Imbas Laju Lambat China Atas Pasar Global, Yen dan Emas Ambil Kesempatan

0a0poy0e0710Pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Jumat (21/ 08/ 2015) pagi ini, dilaporkan bahwa gerak harga emas spot telah dibuka dan bergerak secara gap up. Gerak harga emas spot kembali bergerak positif dan melanjutkan pencapaian keuntungan pada kisaran level $1,161.106 US. Perdagangan pasar Asia yang baru merespon setiment penutupan pasar di sesi perdagangan sebelumnya pada pagi ini, nampaknya masih akan cukup kuat mengangkat kenaikan gerak harga emas setidaknya hingga ke kisaran harga $1,165.300 US.

Gerak harga emas berjangka pada sesi perdagangan sebelumnya, telah diperdagangkan menguat secara positif dan tajam. Dilaporkan bahwa gerak harga emas berjangka telah mencatatkan nilai keuntungan lebih dari $20 US. Gerak harga emas telah menerima aliran safe haven di tengah gerak penurunan tajam di perdagangan pasar saham global. Selin itu, kondisi ini juga didukung oleh kekhawatiran para pelaku pasar atas perlambatan gerak ekonomi global karena lemahnya nilai gerak harga minyak metah dunia.

Gerak harga emas untuk pertama kalinya telah mampu bergerak menguat naik dalam tiga sesi perdagangan terakhir. Naiknya gerak harga emas karena dipicu oleh rilis laporan turunnya data ekonomi Manufaktur di Wilayah New York, Amerika. Kondisi tersebut telah menimbulkan spekulasi bahwa ada potensi yang cukup besar apabila rencana kebijakan The Fed untuk kenaikan suku bunga Amerika yang hendaknya akan diterapkan pada September ini bisa ditunda.

Pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis (20/ 08/ 2015) kemarin waktu setempat, pihak berwenang dari The Fed wilayah New York mengeluarkan data aktifitas manufaktur diwilayah kerjanya. Indek Empire State tersebut secara mengejutkan mengalami penurunan. Tercatat pada bulan Agustus ini angkanya berada pada posisi terendah sejak April 2009 silam.

Munculnya berita negatif ataupun data miring prihal kondisi perekonomian negara Amerika, sering dikaitkan dengan penundaan kebijakan dari Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga. Selain itu, gerak harga emas juga mendapat dukungan untuk naik dari kebutuhan safe haven dari para pelaku pasar. Para pelaku pasar ini khawatir dengan perlambatan ekonomi di China akan menyebar ke negara-negara berkembang lainnya.

Para pejabat berwenang Federal Reserve khawatir bahwa laju inflasi masih belum sesuai dengan harapan. Sementara kondisi ekonomi internasional juga masih bisa menimbulkan resiko apabila suku bunga dipaksakan naik pada saat ini. Dengan terbersitnya keyakinan akan adanya potensi untuk penundaan rencana menaikkan suku bunga dari The Fed ini,  berimbas positif terhadap gerak harga emas yang mampu bergerak menguat kembali.

Sebelumnya, gerak harga emas telah bergerak turun kuat di bulan Juli. Telah tercatat bahwa gerak harga emas telah mencapai pada harga termurahnya dalam lima tahun terakhir. Jatuhnya gerak harga emas karena didorong sinyal pemulihan ekonomi Amerika. The Fed diyakini akan menaikkan suku bunga jika kondisi ekonomi Amerika memungkinkan. Kenaikan suku bunga akan membuat nilai apresiasi mata uang USD mampu menguat dan gerak harga emas akan kehilangan daya pikatnya sebagai aset safe haven.

Di awal sesi perdagangan pasar minggu ini, sebanyak 48% pelaku pasar meyakini bahwa pada pertemuan reguler di bulan September ini, pihak berwenang di Federal Reserve akan memutuskan kebijakan untuk menaikkan nilai suku bunganya. Sebelumnya, jumlah pelaku pasar yang meyakini kenaikan suku bunga pada September ini sebanyak 54%.

