Minyak dan Aussie Terkoreksi, Brexit Hantui Inggris

0a0a_0a0_0002_12751_0a0aaa01_00211604_06765544_nMata uang Dollar Australia dilaporkan masih tampak bergerak melemah gerak nilai apresiasinya terhadap mata uang USD. Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang AUD/ USD sempat melemah sekitar 0.3% ke level 0.7619, sebelum akhirnya kembali di kisaran level 0.7643.

Gerak nilai apresiasi mata uang AUD/ USD telah bergerak menguat sekitar 4.7% dalam kurun waktu sepanjang tahun ini. Level support terdekat dari gerak nilai apresiasi mata uang AUD/ USD tampak terlihat di kisaran level 0.7600 dan untuk level resistennya berada di kisaran level 0.7730.

Gerak nilai apresiasi Aussie melemah terhadap Greenback, karena akibat terimbas oleh hasil rilis data laporan yang telah menunjukkan kenaikan yang lebih besar dari perkiraan di dalam jumlah pekerja di bulan Maret di Australia. Gerak nilai apresiasi mata uang AUD/ USD sempat naik setelah biro statistik melaporkan adanya penambahan sebesar 26.100 pekerja di bulan Maret, jika dibandingkan dengan estimasi median untuk kenaikan 17.000 pekerja dalam survei terhadap analis.

Kenaikan jumlah pekerja di Australia terjadi, terutama di sektor pekerja paruh waktu. Kondisi atas kenaikan jumlah pekerja di Australia tersebut berpeluang untuk bisa meningkatkan prospek akan adanya langkah kebijakan lebih lanjut dari RBA.

Namun, gerak nilai apresiasi mata uang Aussie berbalik melemah setelah data menunjukkan jumlah pekerja penuh waktu turun sebanyak 8.800. Mengenai jumlah pekerja penuh waktu naik menjadi 34.900. Tingkat pengangguran dilaporkan turun menjadi 5.7%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yaitu 5.9%.

Gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, dilaporkan telah bergerak menguat tipis. Hal tersebut terjadi, setelah adanya pernyataan dari Gubernur Haruhiko Kuroda yang mengatakan bahwa dia menolak untuk adanya kebijakan baru yang tidak produktif.

Gerak nilai apresiasi mata uang USD/ JPY bergerak naik sekitar 0.04% di level 109.38. Gerak nilai apresiasi mata uang USD/ JPY sempat naik ke level 109.53 pada awal sesi perdagangan pasar Asia.

Haruhiko Kuroda, Gubernur Bank of Japan (BoJ), mengatakan bahwa pasar keuangan negaranya akan semakin memburuk jika BoJ tidak mengadopsi suku bunga negative. Meski demikian, namun Haruhiko Kuroda juga menolak untuk adanya kebijakan baru yang tidak produktif.

Haruhiko Kuroda dalam sesi tanya jawab di Columbia University di New York mengatakan bahwa dia tidak berpikir bahwa pengenalan suku bunga negatif menjadi bumerang atau menyebabkan mata uang Yen terapresiasi dan pasar saham di Jepang turun. Jika itu terjadi, maka Haruhiko Kuroda dapat mengatakan bahwa jika pihaknya tidak memperkenalkan pelonggaran kuantitatif dengan suku bunga negatif, pasar keuangan Jepang akan semakin memburuk.

Gerak nilai apresiasi mata uang Yen telah bergerak menguat hampir 11% sejak 29 Januari. Hal tersebut terjadi, ketika BoJ mengumumkan bahwa mereka akan mengenakan biaya terhadap lembaga keuangan untuk sejumlah dana yang mereka taruh di BoJ.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga di bursa saham Jepang bergerak naik untuk hari ketiga. Penguatan gerak nilai harga di bursa saham Nikkei terjadi, karena gerak nilai apresiasi mata uang Yen melemah ke level terlemah dalam kurun waktu sepekan. Kondisi tersebut telah meningkatkan outlook untuk pendapatan eksportir.

Gerak nilai apresiasi mata uang Yen dilaporkan telah diperdagangkan di kisaran level 109.48, melemah untuk hari ketiga setelah menguat pada hari Senin ke level terkuat sejak Oktober 2014. Mata uang USD naik ke level terkuat dalam tiga pekan pada hari Rabu seiring pasar ekuitas global memangkas kerugiannya untuk tahun ini.

