Kiprah Ekonomi China Mulai Besar, Amerika Mulai Gerah

9842848747272722_779892498928298_94922498448280_nPada sesi perdagangan pasar Asia di hari Selasa (09/ 06/ 2015) ini, gerak harga emas dilaporkan bergerak menguat. Gerak penguatan harga emas karena telah topang oleh laporan penurunan CPI China yang juga baru dirilis. Gerak harga emas pada sesi perdagangan hari Senin (08/ 06/ 2015) kemarin, atau pada akhir sesi perdagangan pasar di hari Selasa (09/ 06/ 2015) dini hari, dilaporkan telah diperdagangkan secara flat. Kondisi ini terjadi karena selain minimnya data ekonomi pada sepanjang sesi perdagangan pasar di hari Senin (08/ 06/ 2015) kemarin, karena para pelaku pasar cenderung berdiam, kurang adanya minat para pelaku pasar untuk masuk ke perdagangan pasar emas meski krisis utang Yunani sedikit menemukan titik terang. Sebagian besar para pelaku pasar lebih tertarik untuk berspekulasi di perdagangan nilai apresiasi mata uang dan di perdagangan pasar saham. Gerak harga emas dilaporkan bergerak rebound dari sesi terendah minggu lalu, merespon hasil rilis data Non-Farm Payrolls Amerika pada akhir pekan lalu. Namun keuntungan pada gerak harga emas hanya terbatas pada resistance kuatnya yaitu pada kisaran $1,180.00.

Dilaporkan bahwa gerak harga emas telah menyelesaikan sesi perdagangan pasar di hari Senin (08/ 06/ 2015), dengan mencatatkan angka keuntungan tipis yaitu sebesar $1.40 US atau 0.12% dengan gerak harga berakhir pada level $1,173.200 US/ troy ons. Gerak harga emas sebelumnya sempat diperdagangkan hingga setinggi $1,177.540 dan serendah $1,169.440. Dalam pergerakan harga sepekan lalu, gerak harga emas telah mencatatkan angka kerugian sebesar $18.70 atau 1.50%. Gerak harga emas berjangka kontrak Agustus dilaporkan bahwa telah menyelesaikan sesi perdagangan pasar di hari Senin (08/ 06/ 2015) di Divisi Comex New York Mercantile Exchange, dengan mencatatkan angka keuntungan sebesar $5.50 US atau 0.50% dengan gerak harga berakhir pada level $1,173.600 US/ ons. Dalam pergerakan harga sepekan lalu, gerak harga emas berjangka telah mencatatkan kerugian sebesar $21.70 atau 1.82%%. Telah dilaporkan juga bahwa pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa (09/ 06/ 2015) ini, dengan mengacu pada situs resmi logam mulia bahwa, harga emas yang dijual PT. Aneka Tambang, Tbk (Antam) di harga Rp 551.000, naik sebesar Rp 2.000 dari harga di hari sebelumnya yaitu Rp 549.000/gram. Untuk harga buyback logam mulia milik Antam di hari Selasa (09/ 06/ 2015) ini, dilaporkan naik sebesar Rp 6.000, sehingga menjadi senilai Rp 498.000, naik dari hari sebelumnya yaitu Rp 492.000/gram. Berikut ini adalah merupakan daftar harga emas yang dijual oleh Antam pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa (09/ 06/ 2015) ini, yaitu untuk harga emas pecahan 500 gram - Rp 255.800.000, pecahan 250 gram - Rp 128.000.000, pecahan 100 gram - Rp 51.250.000, pecahan 50 gram - Rp 25.650.000, pecahan 25 gram - Rp 12.850.000, pecahan 10 gram - Rp 5.170.000, pecahan 5 gram - Rp 2.610.000, dan untuk pecahan 1 gram - Rp 551.000. Dilaporkan bahwa gerak harga perak untuk pengiriman Juli memperoleh 0,26% untuk $16,00 US/ troy ons, dan untuk gerak harga tembaga untuk pengiriman Juli dilaporkan tengah mereda sekitar 0,01% menjadi $2.702 US/ pon.

Pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Selasa (09/ 06/ 2015) pagi ini, dilaporkan bahwa gerak harga minyak mentah masih mengalami pergerakan yang terbatas dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan dini hari tadi. Pada sesi mperdagangan pasar Asia pagi ini gerak harga telah sempat berada di level $ 58,29 US/ barel, bergerak naik tipis sebesar 15 sen US dari posisi harga penutupan sebelumnya. Dilaporkan bahwa pada akhir sesi perdagangan pasar di hari Selasa (09/ 06/ 2015) dini hari, gerak harga minyak mentah telah mengalami gerak perlemahan harga yang kuat. Perlemahan gerak harga emas hitam ini cukup drastis, bergerak anjlok tajam karena adanya kondisi dimana permintaan dari China mengalami penurunan.

