Greenback Terkoreksi Oleh Sterling, Bursa Saham Asia Tampak Tertekan

EXID_1447386582_af_orgDilaporkan berdasarkan dari rilis data Departemen Tenaga Kerja Amerika bahwa, jumlah klaim tunjangan pengangguran pada pekan lalu naik sebesar 9.000. Jumlah klaim tunjangan pengangguran pada pekan lalu menjadi 257.000. Gerak nilai apresiasi Greenback dilaporkan tidak banyak bergerak merespon data tersebut saat dirilis.

Angka dari laporan jumlah klaim tunjangan pengangguran pada pekan lalu tersebut sedikit lebih rendah dari estimasi para pelaku pasar sebelumnya, yaitu sebesar 258.000. Rata-rata angka klaim tunjangan dalam kurun waktu empat pekan, dianggap lebih menggambarkan pasar tenaga kerja, turun sebeanyak 4.750 klaim menjadi 256.000, dan merupakan level terendah sejak Desember 1973.

Meski perekonomian Amerika secara umum tampak melambat di kuartal pertama, jumlah perekrutan tenaga kerja tetap lebih dari 200.000 setiap bulannya. Para ekonom telah mengatakan bahwa, berdasarkan data tenaga kerja tersebut, ekonomi Amerika seharusnya melanjutkan ekspansi. Semakin banyak pekerja dapat semakin meningkatkan permintaan akan barang dan jasa.

Juga telah dilaporkan bahwa laju ekonomi Amerika tumbuh 0,5% di kuartal pertama tahun ini, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebelumnya, yaitu di kisaran 0,7%. Gerak nilai harga indeks USD dilaporkan sempat berada dikisaran 93.920, dengan level tertinggi harian 94.580.

Gerak nilai apresiasi mata uang Inggris, yaitu mata uang Poundsterling tampak memanfaatkan pelemahan gerak nilai apresiasi mata uang USD. Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi Sterling telah bergerak menguat, dengan melesat mendekati level tertinggi 12-minggu pada sesi perdagangan pasar hari Kamis, di tengah harapan bahwa Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Meski demikian, namun apresiasi mata uang Sterling kemungkinan masih akan terbatas. Hal tersebut dimungkinkan, setelah hasil polling YouGov terbaru menunjukkan bahwa, adanya peningkatan dukungan bagi Inggris untuk keluar dari Uni Eropa, menjelang referendum bulan Juni mendatang.

Survey online yang digelar hari Senin dan Selasa lalu menunjukkan bahwa, jumlah dukungan untuk Inggris meninggalkan Uni Eropa naik menjadi sebesar 3 poin persentase. Angka dukungan tersebut naik jika dibandingkan survey sebelumnya sehingga menjadi 42%, Sementara dukungan untuk bertahan hanya meningkat 1 poin persentase menjadi 41%.

Di sisi teknikal, pergerakan bullish gerak nilai apresiasi mata uang GBP/ USD masih mungkin berlanjut selama berada di atas MA-21 pada grafik 4-jam. Stochastic dan RSI yang bertahan di atas garis tengah juga mendukung outlook tersebut. Dibutuhkan stabilitas di atas kisaran level 1.4605 untuk mendorong keberlanjutan pemulihan menuju level tertinggi 4 Februari di sekitar level 1.4665.

Dilaporkan juga bahwa, gerak nilai apresiasi mata uag Jepang, yaitu mata uang Yen, tampak melanjutkan gerak rally terhadap mata uang USD. Telah dilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang Yen sempat diperdagangkan di kisaran level 107.30, dibandingkan level 108 pada awal sesi perdagangan pasar di hari Jumat ini. Hal tersebut terjadi, dan telah menyusul gerak penurunan sebesar 3% pada sesi perdagangan pasar sebelumnya dari kisaran level 111.

Gerak nilai harga di bursa saham kawasan Asia dilaporkan rata-rata telah bergerak melemah di penghujung akhir pecan ini. Hal tersebut terjadi, menyusul pelemahan hampir sebesar 1% pada gerak nilai harga di bursa saham Wall Street Amerika pada sesi perdagangan pasar Amerika hari Kamis semalam.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga indeks saham Kospi bergerak melemah sekitar 0.54%. Juga dilaporkan bahwa gerak nilai harga indeks saham Hong Kong, yaitu indeks saham Hang Seng, telah pula bergerak melemah sekitar 1.48%. Gerak nilai harga di bursa saham China, Shanghai Composite Indeks, juga dilaporkan ikut bergerak melemah. Gerak nilai harga di bursa saham Shanghai Composite Indeks dilaporkan telah bergerak melemah turun sebanyak 0.31%.

