Gerak Nilai Harga Komoditas Minyak dan Bijih Besi Anjlok, Indeks Saham Asia dan Major Currencies Tertekan

0a1y01e8719Mata uang Australia, yang lazim disebut dengan Aussie, dilaporkan tampak masih akan memperpanjang gerak kerugian terbesar mereka dalam lebih dari sebulan. Aussie dilaporkan telah bergerak melemah nilai apresiasinya terhadap Greenback. Gerak nilai apresiasi mata uang Aussie bergerak turun sebesar 0.1% dan sempat menyentuh level $0.7252 pada sesi perdagangan pasar pagi ini. Gerak pelemahan nilai apresiasi mata uang Aussie terhadap mata uang USD terjadi, sejak sesi perdagangan pasar di hari Senin kemarin, ketika mereka turun sebesar 1% dalam kerugian terbesar sejak 6 November.

Juga dilaporkan bahwa mata uang Canadian Dollar (CAD) tampak masih di dekat level terendah dalam 11 tahun. Hal tersebut terjadi, karena jatuhnya harga komoditas, sehingga membebani outlook untuk negara-negara pengekspor. Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang CAD, atau lazim disebut dengan Loonie, tampak hanya sedikit berubah di kisaran level C$1.3512 terhadap Greenback. Gerak nilai apresiasi tersebut tersentuh, setelah sebelumnya menyentuh kisaran level C$1.3524 di sesi New York. Angka tersebut adalah merupakan level terlemah gerak nilai apresiasi Loonie sejak Juni 2004.

Negara Kanada hari ini nanti akan merilis data laporan izin membangun bulan Oktober. Diperkirakan data laporan izin membangun bulan Oktober akan naik sekitar 3,0% darihasil laporan di bulan September yaitu -6,7%. Hasil rilis data yang seusai perkiraan para pelaku pasar akan dapat memberikan sentimen positif bagi gerak nilai apresiasi mata uang Loonie. Namun untuk menguat, Loonie juga memerlukan bantuan dari gerak rebound nilai harga minyak.

Gerak nilai apresiasi mata uang Aussie dan Loonie terkoreksi kuat, dan tergelincir sekitar 1% terhadap Greenback pada sesi perdagangan pasar di hari Senin kemarin, setelah harga komoditas menyusut di bawah $40 US/ metrik ton. Hal tersebut terjadi, karena meningkatnya pasokan dari negara produsen bijih besi terbesar di dunia, Brazil.

Sedikit informasi mengenai komoditas bijih besi. Biji atau bijih besi adalah cebakan yang digunakan untuk membuat besi gubal. Biji besi terdiri atas oksigen dan atom besi yang berikatan bersama dalam molekul. Besi sendiri biasanya didapatkan dalam bentuk magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), goetit, limonit atau siderit. Bijih besi biasanya kaya akan besi oksida dan beragam dalam hal warna, dari kelabu tua, kuning muda, ungu tua, hingga merah karat anjing.

Pada kondisi keadaan saat ini, cadangan biji besi dunia nampak banyak. Namun seiring dengan bertambahnya penggunaan besi secara eksponensial berkelanjutan, cadangan ini mulai berkurang, karena jumlahnya tetap. Sebagai contoh, Lester Brown dari Worldwatch Institute telah memperkirakan bahwa bijih besi bisa habis dalam kurun waktu 64 tahun berdasarkan pada ekstrapolasi konservatif dari 2% pertumbuhan/ tahun.

Dilaporkan bahwa di Inggris nanti akan dirilis data produksi manufaktur bulan Oktober yang diperkirakan turun 0,1% dari bulan sebelumnya yang naik 0,8%. Rilis data yang seusai perkiraan atau lebih rendah dapat memperburuk sentimen untuk mata uang Inggris, yaitu mata uang Poundsterling.