Gerak nilai harga di indeks saham Nikkei dilaporkan bergerak menguat sekitar 1.58% atau 250 poin di 16685. Seorang analis di Asset Management Co di Tokyo mengatakan bahwa setelah penguatan gerak nilai apresiasi mata uang Yen berhenti, saat ini indeks saham Jepang menikmati arus masuk modal dibalik penguatan pasar ekuitas global. Saya perkirakan tren pekan ini adalah pembelian saham perusahaan besar seperti di sektor otomotif juga terus berlanjut pada hari ini.

Isu Brexit telah menjadi topik hangat atas kondisi Inggris di tahun ini. Kecemasan akan Brexit kembali melemahkan gerak nilai apresiasi mata uang GBP/ USD.

Sebagian besar para pelaku pasar yang telah disurvei oleh Reuters mengatakan bahwa, Brexit, atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan menimbulkan masalah perekonomian Inggris. Hal tersebut akan memaksa Bank of England (BoE) untuk menurunkan suku bunga. Sebaliknya jika Inggris bertahan di Uni Eropa, pendapata para ekonom terbagi dua, sebagian menyebut akan berdampak positif, dan sebagian lagi menyatakan netral.

Inggris sebenarnya diprediksi menjadi salah satu negara maju dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di tahun ini. Namun pertumbuhan tersebut menjadi terancam jika Brexit terjadi pada referendum 23 Juni mendatang.

International Monetary Fund (IMF) pada hari Selasa menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, untuk ekonomi Inggris sendiri tahun ini diperkirakan tumbuh 1,9%, atau diturunkan dari proyeksi sebelumnya 2,2%. IMF juga menyebut ekonomi Inggris akan mendapat pukulan seandainya keluar dari Uni Eropa.

Pada sesi perdagangan pasar di hari ini, para pelaku pasar juga tengah menantikan hasil rapat moneter Bank of England. Gerak nilai apresiasi mata uang GBP/ USD berpotensi akan melanjutkan gerak penurunan jika melewati batas support di kisaran level 1.4150.

Gerak nilai harga komoditas minyak dilaporkan bergerak melemah. Melemahnya gerak nilai harga komoditas minyak terjadi pada awal sesi perdagangan pasar di hari Kamis.

Hal tersebut terjadi, karena adanya pernyataan dari pihak OPEC. Pihak OPEC telah memperingatkan akan melambatnya permintaan. Para eksportir utama telah mengisyaratkan bahwa nanti hanya akan ada pelonggaran yang longgar dengan sedikit komitmen pada pertemuan para eksportir untuk membendung kondisi kelebihan suplai global.

Gerak nilai harga komoditas minyak minyak juga berada di bawah tekanan setelah adanya pernyataan dari Alexander Novak. Alexander Novak, Menteri Perminyakan Rusia, telah mengatakan bahwa kesepakatan pembatasan produksi minyak yang dijadwalkan pada akhir pekan ini kemungkinan akan dalam kerangka kerja yang longgar dengan hanya sedikit rincian komitemen.

Goldman Sachs mengatakan bahwa produktivitas produsen minyak shale Amerika yang kembali naik menghidupkan “outlook deflasi” untuk gerak nilai harga komoditas minyak. Hal tersebut diasumsikan, karena para pengebor berhasil membuat harga rendah kembali karena mereka bertahan dan terus memompa bukannya mencoba untuk keluar dari kegiatan ini.

About author

You might also like

Komoditas 0 Comments

Waspada Atas Harga Logam Menguat Mendekati Akhir Q3

Harga emas diperdagangkan menguat tajam mencapai level tertinggi pada 1,399.95 USD selangkah mencapai level 1,400.00 USD tertinggi sejak 7 Juni lalu. Data Penjualan rumah baru di Amerika yang secara tak

Berita 0 Comments

Aussie Melonjak Tembus 1.0180

Setelah bergerak untuk menembusa pergerakan turun, sebelumnya, para pelaku aksi jual akhirnya membawa Aussie menembus area 1.0180 hingga ke 1.,0160, melewati area stop beberapa kali dalam prosesnya. Penembusan kebawahnya akan

Fundamental 0 Comments

Minyak Merangkak Naik, Apresiasi Kiwi Bergerak Flat

Gerak nilai apresiasi mata uang NZD/ USD bergerak mendatar meski data ekonomi dari Selandia Baru dirilis jauh lebih baik dari perkiraan. Dilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang NZD/ USD

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image