Jepang Tengah Gusar Dan Inggris Diperkirakan Siap Menggeliat Kembali, Meski Pasar Masih Lirik USD

Jepang Tengah Gusar Dan Inggris Diperkirakan Siap Menggeliat Kembali, Meski Pasar Masih Lirik USD

166752_458204154250995_1147090063_nBulan September ini rupanya merupakan bulan cemelang dan berjayanya mata uang negeri paman Sam. Banyak rilis data ekonomi, yang sangat mendukung mata uang USD untuk menguat dan menekan baik mata uang major currencies lainnya maupun pasar komoditi. Seperti laporan yang telah dirilis pada hari Kamis lalu, bahwa The Fed telah menyatakan bila Federal Reserve akan mengakhiri program pembelian obligasi pada bulan Oktober mendatang. Selain itu juga telah dilaporkan pula bahwa untuk kenaikan suku bunga akan terjadi pada tahun 2015 mendatang. The Fed juga menyatakan bahwa saat ini mereka akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga berada di level rendah saat ini, meski bank sentral Amerika juga disarankan untuk segera menaikan acuan biaya pinjaman yang lebih cepat dari yang telah diantisipasi sebelumnya ketika mereka akan segera memutuskan untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter selanjutnya. Indeks USD telah dilaporkan diperdagangkan menguat tajam mendekati level 85. Mata uang USD menyelesaikan sesi perdagangan sesi hari Jum’at (19/ 09/ 2014) minggu lalu dengan keuntungan sebesar 46 poin atau 0.54% berakhir pada 84.75, setelah sebelumnya sempat diperdagangkan hingga setinggi 84.80 dan serendah 84.24. “USD masih akan terus menguat. Momentum telah terbangun, terutama mengingat prospek kebijakan The Fed dan suku bunga Amerika yang lebih tinggi. Pada umumnya itu menarik bagi para pelaku pasar,” demikian menurut Peter Dragicevich, analis mata uang pada Commonwealth Bank of Australia di London pada hari Jumat lalu. Keadaan ini memberikan tekanan yang berat bagi Jepang dan major currencies lain. Meskipun, saat ini Inggris tengah lega, dan pasar melihat sterling bisa menguat kembali.

Berbeda sekali antara kondisi Amerika dengan apa yang tengah dialami oleh Jepang, sebuah dilema ekonomi yang cukup berat tengah terjadi pada negeri matahari terbit. Beberapa waktu ini, kondisi ekonomi negeri Jepang berada di dalam keadaan yang kurang baik. Jepang terancam jatuh ke jurang resesi, karena penurunan mata uang yen mengurangi daya beli dari sektor rumah tangga dan menguras laba perusahaan, demikan yang disampaikan oleh Kazumasa Iwata, mantan deputi gubernur Bank of Japan. Kazumasa Iwata, deputi gubernur periode tahun 2003-2008 dalam sebuah wawancara pada tanggal 19 Oktober di Tokyo mengatakan bahwa, pelemahan mata uang yen saat ini sedikit berlebihan. “Abenomics memerlukan resiko konsekuensi dari “mengemis dari diri sendiri” dan tanda-tandanya sudah muncul,” demikian lanjutnya. Mata uang yen saat ini di perdagangkan di dekat level harga terendah 6 tahun terhadap USD karena perbedaan kebijakan moneter dari Amerika ke Jepang yang mengancam akan meningkatkan volatilitas nilai tukar mata uang. Meningkatnya biaya impor kembali mempertegang ekonomi seiring Perdana Menteri Abe mempertimbangkan apakah Jepang dapat melakukan kenaikan pajak lainnya untuk mengendalikan utang terbesar di dunia pada negaranya pada saat ini. “Level mata uang yang tepat untuk mencerminkan fundamental ekonomi Jepang adalah di kisaran 90-100 yen per USD,” kata Iwata, yang saat ini menjadi presiden di Japan Center of Economic Research. Mata uang yen pada saat ini apresiasinya diperdagangkan di kisaran 108.75 setelah menyentuh level 109.46 pada tanggal 19 September. Level harga tersebut adalah level terlemah sejak Agustus 2008. Mata uang yen terdepresiai sebanyak 4.4% selama bulan lalu, itu pergerakan yang terbesar diantara 16 mata uang utama yang di ikuti oleh Bloomberg. Haruhiko Kuroda, Gubernur BOJ yang di pilih oleh Abe di tahun 2012, pada bulan lalu mengatakan bahwa dia akan melakukan apa yang di perlukan untuk mencapai target inflasi 2% di tengah dia terus melakukan pelonggaran kebijakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berbicara pada pertemuan G-20 di Cairns, Australia, pada tanggal 19 September, Kuroda mengatakan bahwa dia tidak melihat adanya malasah besar dengan pergerakan nilai tukar mata uang saat ini. “Sangat penting untuk nilai tukar mata uang untuk bergerak stabil karena itu akan mencerminkan fundamental ekonomi suatu Negara. Wajar untuk nilai tukar untuk bergerak sesuai dengan perubahan dalam fundamental ekonomi,” demikian yang disampaikan oleh Kuroda.

