PBOC Policy Lagi-lagi Berdampak Luas, Emas Dilirik Kembali

11218172_888588987881799_2225479726183047684_nTelah dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang USD terkoreksi kuat, bergerak anjlok terhadap major currencies di sesi perdagangan pasar hari Rabu kemarin. Hal ini terjadi adalah karena akibat kejatuhan yield obligasi Amerika ditengah keraguan para pelaku pasar atas prospek kenaikan suku bunga The Fed setelah adanya devaluasi nilai mata uang China, Yuan.

Seperti yang telah dilaporkan sebelumnya, gerak nilai apresiasi mata uang China, Yuan, masih melanjutkan gerak pelemahan tajam setelah serangkaian rilis data ekonomi China negative, berada di bawah perkiraan. POBC (People Bank of China) akhirnya menetapkan nilai patok tengah mata uang Yuan di level yang lebih rendah dibanding harga penutupan devaluasi di sesi perdagangan pasar hari Selasa lalu.

Pada sesi perdagangan pasar internasional, nilai apresiasi mata uang Yuan terhadap USD menyentuh level 6.5943. Level tersebut merupakan level terendah sejak awal 2011. Data ekonomi China yang lemah di sesi perdagangan pasar hari Rabu kemarin mengindikasikan bahwa pihak Beijing perlu menempuh stimulus untuk menopang perekonomian. Produksi pabrik hanya tumbuh 6.0 % di bulan Juli, sedikit dibawah perkiraan begitu juga halnya dengan kondisi fixed-asset investment dan retail sales China.

Outlook ekonomi China yang melambat ditambah langkah devaluasi mata uang Yuan turut memudarkan prospek kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, meski sebagian pelaku pasar masih meyakini kenaikan bunga paling cepat di bulan depan masih terbuka peluang. Kenaikan suku bunga The Fed cenderung mendongkrak nilai apresiasi mata uang USD.

Kondisi positif dialami oleh mata uang Australia, Aussie pada sesi perdagangan pasar hari Rabu kemarin. Aussie berhasil menguat tajam pada perdagangan Rabu kemarin. Namun di sesi perdagangan pasar Asia hari Kamis (13/ 08/ 2015) ini, gerak nilai apresiasi mata uang Australia tersebut sempat terkoreksi, bergerak merosot tajam.

Koreksi tersebut terjadi karena setelah People Bank of China (PBOC) kembali melakukan kebijakannya, yaitu melemahkan batas nilai tengah mata uang Yuan. PBOC Policy hari ini menetapkan nilai tengah mata uang Yuan sebesar 6.4010/ USD atau 140 poin lebih lebih lemah dari penutupah sesi perdagangan pasar di hari sebelumnya.

Kebijakan yang dilakukan oleh PBOC yang mengubah cara penetapan nilai tengah mata uang Yuan pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa lalu berdampak kuat atas nilai mata uang Yuan. Kebijakan tersebut berdampak kuat dan membuat nilai tukar mata uang China tersebut terkoreksi kuat dan bergerak merosot yang turut menyeret turun nilai apresiasi mata uang Aussie terhadap mata uang USD. Dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang AUD/ USD sempat diperdagangkan di kisaran 0.7386, dengan level terendah harian 0.7332 dan tertinggi 0.7409.

Nilai apresiasi mata uang USD pun terkoreksi kuat. Niali apresiasi mata uang USD bergerak anjlok tajam menyusul asumsi keraguan para pelaku pasar tersebut. Kondisi inilah yang diambil dan berhasil dimanfaatkan oleh mata uang Aussie untuk naik menjauhi level terendah enam tahun.

Dari Korea Selatan, dilaporkan bahwa Bank sentral Korea Selatan tengah mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah untuk bulan kedua, karena indeks mereka yang mengukur kesehatan ekonomi masih belum menunjukkan kenaikan yang sesuai target dan juga karena mereka masih ingin melihat setiap dampak dari devaluasi mata uang China, Yuan.
Bank sentral Korea Selatan mempertahankan suku bunga acuan di rekor terendah 1.5% pada hari Kamis, hasil tersebut sesuai dengan perkiraan 16 analis yang disurvei oleh Bloomberg. Langkah ini diambil setelah melakukan pemangkasan sebanyak empat kali dengan total sebesar 1%.

Kebijakan pelonggaran moneter gagal untuk memacu pertumbuhan sejauh ini, dengan produk domestik bruto hanya naik 0.3% di kuartal kedua dan eskpor yang turun setiap bulannya pada tahun ini. Lembaga otoritas di Seoul saat ini sedang memantau dengan ketat volatilitas di pasar keuangan setelah People Bank of China melakukan tindakan devaluasi atas mata uang Yuan, yang berpotensi menghadirkan resiko dan kesempatan bagi Korea Selatan untuk melakukan export ke luar negeri.

Mata uang Euro nilai apresiasinya dilaporkan berada dalam volatilitas yang flat pada sesi perdagangan pasar Asia hari Kamis (13/ 08/ 2015) siang. Krisis yang terjadi di wilayah Yunani dan China menjadi perhatian di seluruh dunia.
Dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang EUR/ USD bergerak flat pada level 1.1141. Satu hari setelah Yunani menyepakati kerangka multi tahunan bailout €86 miliar Euro, anggota parlemen siap untuk bernegoisiasi ketentuan paket stimulus selama sesi darurat, sementara Perdana Menteri Yunani terpaksa menerima kunci konsesi dari sektor pensiun dan pemotongan pengeluaran, serta penurunan pensiun dini sebagai bagian dari kesepakatan.

