Kinerja BEI 2016 Dibuka Presiden, Arab Saudi Bersitegang Dengan Iran

0a0a_0a0_0002_12651_0a0aaa01_00110304_03765401_nGerak nilai apresiasi Greenback pada perdagangan awal di tahun 2016 ini, pada sesi perdagangan pasar di hari Senin ini, dilaporkan bergerak di dekat level tertinggi dalam dua pekan major currencies. Gerak nilai apresiasi mata uang USD pada pagi ini bergerak stabil di 120.40 terhadap mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen. Gerak penembus ke bawah kisaran level 120.05 akan membuat gerak nilai apresiasi mata uang USD menuju pada level terendah terhadap mata u7ang Yen sejak akhis Oktober.

Tahun 2016 ini adalah merupakan tahun dimana kondisi pasar mengekspektasikan untuk adanya perbedaan kebijakan moneter dari The Fed yang akan berikan dukungan terhadap kondisi apresiasi major currencies terhadap mata uang USD. Indeks USD dilaporkan hanya sedikit bergerak di 98.72. Gerak kenaikan di atas 98.77 akan membuat indeks USD ke level tertinggi sejak 21 Desember. Indeks USD telah bergerak menguat hampir 10% pada tahun 2015 lalu. Hakl tersebut terjadi, seiring The Fed yang telah melakukan kebijakan dengan mulai menaikkan suku bunga dalam hampir sedekade untuk pertama kalinya.

Dalam kondisi tersebut, European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan (BoJ) memberlakukan kebijakan dengan bertahan dalam skema kebijakan moneter yang sangat longgar dan bahkan diperkirakan akan melonggarkan lebih lanjut. Analis dari Barclays mengatakan bahwa pasar forex kemungkin akan akan mulai dengan perasaan deja vu yang kuat, karena masih banyak tema dari tahun lalu masih di tempat yang kuat. Dia juga menambahkan bahwa sebagian besar catatan di pasar forex masih tertuju pada perbedaan kebijakan yang dibuat oleh The Fed, harga komoditas yang rendah dan peran dari pelemahan di pasar berkembang/China terhadap pemulihan global.

Loretta Mester, Presiden The Fed Cleveland, mengatakan bahwa dia sepenuhnya mendukung langkah yang diambil oleh The Fed di bulan Desember. Loretta Mester adalah pembuat kebijakan yang agak hawkish terhadap pemungutan suara kebijakan moneter Amerika pada tahun ini. Loretta Mester mengatakan bahwa langkah tersebut adalah langkah awal yang bijaksana di jalan normalisasi bertahap suku bunga, dan indikasikan kepercayaan pembuat kebijakan bahwa kemajuan di dalam ekonomi yang kita telah lihat beberapa tahun terakhir akan berlanjut.

Federal Reserve memperketat kebijakan moneternya untuk pertama kalinya dalam hampir sedekade di pertengahan Desember lalu, dengan menaikkan suku bunga dari dekat level nol. Langkah tersebut sudah diantisipasi namun belum bisa menjadi sandungan terhadap pasar keuangan akan The Fed masih mempertimbangkan kapan lagi untuk melakukan kebijakan tersebut.
Loretta Mester cukup bullish terhadap prospek ekonomi Amerika. Loretta Mester memprediksi “tren naik” terhadap pertumbuhan domestik bruto menjadi 2.5% sampai 2.75% untuk kuartal keempat dan untuk semua kuartal di tahun 2016, dan inflasi akan rebound karena dampak dari pelemahan komoditas dan penguatan dollar akan memudar. Loretta Mester juga memprediksi adanya pertumbuhan upah dan perbaikan lebih lanjut di pasar kerja Amerika.

Data-data ekonomi Amerika yang dirilis negatif dipenghujung tahun ini, membuat gerak nilai apresiasi Greenback melemah terhadap mata uang jepang, yaitu mata uang Yen. Meski demikian Greenback masih akan mencatatkan gerak penguatan dalam empat tahun beruntun terhadap mata uang Yen.