Sebagai informasi, posisi negara China dalam perdagangan minyak adalah merupakan negara net importir minyak mentah terbesar di dunia. Dilaporkan sebelumnya bahwa pada bulan Mei lalu kapasitas pembelian China adalah sekitar 25 % lebih nilai volume pembelian seluruh dunia jika dibandingkan dengan pembeliannya di bulan April. Untuk kategori produk olah minyak mentah impor telah dilaporkan juga, mengalami gerak penurunan harga sebesar lebih dari 6 %. Sementara itu untuk ekspor olahan minyak mentah dari negara tersebut turun sekitar 10 %. Kekhawatiran para pelaku pasar mengenai kelebihan pasokan setelah OPEC memutuskan untuk mempertahankan kuota produksi hariannya juga telah membuat gerak harga minyak mentah melorot. Meskipun demikian, gerak kenaikan nilai apresiasi mata uang USD telah membuat keadaan gerak perlemahan harga minyak mentah bisa tertahan.

Para pelaku pasar memperkirakan bahwa perusahaan penyulingan minyak di negara China mempergunakan minyak mentah dari pasokannya di dalam negeri. Akibatnya angka impor jadi mengalami penurunan. Sebagian besar fasilitas penyulingan minyak di negara tersebut sedang mengalami perbaikan sehingga permintaan minyak mentah mengalami pelemahan. Di akhir sesi perdagangan pasar pada hari Selasa dini hari tadi, dilaporkan bahwa harga minyak mentah jenis WTI berjangka untuk kontrak bulan Juli telah ditutup dengan membukukan penurunan signifikan. Harga minyak mentah jenis WTI berjangka ditutup turun sebesar 99 sen US atau 1,67 % di posisi $ 58,14 US/ barel. Harga minyak mentah Brent dilaporkan juga telah mengalami gerak penurunan harga yang cukup signifikan. Meskipun gerak penurunan harga yang dialami oleh minyak mentah Brent masih lebih kecil jika dibandingkan dengan penurunan harga minyak WTI. Dilaporkan bahwa gerak harga minyak mentah Brent telah ditutup melemah sebesar 50 sen US pada posisi $ 62,90 US/ barel.

Para pelaku pasar memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah jenis WTI di sesi perdagangan pasar Asia akan cenderung mengalami penurunan. Saat ini indikator teknikal masih mengisyaratkan pola yang bearish. Pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa (09/ 06/ 2015) hari ini, harga minyak mentah WTI diperkirakan akan mengalami kecenderungan gerak harga yang turun, dengan level support di level $ 57,00 US, dan untuk acuan resistance selanjutnya ada di $ 56,00 US. Apabila ternyata terjadi pergerakan dukungan positif, maka gerak harga akan menguat dan berpotensi untuk mencapai harga resistance yaitu pada kisaran level $ 60,00 US dan $ 62,00 US.

Langkah negara China untuk membentuk lembaga simpan pinjam Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) disambut baik oleh negara-negara lain. Melihat respon positif tersebut, pemerintah China ingin semakin mengukuhkan dirinya sebagai pendiri AIIB dengan hak veto. Menurut laporan dari Wall Street Journal hari ini, negara China akan membuat struktur direksi di AIIB jadi sangat sederhana. Tujuannya adalah untuk memberikan opsi veto untuk pemerintahnya dalam pengambilan keputusan yang dianggap besar. Mekanismenya, China akan memiliki porsi saham terbesar di AIIB dan perwakilannya memiliki hak veto dalam kebijakan utama.

Sesuai dengan panduan yang disepakati oleh 57 negara pendirinya bulan lalu, dewan direksi AIIB akan mengawasi operasional lembaga tanpa dibayar, atau berbeda dengan World Bank dan The Asian Development Bank. Markasnya akan berpusat di kota Beijing dengan bahasa Inggris menjadi bahasa resmi dalam setiap komunikasi. Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) lebih fleksibel membuka pengajuan proyek pembangunan kepada siapapun, berbeda dengan kebijakan yang diterapkan oleh Asian Development Bank (ADB) yang hanya memberikan kotrak proyek kepada negara anggotanya. Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) adalah bank simpan pinjam yang dibentuk oleh China sebagai sumber pendanaan negara-negara yang membutuhkan modal pembangunan. Keberadaan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dianggap oleh pihak negara Amerika dan sekutunya sebagai alat untuk memperluas pengaruh China.