Juga dilaporkan bahwa gerak nilai harga minyak berjangka turut terkoreksi melemah, jatuh ke level terendah mereka sejak 2009. Hal tersebut terjadi, karena OPEC secara efektif mengabaikan strategi untuk membatasi produksi.
Kejatuhan gerak nilai apresiasi di perdagangan mata uang dan jatuhnya gerak nilai harga komoditas terjadi, di saat menjelang langkah The Fed yang telah ditunggu-tunggu oleh para pelaku pasar global. Kebijakan dari Federal Reserve yang tengah dinantikan tersebut adalah, mengenai probabilitas kepastian untuk memutuskan pada pekan depan untuk apakah The Fed akan naikan suku bunga Amerika untuk pertama kalinya dalam hampir sedekade.

Analis mata uang di Mizuho Bank Ltd. di New York telah mengatakan bahwa, gerak nilai harga minyak kemungkinan akan menentukan arah mata uang dimana gerak nilai apresiasi mata uang USD dan mata uang Jepan, yaitu mata uang Yen, tertahan di dalam kisaran tertentu menjekang pertemuan The Fed. Di dalam lingkungan ini, keyakinan akan kejatuhan gerak nilai apresiasi mata unag maupun pelemahan gerak nilai harga komoditas bisa sangatlah mungkin, dengan saat ini pasar melihat untuk sebesar besar gerak nilai harga minyak dapat jatuh lebih lanjut.

Dilaporkan bahwa proyeksi dari Bank of Japan (BoJ), mengenai pandangan akan membaiknya ekonomi di Jepang. Hal tersebut terlihat dari revisi produk domestik bruto (PDB) Jepang pada hari Selasa (08/ 12/ 2015) ini. Data PDB Jepang tersebut menunjukkan bahwa laju ekonomi Jepang terhindar dari masa resesi. Dengan demikian ekspektasi penambahan stimulus oleh BoJ menjadi sedikit teredam.

Dilaporkan bahwa Cabinet Office Jepang telah merilis hasil revisi produk domestik bruto (PDB) Jepang. Revisi produk domestik bruto (PDB) Jepang tersebut adalah sebesar 0,3%, lebih tinggi jika dibandingkan rilis awal yaitu sebesar -0,2%. Persentase pertumbuhan tersebut lebih baik dari estimasi para pelaku pasar, yaitu sebesar 0,1%. Sementara jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya PDB tumbuh 1%, dari rilis awal sebesar -0,8%.

BoJ sebelumnya dikabarkan akan menambah stimulus moneter di bulan Oktober. Namun hingga rapat moneter bulan lalu, BoJ masih bersikukuh mempertahankan stimulus yang ada saat ini dan yakin jika ekonomi akan membaik dan inflasi akan meningkat. Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang USD/ JPY sempat diperdagangkan di kisaran level 123.23, menjauhi level tertinggi harian 123.22.

Merosotnya gerak nilai harga minyak mentah memberikan tekanan bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor energi, dan terlihat menjadi fokus pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa (08/ 12/ 2015) ini. Gerak nilai harga di bursa saham Asia terpantau berada di zona merah.

Gerak nilai harga komoditas minyak merosot hampir 6% pada sesi perdagangan pasar di hari Senin kemarin. Telah dilaporkan bahwa gerak nilai minyak mentah WTI telah menyentuh level terendah sejak 2009. Hingga sesi perdagangan pasar Asia hari Selasa ini, gerak nilai harga minyak masih belum mampu untuk bangkit. Faktor utama melemahnya gerak nilai harga minyak adalah, adanya keputusan OPEC pada pertemuan hari Jumat lalu itulah dikatakan menjadi penyebab merosotnya harga emas hitam ini.

Selain faktor minyak mentah, pasar kini juga menanti data neraca perdagangan China yang dapat menunjukkan kondisi ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut. Ekspor China (year-on-year) diperkirakan -5,0%, dibandingkan dengan Oktober -6,9%, sedangkan impor diperkirakan -12,6% dibandingkan bulan sebelumnya -18,8%.

