat nilai apresiasinya terhadap Greenback, atau mata uang USD, dan mata uang Uni Eropa, yaitu mata uang Euro. Kondisi tersebut terjadi karena, setelah Bank of England (BoE) mengatakan waktu kenaikan tingkat suku bunga semakin dekat.

Para pejabat terkait yang merupakan pula sebagai penentu atas diambilnya kebijakan BoE, tidak goyah melihat perlambatan gerak laju ekonomi di negara China. Para pejabat terkait yang merupakan pula sebagai penentu atas diambilnya kebijakan BoE telah menilai bahwa, prospek perekonomian di Inggris masih positif.

Pernyataan optimis ini muncul bersamaan dengan dirilisnya keputusan BoE untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga di kisaran 0,5%. Dilaporkan bahwa hasil voting telah menunjukkan apabila hanya 1 dari 9 pejabat yang mendukung untuk menaikkan suku bunga. Adapun Ian McCafferty memilih untuk menaikkan tingkat suku bunga menjadi 0,7% dalam dua rapat terakhir. Bank Of England telah mempertahankan tingkat obligasinya sebesar 375 miliar Poundsterling. Rilis data tersebut tidak berubah dari keputusan rapat bulan lalu.

Telah dilaporkan bahwa pada sesi perdagangan pasar hari Kamis kemarin, mata uang Poundsterling telah bergerak menanjak sampai sekitar 0,5% ke level tertinggi harian yaitu di kisaran level $1.5449 US. Sedangkan untuk apresiasi mata uang Euro dilaporkan telah terpukul sekitar 0,6% ke level terendah harian yaitu di kisaran level 0.7241.

Telah dilaporkan pada sesi perdagangan pasar hari Kamis kemarin bahwa nilai apresiasi mata uang Selandia Baru, yang lazim disebut Kiwi, kembali pulih. Sebelumnya telah dilaporkan pula bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Kiwi terkoreksi kuat, bergerak melemah anjlok lebih dari 2% pada awal sesi perdagangan pasar hari Kamis kemarin.

Hal tersebut terjadi karena adanya penguatan gerak nilai apresiasi mata uang China, yaitu mata uang Yuan pada pasar offshore. Kondisi tersebut disinyalir karena adanya tindakan intervensi oleh pihak People Bank of China (PBoC). Tentunya kondisi tersebut berdampak positif, dan telah mampu untuk membangkitkan kembali selera resiko para pelaku pasar.

Sebelumnya, gerak nilai apresiasi mata uang Dollar Selandia Baru, atau yang lazim disebut dengan Kiwi, telah terkoreksi dengan kuat, bergerak anjlok setelah pihak berwenang dari Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) mengambil kebijakan. Kebijakan yang dilakukan oleh pihak berwenang dari RBNZ adalah, dengan memangkas suku bunga. Pihak berwenang RBNZ juga mengatakan bahwa mungkin akan kembali melonggarkan kebijakan jika perekonomian di wilayah China terus bergerak melambat.

Namun Kiwi ternyata mampu bergerak pulih setelah nilai tukar offshore mata uang China, mata uang Yuan, bergerak naik lebih dari 1% nilai apresiasinya terhadap Greenback, atau mata uang USD. Pihak berwenang PBoC diduga melakukan aksi intervensi, sebuah langkah yang mengejutkan pasar. Menurut para pelaku pasar, hal tersebut merupakan respon dari pemerintah China untuk memukul para spekulan dan mengurangi ekspektasi depresiasi lebih lanjut pada mata uang China, yaitu mata uang Yuan, setelah kebijakan devaluasi di bulan Agustus lalu.

Adanya resiko terbesar saat ini adalah keruntuhan ekonomi di China, sehingga jika saat ini PBoC (People’s Bank of China) mendorong penguatan renminbi, maka para pelaku pasar menganggap ini sebagai sinyal bahwa situasi tidak terlalu buruk. Para pelaku pasar mengatakan bahwa pemangkasan suku bunga oleh RBNZ sudah diantisipasi sebelumnya. Yang lebih penting adalah bahwa sinyal kebijakan yang diambil oleh pihak beerwenang RBNZ dapat melonggar lebih lanjut. Gubernur RBNZ telah melakukan semampunya agar pasar yakin akan ada pelonggaran lanjutan. Meski demikian, namun gerak nilai apresiasi Kiwi telah turun sangat dalam, sehingga sulit untuk meyakinan para pelaku pasar untuk melakukan aksi jual yang cukup kuatpada level tersebut.

