Koreksi Landa Greenback Pada Sesi Minggu Lalu, BoE Tak Buru-buru Naikkan Suku Bunga

11130170_821796094561089_8992787554848835043_nPada sesi perdagangan pasar di hari Jumat minggu lalu, gerak nilai apresiasi mata uang Sterling terkoreksi anjlok ke titik terendah dalam 3 ½ bulan terhadap mata uang USD. Kondisi pelemahan gerak nilai apresiasi mata uang Inggris ini masih dalam jalur pelemahan mingguan terburuk dalam 6 bulan terakhir. Kembali lagi, kondisi ini akibat dampak dari komentar Gubernur The Fed Janet Yellen.

Meski Bank of England (BoE) diekspektasikan akan mengikuti langkah The Fed untuk menaikkan suku bunga dari level rendah secara historis, namun dengan kondisi inflasi Inggris yang stagnan dekat level nol, maka BoE diperkirakan tidak terburu-buru, sehingga menyebabkan para investor tidak mengharapkan kenaikan bunga BoE sampai setidaknya semester kedua 2016, menyebabkan mata uang Dollar lebih atraktif ketimbang Sterling. Ben Broadbent, Deputi Gubernur BoE, telah menyatakan bahwa tidak mendukung kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, tidak seperti anggota dewan MPC lainnya. Menurut Ben Broadbent, biaya buruh di Inggris perlu tumbuh lebih pesat agar laju inflasi mendekati target bank sentral.

Indeks manufaktur PMI yang dirilis pekan depan akan menjadi petunjuk selanjutnya bagaimana kinerja ekonomi Inggris. Perbedaan suku bunga dan imbal hasil yang disebabkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed di tahun ini berpotensi mendongkrak nilai apresiasi mata uang USD, dan juga menopang Poundsterling seiring dengan perubahan ekspektasi kenaikan suku bunga dari BoE menjadi lebih cepat dibanding estimasi semula.

Telah dilaporkan bahwa mata uang Dollar Kanada, yang lazim disebut Loonie, diperdagangkan dengan kondisi cenderung flat pada sesi perdagangan pasar di hari Jumat minggu lalu, sehari setelah menyentuh level terlemah 6-tahun terhadap Greenback. Hal tersebut terjadi, seiring penguatan gerak harga minyak mentah mengimbangi dampak dari data GDP Amerika yang solid.

Telah dilaporkan mengenai laporan Departemen Perdagangan Amerika menunjukkan bahwa Gross Domestic Product (GDP) tumbuh meningkat pada laju tahunan 3,9% di kuartal April-Juni, lebih tinggi dari 3,7% yang dipublikasi bulan lalu. Data itu mendukung pandangan bahwa ekonomi Amerika mungkin telah cukup kuat untuk menahan tingkat kenaikan suku bunga.

Gerak harga minyak mentah terpantau naik sekitar 0,9% di awal sesi perdagangan pasar Amerika. Hal tersebut terjadi setelah pidato terbaru Ketua Utama The Fed, Janet Yellen yang menyiratkan optimisme terhadap laju perekonomian. Tentunya pernyataan tersebut menjadi angin segar, merupakan pertanda baik untuk permintaan minyak mentah, komoditas utama eksport Kanada.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga minyak mentah berakhir menguat dan menutup pekan di area positif menyusul perdagangan yang fluktuatif. Gerak nilai harga minyak mentah berfluktuasi di dekat level flatline dalam hampir sepanjang sesi perdagangan pasar di hari Jumat.

Gerak nilai harga minyak mentah melonjak kuat sekitar 2% di awal perdagangan New York mengiringi rally Wall Street sebelum kemudian tergelincir ke dekat level terendah harian. Harga kembali menguat setelah data mingguan jumlah rig minyak di Amerika dari perusahaan Baker Hughes menunjukkan terdapat 4 rig dinonaktifkan pada pekan lalu, pengurangan selama 4-pekan beruntun.

Pengurangan jumlah rig aktif biasanya dianggap sebagai pertanda perlambatan produksi di masa mendatang. Namun, pasar masih belum yakin harga minyak akan tetap menguat dalam beberapa pekan seiring outlook beragam terkait tingkat permintaan dan persediaan serta perekonomian global. Gerak nilai harga minyak mentah berakhir naik sekitar 0,53% atau sebesar $0.24 US dibandingkan harga penutupan sesi sebelumnya di level $45.34 US/ barel.

