Kebijakan The Fed Tak Kuasa Tahan Deflasi

Kebijakan The Fed Tak Kuasa Tahan Deflasi

Mata uang yen mengalami pelemahan apresiasinya terhadap USD hingga menyentuh level harga 100.93 di awal sesi perdagangan pasar Asia. Pelemahan yen juga disebabkan oleh adanya publikasi data yang menunjukan meningkatnya pembelian obligasi pemerintah asing oleh investor negara sakura, Jepang. Pertemuan The Fed terakhir telah menegaskan kesiapan bank sentral untuk merubah program pembelian obligasi sesuai perkembangan situasi ekonomi Amerika. Turunnya klaim pengangguran telah memberikan bukti tambahan akan berlanjutnya pemulihan ekonomi Amerika. Presiden Fed of Philadelphia, Charles Plosser, mengutarakan keinginan untuk mengurangi stimulus moneter secepatnya pada pertemuan berikutnya.

Ini merupakan level terlemah dalam 4 tahun terakhir. Kinerja yen terpuruk seiring munculnya kekhawatiran atas pengurangan stimulus moneter dari Federal Reserve dalam waktu dekat. Investor Jepang membeli obligasi pemerintah asing sebanyak 5,1 miliar yen untuk minggu yang berakhir pada 4 Mei 2013. Ini merupakan pembelian pertama kalinya setelah dua bulan terakhir investor Jepang menjual obligasi pemerintah asing. Meningkatnya pembelian obligasi pemerintah asing dapat sinyalkan mulai bekerjanya kebijakan pelonggaran moneter BOJ. Mata uang yen Jepang telah melemah 4.2% sejak 4 April lalu ketika gubernur BOJ, Haruhiko Kuroda, menambah jumlah pembelian obligasi bulanan menjadi dua kali lipat dan mengubah target menjadi obligasi jangka panjang untuk mencapai target inflasi tahunan sebesar 2%. Yen terakhir kali mencapai level 100 pada tanggal 14 April 2009. USD berhasil mendominasi Mata uang yen dan euro setelah laporan klaim pengangguran Amerika diluar dugaan turun ke level terendah dalam lebih dari 5 tahun. “Sinyal membaiknya pasar tenaga kerja AS telah muncul dan menekan yen. Kami melihat prospek pasar tenaga kerja AS telah membaik, terbukti dengan data payrolls yang bagus pekan lalu dan klaim pengangguran hari ini,” demikian yang disampaikan oleh Joe Manimbo, analis pasar pada Western Union Business Solutions, unit dari Western Union Co. Dalam perdagangan hari Kamis (09/ 05/ 2013) kemarin, mata uang sempat diperdagangkan di level 100.46 yen. Indikasi ini menisyaratkan dorongan bagi perekonomian untuk bergairah semenjak lesu kembali di 2013 ini. Secara relative USD membuat deflasi bagi mata uang lainnya. Deflasi disatu sisi memang menjadi bahasan yang menarik bagi kalangan para pelaku pasar. Berbicara mengenai kebijakan kuantitatif The Fed dituding belum sanggup memenuhi target inflasi 2%. Hal ini berarti USD akan menjadi lebih mahal untuk diperdagangkan, hal ini akan membuat perusahaan-perusahaan dan perekonomian Amerika secara umum.

USD diperdagangakan kembali di atas kisaran level harga 100 Yen. Ini merupakan level tertinggi USD atas mata uang yen dalam empat tahun ini. Terkahir kali USD diperdagangkan diatas 100 yen adalah ketika bulan April 2009, saat krisis dianggap mencapai titik terkelamnya. Apreisasi mata uang USD/ JPY kini diperdagangkan di level harga 100.78 menjauhi level rendah harian di level harga 100.52. Mata uang yen melemah menembus level 100 per USD untuk pertama kalinya dalam 4 tahun seiring kebijakan dari BoJ untuk memerangi deflasi telah membawa mata uang yen menuju penurunan bulanan beruntun paling panjang dalam hampir selama 2 dekade.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Euro Terpuruk, Aussie Ditopang Oleh Data

Euro diperdagangkan sekitar 0.4% dari level terendah terhadap dollar sejak bulan November seiring investor menumpuk posisi bearish terhadap euro menjelang pertemuan bank sentral Eropa pekan ini. Euro melemah sebanyak 3.2%

Forex News 0 Comments

Awali Minggu Ini, Gerak AUD Terdongkrak Pernyataan RBA

Pada sesi perdagangan Asia di hari Senin (20/ 10/ 2014) ini, mata uang yen lanjutkan gerak pelemahan apresiasi terhadap mata uang USD. Hal ini terjadi setelah komentar dari gubernur bank

Fundamental 0 Comments

AUD Bergerak Positif, Pasar Tunggu Data Rilis

Pergerakan mata uang euro melemah tajam ke level rendah dalam kurun waktu 2 pekan pada awal sesi pasar Asia hari Senin. Kondisi ini terpicu setelah menderita pelemahan mingguan terbesar dalam

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image