Kebijakan China Atas Yuan Berimbas Luas, Data Inggris Ditunggu Pasar

10320407_644997535574280_6728359167296705100_nKondisi para pelaku pasar di sesi perdagangan pasar hari Rabu (12/ 08/ 2015) ini adalah tengah menantikan kondisi gerak nilai apresiasi mata uang Sterling saat merespon pada hasil data tenaga kerja Inggris. Para pelaku pasar memperkirakan bahwa hasil data tenaga kerja Inggris akan positif. Data rilis dari Ingris yang lain adalah termasuk laporan laju pertumbuhan upah yang dipantau oleh BoE. Laporan penjualan ritel Inggris dilaporkan menurun tipis di bulan Juli, namun momentum keseluruhan masih cukup solid, berdasarkan laporan konsorsium peritel Inggris.

Mata uang Inggris, Poundsterling, telah dilaporkan bergerak melejit sebesar 1.9 % nilai apresiasinya terhadap mata uang China, Yuan, di sesi perdagangan pasar hari Selasa (11/ 08/ 2015) kemarin. Apresiasi cross mata uang GBP/ JPY juga telah dilaporkan menyentuh level tinggi 10-bulan setelah PboC mendevaluasi nilai tukarnya agar produk ekspor nya lebih kompetitif. PBOC menyatakan bahwa devaluasi sebesar 2 % terhadap mata uang USD merupakan kebijakan depresiasi yang bersifat satu kali dan akan menggeser nilai patok untuk menjadi lebih bebas bergerak sesuai trading band harian yang ditentukan oleh pasar.

Alhasil sebagian besar investasi dalam denominasi China Yuan yang dipindahkan dari Euro dan Poundsterling yang berimbal hasil rendah mengalami aksi likuidasi, sehingga membantu menopang mata uang Poundsterling terhadap USD. Poundsterling terhadap Yuan sendiri melejit ke level tertinggi nya sejak bulan Oktober di level 9.8690.
Dilaporkan bahwa Lembaga International Monetery Fund (IMF) telah menyambut baik langkah China untuk melakukan devaluasi mata uang Yuan dan mengatakan bahwa itu tidak akan berdampak langsung kepada negara yang sedang mendorong mata uangnya untuk dapatkan status mata uang cadangan devisa.

Komentar dari pihak IMF muncul, ketika China mengurangi nilai Yuan untuk hari kedua setelah mereka mengejutkan pasar pada sesi perdagangan pasar hari Selasa (11/ 08/ 2015) ketika mereka menurunkan nilai yuan ke level terbesar dalam dua dekade terakhir. Pihak berwenang People Bank of China (PBOC) mengatakan bahwa langkah tersebut akan memungkinkan pasar untuk memainkan peran yang besar untuk menetapkan nilai mata uang. Sementara itu sebagian besar pelaku pasar berpendapat bahwa kebijakan tersebut kemungkinan diambil untuk mendongkrak nilai ekspor. PBOC pada hari Rabu (12/ 08/ 2015) ini, menetapkan nilai tukar acuan Yuan di level 6.3306/ US, atau 1.6% lebih rendah daripada level di sesi perdagangan pasar hari Selasa kemarin.

IMF dalam pernyataannya mengatakan bahwa mekanisme terbaru untuk menentukan titik tengah paritas dari Renminbi yang diumumkan oleh PBOC tampaknya sebagai langkah awal, seiring mereka seharusnya membiarkan pasar untuk menjadi peran yang lebih hebat dalam menentukan nilai tukar mata uang. Dampak yang terjadi akan tergantung pada bagaimana mekanisme terbaru diimplementasi dalam sebuah praktek.

Negara China saat ini tengah berupaya untuk memasukkan mata uang Yuan ke dalam currencies cadangan IMF, yang dikenal dengan sebutan Special Drawing Rights atau SDR. Meskidemikian, namun lembaga keuangan yang berbasis di Wasington tersebut mengatakan bahwa devaluasi tidak akan berdampak langsung pada keputusan tersebut. Mata uang Yuan yang lebih rendah akan melemahkan daya beli China untuk impor yang berdenominasi USD seperti minyak, yang berpotensi memukul permintaan terhadap bahan bakar.

Kondisi mata uang Australia, Aussie, pun juga tengah tertekan. Negara China sejak akhir pekan lalu terus memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan nilai apresiasi mata uang Aussie. Merosotnya ekspor-impor China, ditambah dengan langkah PBOC (People Bank of China) yang menyebabkan pelemahan nilai apresiasi mata uang Yuan benar-benar memberikan pukulan bagi mata uang Aussie. Setelah anjlok tajam nilai apresiasinya pada sesi perdagangan pasar hari Selasa kemarin, tindakan aksi jual terhadap mata uang Aussie kembali berlanjut di sesi perdagangan pasar Asia hari Rabu (12/ 08/ 2015) ini. Nilai apresiasi mata uang Aussie terhadap USD kini mendekati level terendah dalam enam tahun.

