Pelaku Pasar Masih Fokus Atas China, Gerak Harga Minyak Terkoreksi

20611_1422090778099665_681208571439640980_nGerak nilai saham Asia bergerak secara negatif pada awal sesi perdagangan pasar hari Kamis (10/ 09/ 2015)ini. Hal tersebut terjadi, karena para pelaku pasar yang tengah mencerna beberapa data ekonomi China, yang mungkin bisa memberikan petunjuk lebih lanjut tentang kondisi kesehatan perekonomian negara dengan skalaekonomi terbesar ke-2 di dunia.

Dilporkan bahwa gerak nilai Indeks Shanghai Composite China telah memangkas angka kerugiannya menjadi 1%. Hal tersebut terjadi, setelah rilis datainflasi yang dilaporkan mixed. Angka Consumer Price Indeks China dilaporkan tumbuh pada kecepatan tahunan 2% di bulan Agustus, melampaui estimasi kenaikan 1,8%. Namun Produsen Price Indeks China masih harus memperpanjang penurunan untuk bulan ke-42 berturut-turut, dengan merosot ke kisaran 5,9%.

Dilaporkan bahwa harga konsumen China bergerak tumbuh pada laju tercepat dalam kurun waktu setahun ini. Hal tersebut terjadi seiring krisis pasokan daging babi telah mendongkrak biaya bahan pokok tersebut. Dilaporkan bahwa nilai indeks harga konsumen bergerak positif, dengan meningkat sebesar 2% pada bulan Agustus dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan kenaikan 1,6% pada bulan Juli.

Kondisi peningkatan nilai indeks harga konsumen ini, telah juga mematahkan estimasi sebesar 1,8% dari para pelaku pasar dalam jajak pendapat Reuters. Nilai indeks harga produsen juga telah dilaporkan, masih memperpanjang gerak penurunan untuk bulan ke-42 berturut-turut, dengan merosot sebesar 5,9% pada bulan lalu.

Kecenderungan divergen dari harga konsumen dan produsen tersebut mempersulit prospek kebijakan People’s Bank of China (PBoC). Nilai inflasi harga konsumen China saat ini telah lebih tinggi dari suku bunga acuan deposito untuk 1-tahun, yang berarti suku bunga riil untuk penabung berada di level mendekati nol. Sementara, kondisi deflasi pabrik telah mendorong biaya pinjaman riil bagi sektor industri, yang menghadirkan tantangan dalam perekonomian yang bergerak melambat.

Para pelaku pasar juga cenderung untuk mengabaikan pernyataan dari Perdana Menteri China, Li Keqiang, pada hari Rabu lalu, yang mengatakan bahwa China telah mampu menangkal resiko utama pada sistem keuangan sementara prospek ekonomi tetap positif. Sentimen negatif di pasar China daratan tersebut turut menyeret gerak nilai indeks saham Hang Seng 33 di Hong Kong turun 2,25%.

Telah dilaporkan sebelumnya bahwa, Li Keqiang, Perdana Menteri China, menyatakan apabila penyesuaian nilai apresiasi mata uang Yuan beberapa waktu lalu “sangat kecil” kemungkinannya untuk dilakukan. Li Keqiang mengatakan bahwa dalam masa pemerintahannya, tidak ada rencana apapun sebelumnya, untuk melanjutkan langkah devaluasi mata uang negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.

Langkah pemerintah China untuk menurunkan nilai apresiasi mata uang Yuan sebesar hampir 2% pada tanggal 11 Agustus lalu, sedikit banyak telah mengguncang pasar finansial global, terutama pasarsaham. Perdana Menteri Li Keqiang pun telah menyatakan, jika langkah kebijakan devaluasi dilanjutkan, maka akan menyulitkan internasionalisasi mata uang Yuan.

Dalam pidatonya dalam pertemuan World Economic Forum (WEF) di China, Perdana Menteri Li Keqiang telah menyatakan bahwa, pemerintahnya membidik pertumbuhan sebesar 7% untuk tahun ini. Namun kondisi perekonomian saat ini ternyata memperberat target tersebut, volatilitas di pasar saham baru-baru ini dan berkurangnya permintaan global membuat target tersebut berisiko untuk bisa dicapai.

Perdana Menteri Li Keqiang juga berusaha meredakan kecemasan para pelaku pasar global, dengan mengatakan bahwa perekonomian yang mampu menciptakan lebih dari 7 juta pekerjaan urban baru dan tingkat pengangguran 5,1% pada semester pertama tahun ini menunjukkan perekonomian China masih dalam kondisi yang memadai.

