Pasar Global Tengah Tertekan, Kondisi China Perberat Tekanan

817d66a50f4d4d2d4d4efa8459714475Mata uang Inggris, yaitu mata uang Poundsterling, dilaporkan merosot gerak nilai apresiasinya ke level terendah 4 setengah bulan terhadap Greenback di sesi perdagangan pasar hari Senin kemarin. Kondisi tersebut terjadi dimana performa mata uang USD masih tertopang komentar Presiden The Fed New York, William Dudley, yang memberikan sinyalemen mengenai kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Komentar dari Presiden The Fed New York, William Dudley, yaitu memberikan sinyalemen bahwa kenaikan suku bunga The Fed tahun ini masih berpeluang besar. William Dudley merasa lebih optimis bahwa kondisi pelambatan ekonomi global dan penguatan Greenback tidak selamanya menyeret inflasi, sehingga inflasi cenderung pulih ketika ekonomi menunjukkan pertumbuhan.

William Dudley juga menambahkan bahwa suku bunga The Fed mungkin akan tetap dinaikkan tahun ini. Oleh sebab itu rapat FOMC pada 27-28 Oktober mendatang, kemungkinan akan kembali menunjukkan perdebatan kenaikan suku bunga. William Dudley juga menilai hanya sedikit bukti atas ketidakstabilan finansial pada perekonomian saat ini.

Fokus para pelaku pasar selanjutnya akan tertuju pada pidato Gubernur BoE, Mark Carney di hari Selasa ini. Gubernur BoE, Mark Carney, diperkirakan akan kembali menegaskan bahwa suku bunga masih berpotensi dinaikkan. Kondisi tersebut seiring dengan kondisi pengetatan pasar kerja secara gradual ditambah pemulihan laju upah. Estimasi final laporan pertumbuhan GDP Inggris selama Q2 juga akan menjadi fokus di hari Rabu mendatang, diperkirakan masih menunjukkan konfirmasi atas laju pertumbuhan ekonomi yang sehat di level 2,6%, sehingga turut membuka peluang kenaikan suku bunga acuan.

Telah pula dilaporkan bahwa mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, bergerak menguat di sesi perdagangan pasar hari Senin kemarin. Hal tersebut terjadi seiring kejatuhan bursa saham global sehingga memicu sentimen pengalihan resiko oleh para pelaku pasar ke valuta safe haven yang secara tradisional cenderung dicari di tengah ketidakpastian pasar keuangan.

Bursa saham di zona Eropa kolaps akibat jatuhnya saham tambang Glencore sekitar 18 %, ditambah penurunan saham Volkswagen yang menambah kekhawatiran dari para pelaku pasar sehingga Wall Street pun terseret ke area zona merah.

Sentimen risk aversion masih mendominasi pergerakan nilai apresiasi mata uang Yen, khususnya jika para pelaku pasar kembali mendapatkan data China minggu ini yang lebih lemah dibanding perkiraan sebelumnya. Mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, secara keseluruhan telah menguat hampir 4 % terhadap Greenback. Hal tersebut terjadi semenjak China mengejutkan pasar global dengan devaluasi mata uang Yuan di awal Agustus.

Mata uang Australia, Aussie, juga dilaporkan bahwa masih melanjutkan pelemahan gerak nilai apresiasinya terhadap mata uang USD pada sesi perdagangan pasar hari Senin (28/ 09/ 2015). Kondisi tersebut terjadi setelah pada minggu lalu menghentikan penguatan dalam dua pekan beruntun.

Nilai apresiasi mata uang Aussie terhadap Greenback sendiri diperkirakan masih akan melemah lebih lanjut akibat Federal Reserve yang akan menaikkan suku bunga, sementara Reserve Bank of Australia (RBA) diperkirakan akan menurunkan suku bunga. Para ekonom ANZ Bank memperkirakan bahwa pihak berwenang RBA akan menunkan suku bunga hingga menjadi 1,5% di tahun depan akibat kondisi ekonomi global yang memburuk, dan tingginya tingkat pengangguran. Mitra dagang utama Australia, yaitu negara China, kembali memberikan sentimen negatif bagi pergerakan nilai apresiasi mata uang Aussie.