Padahal sebelumnya mata uang Negara Australia tersebut sempat menunjukkan tanda-tanda penguatan setelah Reserve Bank of Australia (RBA) merubah pandangannya terhadap nilai aprsiasi mata uang Aussie. Buruknya sentimen dari luar negeri, ditambah dengan data ekonomi dari dalam negeri yang kurang baik membuat aussie semakin tenggelam. National Australia Bank kemarin merilis data indeks keyakinan bisnis yang turun tajam menjadi 4 di bulan Juli, dari bulan sebelumnya sebesar 10. Penurunan tersebut merupakan yang pertama dalam empat bulan terakhir. Dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang AUD/ USD sempat diperdagangkan di kisaran 0.7236, menjauhi level tertinggi harian 0.7325. Sementara Westpac Banking Corp. hari ini melaporkan kenaikan sentimen konsumen menjadi 7,8% dari bulan sebelumnya sebesar -3,2%. Namun data tersebut belum sanggup memulihkan Mata uang Aussie.

Indonesia pun ternyata tidaklah luput dari kebijakan yang dilakukan China atas mata uang Yuan. Merespon langkah Bank Sentral China yang memberikan kelonggaran terhadap nilai tukar Yuan, nilai apresiasi mata uang Rupiah (IDR) hari ini merosot tajam terhadap USD. Berdasarkan quote dari Thomson Reuters, pelemahan mata uang Rupiah hari ini hingga menyentuh level 13.800.

People Bank of China (PBOC) pada hari Selasa kemarin merubah cara penentuan nilai tengah Yuan terhadap USD. Jika sebelumnya batas nilai tengah ditentukan langsung oleh PBOC, maka dengan perhitungan yang baru ini nilai tengah mata uang Yuan akan ditentukan berdasarkan penutupan level sebelumnya. Dengan langkah tersebut, para pelaku pasar dapat memberikan pengaruh terhadap pergerakan mata uang Yuan. Nilai apresiasi mata uang Yuan sendiri pada sesi perdagangan pasar hari Selasa kemarin mencatatkan nilai penurunan terbesar dalam lebih dari dua dekade terakhir.

Mengutip Wall Street Journal, Deputi Gubernur BI, Mirza Adityaswara, pada hari Selasa kemarin mengatakan devaluasi yuan tidak akan memberikan dampak besar bagi rupiah. Selain itu pelemahan rupiah saat ini dikatakan dap[at meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, dan menambah tingkat wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia. Namun pelemahan rupiah saat ini terbilang signifikan, dan sejauh ini belum ada komentar dari pejabat BI.

Langkah China atas mata uangnya, Yuan, pun berpengaruh kuat atas komoditas minyak. Dilaporkan bahwa gerak harga minyak kembali terseret pada sesi perdagangan pasar hari Rabu (12/ 08/ 2015) ini, karena Negara China telah membiarkan mata uang mereka untuk turun tajam untuk hari kedua, memicu kekhawatiran pada kesehatan ekonomi negara tersebut ketika produksi minyak global saat ini mecapai level tertinggi multi tahunan.

Minyak Brent sebelumnya sempat menguat tipis sebelum akhirnya tergelincir ke level terendah dua bulan karena mata uang Yuan menyentuh level terendah empat tahun, tergelincir lebih lanjut dari kemarin setelah lembaga otoritas mendevaluasi yuan dalam sebuah langkah untuk mendukung ekonomi yang sedang berjuang dan itu juga telah memicu ketakutan untuk adanya perang mata uang global. Minyak brent telah dilaporkan bergerak turun sebesar 35 sen, atau 0.71% menjadi $48.83 US/ barel pada pukul 11.36 WIB. Sementara itu minyak WTI diperdagangkan dikisaran $42.92 per barel, merosot sebesar 16 sen dari hari Selas, ketika minyak WTI ditutup di level terendah sejak Maret 2009.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Menjelang Data Konstruksi Inggris Pound Bergerak naik

Sterling mencapai level tertinggi dalam 10-pekan terhadap serangkaian mata uang utama sebelum para pembuat kebijakan Bank of England mengadakan pertemuan pada pekan ini. Markit Economics dan Chartered Institute of Purchasing

Berita 0 Comments

Index USD Tengah Terkoreksi, Harga Emas Masih Akan Alami Tekanan

Tercatatkan bahwa gerak harga emas telah mencetak rekor tertinggi dalam kurun waktu satu bulan setengah terakhir ini, yang terpenuhi pada sesi perdagangan pasar hari Kamis atau hari Jumat pagi. Rekor

Fundamental 0 Comments

Pengunduran Summers Dan Perkiraan Langkah The Fed Imbas Pasar, Emas Sempat Rebound Setelah Koreksi

BursaBerjangka emas pada awal perdagangan minggu ini mengalami kenaikannya lagi setelah berita pengunduran diri Lawrence Summers dari pencalonan menjadi kepala bank sentral Amerika pengganti Ben Bernanke pada akhir pekan kemarin.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image