Major Currencies Koreksi Greenback, Yen Justru Sebaliknya

0a0a_0a0_0001_12651_0a0aaa01_100404_02665412_nTelah dilaporkan bahwa gerak nilai mata uang Inggris, yaitu mata uang Poundsterling bergerak menguat terhadap major currencies. Hal tersebut terjadi, setelah laporan ekonomi menunjukkan bahwa ekspansi ekonomi Inggris berjalan lebih cepat di kuartal ke empat.

Gerak nilai apresiasi mata uang Poundsterling menguat terhadap Greenback, dimana sebelumnya yaitu pada sesi perdagangan pasar di hari Rabu, mata uang Pondsterling tertekan oleh mata uang USD gerak nilai apresiasinya. Gerak nilai apresiasi mata uang Poundsterling telah menguat sebesar 1% menjadi $1.4373, setelah turun ke $1.4080 pada tanggal 21 Januari lalu.

Pencapaian level tersebut adalah pencapaian level terendah sejak Maret 2009. Gerak nilai apresiasi mata uang Poundsterling masih di jalur untuk penurunan bulanan sebesar 2.6%. Poundsterling dilaporkan juga bergerak menguat nilai apresiasinya sebesar 0.5% menjadi 0.7615 terhadap mata uang Uni Eropa, yaitu mata uang Euro, melemah sebesar 1 % pada sesi perdagangan pasar hari Kamis kemarin.

Gerak penguatan nilai apresiasi mata uang Poundsterling tersebut, telah mengurangi koreksi pelemahan pada sesi perdagangan pasar di hari Rabu, yang merupakan pelemahan terbesar dalam hampir dua pekan. Laju ekonomi Inggris dilaporkan tumbuh sekitar 0.5% di periode tiga bulan terakhir 2015, dibandingkan dengan kenaikan 0.4% di kuartal ketiga, dan sesuai dengan perkiraan para pelaku pasar.

Gerak nilai apresiasi mata uang Poundsterling masih menuju untuk penurunan bulanan ke tiga terhadap mata uang USD dan pelemahan terbesar sejak Maret. Gerak nilai apresiasi mata uang Poundsterling telah anjlok ke level terendah dalam hampir tujuh tahun pada tahun lalu. Hal tersebut terjadi, karena dibebani oleh pergejolakan di pasar keuangan dan kecemasan bahwa Inggris akan mengadakan pemungutan suara untuk keluar dari Uni Eropa.

Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, telah ditutup melemah tipis terhadap Greenback pada sesi perdagangan pasar hari Kamis Kemarin. Kondisi tersebut terjadi, menyusul sinyal peningkatan sentimen risk appetite berdasarkan penguatan gerak nilai harga di bursa pasar saham Amerika. Gerak nilai apresiasi mata uang USD sendiri pun sebenarnya berakhir melemah terhadap major currencies lainnya, setelah kekecewaan para pelaku pasar atas hasil rilis laporan core durable goods order Amerika untuk bulan Desember.

Faktor pendukung lainnya adalah mengenai perubahan positif atas gerak nilai harga komoditas minyak, serta berita pengunduran diri Menteri Ekonomi Jepang. Beragam faktor menekan valuasi mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, di awal sesi perdagangan pasar Asia di hari Jumat (29/ 01/ 2016) dengan hasil pertemuan moneter dua hari dari Bank of Japan (BoJ). Pertemuan BoJ tersebut menjadi fokus utama para pelaku pasar pada sesi perdagangan pasar untuk hari ini.

Selepas adanya kejutan tentang adanya tindakan pengunduran diri dari Menteri Ekonomi Jepang, Akira Amari, kemudian disusul adanya rilis data pengeluaran rumah tangga bulan Desember dan inflasi inti bulan Januari. Kondisi tersebut telah lebih dahulu memberikan sentimen negatif untuk gerak nilai apresiasi mata uang Yen.

Pengeluaran rumah tangga di Jepang pada akhir tahun lalu turun 4,4% dibandingkan setahun sebelumnya, tampak tidak terpengaruh dengan rendahnya harga minyak global. Tingkat inflasi inti juga masih berkisar tidak jauh dari nol persen. Secara keseluruhan, data terbaru yang dirilis biro statistik Jepang, termasuk tingkat pengangguran yang bertahan pada 3,3%, meningkatkan tekanan perlunya BoJ mengucurkan stimulus tambahan untuk memicu pemulihan ekonomi yang lebih stabil.