Indonesia sendiri juga telah bergabung dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) sejak pertama kali berdiri meskipun absen saat peluncurannya pada tahun lalu. Menurut pihak negara China, negara terakhir yang sudah mengajukan proposal untuk bergabung adalah negara Austria. Keputusan pemerintah China untuk mempelopori pendirian bank simpan pinjam ala World Bank dan Asian Development Bank (ADB) ini, sempat tidak mendapat dukungan dari 3 negara besar di kawasan Asia Pasifik. Amerika bahkan merasa langkah itu tidak perlu karena lembaga kreditur yang sudah ada sekarang dirasa mampu untuk mengakomodasi kepentingan anggotanya. Dengan bermodalkan kas awal $50 miliar US, Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) tetap diluncurkan pada tanggal 24 Oktober 2014 di Beijing. Pihak Amerika mengklaim keberadaan AIIB hanya untuk menyaingi Bank Dunia dan ADB, yang selama ini memang dikenal sebagai perpanjangan tangan Washington di negara-negara berkembang.

Sejak menjadi negara perekonomian terbesar sedunia, negara China memang giat memperluas pengaruhnya di sektor bisnis maupun politik ke negara-negara mitra dagangnya, salah satunya adalah dengan mendirikan bank kreditur baru. Sikap Amerika mendapat dukungan dari 3 negara besar di Asia Pasifik. Perwakilan dari Australia, Indonesia dan Korea Selatan tidak hadir dalam peluncuran AIIB sehingga memunculkan spekulasi bahwa inisiatif China tidak mendapat support dari negara tetangga. Tetapi perkiraan itu pupus karena Indonesia akhirnya jadi ikut bergabung. China sendiri menjadi penyandang dana terbesar Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dengan kontribusi modal awal mencapai 50%.

Di perdagangan nilai apresiasi mata uang pasar global, telah dilaporkan bahwa mata uang USD pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Selasa (09/ 06/ 2015) pagi ini, nilai apresiasinya bergerak stabil terhadap major currencies. Nilai apresiasi mata uang USD masih mencoba untuk bangkit setelah pada saat sebelumnya tertekan dan mengalami gerak penurunan yang tajam. Indeks mata uang USD dilaporkan stabil dikisaran 95.28. Gerak penurunan nilai apresiasi mata uang USD yang telah bergerak dengan cukup tajam, terutamanya adalah terhadap mata uang zona Eropa, yaitu mata uang Euro.

Penguatan nilai apresiasi mata uang Euro terhadap mata uang USD terjadi, karena adanya laporan positif yang dirilis berkenaan dengan negara Jerman, yaitu adanya laporan bahwa tingginya yield obligasi Jerman. Dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang Euro pada sesi perdagangan pasar di pagi ini berada di kisaran level $1.1290, turun sebesar 0.1% pada hari ini dan melemah dari level gerak harga puncak semalam yaitu di level $1.1307, setelah angka output industri Jerman yang hasilnya lebih baik dari perkiraanpara pelaku pasar dan dari data sebelumnya. Namun adanya kondisi dimana pembicaraan yang masih berlangsung tentang Yunani yang belum menyetujui kesepakatan dengan para krediturnya telah membatasi penguatan pada mata uang Euro.

Dengan adanya kondisi bahwa tidak adanya kemajuan yang berarti dalam perkembangan hasil negoisasi antara kreditur dengan Yunani, atas kaitannya dalam masalah bailout, yang sedang dibuat karena para pejabat Yunani masih terus menolak proposal Uni Eropa/IMF, adalah merupakan isu pasar yang seharusnya akan manjadi faktur yang mendukung untuk dampak negatif bagi mata uang Euro. Akan tetapi, kondisi tersebut saat sesi kemarin tidaklah terlalu berdampak dengan gerak nilai apresiai mata uang Euro yang mampu tekan USD, walaupun tentunya karena adanya faktor negatif tersebut menjadikan gerak penguatan nilai apresiasi mata uang EUR/ USD terkesan ada batasan untuk pencapaian gerak nilai apresiasi bisa menguat lebih tinggi.diperdagangkan naik tajam. Dewan gubernur ECB, Christian Noyer, pada hari Senin lalu telah mengatakan bahwa Yunani hanya memiliki pengaruh kecil pada pergerakan nilai apresiasi mata uang Euro. Christian Noyer juga mengakan bahwa Yunani hanya mewakili 2% dari ekonomi zona Euro jadi itu benar-benar marjinal. Dilaporkan bahwa pejabat Yunani pada hari Senin lalu telah bertemu dengan Pierre Moscovici, Komisioner Ekonomi Uni Eropa, pada reformasi apa yang harus dilakukan oleh Yunani untuk dapatkan pinjaman baru, namun belum ada proposal baru dari Athena yang dapat membuat kreditur setuju untuk pengucuran dana talangan baru, demikian informasi dari salah seorang pejabat Uni Eropa.

