Para Pelaku Pasar Tunggu FOMC, BoJ Kemungkinan Pangkas Suku Bunga

0a0a_0a0_0002_12651_0a0aaa01_00110504_02765429_nDilaporkan bahwa pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa, gerak nilai apresiasi mata uang Australia, yang lazim disebut dengan Aussie, telah diperdagangkan melemah tajam terhadap Greenback. Kondisi tersebut terjadi, setelah pihak berwenang dari Reserve Bank of Australia (RBA) mengisyaratkan kemungkinan untuk melakukan kebijakan.

Kebijakan yang kemungkinan akan diberlakukan oleh pihak RBA adalah, dengan melakukan tindakan pemotongan suku bunga lebih lanjut. Hal tersebut terhembuskan di kalangan para pelaku pasar, di tengah kondisi kegelisahan dari para pelaku pasar menjelang dirilisnya hasil kebijakan FOMC dari pihak Federal Reserve di pekan ini.

Telah dilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang AUD/ USD terpantau sempat diperdagangkan pada kisaran level $0.7450 atau sekitar 0,8% di bawah harga penutupan sesi perdagangan pasar di hari Senin lalu. Tekanan bearish pada gerak nilai apresiasi mata uang AUD/ USD ini masih terjaga selama harga berada di bawah MA-21 pada grafik 4-jam. Dibutuhkan stabilitas di bawah kisaran level $0.7460 untuk mendorong pelemahan lebih lanjut menuju level terendah 10 Maret.

Pihak berwenang dari RBA telah mengatakan dalam minutes pertemuan kebijakan bulan Maret bahwa, angka inflasi di Australia yang rendah membuat pihak berwenang RBA tidak dapat mengesampingkan opsi pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Hal tersebut tampaknya perlu dilakukan oleh pihak berwenang RBA, meskipun langkah dari bank-bank sentral dunia yang mengadopsi suku bunga negatif lainnya, telah menciptakan kondisi ketidakpastian. Notulen tersebut juga menunjukkan jika pembuat kebijakan menggunakan sebagian waktu dalam pertemuan tersebut untuk membahas performa ekonomi jangka panjang China dan risiko terhadap pertumbuhan dari negara yang merupakan mitra dagang terbesar Australia itu.

Telah dilaporkan juga bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang USD/ JPY mengalami kenaikan pada sesi perdagangan pasar Asia hari Rabu. Hal tersebut terjadi, setelah Haruhiko Kuroda, Gubernur Bank of Japan (BoJ), mengatakan pada parlemen bahwa BoJ memiliki banyak ruang untuk memangkas suku bunganya lebih lanjut dan secara teori suku bunga dapat turun hingga -0.5%.

Sementara BoJ tetap bersikukuh untuk mempertahankan suku bunga dan kebijakan di hari Selasa, Haruhiko Kuroda menggaris bawahi kesiapan untuk mengambil langkah dalam 3 sisi. Langkah 3 sisi tersebut yaitu adalah, langkah pemangkasan tingkat suku bunga, akselarasi penambahan monetary base, atau menambah pembelian aset beresiko. Saat ditanyakan oleh parlemen, Haruhiko Kuroda sepakat bahwa secara teori masih mungkin untuk memangkas tingkat suku bunga hingga -0.5%.

Dengan laju pertumbuhan yang lambat dan BoJ yang masih jauh dalam mencapai target inflasi sebesar 2%, para analis mengatakan bahwa stimulus tambahan hanya tinggal menunggu waktu. Pada hari Selasa, Haruhiko Kuroda juga mensinyalkan bahwa dirinya tidak perlu menunggu untuk melihat dampak penuh dari tingkat kebijakan suku bunga negatif sebelum kembali mengambil langkah baru jika diperlukan.

Dilaporkan bahwa data penjualan ritel Amerika dirilis menyusut lebih sedikit dibandingkan harapan pada bulan Februari. Meski demikian, namun revisi penurunan tajam untuk penjualan bulan Januari bisa memicu kembali kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan ekonomi Amerika.

Laporan Departemen Perdagangan Amerika pada hari Selasa menunjukkan penjualan ritel turun 0,1% pada bulan lalu. Hal tersebut terjadi, seiring pembelian kendaraan melambat dan gerak nilai harga bensin yang lebih murah telah menekan penerimaan stasiun pengisian bahan bakar.

Angka penjualan bulan Januari juga dilaporkan telah direvisi menjadi -0,4% dari publikasi awal yang menunjukkan kenaikan 0,2%. Para ekonom dalam survey Reuters sebelumnya memprediksi bahwa angka penjualan ritel Amerika akan tergelincir sekitar 0,2%.