Gerak harga emas berjangka di bursa Comex, New York untuk kontrak bulan Desember dilaporkan telah ditutup naik 0,5% di harga $1.118,40 US/ troy ons. Gerak harga emas bergerak melemah turun sekitar 1% dalam sesi perdagangan sebelumnya. Pada sesi perdagangan pasar di awal minggu ini, dilaporkan bahwa gerak harga emas untuk pertama kalinya telah berada dibawah rata-rata pergerakan harga dalam 100 hari perdagangan. Tepatnya lebih rendah 39%, demikian menurut laporan dari Bloomberg.

Pada sesi perdagangan pasar hari Jumat (21/ 08/ 2015) ini, gerak harga emas batangan logam mulia milik PT. Aneka Tambang, Tbk (Antam) dilaporkan berada di kisaran harga Rp. 560.000/ gram. Harga buyback emas batangan logam mulia milik PT. Aneka Tambang, Tbk (Antam) dilaporkan berada pada kisaran harga 492.000/ gram. Berikut merupakan daftar harga emas Antam untuk sesi perdagangan pasar hari Jumat (21/ 08/ 2015) ini, antara lain yaitu, untuk pecahan 500 gram - Rp 260.300.000, pecahan 250 gram - Rp 130.250.000, pecahan 100 gram - Rp 52.150.000, pecahan 50 gram - Rp 26.100.000, pecahan 25 gram - Rp 13.075.000, pecahan 10 gram - Rp 5.260.000, pecahan 5 gram - Rp 2.655.000, dan untuk pecahan 1 gram - Rp 560.000.

Gerak harga emas diperkirakan bisa kembali ke $1,300 US/ troy ons. Peluang gerak harga emas untuk turun dibawah $1.000 US menjadi mengecil, dengan keyakinan harga dukungan bawah ada di $1.050 US/ troy ons. Naiknya gerak harga emas disisi lain akan menekan permintaan emas fisik di China dan India. Banyak masyarakat di kedua negara konsumen terbesar emas dunia tersebut, yang menderita kerugian di perdagangan pasar saham, masih khawatir dan berhati-hati sekali untuk langsung berkecimpung di dalam pergerakan harga komoditas emas.

Adanya potensi mundurnya rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga hingga bulan Desember, membuat peluang naiknya gerak harga emas menjadi semakin terbuka. Setidaknya dalam jangka pendek, gerak harga emas masih akan berada di kisaran diantara level $1,145-$1,150 US/ troy ons.

Dari data ekonomi yang telah dirilis, Data Klaim Pengangguran Amerika pada sesi perdagangan pasar Amerika di hari Kamis kemarin, telah dirilis naik pada kisaran 277K selama periode minggu lalu Data tersebut dirilis lebih tinggi dari perkiraan para pelaku pasar sebelumnya dan juga dari data sebelumnya yaitu pada 272K (F) dan 274K (P). Sedangkan untuk data Existing Home Sales Amerika, dilaporkan bahwa data tersebut telah dirilis naik sebanyak 2.0% menjadi 5.59M. Data Existing Home Sales Amerika tersebut dirils lebih tingi dari perkiraan para pelaku pasar sebelumnya dan dari data sebelumnya yaitu pada 5.44M (F) dan 5.49M (P).

Telah dilaporkan bahwa pada penutupan sesi perdagangan pasar hari Kamis, index USD diperdagangkan melemah nilainya, anjlok dengan mencatatkan kerugian sebesar 72 poin atau 0.75% degang gerak nilai indeks berakhir pada level 95.72. Indeks USD dilaporkan sempat diperdagangkan hingga setinggi 96.56 dan serendah 95.69.

