Gerak Nilai Harga Komoditas Minyak Bergerak Menguat, Pasar Asumsikan The Fed Akan Tunda Kenaikan Suku Bunga

12688047_1044741755581938_2599658383496146814_nDilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, bergerak berbalik melemah pada sesi perdagangan pasar di hari Rabu. Kondisi tersebut terjadi, seiring gerak nilai harga komoditas minyak dan gerak nilai harga di bursa saham mengalami gerak rebound. Kondisi tersebut tentunya telah mengikis daya tarik safe-haven mata uang Yen.

Gerak nilai aporesiasi mata uang USD dilaporkan sebelumnya sempat terkoreksi melemah kuat. Greenback bergerak anjlok gerak nilai apresiasinya, dengan bergerak menuju ke bawah level 11 Yen pekan lalu. Pencapaian angka tersebut adalah merupakan level rendah 16-bulan. Kondisi tersebut terjadi, setelah gerak nilai harga di bursa saham dan gerak nilai harga komoditas terkoreksi melemah anjlok.

Kondisi lain yang mendukung pelemahan gerak nilai apresiasi mata uang USD sebelumnya adalah, karena memudarnya ekspektasi para pelaku pasar atas kelanjutan dari kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. Gerak nilai apresiasi Greenback bergterak rebound setelah sentimen risk aversion mereda. Meski demikian, namun gerak nilai apresiasi mata uang USD masih rentan terhadap imbas dari pergerakan pada nilai harga komoditas minyak.

Diperkirakan oleh para analis pasar bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang USD/ JPY akan betahan di kisaran level 112-114. Kondisi tersebut diasumsikan, karena mengingat pergerakan menuju area 110 akan memicu isu intervensi oleh pemerintah Jepang.

Sentimen para pelaku pasar dalam merespon resiko diperkirakan masih akan mendikte arah pergerakan pasar saat ini, dan para pelaku pasar akan menantikan hasil minutes pertemuan kebijakan The Fed bulan Januari pada nanti malam sebagai petunjuk. Untuk bulan depan, titik fokal bagi gerak nilai apresiasi mata uang USD/ JPY adalah kemungkinan stimulus moneter oleh Bank of Japan (BoJ).

Dilaporkan sebelumnya bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang Yen telah sempat bergerak menguat. Hal tersebut terjadi, seiring pelemahan gerak nilai harga di bursa saham Asia dan penurunan gerak nilai harga komoditas minyak. Di tambah lagi dengan nilai fixing mata uang China, yaitu mata uang Yuan, yang ditetapkan oleh pemerintah China menjadi lebih rendah. Kondisi tersebut juga telah menajadi faktor yang menekan mata uang negara berkembang dan mata uang pertumbuhan seperti mata uang Australia, yaitu mata uang Aussie.

Gerak nilai harga komoditas minyak bergerak rebound seiring usaha untuk membekukan level produksi dan memangkas surplus minyak global berfokus ke Iran. Kondisi tersebut terjadi, pasca respon negatif dari kesepakatan antara Arab Saudi dan Rusia pada hari Selasa lalu. Gerak rebound pada nilai harga komoditas minyak telah membantu menopang gerak nilai harga di bursa saham Eropa. Meskipun demikian keadaannya, namun sentimen resiko para pelaku pasar masih rentan karena faktor kecemasan perlambatan dari gerak laju ekonomi global.

Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, James Bullard, mulai percaya jika The Fed mungkin harus menahan diri untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut dalam kondisi saat ini. James Bullard adalah merupakan salah seorang pejabat The Fed yang mendukung sekali atas langkah kenaikan suku bunga yang dilakukan The Fed pada tahun lalu.

Dalam sebuah pidato di St. Louis pada hari Rabu, James Bullard mengatakan bahwa, menurunnya ekspektasi suku bunga dan gejolak di pasar keuangan berpotensi menghambat kenaikan lebih lanjut dalam target suku bunga jangka pendek The Fed yang saat ini berkisar antara 0,25% sampai 0,50%. “Dua pilar penting yang mendukung normalisasi kebijakan moneter Amerika pada tahun 2015 telah berubah,” demikian yang telah dikatakan oleh James Bullard.

“Penurunan ekspektasi inflasi terus berlanjut, sementara risiko penggelembungan harga aset dalam jangka menengah tampaknya telah berkurang. Sehingga meredakan tekanan pada program normalisasi kebijakan FOMC,” demikian tambah James Bullard ketika menyampaikan referensi terkait rencana kenaikan suku bunga lebih lanjut pada tahun ini.

