Mata Uang Yen dan Euro Jadi Alternatif Save Haven, Laju Ekonomi Korea Selatan Tertekan

0a0a_0a0_0002_12751_0a0aaa01_00111504_06765435_nGerak nilai apresiasi mata uang negara Kanada, yaitu Canadian Dollar, atau yang lazim disebut dengan istilah Loonie, dilaporkan telah terkoreksi dan bergerak melemah. Gerak nilai apresiasi Loonie terhadap Greenback bergerak berbalik terkoreksi melemah, setelah adanya gerak rally dalam kurun waktu tiga hari beruntun.

Kondisi tersebut terjadi, setelah gerak nilai harga komoditas minyak yang kembali bergerak di bawah kisaran $30 US/ barel kembali membebani gerak nilai apresiasi Loonie. Kemerosotan yang terjadi atas gerak nilai harga komoditas minyak, telah membuat gerak nilai apresiasi Loonie terus bergerak melemah hingga menyentuh level terendah 13 tahun terhadap mata uang USD.

Keputusan Bank of Canada (BoC) untuk mempertahankan suku bunga acuan 0,50% pada pekan lalu, telah membuat gerak nilai apresiasi Loonie beranjak dari level terendah tersebut. Kondisi tersebut juga terdukung oleh adanya gerak rebound nilai harga minyak selama dua hari sehingga mampu membuat Loonie bergerak rally.

Akan tetapi, kondisi tampaknya tidak bertahan lama. Hal tersebut terbukti, bahwasannya gerak rebound dari nilai harga komoditas minyak adalah, lebih disebabkan aksi short covering dari para pelaku pasar semata. Gerak kenaikan nilai harga minyak justru malah memicu aksi jual kembali. Kecemasan para pelaku pasar akan berlebihnya supply masih menjadi penekan harga minyak. Gerak nilai apresiasi mata uang USD/ CAD dilaporkan telah sempat diperdagangkan di kisaran level 1.4282.

Sebelumnya, gerak nilai apresiasi mata uang USD dilaporkan terkoreksi, bergerak melemah dan tergelincir pada sesi perdagangan pasar di hari Senin. Gerak pelemahan nilai apresiasi Greenback terjadi, meskipun masih jauh dari posisi terendah baru-baru ini.

Dengan kondisi yang terjadi adalah pasar bergerak lebih tenang, seiring para pelaku pasar menggeser fokus mereka ke pertemuan FOMC di pekan ini. Greenback juga terbebani gerak nilai apresiasinya, oleh aksi jual terbaru di perdagangan pasar komoditas minyak, yang mendorong para pelaku pasar beralih ke asset safe haven, seperti pada mata uang Uni Eropa, yaitu mata uang Euro dan mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen.

Federal Reserve secara luas diprediksi masih akan mempertahankan suku bunga tidak berubah di level 0,25%-0,50% pada akhir pertemuan kebijakan pada hari Rabu mendatang. Namun para pelaku pasar akan mencoba mencari petunjuk tentang apakah potensi perlambatan inflasi dan gejolak pasar global baru-baru ini bisa mendorong The Fed untuk mensinyalkan kekhawatiran tentang outlook ekonomi Amerika dan dunia. Yang berpotensi memicu pertanyaan tentang laju kenaikan tingkat suku bunga Amerika.

Gerak nilai harga indeks saham Jepang, yaitu Nikkei225, dilaporkan telah bergerak melemah pada sesi perdagangan pasar Asia di hari ini, Selasa (26/ 01/ 2016)ini. Gerak nilai harga spot Nikkei telah dilaporkan melemah 2,22% menjadi 16730.82. Gerak nilai harga Nikkei Futures dilaporkan telah open gap down dan telah diperdagangkan di kisaran level 16720. Kondisi tersebut terjadi, setelah adanya gerak rally dalam dua sesi beruntun. Berbagai sentimen negatif membuat bursa kembali ke zona merah.

Beberapa sentimen negatif pasar tersebut dimulai dari gerak nilai harga minyak mentah yang kembali bergerak di bawah kisaran harga $30 US/ barel, hingga kondisi yang terjadi pada gerak nilai harga di bursa saham Amerika. Kondisi yang terjadi pada gerak nilai harga di bursa saham Amerika adalah, keadaan dimana gerak nilai harga yang bergerak melemah di sesi perdagangan pasar pada hari Senin. Kondisi pasar yang merespon penurunan gerak harga minyak dan pelemahan Wall Street, telah memicu gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, yang menyandang status sebagai asset safe haven, bergerak kembali menguat.

Dilaporkan bahwa laju perekonomian di Korea Selatan telah bertumbuh dengan laju yang lebih lambat pada kuartal terakhir tahun lalu. Keadaan tersebut terjadi, dengan beban terbesar berasal dari industri informasi/komunikasi, demikian yang telah dilaporkan oleh pihak berwenang dari Bank of Korea (BoK).

