Greenback Terkoreksi Kuat, Rupiah Tampak Suram

analisa forex mata uang Dollar ASDilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang USD mengalami koreksi yang kuat. Gerak nilai apresiasi Greenback terkoreksi dan melemah terhadap 23 dari 31 major currencies. Dilaporkan bahwa, gerak nilai indeks USD telah melemah sebanyak 1.09% menjadi 95.61.

Gerak nilai apresiasi mata uang USD bergerak melemah, terjun bebas ke level terendah dalam kurun waktu empat bulan. Hal tersebut terjadi, karena Federal Reserve berkeputusan untuk menurunkan kembali ekspektasi atas laju kenaikan suku bunga di tahun 2016, setelah target suku bunga acuan tidak berubah.

Kondisi tersebut karena akibat imbas dari hasil FOMC, dimana mengutip dampak potensial dari pelemahan pertumbuhan global dan gejolak di pasar keuangan terhadap ekonomi Amerika. The Fed mempertahankan tingkat suku bunga pada 0.25-0.5% dan memangkas proyeksi jumlah kenaikan di tahun 2016 dari 4 kali menjadi 2 kali, dan hanya memproyeksikan adanya 2 kenaiakn di tahun 2017. Ketidakpastian mengenai kenaikan suku bunga telah menghantui bursa saham semenjak The Fed menaikkannya untuk pertama kali di bulan Desember.

Gerak nilai apresiasi mata uang USD mengalami gerak pelemahan nilai apresiasi terbesar. Hal tersebut terjadi dalam satu bulan karena para pembuat kebijakan The Fed mempertahankan target suku bunga dan mengurangi kembali perkiraan untuk kenaikan lebih lanjut pada tahun ini setelah pertemuan selama dua hari.

Para pembuat kebijakan The Fed telah mempertimbangkan untuk kapan kenaikan suku bunga kembali setelah kenaikan suku bunga di bulan Desember untuk pertama kalinya dalam hampir sedekade. Pertumbuhan yang merata di Amerika dan perlambatan laju ekonomi di wilayah China telah mengguncang pasar dalam beberapa pekan awal pada tahun ini.

Kondisi tersebut mengurangi peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Para pejabat berwenang The Fed memperbaharui estimasi median perkiraan suku bunga pada akhir tahun ini menjadi 0.875, isyaratkan dua kenaikan satuperempat poin di tahun 2016, turun dari perkiraan sebanyak empat kali di bulan Desember.

Tampaknya di tahun 2015 lalu telah seakan menjadi momen sulit bagi mata uang Indonesia, yaitu mata uang Rupiah. Sama seperti mata uang negara berkembang lainnya, mata uang Rupiah hancur lebur gerak nilai apresiasinya. Hal tersebut terjadi, akibat hantaman yang kuat dari gerak penguatan nilai apresiasi mata uang USD. Kondisi ini kemungkinan bertahan hingga tahun depan karena adanya divergensi kebijakan moneter antara Jakarta dan Washington.

Mata uang Rupiah berpeluang untuk mengklaim lagi statusnya sebagai mata uang dengan kinerja paling buruk di Asia pada 2016 mendatang. Kombinasi antara penurunan cadangan devisa dan instabilitas neraca transaksi berjalan akan membuat valuta domestik melemah lagi terhadap gerak nilai apresiasi Greenback. Kenaikan suku bunga di Amerika Serikat secara otomatis juga akan mengurangi daya tarik investasi sehingga dana asing yang sekarang parkir di dalam negeri rawan terbang lagi ke negara asalnya.

Trend penurunan gerak nilai apresiasi mata uang Rupiah dimulai tahun 2012 dan 2013 lalu, di mana kurs domestik mengalami pelemahan masing-masing 5,9% dan 21% terhadap mata uang USD. Kala itu Rupiah terpukul oleh penurunan harga komoditas dunia dan pengetatan kebijakan moneter di Amerika. Beberapa bank investasi dan media keuangan sudah mengutarakan perkiraannya masing-masing terkait dengan kinerja gerak nilai amata uang Rupiah tahun depan.

Societe Generale melihat bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Rupiah punya peluang besar menyentuh 15.300 terhadap Greenback di akhir 2016 mendatang. Estimasi tersebut jauh lebih buruk dibandingkan dengan hasil survei analis Bloomberg yang hanya 14.750 serta ABN Amro Bank dan Credit Suisse di kisaran 15.000.

Perusahaan keuangan dengan prediksi paling akurat ke-dua dalam ranking Bloomberg kuartal lalu, Nomura Holdings, bahkan menaikkan target gerak nilai apresiasi mata uang USD/IDR untuk akhir 2016 dari 14.850 akan menjadi 15.200. Tidak ada mata uang negara berkembang lain yang dinilai punya prospek lebih suram ketimbang IDR, kecuali Peso Argentina dan Real Brazil.