Sejak bulan Oktober tahun lalu, para pelaku pasar pasar sudah mengkalkulasikan bahwa BoJ perlu meningkatkan program stimulusnya. Desakan ini semakin kuat, terlebih dengan penguatan gerak nilai apresiasi mata uang Yen sejak awal tahun yang berpotensi memberatkan aktivitas ekspor negara perekonomian terbesar keempat dunia tersebut. Namun, beberapa ekonom menduga peningkatan stimulus akan terjadi di tahun ini tapi mungkin tidak pada hari ini karena diperlukan angka inflasi yang lebih buruk dari laporan hari ini.

Gerak nilai harga saham di bursa saham Jepang, serta gerak nilai harga di indeks saham Nikkei, dilaporkan bergerak mendatar di sesi perdagangan pasar di hari Jumat (29/ 01/ 2016) ini. Gerak nilai harga di bursa Wall Street Amerika, yang telah bergerak menguat pada Kamis kemarin, serta kurs Yen yang mendekati level 119 belum berdampak pada kinerja di bursa.

Data yang dirilis pagi ini menunjukkan Tokyo kembali mengalami deflasi di bulan Januari sebesar 0,1%. Sementara pada level nasional masih mengalami inflasi 0,1% di bulan Desember. Gerak nilai harga spot Nikkei dilaporkan flat di kisaran level 17050.09. Gerak nilai harga di Nikkei futures dilaporkan telah diperdagangkan di kisaran 16940, menjauhi level tertinggi harian di kisaran level 17140.

Para pelaku pasar lebih banyak menanti hasil rapat moneter BoJ sebelum benar-benar masuk ke pasar. BoJ diperkirakan akan menambah stimulus moneter akibat kemerosotan aset Jepang.

BNP Paribas mengatakan peluang penambahan stimulus BoJ sebesar 50%. Sepanjang tahun ini, Nikkei telah merosot sekitar 10%, sementara ten menguat sekitar 1,2% terhadap dollar. Penguatan yen karena menyandang status safe haven tersebut membuat perusahaan-perusahaan eksportir Jepang mengalami tekanan.

Gerak nilai harga komoditas minyak mentah masih berakhir lebih tinggi namun terpaksa memangkas keuntungannya dari rally tajam yang diraihnya di awal sesi perdagangan pasar. Hal tersebut terjadi, setelah beberapa pejabat Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) membantah rencana pertemuan dengan Rusia untuk membahas pengurangan produksi.

Setelah hampir meraih harga $35 US/ barel, gerak nilai harga minyak mentah ditutup sekitar lebih rendah yaitu senilai $33.72 US/ barel. Meski demikian kondisinya, namun tetap 4,85% lebih tinggi dibandingkan harga penutupan pada sesi perdagangan pasar sebelumnya.

Bloomberg melaporkan bahwa, terdapat beberapa delegasi OPEC yang mengatakan tidak mendengar ada rencana pertemuan dan Arab Saudi tidak meminta pemangkasan produksi. Namun, dalam peluang besar tidak ada kesepakatan, beberapa pelaku pasar mengatakan bilamana gerak nilai harga minyak dapat pulih dengan sendirinya. Terutama dengan produsen minyak shale Amerika yang menunjukkan tanda-tanda kemunduran dan laporan jumlah rig mingguan pada hari Jumat akan menjadi ujian dari pandangan ini.

Sejumlah besar rig aktif terus menurun dan produksi berkurang di Amerika. Perusahaan oil services Baker Hughes memperkirakan bahwa, jumlah rig aktif dalam skala global akan berkurang sebanyak 30% pada tahun 2016.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Jelang Natal Tiba, Aussie Di Bawah 1.04 Jelang Natal

Dengan bursa S&P500 yang bergerak turun sebanyak 0.55% sejak pembukaan, seluruh pasar Asia ditutup, dengan bursa Singapura dan Hong Kong yang hanya dibuka setengah hari, bersiap menyambut Natal, bersama Aussie

Forex News 0 Comments

Dollar Dekat Level Tertinggi 6 Bulan Vs Yen

Mata uang usd masih bertahan di dekat level tertinggi enam bulan terhadap yen pada perdagangan hari ini, setelah Presiden Fed St. Louis, James Bullard mengatakan kemungkinan tapering telah meningkat bersama

Umum 0 Comments

Data FOMC Dirilis, Emas dan Euro Rawan Tekanan

Gerak harga emas telah terkoreksi cukup tajam dan menutup rentang harga gap yang sebelumnya telah terjadi pada waktu awal pekan lalu, setelah menyimak rilis hasil pertemuan FOMC Minutes semalam yang

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image