Greenback Terkoreksi Kuat Setelah Menekan Sebelumnya, Minyak Terdukung Ekspektasi

0_usa_10152999_567681066709603_1818365415629373903_nGerak nilai apresiasi Greenback dilaporkan telah mengalami gerak koreksi pelemahan terhadap major currencies pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa kemarin. Hal tersebut terjadi, setelah adanya hasil rilis data inflasi Amerika yang ternyata telah gagal untuk meyakinkan para pelaku pasar bahwa pihak Federal Reserve akan semakin dekat untuk melakukan langkah menaikkan suku.

Gerak nilai apresiasi mata uang USD awalnya menguat terhadap mata uang Uni eropa, yaitu mata uang Euro dan Swiss franc. Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Euro sempat menyentuh level terendah terhadap Greenback di kisaran level $1.1300. Gerak nilai apresiasi mata uang USD juga sempat menyentuh hampir level tertinggi dalam kurun waktu sembilan pekan terhadap Swiss franc di kisaran level 0.9803.

Hal tersebut terjadi, setelah hasil data menunjukkan harga konsumen Amerika mampu mencatatkan angka kenaikan terbesar dalam lebih dari kurun waktu tiga tahun di bulan April. Kondisi tersebut karena adanya kenaikan gerak nilai harga bensin dan sewa.

Penguatan dari gerak nilai apresiasi mata uang USD bergerak singkat, dan Greenback kemudian tekoreksi gerak penguatannya. Gerak nilai apresiasi mata uang USD kemudian diperdagangkan lebih rendah terhadap mata uang Euro, mata uang Jepang yaitu mata uang Yen, dan mata uang Swiss franc.

Gerak nilai apresiasi mata uang Euro dilaporkan bergerak menguat sekitar 0.16% di kisaran level $1.1338. Pencapaian dari level tersebut, berada di dekat level tertinggi harian yaitu di kisaran level $1.1348.

Gerak nilai apresiasi mata uang USD terkoreksi turun sebesar 0.07% terhadap mata uang Yen dengan berada di kisaran level 108.94, melemah dari level tertinggi dua pekan di 109.65. Analis mengatakan bahwa data inflasi hasilnya bervariasi, sebagian sejak data inflasi inti naik 2.1% di periode 12 bulan sampai April setelah naik 2.2% di bulan Maret.

Gerak nilai harga saham di bursa Nikkei, dilaporkan telah bergerak fluktuatif antara penguatan dan pelemahan. Hal tersebut terjadi, setelah hasil rilis data produk domestik bruto Jepang yang lebih tinggi dari perkiraan.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga indeks saham spot Nikkei telah sempat bergerak melemah sekitar 0,54% menjadi 16562,40. Juga telah dilaporkan bahwa, gerak nilai harga indeks saham Nikkei Futures sempat diperdagangkan di kisaran level harga 16560.

Telah dilaporkan oleh pihak Cabinet Office bahwa produk domestik bruto (PDB) sebesar 1,7% (year-on-year) di kuartal pertama tahun ini. Pencapaian tersebut jauh lebih tinggi dari hasil survei Reuters terhadap beberapa ekonom yang telah memperkirakan sebelumnya, yaitu sebesar 0,2%. Untuk periode kuartalan PDB riil dilaporkan telah tumbuh sebesar 0,4%, juga lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, yaitu di kisaran 0,1%.

Data tersebut menghilangkan kecemasan para pelaku pasar akan kemungkinan resesi di Jepang, disisi lain juga meredam ekspektasi penambahan stimulus oleh Bank of Japan (BoJ). Meski hasil rilis data PDB Jepang dilaporkan positif, namun laporan belanja modal perusahaan memberikan sentimen negatif setelah menunjukan penurunan 1,4% dan lebih besar dari perkiraan penurunan sebelumnya, yaitu sebesar 0,8%.

Gerak nilai harga komoditas minyak mentah dilaporkan telah naik ke level tinggi dalam kurun waktu 7-bulan. Hal tersebut terjadi, karena didukung dengan ekspektasi penurunan suplai minyak di Amerika.

Hal lain yang turut mendukung kondisi tersebut adalah, karena adanya gangguan produksi minyak di Kanada, sehubungan dengan kebakaran hutan yang tidak terkendali di area produksi minyak Sands. Dilaporkan bahwa hasil produksi minyak mentah di Kanada, rata-rata mengalami pengurangan sekitar 2,5 juta barel produksi minyak. Kondisi kebakaran hutan yang masih berlangsung telah membuat perusahaan minyak Sands ditutup lebih lama.

Gerak nilai harga komoditas minyak mentah dilaporkan telah ditutup di level $48.59 US/ barel pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa (17/ 05/ 2016). Angka tersebut tercatat lebih tinggi sekitar $0.70 US/ barel, jika dibandingkan dengan harga penutupan di sesi perdagangan pasar sebelumnya.

Pihak dari Energy Information Administration (EIA) akan mempublikasikan hasil laporan suplai minyak mingguannya pada hari Rabu. Para pelaku pasar mengestimasikan bahwa, akan ada penurunan sebesar 2,8 juta barel dalam suplai minyak mentah mingguan Amerika untuk pekan lalu, berkurang untuk pekan kedua beruntun.

Hasil rilis data dari institut swasta, American Petroleum Institute (API), menyebutkan bahwa angka penurunan suplai minyak mentah Amerika pada pekan lalu adalah sebesar 1,14 juta barel. Gerak nilai harga komoditas minyak mentah berpotensi melemah untuk jangka pendek dengan support terdekat terdekat terlihat di area 47.70 sementara resisten terdekat berada di kisaran 49.50.

About author

You might also like

CFD News 0 Comments

Koreksi Yen Dongkrak Nikkei, Suplier Besar Minyak Akan Adakan Pertemuan

Gerak nilai apresiasi dari mata uang Australia, yang lazim disebut dengan istilah Aussie, dilaporkan telah bergerak menguat atas Greenback. Hal tersebut terjadi, seiring adanya rilis data hasil laporan ekonomi Australia.

Komoditas 0 Comments

Rilis Data Tunjang Kiwi, Minyak Menggeliat Tipis

Gerak nilai apresiasi dari mata uang Selandia Baru, yang lazim disebut dengan istilah Kiwi, dilaporkan telah bergerak menguat pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis. Hal tersebut terjadi, terutama adalah

Komoditas 0 Comments

Kemungkinan Harga Emas Bergerak Saat Sesi Pasar Eropa, Aussie Masih Tertekan

Gerak harga emas dilaporkan sedikit melemah pada pembukaan sesi perdagangan pasar Asia hari Selasa (19/ 05/ 2015) pagi ini. Adanya gerak perlemahan pada gerak harga emas karenai dipicu oleha adanya

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image