Sebagai salah satu negara dengan tingkat laju perekonomian terbesar di kawasan Asia ini, laju pertumbuhan Korea Selatan hanya mampu bertumbuh 0,6% pada kuartal keempat dibandingkan pertumbuhan 1,3% pada kuartal sebelumnya. Angka ini hampir sesuai dengan ekspektasi para ekonom yang menduga data aktual akan berkisar antara 0,6%-0,7%. Sementara itu, Growth Domestic Product (GDP) untuk periode tahunan naik tipis menjadi 3% dibandingkan pertumbuhan 2,7% pada kuartal ketiga.

Gerak laju pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang moderat ini, telah menekankan kesulitan para pejabat mendongkrak permintaan domestik untuk menghadapi tantangan dari kondisi perlambatan laju ekonomi di China dan ketidakstabilan global yang melukai industri ekspor Korea Selatan. Konsumsi pribadi hanya naik 1,5% pada kuartal keempat dibandingkan pertumbuhan 1,2% pada kuartal ketiga.

Pihak berwenang dari BoK dan juga pemerintah Korea Selatan mengharapkan bahwa, laju pertumbuhan ekonomi dapat bertumbuh setidaknya 3% pada tahun ini. Walau demikian, namun para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg, telah mengestimasikan bahwa, gerak laju pertumbuhan perekonomian di Korea Selatan hanya akan tumbuh mencapai 2,8%.

Data ini berpotensi menjadi salah satu tekanan bagi gerak nilai harga di indeks saham Kospi untuk sesi perdagangan pasar hari Selasa setelah sempat membukukan keuntungan di awal pekan ini. Kondisi tersebut terjadi, berkat konsistensi sentimen risk appetite pada sesi perdagangan pasar Asia. Meski demikian, namun, risk aversion kembali merundung di sesi perdagangan pasar Eropa dan Amerika pada hari Senin kemarin, terlebih setelah gerak nilai harga komoditas minyak merosot ke bawah level $30 US/ barel, berpotensi direspon negatif oleh para pelaku pasar Asia.

Dilaporkan bahwa, gerak nilai harga komoditas minyak mentah berakhir turun 7,6% di level $29.80 US/ barel dibandingkan harga penutupan sesi sebelumnya. Gerak nilai harga minyak mentah telah menghapuskan rally besar sesi sebelumnya dan terjatuh ke bawah level psikologis $30 US/ barel.

Kondisi tersebut terjadi, setelah berita produksi minyak Irak yang mencapai rekor pada bulan lalu mengembalikan atensi pada melimpahnya suplai global yang membuat harga menuju level terendah 12-tahun pada pekan lalu. Menteri Perminyakan Irak pada hari Senin telah mengatakan bahwa, negaranya telah membukukan produksi yang mencapai rekor pada bulan Desember, dengan kilang yang ada di wilayah pusat dan selatan memproduksi sampai dengan 4,13 juta barel/ hari. Pejabat senior Irak dalam kesempatan terpisah mengatakan negaranya mungkin akan meningkatkan produksi pada tahun ini.

Bagaimanapun juga perhatian utama para pelaku pasar pada sesi perdagangan pasar di pekan ini akan tertuju pada rapat- rapat bank sentral. Baik itu adalah rapat FOMC The Fed, maupun juga rapat yang akan dilaksanakan oleh pihak Bank of Japan (BoJ). Setelah pada pekan lalu pihak berwenang European Central Bank (ECB) memberikan sinyal kuat akan adanya stimulus tambahan, yang mendukung rally pasar berisiko termasuk minyak.

Penguatan aset berisiko akan mengharakan pertanda The Fed akan berhati-hati terkait rencana kenaikan suku bunga empat kalinya pada tahun ini, sementara BoJ mungkin akan memilih untuk menambahkan stimulus. Para pelaku pasar akan melihat kapan waktu kenaikan suku bunga berikutnya dari hasil rapat moneter Federal Reserve yang akan diumumkan pada Kamis dini hari mendatang.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Greenback Tertekan Yen, Minyak Bergerak Menguat

Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi Greenback telah kembali diperdagangkan melemah terhadap mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, pada sesi perdagangan pasar di hari Rabu. Gerak nilai apresiasi Greenback telah

Fundamental 0 Comments

AUD Bergerak Positif, Pasar Tunggu Data Rilis

Pergerakan mata uang euro melemah tajam ke level rendah dalam kurun waktu 2 pekan pada awal sesi pasar Asia hari Senin. Kondisi ini terpicu setelah menderita pelemahan mingguan terbesar dalam

CFD News 0 Comments

Minyak Berlanjut Turun Terkait Pudarnya Optimisme Fiscal Cliff

Kontrak minyak mentah AS bertahan dibawah $89 per barel hari Senin, melanjutkan kejatuhan dari kejatuhan sebanyak 1.6% di hari Jumat lalu. Kontrak minyak mentah bulan Februari turun sebanyak 4 sen

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image