Gerak nilai apresiasi mata uang USD diuntungkan oleh adanya perbedaan kebijakan moneter antara kedua bank sentral tersebut. Hasil survei Bloomberg menunjukkan, kombinasi antara stimulus moneter dari Bank of Japan, dan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve Amerika diperkirakan akan melemahkan gerak nilai mata uang Yen sekitar 4% pada tahun 2016.

Departemen Tenaga Kerja Amerika telah melaporkan jumlah klaim tunjangan pengangguran baru Amerika naik sebanyak 20.000 menjadi 287.000 dalam tujuh hari yang berakhir 26 Desember. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak bulan Februari, dan jumlah klaim menjadi yang tertinggi sejak pekan yang berakhir 4 Juli. Sementara aktivitas bisnis di Chicago secara mengejutkan berkontraksi tajam, menyentuh angka 42,9 di bulan ini, merupakan level terendah sejak Juli 2009, dibandingkan bulan sebelumnya 48,7, dan mematahkan ekspektasi kenaikan menjadi 50,4.

Kebijakan Haruhiko Kuroda, Gubernur BoJ, yang merilis dua stimulus moneter sejak April 2013 membuat gerak nilai apresiasi mata uang Yen melemah ke level terendah 13 tahun 125.86 per USD pada bulan Juni lalu. Sejak itu gerak nilai apresiasi mata uangt Yen telah memangkas pelemahan, dengan menguat sekitar 1,8% terhadap Greenback di semester kedua tahun ini, setelah BoJ tidak lagi menambah stimulus moneter.

Aktivitas manufaktur Jepang berekspansi di bulan Desember pada laju yang sama dengan bulan sebelumnya karena pesanan baru tumbuh pada laju tercepat dalam sebuah tanda ekonomi mempertahankan momentum di akhir 2015, ditunjukkan dalam hasil revisi survei pada hari Senin.

Indeks PMI akhir manufaktur Jepang dari Markit/Nikkei disesuaikan secara musiman di level 52.6 di bulan Desember versus pembacaan 52.5 dan tidak berubah dari pembacaan akhir di 52.6 di bulan November, itu adalah pembacaan tertinggi sejak Maret 2014. Indeks masih di atas ambang batas 50 yang membedakan antara ekspansi dari kontraksi untuk bulan kedelapan beruntun.

Indeks akhir untuk pesanan baru di level 54.2, naik dari pembacaan awal di 54.1 dan pembacaan akhir 53.6 pada bulan lalu. Untuk pesanan ekspor baru, level akhir turun ke 52.2 dari pembacaan awal 52.4 dan dari pembacaan akhir 53.2 di bulan November, ditunjukan juga dalam hasil survei.

Ekonomi Jepang menghindari resesi di kuartal ketiga dengan estimasi awal yang kontraksi direvisi untuk ekspansi 1.0% karena kenaikan di belanja modal, data ditunjukkan pada bulan lalu. Kenaikan tak terduga dalam pemesanan mesin juga menunjukkan bahwa investasi bisnis dapat membantu pembutuhan karena meningkatakn investasi aktivasi perusahaan dan permintaan domestik.

Dari Indonesia, pembukaan kinerja Bursa Efek Indonesia pada awal sesi pembukaan perdagangan pasar 2016, dibuka oleh Presiaden republik Indonesia, yaitu Joko Widodo. Dilaporkan bahwa Presiden Joko Widodo memulai aktivitasnya pagi ini dengan membuka perdangaan Bursa Efek Indonesia tahun 2016 di Gedung BEI. Gedung BEI terletak di Jalan Jend Sudirman, Jakarta, Senin 4 Januari 2016. Pembukaan yang berlangsung pukul 08.45 WIB ini akan disaksikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad dan Direktur Utama (Dirut) PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengawali 2016 dengan pelemahan, dibuka turun 0,28% atau 12,84 poin ke level 4.580,17, pada hari Senin (04/ 01/ 2016) ini. Gerak pelemahan ini terjadi sejalan dengan pergerakan bursa Asia yang melemah tertekan ketegangan di Timur Tengah. Sebelumnya gerak nilai harga IHSG ditutup menguat 0,52% atau 23,65 poin ke level 4.593,01 pada hari terakhir sesi perdagangan pasar 2015, pada hari Rabu (30/ 12/ 2015) lalu.