Dari Amerika dilaporkan bahwa, Ketua DPR dari partai Republik, John Boehner, telah mengumumkan pengunduran diri nya dari Kongress. hal tersebut sehingga mengakibatkan voting atas kenaikan plafon hutang menjadi lebih sulit bagi White House. Deadline kesepakatan anggaran untuk parlemen Amerika adalah di akhir bulan September ini, namun sejauh ini usulan anggaran dari partai Republik ditentang oleh pihak partai Demokrat. Kondisi ketidak sepakatan inilah, sehingga memicu resiko kebuntuan kesepakatan anggaran yang dapat berakibat pada penutupan pemerintah Amerika.

Dengan adanya kondisi tersebut, para pelaku pasar merespon secara negatif. Kondisi tersebut yang memicu rebound gerak nilai harga emas, mata uang Euro dan major currency lainnya. Sedangkan mata uang USD telah terkurangi gerak nilai penguatannya. Terpantau sejauh ini indeks mata uang USD terpangkas gerak penguatannya menjadi 0.44% di level 96.575, terkoreksi dari level tinggi nya 96.880.

Telah dilaporkan bahwa indeks Jepang, yaitu Indeks Nikkei Futures, melemah pergerakannya di awal perdagangan tertekan penguatan mata uang Yen dan akhir mixed di Wall Street pada sesi sebelumnya. Juga dilaporkan bahwa indeks Hang Seng, Hong Kong, dan Kospi, Korea Selatan, telah ditutup menyambut hari libur. Setelah meroket lebih dari 4% di hari Jumat, indeks Nikkei Futures melemah sekitar 0,45% di level 17700 pada awal pecan ini.

Dilaporkan bahwa gerak nilai Indeks Dow Jones Futures dan S&P500 Futures pada sesi perdagangan pasar hari Jumat minggu lalu, telah berakhir dengan kondisi menguat. Sedangkan untuk Nasdaq Futures dilaporkan bergerak melemah. Hal tersebut terjadi karena para pelaku pasar telah mencerna komentar Federal Chairwoman Janet Yellen yang cenderung hawkish.

Para pelaku pasar mencermati pendapat Janet Yellen yang menyatakan bahwa rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan sebelum akhir tahun jika kondisi mendukung. Komentar ini dilontarkan sekitar sepekan setelah sepekan sebelumnya The Fed menunda kenaikan suku bunga seiring kecemasan para pejabat akan kondisi ekonomi China.

Penguatan mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, sampai dengan 0,2% terhadap mata uang USD juga menekan perdagangan indeks Jepang, Nikkei. Peningkatan valuasi mata uang Yen dinilai akan membuat produk-produk ekspor Jepang menjadi lebih mahal di pasar internasional. Saham Sony yang turun sampai dengan 4% pimpin pelemahan saham-saham eksportir, dengan saham Fanuc dan Honda tertekan lebih dari 2%.

Secara terpisah, skandal emisi Volkswagen turut berdampak ke sektor otomotif di Asia. Saham eksportir Suzuki Motors juga melemah lebih dari 1% setelah mengumumkan rencananya untuk menjual seluruh sahamnya dalam perusahaan Volkswagen ke Porsche. Lebih lanjut, pada hari Sabtu lalu Suzuki juga menyatakan akan membukukan $304 US juta special profit dari transaksi ini.

About author

You might also like

Fundamental 0 Comments

Sterling Menguat Atas Greenback, Minyak dan Bursa Saham Asia Menggeliat

Gerak nilai apresiasi mata uang Inggris, yaitu mata uang Pounsterling, dilaporkan telah bergerak menguat tajam pada sesi perdagangan pasar di hari Senin ini. Hasil jajak pendapat terbaru yang mengindikasikan keunggulan

Berita 0 Comments

Jelang Keputusan Moneter BOJ, Yen Menguat

Setelah melemah dalam dua hari beruntun, yen menguat pada perdagangan sesi Asia hari ini, jelang keputusan kebijakan moneter Bank of Japan. BOJ diperkirakan akan mempertahankan kebijakan sembari mengamati perkembangan penurunan

Gerakan Harga Emas Masih Bearish, Keputusan Amerika Dinantikan Pasar

Pada perdagangan di sesi pasar Asia hari ini (Selasa, 01/ 10/ 2013), gerakan harga emas tampak masih melanjutkan penurunan. Harga emas melanjutkan pergerakan turun, akibat spekulasi bahwa aktivitas pemerintah Amerika

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image