Kebijakan China Kembali Berimbas Kuat, Produksi Minyak Iran Segera Ditingkatkan

0a1y01e8719Mata uang USD dilaporkan masih cenderung melemah nilai apresiasinya terhadap mata uang Uni Eropa, Euro, dan mata uang Jepang, Yen, pada hari Rabu (26/ 08/ 2015) ini. Hal tersebut terjadi seiring sentimen yang masih rapuh meski setelah China meluncurkan pelonggaran kebijakan moneter.

Dilaporkan semalam bahwa nilai apresiasi mata uang USD terhadap Yen telah sempat diperdagangkan di kisaran 119.00, setelah gerak nilai apresiasi mencapai ke atas level 120 Yen. Hal tersebut terjadi karena setelah People‚Äôs Bank of China memangkas tingkat suku bunga untuk keduakalinya dalam 2 bulan. Mata uang USD diperdagangkan di atas level 125 Yen kurang dari 2 pekan lalu, sebelum sentimen risk aversion mendorong para pelaku pasar untuk melakukan aksi beli Yen dan Euro, mata uang yang digunakan untuk mendanai investasi aset yang beresiko yang disebut juga ‘carry trades’.

Para pelaku pasar akan fokus terhadap bagaimana bursa saham China akan bereaksi pasca People’s Bank of China (PBoC) memangkas tingkat suku bunga sebanyak 25 basis poin menjadi 4.6%, dan memangkas giro wajib minimum (reduced reserve requirements (RRR) sebanyak 50 basis poin menjadi 18% bagi hampir seluruh bank-bank besar. Langkah tersebut, yang diperkirakan akan diambil PBOC akhir pekan lalu, diambil setelah penurunan tajam pada bursa saham China memicu efek domino secara global pada bursa saham dan komoditas.

Mata uang USD gerak nilai apresiasinya sedikit rebound pasca pengumuman PBOC, namun bagaimana reaksi bursa saham Shanghai terhadap kebijakan tersebut yang akan menentukan arah pergerakan mata uang USD, demikian persepsi para pelaku pasar. Mata uang Yen dan Euro menjadi tempat peralihan dari resiko yang mengakibatkan penurunan carry trades, mata uang Euro telah membangun korelasi negatif dengan bursa saham, terutama setelah penurunan tajam bursa China.

Nilai apresiasi mata uang Inggris, Poundsterling, terpantau pulih dari titik rendah 1-bulan terhadap majorcurrencies di hari Selasa. Hal tersebut terjadi karena ditunjang oleh adanya gerak penguatan tajam terhadap mata uang Euro. Meski demikian, namun mata uang Poundsterling masih tapak sedikit tertekan terhadap nilai apresiasi mata uang USD.

Hal tersebut terjadi karena pesimisme para pelaku pasar atas timing kenaikan suku bunga Bank of England (BoE).
Kebanyakan para pelaku pasar memperkirakan timing kenaikan suku bunga BoE baru akan terjadi di Q3 di tahun depan. Perkiraan tersebut lebih lama dibanding perkiraan semula di awal 2016 ketika BoE mempublikasikan laporan inflasi triwulanan 3 minggu lalu.

Bagaimanapun kecemasan para pelaku pasar atas pelambatan beberapa hari terakhir setelah mata uang China mendevaluasi mata uangnya, ditambah data ekonomi China yang juga menunjukkan pelambatan pelemahan ekonomi China saat ini masih kecil kemungkinan berdampak besar terhadap mata uang Poundsterling, tidak seperti mata uang komoditas lainnya. Hal tersebut karena sebab import dari China hanya menyumbang sekitar 8.7 % dari total import Inggris, sementara nilai ekspor menuju China bahkan lebih kecil.

Gerak harga minyak mentah diperdagangkan pada range sempit di awal sesi hari Rabu, berada dekat dengan level terendah 6-1/2 tahun. Hal tersebut terjadi setelah bank sentral China mengambil langkah untuk menopang perekonomian, sementara kecemasan mengenai kelebihan suplai membatasi gain.

Indeks saham berjangka Amerika dilaporkan masih melanjutkan gerak penurunan nilainya pada awal sesi perdagangan pasar Asia dan busa saham Asia tampil defensif pada sesi perdagangan pasar hari Rabu (26/ 08/ 2015). Hal tersebut terjadi karena merespons langkah kebijakan pelonngaran moneter oleh bank sentral China tidak dapat berbuat banyak dalam memulihan sentimen para pelaku pasar. Pihak ANZ mengatakan bahwa pemangkasan suku bunga China telah menenangkan pasar komoditas, namun mereka masih cemas dan kenaikan akan terbatas.

Suplai minyak mentah Amerika dilaporkan turun sebanyak 7.3 juta barel pekan lalu menjadi 449.3 juta barel, dibandingkan dengan ekspektasi analis untuk kenaikan sebanyak 1 juta barel seiring kenaikan jumlah kilang yang beroperasi, menurut data dari American Petroleum Institute pada sesi perdagangan pasar hari Selasa kemarin. Data dari Energy Information Administration akan dirilis nanti malam.

Telah dilaporkan pula, bahwa negara Iran akan menaikkan tingkat produksi minyak mentah dan mendapatkan kembali bagian ekspor minyaknya segera. Hal tersebut dilakukan setelah sanksi internasional pada negara anggota OPEC tersebut dicabut, demikian menurut Bijan Zanganeh, menteri perminyakan Iran pada hari Selasa kemarin. Sementara dilaporkan juga bahwa Nigeria pun juga menaikkan ekspor minyaknya.

About author

You might also like

Komoditas 0 Comments

Yunani Pilih ‘No”, Market Amerika Siap “On”, Emas dan Minyak Bearish di Sesi Asia

Gerak harga emas dilaporkan telah dibuka dengan kondisi gerak harga mengalami gap-up pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Senin (06/ 07/ 2015) pagi ini. Hal ini terjadi karena gerak

Forex News 0 Comments

Walau Tipis Euro Masih Memiliki Gain

Euro diperdagangkan dekat 1.3070 di awal perdagangan pekan ini, setelah pulih dari rendahnya dibawah 1.3000 (rendahnya 3 pekan) yang terjadi Jumat malam lalu. Reli hari Jumat lalu mengikuti data yang

Forex News

Gerak Nilai Harga Minyak Terjerembab Lagi, Won Terkoreksi Karena China

Now Nike Shox has grow to turn jordan 11 72-10 into a new jordans reasonably mature item kind, the engineering of Shox is involving cushioning, jordan 11 72-10 or shock

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image