Telah pula dilaporkan bahwa imbal hasil Treasury Amerika turun tajam untuk hari kedua pada sesi perdagangan pasar hari Kamis kemarin. Hal tersebut terjadi, karena pasar saham tertekan dan nilai bergerak anjlok, dengan yield obligasi 10-tahun jatuh di bawah 2,10% ke level terendah sejak 30 April. Aksi jual di saham dan harga emas yang menanjak memunculkan kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Dilaporkan bahwa imbal hasil Treasury bertenor 10-tahun, TMUBMUSD10Y, turun 4,6 basis poin menjadi 2,084%. Imbal Hasil ini telah tenggelam 11,2 basis poin selama dua hari terakhir, penurunan terbesar dalam dua hari penurunan sejak 3 Agustus lalu, demikian menurut Tradeweb. Imbal Hasil obligasi treasury bertenor 30 tahun, TMUBMUSD30Y, terpangkas 6,1 basis poin menjadi 2,758%, level terendah sejak 30 April. Sementara itu, imbal hasil obligasi treasury bertenor dua tahun, TMUBMUSD02Y, mampu beringsut naik 1,8 basis poin menjadi 0.676 %, menandai kenaikan terbesar dalam satu hari pada minggu ini.

Nilai apresiasi mata uang USD yang kini bergerak melemah untuk sesi ketiga beruntun juga membantu penguatan instrument pasar opsan mata uang tersebut. Para pelaku pasar masih dikecewakan oleh hasil FOMC yang mengindikasikan kekhawatiran pejabat The Fed akan melambatnya aktivitas ekonomi di China akan menular pada perekonomian Amerika. Kondisi ini meredupkan ekspektasi kenaikan di bulan September dan kini pelaku pasar menilai kenaikan suku bunga Amerika lebih mungkin terjadi di bulan Desember.

Bursa saham Indonesia juga dilaporkan turut melemah, dengan indeks acuan utama medekati pasar bearish, seiring aliran modal keluar bertambah deras di tengah melemahnya perekonomian dan prospek kenaikan suku bunga Amerika. Jakarta Composite Index anjlok sebanyak 1.9% menuju level kisaran 4350.721, memperpanjang penurunan menjadi lebih dari 20% dari rekor tinggi tanggal 7 April lalu.

Sedangkan untuk gerak nilai apresiasi mata uang Rupiah Indonesiadilaporkan juga kembali bergrak melemah untuk kelima harinya. Gerak perlemahan nilai apresiasi mata uang IDR menuju ke level terendah sejak tahun 1998, sementara yield obligasi tenor 10-tahun naik ke level tinggi 18-bulan. Para investor asing menarik dananya keluar hingga senilai $185.4 juta US dari saham Indonesia pada sesi perdagangan pasar hari Kamis (20/ 08/ 2015) kemarin.

Kondisi nilai aliran modal keluar saat tersebut merupakan yang paling besar sejak 24 Desember lalu. Perekonomian Indonesia sedang bertumbuh dengan kondisi laju paling lambat dalam kurun waktu 6 tahun, seiring Presiden Joko Widodo berusaha menjalankan rencana untuk merevitalisasi pertumbuhan. Mata uang yang berada dekat level paling lemah dalam 17 tahun membatasi ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga, sementara anjloknya harga komoditas dan perlambatan gerak laju ekonomi di China tampak mengancam dan tentunya akan memangkas pendapatan dari sektor ekspor. Menurut salah satu manajer keuangan, dari apa yang kita lihat saat ini, nampaknya pemulihan ekonomi hanya akan bisa terjadi pada semester ke dua di tahun depan.

Dilaporkaan juga bahwa gerak harga minyak WTI bergerak secara stabil di kisaran harga rendah. Gerak harga minyak WTI hanya mencatatkan keuntungan tipis sebesar 34 sen atau 0.8% dengan gerak harga berakhir pada level $41.14 US/ barel. Brent Crude (Sept) dilaporkan ditutup naik 54 sen atau 1.2% berakhir pada level $46.62 US/ barel.