Sementara penjualan ritel inti, yang tidak mencakup mobil, bensin, bahan bangunan dan jasa makanan, tidak mengalami perubahan setelah mencatat kenaikan 0,2% pada bulan Januari. Core Retail Sales merupakan bagian dari belanja konsumen yang menjadi komponen terbesar GDP.

Angka mengecewakan ini berpotensi membebani gerak nilai apresiasi mata uang USD menjelang pertemuan kebijakan dari Federal Reserve. Hal tersebut terasumsikan, dimana para pembuat kebijakan akan membahas apakah pertumbuhan telah cukup kuat untuk menjamin kenaikan suku bunga selanjutnya.

Gerak nilai harga di bursa saham Asia dilaporkan telah diperdagangkan secara mix pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Rabu. Kondisi tersebut terjadi, menyusul performa yang tidak cukup baik yang terjadi di bursa saham Wall Street Amerika pada sesi perdagangan pasar Amerika semalam.

Hal tersebut terjadi, seiring langkah yang dilakukan oleh para pelaku pasar dalam merespon kondisi pasar. Para pelaku pasar tengah menantikan keputusan FOMC dari Federal Reserve dan berita dari pertemuan National People Congress di China.

Dilaporkan bahwa, gerak nilai harga dari indeks saham Jepang, yaitu Nikkei 225 Jepang melemah sekitar 0.38%. Juga dilaporkan bahwa, gerak nilai harga di bursa saham Korea Selatan, Kospi, dan bursa saham China, Shanghai, tampak masing-masing menguat sekitar 0.2%. Gerak nilai harga di indeks saham Hang Seng di Hong Kong dilaporkan telah diperdagangkan nyaris flat, naik turun di dekat flatline.

Sentimen positif datang dari adanya gerak rebound dari nilai harga komoditas minyak mentah pada sesi pardagangan pasar Amerika semalam. Gerak penguatan gerak nilai harga komoditas minyak terjadi, setelah gagal menembus ke bawah level $36 US/ barel, dimana para pelaku pasar mengatakan bahwa merekar nampaknya enggan memasuki pasar mendekati event penting sekelas FOMC.

Gerak nilai harga komoditas minyak sebelumnya dilaporkan jatuh pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa, dan telah memperpanjang kerugian untuk hari kedua beruntun. Hal tersebut terjadi, karena para pelaku pasar mengutip dari teknikal resisten setelah harga bergerak di atas kisaran $40 US/ barel dan adanya ketakutan bahwa cadangan minyak mentah Amerika terus naik meskipun produksi turun.

Ketidakpastian atas bagaimana Federal Reserve akan berikan kata-kata pada pernyataan kebijakannya pada hari Kamis malam juga membuat gelisah para pelaku pasar keuangan. Hal tersebut terjadi, meskipun diperkirakan bahwa pihak berwenang The Fed akan sinyalkan laju kenaikan suku bunga yang lebih lambat.

Gerak nilai harga komoditas minyak telah bergerak secara reli sekitar 50% dalam enam pecan. Hal tersebut terjadi di tengah pembicaraan bahwa produsen utama minyak berencana untuk menahan output di level Januari yang telah mendongkrak harga yang telah merosot ke level terendah 12 tahun karena melimpahnya suplai.

Meski demikian, namun setelah melonjak ke level tertinggi dalam tiga bulan untuk lebih dari $41 US/ barel pada Brent dan $39 US/ barel pada minyak WTI pada pekan lalu, gerak reli terlihat mulai lelah, demikian ucap para analis. Gerak nilai harga komoditas minyak WTI berakhir di kisaran level $34.64 US/ barel, turun 84 sen, atau 2.26%, setelah menyentuh level terendah 4 Maret. Data dari pemerintah Amerika pada hari Rabu diperkirakan akan menunjukkan cadangan minyak mentah Amerika di rekor tertinggi dadalam lima pekan beruntun dengan turunnya produksi minyak shale.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Euro Menuju Penurunan Mingguan Karena Pernyataan Draghi

Euro berada di jalur untuk penurunan mingguan pertama dalam tiga pekan setelah presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengatakan bahwa para pembuat kebijakan mungkin akan melakukan pelonggaran moneter di bulan

Forex News 0 Comments

Dollar Berpotensi Bullish Lebih Lanjut Jelang FOMC

Dollar AS bergerak stabil di sesi Asia pada hari Rabu hanya beberapa jam menjelang pertemuan Federal Reserve yang diperkirakan akan mengambil langkah besar menuju menaikan suku bunga untuk pertama kalinya

Forex News 0 Comments

USD Tertekan Kembali, Ekspektasi Pasar Tak Terpenuhi

Apresiasi USD melemah terhadap mata uang yen pada hari Senin (29/ 04/ 2013), bertahan setelah turun hari Jumat (26/ 04/ 2013) lalu. USD terakhir tercatat di 97.86 yen, turun sebanyak