New Zealand Dapat Izin Rusia, Euro Mencari Momentum

946059_644074825642839_65381070_nDilaporkan bahwa mata uang New Zealand, lazim disebut dengan Kiwi, bergerak menguat terhadap mata uang USD dan Aussie nilai apresiasinya. Dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang NZD/ USD naik 0,36% dan nilai apresiasi cross AUD/ NZD melemah 0,36% di level 1.1176. Hal ini terjadi setelah Rusia menghapuskan sanksi impor produk berbasis susu (dairy) dari New Zealand/ Selandia Baru.

Penghapusan sanksi ini tentunya berdampak positif, dan akan melegakan perekonomian Selandia Baru yang menjadikan produk olahan susu sebagai ekspor utamanya. Harga dairy Selandia Baru tengah menghadapi kejatuhan 70% harga produk olahan susu global dalam dua tahun terakhir.

Mulai pekan ini, negara Rusia telah mengizinkan 29 perusahaan perusahaan dairy milik Selandia Baru untuk menjual produknya ke Rusia. Berdasarkan data pemerintah Selandia Baru, nilai ekspor makanan dan minuman Selandia Baru ke Rusia mencapai USD 165 juta, dengan produk dairy mencakup lebih dari 50% dari total produk makanan dan minuman tersebut.

Mata uang Euro dilaporkan gagal melanjutkan penguatan pekan lalu, meski kesepakatan program bailout Yunani telah tercapai. Turunnya outlook perekonomian zona Eropa menjadi faktor belum mampunya mata uang 19 negara ini melanjutkan penguatan. Nilai apresiasi mata uang EUR/ USD dilaporkan telah diperdagangkan di kisaran 1.1081, dengan level tertinggi harian 1.1124 dan terendah 1.1058.

Mengutip laporan Bloomberg, berdasarkan survei yang dilakukan 28% responden mengatakan ekonomi zona euro akan membaik dalam jangka pendek. Persentase tersebut turun dari 50% di bulan Juli, dan 83% di bulan Maret ketika European Central Bank (ECB) memulai program quantitative easing, dan akan berlangsung hingga bulan September 2016.
Survei tersebut dilakukan sebelum rilis data pertumbuhan ekonomi zona euro pada hari Jumat lalu. Pasca rilis data pertumbuhan tersebut, hasil survei bisa dikatakan terkonfirmasi, ekomomi zona euro di kuartal kedua hanya tumbuh 0,3% lebih rendah dari kuartal pertama sebesar 0,4%. Para pejabat ECB dikatakan kecewa akan laju pertumbuhan ekonomi, dan berjanji akan mengucurkan stimulus moneter lebih besar jika diperlukan.

Nilai apresiasi mata uang Yuan, yang merupakan mata uang milik negara China, dilaporkan kembali melemah terhadap mata uang USD pada sesi perdagangan pasar Asia hari Selasa (18/ 08/ 2015) ini, kendati bank sentral menetapkan level midpoint yang lebih kuat seiring trader memperkirakan Yuan akan terus tertekan turun di tengah melambatnya perekonomian.

People’s Bank of China menetapkan bahwa nilai midpoint untuk Yuan adalah pada nilai 6.3966/ USD sebelum pembukaan pasar, lebih kuat dari sebelumnya pada 6.3969. Yuan di buka pada level 6.3923/ USD dan diperdgangkan di kisaran 6.4005/ USD, naik sebanyak 58 pips dari level penutupan sebelumnya dan 0.06% dari midpoint. Yuan diperbolehkan untuk diperdagangkan dalam range 2% di atas atau di bawah midpoint yang ditetapkan pada hari itu.

Mata uang Yuan dilaporkan telah mencetak pelemahan mingguan terbesar dan menyentuh level rendah 4-tahun pasca bank sentral secara mengejutkan mendevaluasi mata uangnya sebanyak hampir 2% hari Kamis lalu. Menurut analis Credit Suisse, mereka mempertimbangkan fair value untuk yuan di sekitar level 6.4-6.5 terhadap dollar dan memperkirakan arah fluktuasi yuan akan mengacu pada kesehatan perekonomian dan pergerakan mata yang global lainnya. Sementara itu, data harga rumah di China mencetak kenaikan untuk ketiga bulannya pada bulan Juli, dipicu oleh tingkat penjualan dan sentimen pasar yang membaik, menandakan bahwa pasar properti mulai perlahan pulih dalam apa yang menjadi titik cerah dari sejumlah data ekonomi yang buruk belakangan ini.

Telah diberitakan bahwa Royal Dutch Shell telah memasuki kerangka kesepakatan dengan salah satu perusahaan energi asal China untuk bersama-sama membeli dan mendistribusikan gas alam cari (liquefied natural gas) (LNG), menurut Shell pada hari Selasa, kolaborasi unik antara sebuah perusahaan energi global dan perusahaan swasta lokal. Shell menandatangani kerangka kesepakatan yang tidak mengikat dengan Guanghui Energy Co Ltd yang mana sedang membangun terminal penerima gas di Qidong, propinsi Jiangsu dengan kapasitas tahunan dirancang mencapai sekitar 600,000 ton dalam fase pertamanya.

Perusahaan-perusahaan energi yang kecil di China mulai bermunculan sebagai importir LNG setelah pihak Beijing memperbolehkan akses pihak ketiga pada terminal impor yang dibangun oleh perusahaan beasr dan investasi swasta pada sektor energi. Kendati niat sebelumnya untuk terlibat dalam pembangunan dan operasional terminal tersebut, Shell, salah satu pemasok LNG terbesar China, saat ini mencoba fokus pada pembelian dan pemasaran LNG, gas yang didinginkan dalam bentuk cair dan dikirim menggunakan tangki khusus. Menurut Shell kerjasamanya dengan Guanghui telah berkembang dan lingkup yang berada di bawah diskusi saat ini adalah vendor gabungan untuk membeli, mengimpor, dan menjual LNG melalui terminal Qidong.

About author

You might also like

Komoditas 0 Comments

Gerak Nilai Harga Di Bursa Saham Jepang Naik, Amerika Libur Hari Thanksgiving

Telah dilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang USD terdongkrak oleh rils data positif, sehingga mampu bergerak rebound menguat kembali. Apiknya data-data ekonomi Amerika pada sesi perdagangan pasar hari Rabu

Forex News 0 Comments

Aussie Melambung berkat data perdagangan dari china

Dollar Australia melonjak ke level tertinggi 3-minggu versus Greenback setelah data China menunjukkan impor naik ke rekor tertinggi. Ekspor China tumbuh 14,1% pada bulan Desember, sementara impor naik 6%. Yang

Pasar Emas Cermati Fundamental Minggu Ini, Setelah Shutdown Terjadi Minggu Lalu

Setelah kemelut yang terjadi di kongres Amerika pada pekan lalu, ternyata tidak membuat komoditi emas menjadi investasi yang safe-heaven. Hal ini dikarenakan kondisi tersebut hanya diperkirakan untuk beberapa saat, namun

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image