Ada beberapa alasan kuat yang telah melatarbelakangi prediksi tersebut. Selama 9 bulan terakhir (sampai dengan November 2015), cadangan devisa Indonesia konsisten menurun dengan persentase mencapai 10% atau rasio penurunan terbanyak sejak Desember 2013. Di saat yang sama, para investor asing memegang obligasi berdenominasi Rupiah dalam jumlah besar dengan akumulasi mencapai 38%, lebih tinggi dibandingkan Malaysia (31%) dan Thailand (15%).

Tingginya modal asing di instrumen surat hutang domestik membuat gerak nilai apresiasi mata uang Rupiah rentan atas guncangan. Ketika pola kebijakan moneter di Amerika kembali seperti masa pra-krisis dan gerak laju perekonomian di China masih gagal untuk bangkit, maka uang-uang asing yang bertebaran di dalam negeri akan terbang ke negara asalnya masing-masing .

Pemilik modal tidak akan menganggap aset Indonesia menarik lagi karena return investasi di negara maju sudah lebih tinggi. Dalam hal ini, laju ekonomi di China turut berperan besar dalam pergerakan Rupiah. Hal tersebut terasumsikan, karena negara ini merupakan mitra dagang strategis, terutama untuk urusan jual beli komoditas. Kelesuan ekonomi di China sudah membuat harga dan pesanan produk hasil bumi dari Indonesia merosot tajam dalam 3 tahun terakhir sehingga Rupiah ikut melemah gerak nilai apresiasinya.

Cadangan devisa merupakan sumber pendanaan bagi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi nilai tukar dengan cara menjual mata uang USD. Jika jumlahnya sedikit, maka Bank Indonesia tidak akan leluasa masuk ke pasar di saat gerak nilai apresiasi mata uang Rupiah melemah tajam terutama akibat pengaruh kebijakan di Amerika.

Secara fundamental, kondisi ekonomi domestik tahun depan diyakini lebih baik dibandingkan sekarang. Kalau pada 2015 ini pertumbuhan ekonomi diramalkan sebesar 4,7%, maka untuk tahun 2016 rasionya diprediksi di kisaran 5,1%, demikian mengacu pada survei Bloomberg. Pemerintah sendiri menargetkan produk domestik bruto (GDP) meningkat di batas atas kisaran 5,2% sampai 5,6% pada tahun depan.

Artinya untuk memenuhi target tersebut, pemerintah perlu memangkas suku bunganya lagi sehingga pesona Rupiah bisa semakin berkurang. Terbuka skenario pemangkasan suku BI rate sebanyak 3 kali dalam 12 bulan ke depan dengan besaran masing-masing 25 basis poin.

Kabinet Presiden Joko Widodo memang sudah melakukan berbagai cara untuk mempercepat roda ekonomi meski efeknya belum terasa. Serial kebijakan ekonomi dirilis beberapa kali dengan substansi pelonggaran aturan dan regulasi di berbagai bidang, mulai dari pajak hingga perizinan usaha.

Meski demikian, namun restrukturisasi kebijakan tersebut tidak serta merta memperbaiki prospek ekonomi Indonesia tahun depan. Bank Dunia dalam pernyataan resminya pekan lalu menyebut 2016 adalah ‘periode yang menantang’ bagi Indonesia disertai ‘potensi gejolak’. Hal tersebut terasumsikan, karena permintaan barang dari China semakin sedikit dan Amerika mulai menaikkan suku bunga.

Walaupun sektor belanja negara membaik, pemasukan pajak masih rendah dan mengancam rencana ekonomi pemerintah sehingga pertumbuhan ekonomi nasional hanya mencapai 5,3% per tahun. Memang tidak ada yang bisa menerka secara akurat sampai level berapa valuta garuda akan terdepresiasi. Namun jika melihat histori dan realita yang ada, bukan tidak mungkin pelemahannya menyaingi rasio koreksi gerak nilai apresiasi mata uang Rupiah terhadap Greenback di sepanjang tahun 2015 yang sudah menembus 11%.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga di bursa saham Wall Street Amerika telah ditutup lebih tinggi pada sesi perdagangan pasar di hari Rabu. Hal tersebut terjadi, karena dibantu oleh kenaikan gerak nilai harga minyak setelah perilisan pernyataan dan proyeksi ekonomi Federal Reserve.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga indeks saham utama ditutup menjauh dari level tertinggi sesi, dengan indeks Dow Jones Industrial naik gerak nilai harganya sekitar 74 poin setelah sempat naik 127 poin. Gerak nilai harga saham Caterpillar, IBM dan Chevron berada diantara kontributor terbaik terhadap penguatan indeks. Goldman adalah kontributor terburuk untuk penurunan.

Gerak nilai harga indeks saham S&P 500 dilaporkan sempat menyerahkan beberapa penguatannya setelah pernyataan The Fed dengan dibebani oleh saham sektor keuangan dan kesehatan. Sesaat kemudian, gerak nilai harga indeks saham S&P 500 lalu ditutup positif, dengan menguat sekitar setengah persen lebih tinggi karena ditopang saham material dan energi. Gerak nilai harga indeks saham Nasdaq komposite berkinerja baik di tengah penguatan saham Apple dan Microsoft.