Mata uang Dollar Kanada, atau yang lazim disebut dengan istilah Loonie, dilaporkan pada sesi perdagangan pasar hari Kamis (10/ 09/ 2015) kemarin, telah mencatatakan keuntungan tipis dalam gerak nilai apresiasinya terhadap mata uang USD. Gerak positif tersebut terjadi meskipun kapasitas sektor industri bergerak turun selama dua kuartal beruntun.

Penguatan gerak nilai harga minyak mentah serta kenaikan harga rumah baru di bulan Juli lalu, telah membantu Loonie untuk bisa mengabaikan data yang dikeluarkan biro statistik. Mata uang USD sendiri tertekan terhadap sebagian besar major currencie, karena aksi para pelaku pasar dalam mencerna data aktual klaim pengangguran mingguan dan harga impor bulan Agustus yang juga dirilis kemarin.

Kapasitas industri Kanada dilaporkan bergerak merosot menjadi 81,3% di kuartal kedua, melanjutkan penurunan di kuartal pertama yang datanya direvisi turun menjadi 82,6%. Gerak penurunan 1,3% ini merupakan laju penurunan terbesar sejak kuartal kedua era krisis finansial tahun 2009. Pada saat itu, negara Kanada tengah bergulat dengan kondisi resesi yang terpicu krisis kredit global.

Meski demikian, gerak kenaikan harga minyak mentah, ekspor utama Kanada, lebih dari $1 US/ barel telah membantu Loonie untuk bisa mengabaikan kecemasan dari sektor industri. Gerak nilai harga minyak mentah bertahan di atas area $45 US/ barel meskipun laporan terbaru dari lembaga pemerintah Amerika menunjukkan suplai minyak kembali bertambah pada pekan lalu.

Data dari sektor properti juga memberikan ruang penguatan untuk Loonie. Harga rumah baru di Kanada meningkat 0,1% di bulan Juli, hanya sedikit di bawah ekspektasi kenaikan 0,2%. Kenaikan harga rumah merupakan berita baik untuk pasar properti dengan harapan dapat menggenjot pasar tenaga kerja khususnya untuk sektor konstruksi.

Gerak nilai harga minyak mentah bergerak rally pada sesi perdaganga pasar hari Kamis kemarin, karena para pelaku pasar melihat adanya peningkatan permintaan bensin. Meski gerak nilai harga minyak mentah masih dibayangi kenaikan persediaan minyak mentah di Amerika. Pelemahan gerak nilai apresiasi mata uang USD juga turut mendorong kenaikan gerak harga minyak. Juga telah dilaporkan bahwa gerak nilai harga di bursa sementara Wall Street yang menguat menambah sentimen positif.

Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan permintaan bensin dalam empat pekan terakhir naik sekitar 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan persediaan bensin pada pekan lalu naik 400.000 barel, atau hampir setengah dari yang diperkirakan. Persediaan minyak mentah Amerika dilaporkan naik 2,6 juta barel, sementara analis yang disurvei oleh Platts memperkirakan kenaikan 300.000 barel.

Dalam laporan terpisah pada hari Rabu lalu, EIA mengatakan produksi minyak Amerika turun ke level terendah satu tahun pada bulan Agustus, dan akan terus menurun hingga tahun 2016. Di saat yang sama EIA memperkirakan rata-rata harga minyak WTI tahun ini $49,23 US/ barel, brergerak turun dari proyeksi sebelumnya $49,62 US. Untuk tahun 2016 diturunkan menjadi $53,57 US dari sebelumnya $54,42 US. Gerak nilai harga minyak mentah WTI pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis kemarin, telah berakhir dengan berada di level $45,70 US/ barel, dengan level terendah harian $43,36 US dan tertinggi $46,03 US.

About author

You might also like

Komoditas 0 Comments

Gerak Harga Emas Masih Belum Leluasa

Pelemahan gerak harga emas spot kembali berlanjut pada perdagangan sesi Asia di pagi ini (hari Kamis, 23/ 04/ 2015) yang sedang bergerak negatif, demikian juga dengan emas di bursa berjangka

Forex News 0 Comments

Euro Dekat 1.3050, Nantikan Hasil Dari ECB

Euro masih dalam pergerakan choppy dengan bias yang negatif saat para pelaku pasar menantikan hasil pertemuan ECB dan konferensi pers di sesi Eropa. “Untuk sementara, grafik per jam menunjukkan harga

Komoditas 0 Comments

Greenback Terhenti Gerak Penguatannya, Yellen Tengah Dinantikan Para Pelaku Pasar

Gerak nilai harga indeks USD dilaporkan telah menghentikan gerak penguatan selama kurun waktu dua hari. Hal tersebut terjadi, karena para para pelaku pasar saat pada ini akhir – akhir ini,

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image