Inggris Hadapi Dilema Besar Jangka Panjang, USD Menggeliat Kembali

524013_303354516475594_1927722380_nGerak nilai apresiasi mata uang USD dilaporkan tengah meneruskan penguatan atas mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen. Kondisi tersebut terjadi, setelah dua petinggi Federal Reserve, John Williams dan Dennis Lockhart, telah mensinyalkan bahwa pihak berwenang dari The Fed mungkin akan menaikkan suku bunga segera di bulan depan.

John Williams adalah merupakan Presiden The Fed San Francisco. Dennis Lockhart adalah merupakan Presiden The Fed Atlanta. Keduanya tersebut, baik itu John Williams maupun Dennis Lockhart, adalah bukan merupakan anggota voting pada FOMC tahun ini.

Gerak indeks USD dilaporkan telah bergerak menuju rally terpanjang lebih dalam lebih dair sebulan setelah John Williams dan Dennis Lockhart mengatakan data ekonomi belakangan ini mungkin akan membenarkan pengetatan kebijakan lebih lanjut pasca kenaikan suku bunga di bulan Desember lalu.

Gerak nilai apresiasi Greenback tampak telah bangkit dari dekat level rendah 9-bulan yang dicapai pada sesi perdagangan pasar di pekan lalu. Hal tersebut terjadi, setelah pihak berwenang dari The Fed menahan diri untuk tidak menaikkan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Maret.

Pada saat tersebut juga The Fed memangkas proyeksi kenaikan sepanjang tahun ini, dimana keadaan tersebut berimbas pada sentiment para pelaku pasar. Gerak nilai apresiasi Greenback dilaporkan telah menguat ke atas kisaran level 112 Yen pada sesi perdagangan pasar Asia, dan telah sempat diperdagangkan di kisaran level 112.11.

Kondisi pemerintah Inggris saat ini tengah dalam sebuah dilema, dimana keputusan yang diambil atas kebijakan ekonomi dan pilitiknya saat ini akan menentukan nasib negara tersebut selanjutnya. Apabila pemerintah Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa (UE) musim panas ini maka ekonomi negeri ratu Elizabeth itu diperkirakan akan mengalami guncangan serius dan diperkirakan akan menghadapi ledakan pengangguran.

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau dikenal dengan sebutan Brexit akan memakan biaya 100 miliar Poundsterling, atau setara dengan $144 miliar USD. Pemerintahan inggris juga akan kehilangan sebanyak 950.000 lapangan pekerjaan di 2020, demikian yang disampaikan dalam laporan riset yang dilansir dari Confederation of British Industry (CBI).

Analisa dari pihak Pricewaterhouse Cooper telah memaparkan setidaknya ada dua kemungkinan jika Brexit terjadi. Kedua kemungkinan tersebut melihat seberapa sukses negosiasi perdagangan akan dicapai Inggris, setelah keluar dari Uni Eropa.

Dalam skenario keduanya, GDP Inggris, standar hidup dan lapangan pekerjaan akan menyusut secara signifikan dibandingkan tetap menjadi anggota Uni Eropa, dengan pendapatan rumah tangga menurun sekitar 2.100 hingga 3.700 Poundsterling di tahun 2020 sebagai konsekuensinya.

Bahkan jika pemerintah Inggris mempertahankan perjanjian perdagangan bebasnya dengan Uni Eropa, laporan GDP akan tetap turun 3% dalam empat tahun akan datang. Keadaan ini diperkirakan akan pulih secara perlahan di tahun 2030 jika tetap meninggalkan Uni Eropa.

Riset ini menitikberatkan pada lima dampak potensial pada perekonomian Inggris jika benar-benar keluar. Ke lima dampak tersebut yaitu, dampak penurunan lapangan kerja, dampak nilai investasi dan perdagangan yang lebih rendah, dampak meningkatkanya ketidakpastian, yang akan menyebabkan volatilitas pasar keuangan dan dampak nilai apresiasi mata uang.
Gerak nilai harga di indeks saham jepang, yaitu indeks saham Nikkei 225, tampaknya harus memangkas gerak penguatannya. Meski demikian, namun gerak nilai harga indeks saham Nikkei 225 tetap masih diperdagangkan menguat sebesar 1%.