Kembali China mengandominasi kiprah positifnya di pergerakan ekonomi dunia. Dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang negara China, yaitu mata uang Yuan, pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Selasa (09/ 06/ 2015) ini, telah bergerak menguat nilai apresiasinya untuk hari ke empat terhadap mata uang USD. Hal ini terjadi karena para pelaku pasar berani berspekulasi bahwa MSCI akan mengumumkan masuknya saham acuan Chinese A pada hari Rabu mendatang, yang dapat menciptakan peningkatan tajam dalam permintaan untuk mata uang negara China. Penguatan nilai apresiasi mata uang Yuan juga dikarenakan para pelaku pasar terus menjual mata uang USD. Hal ini terjadi karena para pelaku pasar merespon laporan media bahwa Presiden Amerika, Barack Obama, telah mengatakan bahwa mata uang USD yang terlalu kuat nilai apresiasinya justru akan jadi bermasalah. Presiden Obama mengatakan bahwa mata uang USD yang kuat adalah masalah. Seorang juru bicara Gedung Putih telah membantah laporan tersebut. Namun, ini tidak menghentikan para pelaku pasar untuk tetap melakukan aksi jual atas mata uang Amerika. Dilaporkan bahwa Yuan onshore daratan naik 0,02% atau untuk diperdagangkan pada 6,2048/ USD. Namun Yuan offshore melemah sebanyak 0,03% atau 19 basis poin, menjadi 6,2107/ USD. PBOC menetapkan tingkat titik tengah renminbi di 6,1179 atau 26 basis poin lebih kuat dari sesi sebelumnya. MSCI akan mengumumkan pada hari Rabu apakah saham Chinese A akan diangkat ke saham benchmark yang diikuti oleh manajer investasi di seluruh dunia atau tidak.

Telah dilaporkan bahwa nilai Consumer Price Index (CPI) China mencatatkan angka penurunan sebesar 0.2%. Data tersebut dirilis lebih buruk dari perkiraan para pelaku pasar dan juga dari data sebelumnya yaitu pada kisaran 0.0% (F) dan -0.2% (P). Nilai harga konsumen negara China dilaporkan naik pada laju yang lebih lambat di bulan Mei dan deflasi harga pabrik memperpanjang rekor penurunannya, menggarisbawahi permintaan yang lesu di dalam negeri dan luar negeri. Indeks harga konsumen dilaporkan telah naik sebesar 1.2% pada bulan lalu dari acuan data setahun yang lalu, mengacu pada laporan dari biro statistik China. Angka tersebut dibandingkan dengan estimasi media untuk kenaikan 1.3% dalam survei Bloomberg dan kenaikan sebesar 1.5% di bulan April. Indeks harga produsen turun 4.6%, memperpanjang penurunan dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Pemerintah China telah mengalihkan mode stimulus dengan pelonggaran moneter dan upaya untuk merekayasa hutang pemerintah lokal. Laju inflasi saat ini berada kurang setengah dari target 3% pemerintah, menunjukkan bahwa bank sentral masih miliki ruang untuk memperlonggar kebijakannya lebih lanjut. Untuk memerangi deflasi di China adalah mendukung untuk belanja dalam ekonomi riil. Pemerintah China memiliki kendala yang relatif ketat atas infrastruktur dan investasi real estate, serta pembiayaan bank kepada dua sektor tersebut dapat dengan mudah ditingkatkan melalui kebijakan.

Pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Selasa (09/ 06/ 2015) ini, diperkirakan oleh para pelaku pasar bahwa volatilitas perdagangan pasar global akan mulai meningkat, karena adanya sederetan data mulai dari sesi pasar Asia, Eropa hinga Amerika akan mulai dirilis pada sesi perdagangan hari ini.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Pasar Tunggu Data Amerika, Diperkirakan USD Masih Mendominasi

Mata uang Amerika sepertinya masih akan tetap mendominasi asar mata uang hari ini, sembari juga berimbas kuat pada pasar yang lain. Pada perdagangan pasar mata uang di hari Kamis (11/

Gerak Positif Harga Emas Mulai Ada, Meski Di Kisaran Rendah

Pada sesi perdagangan Asia di hari Selasa (05/ 05/ 2015) ini, gerak harga emas dan perak dilaporkan merangkak naik dengan diperdagangkan lebih tinggi setelah mengalami gerak penurunan di sesi sebelumnya,

Aussie Terkoreksi dari Level Tertinggi Sejak Juni

Pada sesi perdagangan pagi hari ini nilai tukar aussie tampak terkoreksi sedikit setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak bulan Juni (11/09). Aussie masih berada dalam pola bullish di tengah optimisme

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image