Presiden Federal Reserve of New York, William Dudley, telah memperingatkan pada hari Rabu kemarin bahwa, intervensi mata uang oleh PBOC minggu ini bisa memiliki konsekuensi yang luas pada perkembangan ekonomi global. Berbicara pada aliansi bisnis Rochester di New York barat, Dudley menunjukkan bahwa PBOC Policy yang mendevaluasi 1,9% Yuan mungkin memiliki “implikasi besar,” pada pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia namun sangat dini dini untuk menilai dampak” keputusan kebijakan moneter.

Gerak harga emas juga terimbas atas kondisi mata uang Yuan. Gerak harga emas naik hingga ke harga termahalnya dalam tiga minggu terakhir ini sebagai dampak terkoreksinya nilai apresiasi mata uang USD. Telah dialporkan bahwa gerak harga emas bergerak naik diatas 3% dari posisi termurahnya dalam beberapa tahun terakhir yang terjadi pada dibulan Juli kemarin. Dari harga termurahnya $1,077 per ons pada Juli kemarin, harga emas telah naik setidaknya 4%. Harga Emas dipasar Spot naik 1,2 % ke harga $1,121.40 per ons. Untuk emas dengan kontrak pengiriman bulan Desember, naik 1,4 % ke harga $1,123.60 per ons.

Sehari setelah mata uang Yuan mengalami devaluasi sebesar 2% pada Selasa lalu, kebijakan PBOC pada hari Rabu kemarin yaitu menempatkan nilai tengah yuan lebih rendah lagi sontak menimbulkan kekhawatiran baru akan pecahnya perang nilai mata uang dan menghantam bursa saham global, sehingga membuat sebagian para pelaku pasar merasa was-was dan mencari aset aman dengan kembali kepada komoditas emas yang dianggap sebagai asset safe haven. Pasar masih dalam tren turun (Bearish) meskipun devaluasi mata uang Yuan mampu memberikan kejutan dan membuat harga berbalik arah. Sejatinya, belumada aksi beli baru yang benar-benar kuat untuk menopang harga emas terus naik. Setidaknya kenaikan jangka pendek ini bisa menjadi peluang untuk mengambil untung setelah harga jatuh cukup dalam kemarin.

Melemahnya nilai apresiasi USD, turun 1,1% dari major currencies dan secara bersamaan dibarengi dengan penurunan imbal hasil obligasi Amerika, telah menjadi angin segar bagi gerak harga emas untuk naik. Tidak bisa dipungkiri memang bahwa bayang-bayang kenaikan suku bunga Amerika dalam waktu dekat ini akan membuat mata uang USD kuat kembali dan gerak harga emas bisa kembali terpukul. Belum ada gambaran yang jelas bahwa dampak mata uang Yuan akan cukup besar mempengaruhi gerak harga emas. Namun setidaknya gerak harga emas bisa berupaya untuk menguat kembali dan mencoba bergerak di atas kisaran harga $1,130 / ons.

Haruslah dipahami bahwa melemahnya Yuan di sisi lain akan berdampak pula bagi harga emas, yuan yang lemah tentu akan membuat para importir emas China akan merasa lebih mahal lagi. China sebagai konsumen emas besar dunia tentu mendapat dampak yang kurang menyenangkan ini dalam jangka yang lebih panjang. Melambatnya ekonomi China, sudah membuat harga emas juga turun. Penurunan impor emas oleh China tentu akan semakin menurunkan harga emas pula.

Adanya potensi lain dari lemahnya nilai apresiasi mata uang Yuan bagi gerak harga emas, secara optimis, kondisi saat ini masih berpotensi bagi otoritas moneter China untuk melakukan devaluasi Yuan lebih lanjut. Intervensi Beijing atas pasar uang, akan menimbulkan kekhawatiran inflasi sehingga publik bisa jadi memilih mengamankan diri dengan melakukan pembelian perhiasan emas sehingga permintaan emas bisa naik pula.

Akibat PBOC Policy tersebut, akhirnya muncul keraguan di kalangan para pelaku pasar akan langkah Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga di bulan September. The Fed diperkirakan tidak ingin melihat nilai apresiasi mata uang USD menguat lebij jauh. PBOC pada sesi perdagangan pasar di hari Rabu kemarin juga melakukan intervensi di menit-menit akhir perdagangan untuk menjaga menstabilkan nilai apresiasi mata uang Yuan. Nilai apresiasi mata uang Yuan sebelumnya sempat merosot hingga 2%, dan menyentuh level terendah empat tahun. PBOC memberikan batas penguatan/ penurunan mata uang Yuan maksimal 2% dari nilai tengah yang ditetapkan.

About author

You might also like

Fundamental 0 Comments

Laporan Negatif Amerika Semalam Telah Beri Peluang Oposannya Untuk Menggeliat

Pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Jumat (29/ 05/ 2015) ini, dilaporkan bahwa gerak harga emas dan perak mengalami gerak kenaikan dengan diperdagangkan lebih tinggi setelah berhasil ditutup menguat

Berita 0 Comments

Sterling Berpeluang Catat Penguatan Mingguan

Meski melemah dalam dua hari beruntun, namun sterling kini berpeluang mencatat penguatan mingguan untuk pertama kalinya dalam tiga pekan terakhir terhadap dollar. Sterling pada perdagangan kemarin melemah setelah diterpa profit

Berita 0 Comments

Euro Masih Cemaskan Krisis di Ukraina

Euro menyentuh level terendah dalam 1 tahun baru pada hari Senin, seiring meningkatnya kecemasan mengenai krisis di Ukraina membuat mata uang tampil defensif menjelang pertemuan kebijakan European Central Bank pekan

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image