Mata uang Poundsterling dilaporkan telah menguat sebelum Gubernur Bank of England Mark Carney berpidato pada minggu ini. Carney akan berpidato di Wales pada tanggal 25 September. Pejabat Bank of England akan bertemu selanjutnya pada tanggal 9 Oktober setelah mempertahankan suku bunga acuan di level 0.5% pada bulan ini. Para pelaku pasar kini kembali memperhatikan perkembangan ekonomi Inggris setelah hasil pemungutan suara Skotlandia pada pekan lalu yang menunjukkan bahwa mereka bertahan di dalam Inggris Raya. “Dengan berakhirnya pemungutan suara atas refrendum Skotlandia, saat ini kita akan melihat pergerakan sterling yang akan di perngaruhi oleh fundamental. Kami masih lebih memilih untuk mengekspresikan pandangan streling yang konstruktif daripada terhadap mata uang euro,” demikian kata Sue Trinh, analis mata uang senior di Royal Bank of Canada di Hong Kong. Mata uang sterling menguat sebesar 0.3% menjadi $1.6350 US pada sesi pasar Asia setelah menguat sebesar 0.1% pada pekan lalu. Mata uang Inggris naik sebesar 0.1% menjadi 0.7866 per euro. Direvew kembali dari dataran Inggris. Pada bulan September ini, prospek kemerdekaan Skotlandia mendominasi pemberitaan keluar dari Inggris dan hal ini menambah tekanan bagi perdagangan GBP/ USD. Poundsterling melemah hingga ke level harga1.6051 sebelum melakukan konsolidasi dan berbalik menguat kembali setelah hasil referendum menunjukkan kemenangan pihak pro integrasi. Sebagian pelaku pasar yang meyakini kegagalan upaya separatis dengan referendum ini telah bersiap dengan melakukan aksi beli kembali saat harga jatuh dan hasil hitungan cepat menunjukkan hasil yang menginginkan Skotlandia tetap bersatu dengan Inggris cukup signifikan. Tidak tanggung-tanggung, apresiasi mata uang GBP/ USD kembali ke kisaran level 1.65 - an. Kenaikan apresiasi GBP/ USD yang berjalan cepat ini menimbulkan peluang pasar untuk membukukan keuntungan sementara. Namun, sterling kembali melemah di akhir perdagangan minggu kemarin dengan terkoreksi dan berada di area 1.63- an. Mengacu pada rata-rata apresiasi mata uang GBP/ USD dalam 200 periode dalam rentang perdagangan per 4 jam, terlihat masih bias. Mata uang sterling terhadap USD masih diatas rata-rata perdagangan 100 dan 50 hari. Momentum kenaikan sterling ada di 1.6040, menembus level 1.6050 akan menjadi titik tolak kenaikan apresiasi GBP/ USD. Sebaliknya jika merosot dibawah 1.6040 akan menjadi sinyal bahwa apresiasi mata uang GBP/ USD akan menurun lebih dahulu. Dengan kisaran masih dibawah 1.6250, mata uang sterling tertekan dan membuka peluang jatuh ke 1.6050. Level harga akan teruji hingga 1.6000. Melalui grafik mingguan, akan terlihat posisi support di level 1.60. Level psikologis ini memungkinkan pula apresiasi GBP/ USD berkonsolidasi dan menguat kembali. Laju penguatan akan terjadi dengan target pada level 1.65. Pada titik ini, 1.65 akan menjadi titik persimpangan GBP/ USD. Jika apresiasi mata uang GBP/ USD mampu mengkonsolidasikan posisinya di poin kunci ini, maka akan terlihat kenaikan selanjutnya. Royal Bank of Canada memperkirakan, bahwa apresiasi mata uang poundsterling akan menguat hingga 75 penny di kuartal pertama tahun 2015, kata Trinh.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Aussie Menguat Tipis di Tengah Data Kerja Yang Mixed

Aussie menguat tipis di awal sesi perdagangan hari Kamis meskipun data kerja yang dirilis hasilnya lebih lemah dari perkiraan karena investor fokus pada penurunan di jumlah pengangguran secara keseluruhan. Pasangan

Berita 0 Comments

Spekulasi Suku Bunga Benamkan Kiwi

Dollar Selandia Baru atau kiwi, merosot di awal pekan ini, dan menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir akibat merebaknya spekulasi Reserve Bank of New Zealand (RBNZ)akan menurunkan suku bunga

Forex News 0 Comments

Yen Menguat terhadap Dollar Efek Sentimen Negatif Dollar AS

Pada perdagangan hari ini mata uang yen Jepang terpantau mengalami peningkatan terhadap dollar AS (10/4). Mata uang Jepang ini berbalik melemah terhadap dollar setelah kemarin tampak mengalami koreksi. Hari ini

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image