Dilaporkan bahwa gerak nilai indeks saham spot Shanghai melemah 0,66% menjadi 3513.45. dan indeks saham Hang Seng turun 1,55% menjadi 21858.83. Gerak nilai harga indeks saham Hongkong, yaitu indeks saham Hang Seng Futures diperdagangkan dikisaran 21799, menjauhi level tertinggi harian 22087.

Gerak nilai harga ideks saham Korea Selatan, di bursa Korea Selatan (KS200), yang memiliki eksposur besar ke China turut melemah 0,53% menjadi 240.14. Indeks Korea Selatan, yaitu indeks saham Kospi Futures berada di level harga 240.05.

Cadangan devisa negara China telah dilaporkan mengalami penurunan. Cadangan devisa negara China dilaporkan turun ke posisi paling rendah dalam dua tahun terakhir. Menurut laporan dari foreign reserves November, bahwa penurunan jumlah simpanan valas China karena disebabkan oleh berpindahnya modal asing ke luar negeri.

Foreign-exchange reserves China dilaporkan berkurang sekitar $87,22 miliar US, dibandingkan pada bulan sebelumnya sehingga menjadi $3.438 triliun US di akhir bulan November, demikian menurut data People’s Bank of China (PBoC). Jumlah simpanan forex itu merupakan yang paling rendah sejak Februari 2013, di mana angkanya kala itu adalah sebesar $3.395 triliun US.

Di bulan Oktober lalu, jumlah devisa sempat meningkat $11,39 miliar US setelah anjlok selama lima bulan beruntun. Arus modal keluar tidak bisa dibendung jelang realisasi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dan iklim perlambatan ekonomi domestik. Pemerintah sendiri sudah memperketat aturan modal selama beberapa bulan terakhir untuk menjaga agar modal tetap di dalam negeri. Negara China juga tidak ingin kehilangan statusnya sebagai negara investasi paling menjanjikan di era modern.

Pembuat kebijakan dan investor terus memantau perubahan jumlah devisa China sejak bank sentralnya melakukan devaluasi mata uang China, yaitu mata uang Yuan sebanyak 2% di bulan Agustus. Langkah itu berdampak pada rekor penurunan devisa di bulan Agustus sebesar $93,9 miliar US.

Telah dilaporkan bahwa necara perdaganga bulan November negara China telah mengalami surplus. Angka surplus dari neraca perdagangan negara China tersebut, adalah sebesar $54,10 milyar. Angka tersebut turun dari bulan sebelumnya yaitu sebesar $61,64 milyar US. Detail data perdagangan tersebut menunjukkan ekspor (year-on-year) -6,8% dibandingkan dengan eskspektasi -5,0%, dan bulan sebelumnya -6,9%. Impor dirilis -8,7%, dengan ekspektasi -12,6%, dan bulan sebelumnya -18,8%.

About author

You might also like

Fundamental 0 Comments

USD Respon Positif Pernyataan Bernanke, Aussie Masih Harus Pasrah

Mata uang USD merespon dengan naik atas sejumlah mata uang utama lainnya, termasuk mata uang euro dan yen, setelah adanya rilis mengenai pernyataan gubernur The Fed, Ben S. Bernanke. Pada

Berita 0 Comments

Melemah Secara Intraday, Aussie Masih Dalam Tekanan

Pergerakan Dollar Australia hari ini (06:24:42 GMT, Senin, 7 Juli 2014) terpantau turun dan mata uang tersebut terpantau didesak mata uang utama lainnya Dollar AS, setelah dibuka pada 0.9364 di

Forex News 0 Comments

Nantikan Data Inflasi Pekan Ini, Euro Tertahan di Level Terendah 11 Bulan

Euro menguat terhadap dollar pada perdagangan sesi Asia hari ini, namun masih berada dekat level terendah dalam 11 bulan terakhir. Data inflasi menjadi data yang paling di nanti trader pada

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image