Kemudian Jokowi kembali ke Istana Kepresidenan Jakarta pukul 10.30 WIB. Rencananya suami Iriana ini akan menggelar sidang kabinet paripurna dengan topik program dan kegiatan pemerintah tahun 2016. Sidang kabinet akan dihadiri seluruh menteri kabinet kerja. Sidkab dilanjutkan dengan rapat terbatas terkait proyek kereta api cepat. Ratas digelar di Kantor Presiden pukul 15.00 WIB yang akan dihadiri Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Perencanaan Pembanguan Nasional Sofyan Djalil.

Tahun 2015 bagi komoditas minyak berakhir dengan kondisi muram. Gerak nilai harga minyak memangkas kerugiannya pada sesi perdagangan hari Kamis lalu, yang merupakan hari penghujung tahun, namun mengakhiri 2015 dengan penurunan tajam. Gerak nilai harga minyak babak belur oleh kondisi global yang terus kelebihan pasok dan pelambatan di konsumen energi utama China.

Patokan Eropa minyak mentah Brent North Sea turun hampir 35 persen sepanjang tahun, sedangkan patokan Amerika minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) turun 30 %. “Karena minyak mentah Brent melayang dekat posisi terendah 11-tahun dan WTI bernasib tidak jauh lebih baik, pasar mengakhiri tahun pada catatan muram, konsisten dengan apa yang kita lihat kelebihan pasokan fisik yang sedang berlangsung,” kata Tim Evans dari Citi Futures. Kontrak berjangka utama mengakhiri hari Kamis dengan keuntungan harian moderat. WTI untuk pengiriman Februari naik 44 sen menjadi ditutup pada $37,04 US/ barel di New York Mercantile Exchange.

Di perdagangan London, Brent untuk pengiriman Februari naik 82 sen menjadi menetap di $ 37,28 US/ barel. “Rebound” moderat pada Kamis mungkin berasal dari para investor yang mencoba untuk meminimalkan risiko setelah berspekulasi harga jatuh menjelang akhir pekan panjang Tahun Baru, kata Andy Lipow dari Lipow Oil Associates. Pasar ditutup pada Jumat untuk libur Tahun Baru.

“Bisa jadi ini hanya short-covering akhir tahun karena pasar telah begitu bearish,” katanya, “dan orang-orang menyesuaikan posisi mereka.” Minyak mentah berjangka telah terjun lebih dari $100 US/ barel pada pertengahan 2014, akibat persediaan melimpah yang diperburuk oleh produksi kuat dari OPEC dan Amerika.

Gerak nilai harga telah merosot terutama sejak 4 Desember, ketika Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan menentang pembatasan produksi, karena anggota-anggotanya berjuang untuk mempertahankan pangsa pasar. Juga menekan sentimen pasar adalah China, karena pertumbuhan ekonomi konsumen energi terbesar di dunia itu melambat. Di sisi lain, anggota OPEC Iran bersiap untuk meningkatkan ekspor minyak mentahnya setelah sanksi-sanksi Barat dicabut, sebagai bagian dari perjanjian nuklirnya dengan negara-negara besar. “Kita tahu pasar kelebihan pasokan dan kita pergi ke 2016 dengan pasar akan menunggu kembalinya minyak Iran,” demikian kata Lipow.

Pemutusan hubungan diplomatik Arab Saudi dengan Iran membawa ketidakpastian terhadap harga minyak dan menjadi sentimen negatif bagi bursa saham Asia. Telah dilaporkan bahwa Pemerintah Iran bereaksi setelah Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik sebagai respons atas pembakaran dan penyerangan Kedutaan Besar dan Konsulat Saudi di Iran. Penyerangan oleh massa di Iran itu sebagai ekspresi kemarahan setelah Saudi mengeksekusi ulama Syiah, Nimr Al-Nimr.