Telah dilaporkan bahwa Indeks manufaktur Caixin PMI China di hari Kamis akan diamati secara seksama oleh para pelaku pasar. Apalagi terdapat resiko pelambatan gerak laju ekonomi China yang lebih tajam akan semakin berpotensi untuk berkontribusi dalam menunda kenaikan suku bunga Amerika oleh Federal Reserve. Biro Statistik China melaporkan laba industri bulan Agustus turun sebesar 8,8% dari periode yang sama tahun lalu. Data tersebut melanjutkan penurunan bulan Juli sebesar 2,9%, memberikan gambaran pelambatan ekonomi China memberikan tekanan bagi profitabilitas perusahaan.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga minyak masih berada di bawah tekanan pada awal sesi perdagangan pasar Asia di hari Selasa ini. Hal tersebut terjadi menyusul penurunan hampir sebesar 3% pada sesi sebelumnya. Gerak nilai harga minyak terseret turun seiring kecemasan mengenai kondisi perekonomian Asia meningkat dan tingkat produksi minyak yang masih tinggi.

Gerak nilai harga minyak, bersama dengan sebagian besar komoditas lainnya, telah melemah anjlok tajam dalam kurun waktu belakangan ini. Gerak nilai harga minyak berjangka turun hampir sebanyak 60% sejak Juni 2014. Bursa saham Jepang, yang dibuka paling awal pada sesi perdagangan pasar Asia, telah tercatat anjlok ke level rendah 8-bulan pada sesi perdagangan pasar hari Selasa seiring pelemahan bursa saham global akibat kecemasan mengenai perekonomian China dan negara berkembang lainnya.

Dari sisi suplai, tingkat produksi minyak Rusia tahun 2015 diperkirakan akan naik tipis dari tahun lalu menjadi 526 juta ton, atau 10.56 juta barel/ hari, demikian menurut wakil menteri sumber daya alam dan ekologi Denis Khramov pada hari Selasa. Angka tersebut naik sebanyak 1 juta ton dari tahun lalu namun lebih rendah dari estimasi pada 530.5 juta ton oleh Menteri Perekonomian Rusia, dan sebuah sinyal bahwa baik Rusia ataupun negara Timur Tengah dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) tidak bersedia mengurangi produksi untuk menopang gerak nilai harga minyak.

Indeks Hang Seng Futures dilaporkan bergerak melemah, anjlok mengawali perdagangannya usai akhir pekan 4-hari, kembali mencemaskan kondisi perekonomian China serta tertekan dengan kejatuhan nilai harga saham-saham perusahaan minyak. Hari Selasa ini, pasar saham Hong Kong kembali beraktivitas usai libur di hari Senin dengan merosot ke dekat level terendah 2-tahun.

Kondisi perekonomian di China masih muram terutama setelah kemarin data terbaru dari biro statistik nasional China melaporkan penurunan laba industri perusahaan menjadi sebesar 448,1 miliar Yuan atau anjlok 8,8% di bulan lalu dibandingkan setahun sebelumnya. Data ini merupakan penurunan tertajam sejak bulan Oktober 2011, ketika pemerintah mulai melaporkan data bulanan.

Untuk berita korporat, saham-saham sektor energi mendominasi top losers indeks Hang Seng. Perusahaan minyak CNOOC turun 7,7% diikuti pelemahan 6,85% saham PetroChina serta saham China Petroleum & Chemical Corp yang 6,21% lebih rendah. Perdagangan minyak mentah berakhir melmah hampir 3% pada sesi sebelumnya meskipun persediaan minyak di AS diprediksi akan kembali berkurang pada pekan lalu.

Para investor minyak mencemaskan masih buramnya peluang pemulihan pasar minyak dengan Direktur International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde menyatakan akan menurunkan proyeksi perekonomian global untuk tahun ini dan tahun depan karena proyeksi yaang sebelumnya “sudah tidak lagi realistis.”

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Walau Tipis Euro Masih Memiliki Gain

Euro diperdagangkan dekat 1.3070 di awal perdagangan pekan ini, setelah pulih dari rendahnya dibawah 1.3000 (rendahnya 3 pekan) yang terjadi Jumat malam lalu. Reli hari Jumat lalu mengikuti data yang

CFD News 0 Comments

Mata Uang USD Terkoreksi, Pasar Bersikap Antisipatif Atas Data Amerika

Mata uang USD mulai terkoreksi oleh major currencies lainnya. Imbas atas data Amerika yang lemah membuat mata uang USD sempat bergerak melemah dan memberikan ruang bagi emas untuk kembali meningkat.

Berita 0 Comments

Pasar Lakukan Aksi Jual Di Bursa Hong Kong Dan Seoul

Lantai bursa Hong Kong disibukkan dengan aksi jual besar – besaran yang dilakukan oleh para pelaku pasar, setelah rally selama lima sesi terakhir di perdagangan hari Rabu (04/ 09/ 2013)

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image