Imbas Kebijakan ECB Koreksi Euro, Minyak dan Indeks Saham Respon Positif

11183434_834618946612137_888498380575393209_nGerak nilai apresiasi mata uang Uni Eropa, yaitu mata uang Euro, dilaporkan masih berkutat di kisaran level lemah. Gerak nilai apresiasi mata uang Euro terkoreksi bergerak melemah ke level terendah dalam dua bulan terhadap mata uang USD pada awal sesi perdagangan pasar hari Jumat ini. Kondisi ini terjadi, setelah ECB (European Central Bank) membuka kesempatan untuk stimulus yang lebih besar. Stimulus yang lebih besar tersebut oleh pihak ECB paling cepat dilakukan bulan Desember.

Hal tersebut berdampak kuat, dan membuat mata uang Euro mengalami guncangan dalam sehari setelah mata uang tersebut membukukan penurunan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Gerak nilai apresiasi mata uang Euro anjlok ke level terendah 1-bulan terhadap mata uang Inggris, yaitu mata uang Poundsterling. Gerak penurunan nilai apresiasi mata uang Euro tersebut pun, juga merupakan level rendah dalam lebih dari 2 pekan terhadap mata uang Amerika, yaitu mata uang USD, dan level rendah 3 pekan terhadap mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen. Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Euro telah sempat menyentuh level terendah di kisaran $1.1068 US pada awal sesi perdagangan pasar Asia hari Jumat ini. Gerak nilai apresiasi mata unag Euro tersebut telah menembus di bawah level psikologi $1.11 US, yang menjadi level support utama untuk mata uang dalam beberapa pekan terakhir.

Ketua ECB Mario Draghi, pada hari Kamis kemarin telah mengatakan bahwa, pihak ECB sedang mempelajari untuk langkah-langkah stimulus baru yang dapat paling cepat diluncurkan pada bulan Desember dan bersiap untuk memangkas suku bunga deposito menjadi lebih dalam di wilayah negatif. Mario Draghi pada sesi perdagangan pasar hari Kamis kemarin, telah mengatakan apabila bahwasannya pihak berwenang ECB tengah mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lebih lanjut dan menaikkan peluang untuk pelonggaran kebijakan lebih lanjut untuk mendorong laju inflasi yang lambat di zona Eropa.

Pihak ECB mempertahankan tingkat suku bunga pada pertemuan di Malta. Dalam konferensi pers, Draghi mengatakan akan kembali mengevaluasi di bulan Desember apa lagi yang dapat dilakukan bank sentral untuk mengatasi ancaman lambatnya laju inflasi, menambahkan bahwa pemangkasan lebih lanjut pada tingkat suku bunga tabungan daapat dilakukan dan dewan kebijakan ECB siap untuk mengambil langkah. Selain itu, Draghi juga menyebut bahwa penguatan gerak nilai apresiasi mata uang Euro belakangan ini sebagai resiko negatif terhadap perekonomian.

Komentar Ketua ECB tersebut telah berdampak secara signifikan, dengan gerak apresiasi mata uang Euro terkoreksi merosot sekitar 2% pada sesi perdagangan pasar hari Kamis Semalam. Gerak perlemahan nilai apresiasi mata uang Euro tersebut itu, adalah gerak penurunan terbesar ke dua sejak tahun 2011, setelah tanggal 22 Januari ketika ECB umumkan skema pembelian obligasi yang sedang berjalan saat ini.

Imbas kebijakan ECB juga tampaknya telah turut berdampak pada pergerakan harga di pasar saham global. Pasar saham Asia dilaporkan telah menguat tajam gerak nilai harganya pada awal sesi perdagangan pasar Asia di hari Jumat ini, seiring harapan stimulus ECB yang memacu risk appetite para pelaku pasar. Sentimen para pelaku pasar juga terdorong oleh kinerja mengesankan Wall Street sesi sebelumnya, dimana Dow Jones Industrial Average membukukan hari terbaik sejak 8 September.

Gerak nilai harga di bursa indeks Jepang Nikkei 225 juga dilaporkan, bergerak menguat dan melesat hingga 2,2%, hingga mampu menyentuh level tertinggi sejak 31 Agustus. Kondisi tersebut didukung oleh kondisi gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, Yen, yang melanjutkan pelemahan terhadap Mata uang USD. Hal tersebut yang membantu saham eksportir blue-chip seperti Toyota Motor dan Toshiba terapresiasi hampir 2%. Kenaikan terkuat diperlihatkan sektor keuangan, dengan saham Mitsubishi UFJ Financial Group dan Sumitomo Mitsui Financial Group sama-sama mencatat gain hampir 3% sementara saham Nomura Holdings melonjak 4,8%.