Gerak nilai harga di bursa saham Jepang, duilaporkan ditutup untuk hari libur publik pada hari Jumat, menyusul penurunan sebesar 3.61% pada sesi sebelumnya. Hal tersebut terjadi, setelah pihak berwenang Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk tidak merubah kebijakan moneternya. Hal tersebut telah mematahkan ekspektasi stimulus dari para pelaku pasar.

Selain respon terhadap langkah BoJ yang enggan menambah stimulus moneter tersebut, laporan earnings perusahaan mulai dari Canon Inc hingga Oversea-Chinese Banking Corp. telah turut mengecewakan para pelaku pasar. Fokus para pelaku pasar saat ini akan tertuju pada laporan earning dari Citic Securiteis Co., broker terbesar di China, dan data sektor manufaktur China yang akan dirilis pada akhir pekan.

Gerak nilai harga komoditas minyak mentah dilaporkan telah terapresiasi untuk hari ke-3 beruntun dan menorehkan level tertinggi baru untuk tahun 2016. Hal tersebut terjadi, didorong oleh penurunan 7-minggu berturut-turut produksi minyak Amerika, dan pelemahan dari gerak nilai apresiasi mata uang USD.

Gerak depresiasi mata uang USD cenderung membuat gerak nilai harga komoditas yang berdenominasi dengan Greenback, menjadi lebih menarik bagi para pelaku pasar pemegang mata uang opposan. Mata uang opposan Greenback, seperti pemegang mata uang Euro maupun mata uang lainnya.

Meski demikian yang terjadi, namun sebagian analis nampaknya masih meragukan keberlanjutan momentum positif dari gerak nilai harga komoditas harga minyak ini. Hal tersebut terasumsikan, mengingat kurangnya perubahan signifikan di sisi pasokan pasar.

Pada awal bulan ini negara-negara produsen minyak utama telah gagal menyepakati pembatasan produksi. Pihak Arab Saudi terlihat mulai enggan melakukan pembahasan lebih lanjut tanpa keterlibatan dari pihak Iran.

Gerak nilai harga komoditas minyak mentah yang kembali mendekati level harga $50 US/ barrel, juga bisa menghidupkan kembali minat produsen shale Amerika untuk melakukan pengeboran. Oleh karena timbulnya minat untuk melakukan pengeboran kembali tersebut, sehingga berpotensi memperburuk banjir pasokan yang telah memicu kejatuhan gerak nilai harga komoditas minyak mentah sejak pertengahan tahun 2014.

Di sisi teknikal, penguatan gerak nilai harga komoditas minyak mentah ini masih mungkin berlanjut selama gerak nilai harga bertahan di atas MA-21 pada grafik 4-jam. Meski demikian, namun momentum cenderung telah menyusut seiring stochastic dan RSI mensinyalkan overbought, yang sekaligus membuka peluang terjadinya koreksi jangka pendek. Dibutuhkan stabilitas di atas kisaran level harga 45.85 untuk mendorong keberlanjutan gerak rally menuju setidaknya ke kisaran level harga 46.90.

About author

You might also like

Berita 0 Comments

Inflasi Spanyol Hambat Penguatan Euro

Euro membatasi penguatannya terhadap Dollar AS usai data yang menunjukkan estimasi awal inflasi Spayol dilaporkan turun dengan laju yang lebih rendah dari prediksi analis. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI)

Fundamental 0 Comments

Di Kuartal Ketiga Jelang Rencana IPO, Pendapatan Twitter Naik Dua Kali Lipat Lebih

Twitter Inc. terus tingkatkan laju pertumbuhan pendapatannya. Hal ini dilakukan menjelang penawaran saham perdana ke publik (IPO). Perusahaan jasa microblogging tersebut mengatakan bahwa pendapatan mereka telah naik lebih dari dua

Forex News 0 Comments

Dollar Naik Untuk Hari Ketiga Atas Taruhan Tapering Fed

Dollar menguat untuk hari ketiga terhadap yen atas spekulasi membaiknya ekonomi AS yang akan mendorong Federal Reserve untuk menyerukan kembali pengurangan stimulus ketika para pembuat kebijakan akan bertemu pada pekan

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image