Pasar Waspada Jelang FOMC, China Masih Beresiko Global

11218172_888588987881799_2225479726183047684_nPada sesi perdagangan pasar di hari Selasa (15/ 09/ 2015) ini, gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, yaitu matauang Yen, dilaporkan bergerak positif. Gerak nilai apresiasi mata uang Yen menguat terhadap major currencies meskipun indeks USD mampu berhasil memulihkan perdagangannya. Pada awal sesi perdagangan pasar keuangan ini, kondisi perdagangan memilih mengawali pekan dengan waspada menantikan hasil rapat ke enam Federal Open Market Committee (FOMC) tahun ini. Para pelaku pasar focus dan mewaspadai FOMC tahun ini, karena terkait arah kebijakan moneter negeri perekonomian terbesar dunia tersebut.

Gerak nilai apresiasi mata uang USD melemah di sesi perdaganagn pasar Eropa kemarin. Namun perlahan gerak nilai apresiasi mata uang USD bergerak menanjak sebelum pertemuan FOMC dimulai di hari Rabu (16/ 09/ 2015) meski indeks USD masih berada di kisaran level terendah dalam 3-pekan. Pelemahan mayoritas bursa saham global menjadi kesempatan untuk mata uang Yen menguat nilai apresiasinya terhadap mayoritas major currencies sebelum pertemuan Bank of Japan (BoJ) besok. Mata uang Yen menjadi alternatif yang dilirik para pelaku pasar terutama setelah bursa utama Asia Nikkei dan Shanghai Composite berakhir turun karena dikecewakan data ekonomi China yang gagal memenuhi ekspektasi para pelaku pasar sebelumnya.

Gerak nilai harga di bursa saham Jepang menguat pada awal sesi perdagangan pasar hari Selasa (15/ 09/ 2015), setelah merosot di awal pekan kemarin. Pelaku pasar kini menanti hasil rapat monetr Bank of Japan (BoJ), juga pernyataan dari Gubernur BoJ, Haruhiko Kuroda. Mengutip Bloomberg, 30 dari 35 ekonom memperkirakan BoJ akan mempertahankan monetary base senilai ¥80 tirliun per tahun. Beberapa memperkirakan bank sentral tersebut akan menambah stimulus moneter akibat gejolak yang terjadi di pasar global, rendahnya harga minyak, serta data-data ekonomi dari dalam negeri yang masih lemah.

Indeks utama Nikkei gerak nlai pada sesi perdagangan pasar di hari Senin kemarin turun lebih dari 1% terseret sektor telekomunikasi setelah laporan dari media lokal Jepang menyebutkan PM Shinzo Abe menginstruksikan Kementrian Komunikasi untuk menurunkan tarif ponsel. Spot Nikkei hari ini menguat 1.39% menjadi 18.216,04. Sementara Nikkei Futures diperdagangkan dikisaran 18095 dengan level terendah harian 17895 dan tertinggi 18145.

Mayoritas nilai saham Eropa bergerak melemah mengikuti kegelisahan pasar saham global dalam menantikan keputusan suku bunga Amerika pada pekan ini setelah data China yang mengecewakan menjatuhkan sebagian besar nilai indeks-indeks Asia. Indeks FTSE Future berakhir turun hampir 1% di level 6092.5 sementara indeks DAX Futures ditutup flat di level 10155.

Dilaporkan bahwa nilai indeks FSTE melemah setelah saham-saham pertambangan tertekan penurunan tajam tembaga merespon data kenaikan produksi industri China yang lebih rendah dari ekspektasi, menghidupkan kecemasan para pelaku pasar akan tingkat permintaan. Sementara indeks DAX Jerman telah dilaporkan nyaris mendatar seiring data produksi industri di zona Eropa yang lebih tinggi dari ekspektasi di bulan Juli gagal memberikan dorongan penguatan tambahan untuk gerak nilai indeks. Sektor perbankan menjadi sorotan dengan Deutsche Bank Jerman berakhir menguat usai menyatakan rencananya untuk merumahkan seperempat karyawannya dan menutup seluruh unitnya di Rusia.