Dilaporkan juga dari Korea Selatan, bahwa gerak nilai harga indeks KOSPI bergerak melonjak sekitar 1,3% pasca rilis angka pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan. Rilis data GDP Korsel dilaporkan telah tumbuh 1,2% pada kuartal ke-3, melampaui ekspektasi kenaikan 1%. Angka pertumbuhan tersebut juga telah menjadi pertumbuhan yang tercepat dalam lebih dari 5 tahun.

Sentimen positif juga mewarnai pasar saham di China. Indeks Shanghai Composite beranjak 0,4%, seiring investor terus memburu saham-saham berkapitalisasi kecil. Mengekor pergerakan di pasar daratan, indeks Hang Seng di Hong Kong juga terpanatau melesat lebih dari 1%. Menilik laju perkembangan ekonomi di negara China, dilaporkan bahwa harga rumah baru di China masih memperpanjang nilai penurunannya di bulan September. Meski demikian, namun pada laju yang jauh lebih lambat, kondisi terbaru ini membuat para pelaku pasar jadi bertanya-tanya apakah penurunan beruntun di pasar mulai mendekati akhirnya.

Dilaporkan juga bahwa harga rata-rata rumah baru di China telah turun sebesar 0.9% pada tingkat tahunan. Angka tersebut lebih kecil dari penurunan bulan Agustus yang turun 2.3% dan bulan Juli yang turun 3.7%, penurunan di bulan September menandai penurunan untuk 15 bulan beruntun, berdasarkan perhitungan Reuters berdasarkan data resmi yang dirilis pada hari Jumat. Pada basis bulanan, harga rumah di China pada bulan September naik tipis 0.3%, itu adalah kenaikan untuk lima bulan beruntun.

Berkenaan dengan gerak nilai harga komoditas emas hitam, dilaporkan bahwa gerak nilai harga minyak mentah Amerika memperpanjang arah penguatannya untuk hari kedua pada sesi perdagangan pasar hari Jumat ini. Gerak nilai harga minyak mentah Amerika dilaporkan bergerak menguat tipis, karena merespon positif pada rilis data ekonomi yang lebih cerah di Amerika Serikat dan juga karena adanya kenaikan harga di pasar ekuitas utama.

Faktor fundamental lain yang turut mendorong kenaikan gerak nilai harga minyak adalah masih bergejolaknya Ukraina. Kondisi di Ukraina semakin bergejolak, setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin pada hari Kamis kemarin mengatakan bahwa Kiev tidak memenuhi poin utama dari perjanjian Minsk, dalam kesepakatan perdamaian internasional yang bertujuan untuk menghentikan perperangan antara Ukraina dan tentara pro-Rusia di Ukraina timur.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga minyak mentah Amerika bergerak naik sebesar 22 sen menjadi $45.60 US/ barel pada sesi perdagangan pasar di hari Jumat pagi ini. Gerak nilai harga minyak menguat kembali, setelah gerak nilai harga ditutup berakhir naik sebesar 18 sen pada sesi perdagangan pasar sebelumnya. Penguatan gerak nilai harga minyak juga telah mendapatkan dukungan, setelah rilis laporan European Central Bank yang masih mempertimbangkan langkah-langkah stimulus lebih lanjut, meskipun Greenback menguat dan kecemasan atas melimpahnya suplai global membatasi kenaikan harga minyak.

About author

You might also like

Fundamental 0 Comments

Rilis NFP TaK Dukung USD, Pasar Cepat Respons Kondisi

Pada sesi perdagangan pasar minggu lalu, gerak nilai apresiasi mata uang USD telah dibalikkan arahnya, melemah kuat dan lepas dominasinya terhadap major cureencies. Telah dilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi mata

Berita 0 Comments

Pemerintah Amerika Mencatatkan Anggaran Bulanan Senilai $214 Miliar, Dow Jones Mendapat Hampir 200 Poin

Amerika melaporkan surplus anggaran bulanan terbesarnya yang tercatat pada bulan April, yang dikatakan oleh Kantor Anggaran Kongres mencerminkan kegiatan ekonomi yang lebih kuat selama setahun terakhir. Penerimaan pada bulan April

CFD News 0 Comments

Loonie Sempat Tekan Greenback, Minyak Tutup Akhir Bulan Dengan Kerugian

Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang USD memangkas hasil penguatannya terhadap Canadian Dollar pada sesi perdagangan pasar di hari Jumat. Hal tersebut terjadi, terutama setelah perilisan laporan data pertumbuhan

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image