Aksi demonstrasi yang pecah setelah Arab Saudi mengumumkan mengeksekusi salah satu ulama Syiah, Nimr al-Nimr, karena didakwa melakukan perlawanan terhadap negara dan mengangkat senjata melawan pasukan keamanan. Aksi demonstrasi itu berujung pada penyerangan, pengrusakan furnitur, dan pembakaran Kedubes Arab Saudi oleh para demonstran.

Gambar-gambar yang muncul di sosial media menunjukkan jika para demonstran menghancurkan furnitur di dalam kedutaan. Gambar lainnya memperlihatkan polisi huru-hara menjaga kedutaan saat petugas pemadam kebakaran mulai memadamkan api. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Hossein Jaber Ansari menyerukan kepada masyarakat Iran untuk tenang dan mengatakan tidak boleh ada demonstrasi di sekitar lokasi diplomatik milik Arab Saudi.

Jaksa Agung, Abbas Jafari Dolatabadi mengatakan, bahwa polisi Iran telah menangkap 40 demonstran yang menyerbu dan membakar Kedutaan Besar Arab Saudi pada Sabtu malam atau Minggu dini hari. “Pengadilan telah mengeluarkan perintah untuk mengidentifikasi dan menangkap demonstran lainnya yang turut menyerbu Kedutaan Besar Arab Saudi,” kata Dolatabadi seperti disitir dari Xinhua, Minggu (03/ 01/ 2015).

Hossein Amir-Abdollahian, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, mengatakan bahwa Arab Saudi tidak bisa menghindari “kesalahan besar” atas eksekusinya terhadap ulama Syiah terkemuka dengan memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Al-Nimr dan 47 orang lainnya dieksekusi massal oleh otoritas Saudi pada Sabtu pekan lalu. Sebagian besar dari mereka dieksekusi atas tuduhan terlibat aksi terorisme. Eksekusi itu tidak hanya memicu kemarahan Iran, tapi juga negara-negara lain seperti Irak dan Libanon.

”Iran adalah salah satu negara paling aman di kawasan itu,” kata Amir-Abdollahian, seperti dikutip Sputnik, Senin (04/ 01/ 2016). Dia menjadi pejabat Iran pertama yang bereaksi terhadap pengumuman pemutusan hubungan diplomatik yang disampaikan Menteri Luar Negeri Saudi, Adel Al-Jubeir.

Arab Saudi telah menuduh Iran tidak bertindak ketika massa menyerang Kedubes dan Konsulat Saudi di Teheran dan Mashhad. Meski demikian, Iran menyatakan telah menangkap puluhan orang yang terlibat dalam penyerangan itu. Jubeir telah memerintahkan pada semua diplomat Iran agar hengkang dari Saudi dalam tempo 48 jam.

About author

You might also like

Komoditas 0 Comments

Apresiasi Euro Kembali Terhempas, Minyak Turun Gugah Selera Pasar Ke Saham

Telah dilaporkan bahwa kondisi pergerakan nilai apresiasi mata uang Uni Eropa, yaitu mata uang Euro, tengah kembali terkoreksi pada sesi perdagangan pasar hari Rabu (30/ 09/ 2015) kemarin. Bahkan di

Fundamental 0 Comments

Pemerintah Amerika Mencatatkan Anggaran Bulanan Senilai $214 Miliar, Dow Jones Mendapat Hampir 200 Poin

Amerika melaporkan surplus anggaran bulanan terbesarnya yang tercatat pada bulan April, yang dikatakan oleh Kantor Anggaran Kongres mencerminkan kegiatan ekonomi yang lebih kuat selama setahun terakhir. Penerimaan pada bulan April

Berita 0 Comments

Nantikan Laporan Inflasi Kuartalan, Sterling Melemah

Pasca menguat di awal pekan kemarin, pound sterling kini berbalik melemah terhadap dollar di awal perdagangan sesi Asia. Fokus hari ini tertuju pada laporan inflasi dari Bank of England di

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image