Para pelaku pasar juga tengah menantikan keputusan dari Bank of Japan (BoJ) terkait stimulus moneternya usai komentar dovish salah satu pejabat pemerintah pada pekan lalu. Kozo Yamamoto dari Partai Liberal Demokrat mengejutkan pasar setelah mengatakan pertemuan kebijakan moneter pada akhir bulan Oktober nanti akan menjadi “peluang bagus” untuk mengucurkan stimulus tambahan. Sebagian besar pelaku pasar juga menilai pidato Gubernur BoJ, Haruhiko Kuroda, akan mengungkapkan penurunan proyeksi ekspor Jepang sebagai dampak dari perlambatan ekonomi China.

Pihak berwenang dari bank sentral Australia, Reverse Bank of Australia (RBA), telah mengatakan bahwa perlambatan laju pertumbuhan ekonomi China dan meningkatnya volatilitas di pasar keuangan beresiko terhadap pertumbuhan global, dengan menyoroti tantangan ekonomi yang akan dihadapi oleh Perdana Menteri baru Malcolm Turnbull. Minutes dari pertemuan RBA pada tanggal 1 September yang dirilis pada hari ini mengungkapkan bahwa perkembangan ekonomi internasional telah meningkatkan resiko untuk outlook terburuk. Namun, saat ini terlalu cepat untuk menilai sejauh mana permintaan material dari mitra dagang akan mengubah prospek untuk pertumbuhan PDB di Australia.

RBA telah memberikan catatan terhadap depresiasi mata uang China di bulan Agustus serta mengatakan bahwa pemerintah China telah melepas beberapa cadangan devisa mereka untuk meredam penurunan gerak nilai apresiasi mata uang China, yaitu mata uang Yuan terhadap mata uang USD karena cukup signifikannya keluarnya arus modal. Mereka juga mengatakan bahwa tidak jelas aset mana yang China jual atau yang mereka beli dalam menghadapi keluarnya arus modal, “namun mengingat potensi ukuran dari arus yang berjalan, dampak dari kebijakan mereka ke pasar aset dapat menjadi besar.”

Di saat masih mempertahankan suku bunga di rekor terendah 2% karena kondisi ekonomi yang lesu, RBA bersama dengan para pemimpin bisnis telah mendesak pemerintah untuk memperbaharui reformasi untuk memacu pertumbuhan. Turnbull yang baru diangkat pada hari Senin akan memberikan visi ekonomi dan kepemimpinannya untuk membendung tantangan yang sedang di hadapi Australia karena mitra dagang terbesarnya yaitu China sedang berjuang dengan pertumbuhan yang lebih lambat.

Sejak pertemuan bank sentral, data menunjukkan bahwa laju ekonomi melambat menjadi pertumbuhan 0.2% di kuartal kedua, sementara itu kepercayaan pelaku pasar dan konsumen turun dalam menanggapi gejolak di pasar China dan mengurangi permintaan untuk mineral seperti bijih besi. Goldman Sachs Inc pada pekan lalu mengatakan bahwa mereka melihat sepertiga kesempatan untuk resesi dalam tahun depan di Australia.

Gerak harga minyak tampak stabil pada awal sesi perdagangan pasar hari Selasa ini. Kondisi ini terjadi karena para pelaku pasar menutup posisi short dan mengambil posisi long baru setelah penutupan pasar dari sesi perdagangan pasar sebelumnya. Gerak harga minyak berjangka dilaporkan menetap di level terendah dalam lebih dari dua minggu pada sesi perdagangan pasar di hari Senin kemarin. Kondisi tersebut adalah karena data produksi industri China menunjukan pelemahan dari perkiraan.