Hasil dari pertemuan FOMC pada bulan January lalu, pihak berwenang The Fed telah memutuskan untuk tidak merubah nilai suku bunga acuan. Kondisi tersebut menunjukkan apabila para pejabat The Fed melihat lebih banyak resiko pelemahan ditengah imbas pelambatan ekonomi China, diikuti dengan outlook ekonomi domestik serta inflasi yang menjadi semakin tidak pasti.

Gerak nilai harga di bursa saham Amerika berjangka dilaporkan telah pula terkerek naik di sesi perdagangan pasar di hari Rabu. Kondis tersebut terjadi, seiring rilis laporan earnings korporat yang positif sehingga menopang gerak nilai harga saham perusahaan di sektor konsumen.

Gerak reli dari nilai harga komoditas minyak juga turut mendongkrak sentiment para pelaku pasar, meski kondisi perdagangan masih choppy paska rilis minutes FOMC. Penguatan gerak nilai harga saham di bursa Wall Street terjadi telah menyusul gerak penguatan nilai harga selama dua hari berturut-turut.

Nilai emiten yang menunjukkan kinerja cemerlang antara lain adalah dari Garmin dan Priceline Group. Kedua perusahaan tersebut adalah dari perusahaan yang bergerak di bidang consumer goods. Gerak nilai harga saham dari kedua perusahaan tersebut, masih memimpin penguatan di dalam gerak nilai harga indeks saham S&P500. Priceline telah melaporkan bahwa, kenaikan laba Q4 sebesar 12% dan memperkirakan outlook positif seiring penurunan harga bahan bakar. Pihak dari Garmin juga telah melaporkan bila laju laba mereka bergerak positif.

Gerak nilai harga komoditas minyak rebound di sesi awal perdagangan pasar Asia pada hari Kamis. Kondisi tersebut terjadi, setelah data swasta menunjukkan hasil yang optimis terhadap cadangan komoditas minyak mentah Amerika.
Dilaporkan bahwa gerak nilai harga di New York Mercantile Exchange, gerak nilai harga minyak WTI untuk kontrak bulan Maret bergerak menguat. Gerak nilai harga minyak WTI bergerak melonjak sekitar 1.88% sehingga menjadi $31.23 US/ barel.

The American Petroleum Institute (API) telah mengatakan bahwa, nilai cadangan minyak mentah Amerika telah turun sekitar 3.3 juta barel pada pekan lalu. Dilaporkan pula oleh API bahwa, nilai cadangan minyak suling bergerak turun sebesar 2.0 juta barel dan cadangan bensin turun sekitar 750.000 barel. Departemen energi Amerika nanti akan merilis angka mereka sendiri yang dapat menunjukkan cadangan minyak mentah Amerika naik 3.9 juta barel untuk pekan yang berakhir 12 Februari. Kedua laporan tersebut tertunda satu hari karena hari libur President Day.

Telah dilaporkan bahwa gerak nilai harga minyak mentah Amerika bergerak melonjak lebih dari 6% sebelum mengurangi beberapa penguatannya pada akhir sesi perdagangan pasar hari Rabu. Kondisi tersebut terjadi, karena pejabat dari Iran mendukung tindakan dari empat produsen utama yang bertujuan menstabilkan pasar minyak, tanpa berikan rincian yang spesifik apakah mereka mau menahan level produksi mereka atau tidak.

About author

You might also like

Fundamental 0 Comments

Apresiasi USD Terlawan karena Kondisi Pasar Global

Pada sesi perdagangan pasar Asia hari Selasa (21/ 10/ 2014) ini, apresiasi mata uang USD masih pertahankan gerak pelemahannya mulai dari kemarin terhadap sebagian besar major currencies. Hal ini terjadi

CFD News 0 Comments

Sterling Menggeliat Kuat Usai Sesi Amerika, Referendum Inggris Imbas Kuat Pasar Global

Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang GBP/ USD telah bergerak menguat di awal sesi perdagangan pasar di hari Kamis (23/ 06/ 2016). Gerak nilai apresiasi mata uang Sterling dilaporkan

Berita 0 Comments

Aussie Sambut Baik Perbaikan Tenaga Kerja Australia

Aussie menguat setelah data tenaga kerja Australia membuat investor lebih optimis dengan outlook perekonomian negeri Kangguru tersebut. Jumlah tenaga kerja di Australia meningkat sebanyak 14.200 untuk bulan April; lebih baik

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image