Kondisi koreksi ini dimanfaatkan dengan baik oleh major currencies. Mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, kembali menjadi salah satu aset pasar yang diuntungkan pada sesi perdagangan pasar hari Jumat (21/ 08/ 2015) ini, di tengah kejatuhan aset berisiko seperti saham dan minyak. Perdagangan keuangan menjauhi aset berisiko seiring kekhawatiran pada kondisi negara perekonomian terbesar kedua dunia, yaitu negara China.

Perdagangan keuangan menajdikan data indeks manufaktur versi Caixin/Markit bulan Agustus yang lebih buruk dari ekspektasi sebagai bukti tambahan semakin memburuknya perekonomian di China. Sentimen safe haven mengemuka dan mendongkrak aset-aset yang dinilai lebih aman seperti mata uang Yen dan Franc Swiss serta komoditas emas. Dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang USD/ JPY masih bertahan di kisaran 122.95 atau turun sekitar 0,35% dibandingkan level penutupan sebelumnya.

Mata uang negara Australia, Aussie, dilaporkan terkoreksi melemah terhadap USD. Hal ini terjadi karena Aussie merespon kontraksi sektor manufaktur China bulan Agustus yang dilaporkan lebih buruk dari prediksi. China merupakan rekan dagang utama Australia yang mengonsumsi lebih dari 60% bijih besi, yang merupakan komoditas eskpor utama Australia.

Gerak harga bijih besi untuk pertama kalinya melemah pada sesi perdagangan pasar di pekan ini, dan telah menghapuskan hasil gerak penguatan dalam5-pekan beruntun, sebagai dampak akan adanya penurunan permintaan dari Beijing. Pesimisme sektor manufaktur yang mengindikasikan semakin memburuknya kondisi negara perekonomian terbesar kedua dunia ini juga dapat semakin memperkuat ekspektasi penurunan permintaan bijih besi dari China.

Indeks manufaktur China dilaporkan turun menjadi 47.1 untuk bulan Agustus, lebih buruk dari estimasi 47.7 oleh para analis yang disurvei Reuters maupun data sebelumnya yang direvisi turun menjadi 47.8. Data yang berada di bawah level 50 mengindikasikan kondisi kontraksi atau perlambatan.

Aussie menjadi mata uang utama yang memberikan performa terburuk untuk sesi Asia pagi ini. Dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang NZD/ USD telah berhasil menghapuskan dampak penurunan sektor manufaktur China. Namun nilai apresiasi mata uang AUD/ USD masih melemah sekitar 0,4% di kisaran 0.7308. Aussie sempat anjlok ke level terendah harian 0.7285 atau -0,67% merespon data Caixin/Markit Manufacturing.

Pada sesi perdagangan pasar hari Jumat (21/ 08/ 2015) ini, para pelaku pasar hendaknya waspada pada aksi profit taking yang mungkin terjadi. Aksi profit taking yang bisa saja terjadi nanti, dalam perdagangan di pasar bisa membawa instumen pasar oposan mata uang USD khususnya, termasuk komoditas emas kembali terkoreksi setelah mencatatkan keuntungan tajam dalam dua sesi perdagangan pasar sebelumnya.

About author

You might also like

Berita 0 Comments

Dollar Pertahankan Kinerja Vs Yen

Dollar masih kokoh diperdagangkan di atas level 102,00 terhadap yen dan menuju penguatan mingguan jelang dirilisnya data existing home sales AS. Meski sempat menguat pada perdagangan sebelumnya setelah anjloknya bursa

Berita 0 Comments

Rilis Data China Positif Emas Menguat, Euro Masih Terbebani Ancaman Default Yunani

Pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Senin (01/ 06/ 2015) pagi ini, dilaporkan bahwa gerak harga emas diperdagangkan lebih tinggi. Hal ini terjadi karena meningkatnya aktifitas manufaktur di wilayah

Forex News 0 Comments

Tapering Fed Malah Untungkan Yen

Yen diperdagangkan menguat terhadap dollar dalam dua hari beruntun pasca tapering kedua yang dilakukan Federal Reserve dini hari tadi. Pemangkasan stimulus moneter yang dilakukan Fed menyebabkan peningkatan permintaan akan yen

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image