Selain itu, penurunan nilai harga saham di bursa Shanghai juga turut menimbulkan kekhawatiran para pelaku pasar bahwa permintaan minyak mentah dari konsumen terbesar kedua di dunia akan menurun. Para pelaku pasar juga bersiap untuk pergerakan yang lebih volatile dan harga minyak kemungkinan akan bergerak lebih rendah dalam beberapa pekan mendatang. Pihak pengamat pasar global Goldman Sachs Group Inc mengatakan pada pekan lalu bahwa harga minyak Umerika bisa jatuh ke level $ 20 US/ barel. Hal tersebut terasumsikan, karena pasokan global berada pada level stock yang melimpah. Telah dilaporkan di New York Mercantile Exchange bahwa West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober menetap di level $ 44 US/ barel. Angka tersebut turun sekitar 63 sen atau 1,4%. Hal ini menandai penutupan terendah sejak 27 Agustus. Juga dilaporkan di bursa ICE Futures London bahwa Brent untuk pengiriman Oktober, yang berakhir pada hari Selasa, jatuh $ 1,77 US atau 3,7% ke level harga $ 46,37 US/ barel.

Gerak harga emas berjangka pada sesi perdagangan pasar hari Senin dilaporkan ditutup lebih tinggi dan mampu menebus sebagian kerugian yang sempat ditorehkan pada sesi perdagangan pasar sebelumnya. Hal tersebut terjadi adalah karena para pelaku pasar memfokuskan pandangan mereka pada keputusan penting Federal Reserve tentang rencana kenaikan tingkat suku bunga yang akan dikeluarkn pada akhir pekan ini. Apabila nanti The Fed mengirimkan sinyal dovish pada hari Kamis nanti, maka hal tersebut tentunya akan meningkatkan nilai saham dan melemahkan gerak nilai apresiasi mata uang USD. Gerak harga emas bisa mendapatkan manfaat atas kebijakan tarif yang dipertahankan lebih rendah, “kata Fawad Razaqzada, analis di FOREX.com, dalam catatan penelitiannya di hari Senin.

Dengan latar belakang ini, gerak harga emas di Cmex untuk pengiriman Desember manambahkan sekitar $ 4,40 US atau 0,4%, untuk selanjutnya menetap di level $ 1,107.70 US/ ons, setelah mencatatkan penurunan mingguan ketiga secara berturut-turut pada sesi perdagangan pasar di hari Jumat lalu. Gerak harga emas telah kehilangan sedikitnya sekitar 0,5% di sesi perdagangan pasar sebelumnya. Adrian Ash, kepala penelitian di BullionVault, mengatakan bahwa jika lepas landas semakin lama dijanjikan Amerika dan ‘suku bunga tertunda sekali lagi, “maka volatilitas jangka pendek yang lebih besar akan meledak ketika berita itu datang.”
.

About author

You might also like

CFD News 0 Comments

Fiscal Cliff Masih Jadi Sorotan, Minyak Berkisar Dekat $91

Kontrak minyak mentah AS masih ditutup dekat $91 per barel hari Kamis, dengan para investor yang masih terus mengawasi perkembangan di AS yang berusaha menghindari kenaikan pajak dan pemangkasan anggaran

Komoditas 0 Comments

Yunani Harapkan 5 Juli, Fundamental Amerika Berpotensi Tekan Pasar

Pada sesi perdagangan pasar hari Kamis (02/ 07/ 2015) hari ini, gerak harga emas spot dilaporkan telah mengalami pergerakan yang masih kuat di teritori negatif. Gerak harga emas dilaporkan telah

Sterling Terkoreksi Akibat Inflasi, Pasar Fokus Ke Amerika

Laju inflasi CPI negara Inggris tengah mengalami penurunan 2.4% di tahun ini dibawah estimasi sebelumnya yaitu 2.6%, dan lebih rendah dibanding sebelumnya 2.8%. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya harga minyak

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image