Gerak nilai harga di indeks Nikkei 225 Jepang dilaporkan bergerak menguat . Gerak nilai harga indeks saham Nikkei 225 naik sekitar 1.39%, setelah melemah selama 2 sesi sebelumnya.

Gerak nilai harga indeks saham Jepang tersebut, telah mengabaikan gerak penguatan nilai apresiasi mata uang Yen terhadap mata uang USD. Selain kondisi tersebut, gerak nilai harga indeks saham Nikkei juga tak menghiraukan hasil rilis data impor Jepang bulan Februari yang menunjukkan penurunan beruntun ke-5.

Dilaporkan juga bahwa, gerak nilai harga indeks saham Korea Selatan, yaitu Kospi, turut pula bergerak menguat. Gerak nilai harga indeks saham Kospi dilaporkan bergerak menguat sekitar 1.19%.

Tak mau ketinggalan, gerak nilai harga indeks saham Hong Kong, yaitu indeks saham Hang Seng 33, juga senada dengan gerakan nilai harga di bursa saham Asia lainnya. Dilaporkan bahwa, gerak nilai harga indeks saham Hang Seng 33 bergerak menguat sebanyak 1%.

Federal Reserve meninggalkan suku bunga acuan tidak berubah dan mengurangi proyeksi untuk jumlah kenaikan suku bunga di tahun 2016 menjadi dua dari empat, penurunan lebih besar dari banyak perkiraan. The Fed juga telah memangkas outlook mereka untuk PDB 2016 menjadi 2.2% dari sebelumnya 2.4%.

Gerak nilai harga komoditas minyak dilaporkan berakhir naik sekitar $2.12 US, atau 5.8%, di $38.46 US/ barel. Para pelaku pasar telah mengaitkan beberapa dorongan lebih tinggi pada gerak nilai harga komoditas minyak setelah pengumuman The Fed.

Gerak kenaikan nilai harga di bursa saham Asia pada hari Rabu pagi, menyusul performa apik dari Wall Street semalam, serta kondisi dimana para pelaku pasar menyambut baik kejelasan dari Federal Reserve dan kenaikan harga minyak. Dilaporkan bahwa gerak nilai harga Minyak WTI untuk bulan April naik $2.12 US, untuk berakhir di $38.46 US/ barel di Nymex.

Gerak nilai harga komoditas minyak menguat setelah cadangan minyak mentah Amerika menunjukkan kenaikan yang lebih kecil dari perkiraan untuk 1.3 juta barel. Gerak nilai harga komoditas minyak berjangka berakhir dengan naik tajam pada hari Rabu, didorong oleh kenaikan mingguan yang lebih kecil dari perkiraan di dalam cadangan minyak mentah Amerika.

Selain hal tersebut, faktor pendkung lainnya adalah setelah adanya berita bahwa produsen akan bertemu pada bulan depan di Qatar untuk membahas usulan pembatasan output. Rencana untuk pertemuan pada produsen utama minyak pada bulan depan untuk membahas pembatasan output dan pernyataan Federal Reserve yang dovish, yang menekan gerak nilai apresiasi Greenback, menambah penguatan untuk gerak nilai harga komoditas minyak.

Federal Reserve proyeksikan bahwa mereka akan berikan hanya dua kenaikan di tahun 2016 terhadap perkiraan sebelumnya untuk empat kenaikan. Nada dovish yang mengejutkan telah melukai dollar AS, menaikan harga minyak dan komoditas lainnya. Pelemahan greenback dapat membuat aset yang dihargai dalam dollar menjadi lebih menarik untuk pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Sebelumnya pada hari Rabu, Energy Information Administration Amerika telah melaporkan bahwa, kenaikan suplai minyak mentah sebanyak 1.3 juta barel untuk pekan yang berakhir 11 Maret. Hal tersebut itu menandai kenaikan untuk lima pekan beruntun, namun kenaikan di bawah kenaikan 1.5 juta barel yang dilaporkan oleh American Petroleum Instittute, dan di bawah estimasi untuik kenaikan 2.7 juta barel dalam jajak pendapat Platts.

About author

You might also like

Euro Merangkak Naik, Komoditas Minyak Koreksi

Gerak nilai apresiasi mata uang EUR/ USD dilaporkan tampak tengah melanjutkan gerak penguatannya pada sesi perdagangan pasar di hari Rabu. Hal tersebut terjadi, seiring adanya ketidakpastian atas perkembangan dari politik

Fundamental 0 Comments

Pasar Waspada Menjelang Referendum Inggris, Greenback Beri Tekanan Balik Karena Terdukung Yellen

Mata uang Inggris, yaitu mata uang Poundsterling, dilaporkan sempat bergerak melemah gerak nilai apresiasinya terhadap mata uang USD, pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa. Dilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi

Forex News 0 Comments

Rupiah Cenderung Konsolidasi, Sentimen Muncul Bervariasi

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (27/6) diprediksi konsolidasi. Rilis nursing papers PDB AS yang di bawah ekspektasi jadi salah satu

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image