Kondisi tersebut terjadi, setelah data PMI sektor manufaktur yang dirilis, telah menunjukkan bahwa kontraksi pada aktivitas di bulan Maret untuk pertama kalinya dalam hampir selama setahun. Hal tersebut terjadi, seiring penurunan tajam tingkat pesanan ekspor.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga indeks saham spot Nikkei 225 Jepang, telah sempat diperdagangkan secara menguat. Gerak nilai harga indeks saham spot Nikkei 225 telah menguat sekitar 1.29%, atau sebesar 216 poin, dengan bergerak di kisaran level harga 1,649.52, setelah sempat menyentuh level tinggi di atas kisaran harga 1,7100.

Hasil laporan PMI sektor manufaktur Jepang oleh Markit/Nikkei dilaporkan turun menjadi 49.1 di bulan Maret dari 50.1 di bulan Februari. Laporan hasil PMI tersebut turun ke bawah level 50 yang mengindikasikan kontraksi untuk pertama kalinya sejak April tahun lalu. Tingkat ekspor Jepang telah dilaporkan turun untuk kelima bulan berturut-turut di bulan Februari, demikian menurut data teripisah pekan lalu.

Sejumlah ekonom mengatakan bahwa tingkat ekspor Jepang dapat melemah untuk sementara waktu seiring perlambatan laju ekonomi di China dan negara berkembang lainnya. Kondisi tersebut telah menekan tingkat permintaan mesin dan elektronik dari Jepang.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga komoditas minyak Amerika berbalik menguat pada sesi perdaganngan pasar di hari Senin. Kondisi tersebut terjadi seiring data menunjukkan penurunan stok di titik pengiriman Cushing, Oklahoma. Para pelaku pasar melakukan penyesuaian posisi menjelang berakhirnya kontrak bulan April untuk minyak West Texas Intermediate (WTI) berjangka.

Laporan Genscape menunjukkan stok minyak mentah di Cushing menyusut sebanyak 570.574 barrel menjadi 69,050 juta barrel dalam pekan yang berakhir 18 Maret. Persediaan di Cushing sebelumnya telah beranjak naik mendekati level 70 juta barrel, yang sempat memicu kecemasan akan terpenuhinya kapasitas.

Bagaimanapun, gerak rebound dari nilai harga komoditas minyak nampaknya masih terbatasi oleh kekhawatiran bahwa pengebor-pengebor Amerika mungkin akan kembali mendorong produksinya menyusul pemulihan harga selama 2 bulan terakhir. Mengacu dari laporan Baker Hughes pada hari Jumat lalu, perusahaan energi Amerika mengaktifkan kembali 1 rig setelah melakukan pemangkasan dalam 12 pekan beruntun.

Di sisi teknikal, potensi pergerakan bullish lebih lanjut masih terjaga meskipun momentum telah cenderung menyusut seiring stochastic dan RSI pada grafik 4-jam mulai mendekati area jenuh beli. Dibutuhkan penembusan secara konsisten di atas kisaran level harga $42.46 US/ barel. Angka tersebut merupakan level tertinggi di kurun waktu 18 Maret, diperlukan agar gerak nilai harga komoditas minyak mampu bergerak rally menuju kisaran level harga $43.43 US/ barel, yang merupakan level tertinggi dalam kurun waktu 24 November.

About author

You might also like

Berita 0 Comments

Pasar Amerika Terkoreksi, Minyak Bergerak Menguat

Gerak nilai harga di bursa saham Wall Street, gerak nilai apresiasi mata uang USD dan gerak nilai harga di pasar yield obligasi Amerika dilaporkan dengan secara bersamaan telah bergerak melemah

Mata Uang USD Melejit Setelah ADP, Minyak Dibuat Kalang Kabut

Gerak harga emas dan perak pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Jumat (31/ 07/ 2015) ini, dilaporkan telah diperdagangkan lebih rendah dengan melanjutkan penurunan dari sesi sebelumnya ketika permintaan

Berita 0 Comments

Rilis NFP TaK Dukung USD, Pasar Cepat Respons Kondisi

Pada sesi perdagangan pasar minggu lalu, gerak nilai apresiasi mata uang USD telah dibalikkan arahnya, melemah kuat dan lepas dominasinya terhadap major cureencies. Telah dilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi mata

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image