Pemimpin negeri China ini juga menyatakan bahwa pemerintahannya akan mempertahankan kebijakan dasar. Meski demikian, namun Perdana Menteri Li Keqiang juga mengatakan bahwa China tetap mempersiapkan diri untuk membuat penyesuaian sesuai kondisi yang berjalan. Dalam hal ini, negara China juga merasa perlu untuk mempertahankan reformasi dalam banyak area untuk menjaga stabilitas finansialnya.

Dilaporkan dari zona ekonomi wilayah negara Jepang bahwa, gerak rally spektakuler dari nilai indeks Nikkei 225 pada hari Rabu kemarin, ternyata gagal untuk dapat berlanjut. Indeks saham Jepang itu harus bergerak negatif, melemah lebih dari 3% di awal sesi perdagangan pasar hari Kamis ini. Hal tersebut terjadi, setelah adanya rilis data pesanan mesin inti bulan Juli. Rilis data pesanan mesin tersebut ternyata menunjukkan penurunan 3,6%, dan telah mementahkan prediksi kenaikan 3,7%.

Sejumlah aksi profit taking oleh para pelaku pasar yang menerpa saham-saham keuangan, seperti Mitsubishi UFJ Financial Group, Sumitomo Mitsui Financial Group dan Nomura Holdings, turut mendatangkan tekanan di bursa. Sementara pelemahan gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, terhadap Greenback, dilaporkan sejauh ini masih gagal mendongkrak order pembelian untuk saham berorientasi eksport.

Dilaporkan pula bahwa gerak nilai indeks Korea Selatan, KOSPI, tampak masih mampu bertahan di sekitar level pembukaan di tengah penurunan nilai saham-saham berkapitalisasi besar. Nilai Saham Samsung Electronocs dilaporkan terpantau turun hampir 1%, sedangkan saham blue chips lainnya seperti Posco dan KB Financial Group, dilaporkan tengah merosot nilai sahamnya masing-masing sebesar 1,3% dan 0,7%.

Dari wilayah Australia, dilaporkan bahwa para pengusaha Australia menambah lebih banyak pekerjaan dibandingkan perkiraan pada bulan Agustus. Kondisi ini menunjukkan jika tingkat suku bunga yang berada di rekor rendah, depresiasi mata uang dan pertumbuhan nilai upah yang lemah telah mendorong untuk dilakukannya perekrutan tenaga kerja.

Laporan dari Australian Bureau of Statistics hari Kamis (10/ 09/ 2015) ini menunjukkan bahwa, angka pekerjaan naik menjadi sebesar 17.400 dari bulan Juli. Angka ini tentunya jauh melampaui estimasi kenaikan sebelumnya, yaitu di kisaran angka 5.000. Pekerjaan full-time bertambah sebanyak 11.500 peluang pekerjaan, dengan pekerjaan paruh waktu juga naik sebesar 5.900.

Angka-angka tersebut membantu menekan tingkat pengangguran di Australia. Nilai tingkat penagngguran di Australia dilaporkan telah bergerak turun menjadi 6,2% pada bulan Agustus, dari sebelumnya di angka 6,3% pada bulan sebelumnya. Laporan ketenagakerjaan tersebut juga memperlihatkan tentang tingkat partisipasi, ukuran angkatan kerja dalam proporsi populasi, turun tipis menjadi 65% dari sebelumnya 65,1%.

Laporan tersebut juga telah mengindikasikan bahwa, potensi akselerasi dalam sektor industri pembangunan perumahan dan juga pariwisata Australia. Sektor-sektor ekonomi tersebut telah berusaha untuk bisa menyerap kelebihan pekerja di sektor pertambangan yang tengah melambat. Kendati demikian, sejauh ini penurunan outlook belanja bisnis dan penurunan harga komoditas masih meredam prospek ekonomi.

Gerak nilai harga minyak pada sesi perdagangan pasar hari Kamis (10/ 09/ 2015) ini, dilaporkan bergerak merosot tajam dan berada dekat level $44 US/ barel pada sesi perdaganga pasar hari Rabu kemarin. Gerak nilai harga minyak pada perdagangan pasar hari Rabu kemarin dilaporkan telah ditutup pada level $44,11 US/ barel, dengan level tertinggi harian $46,25 US, dan terendah $44,05 US.

Kondisi ini terjadi setelah pihak dari Energy Information Administration (EIA) merilis laporan dengan menurunkan proyeksi harga untuk tahun ini dan tahun depan. Gerak nilai harga minyak juga mendapatkan tekanan karena menjelang rilis data persediaan minyak Amerika oleh EIA yang diperkirakan para pelaku pasar akan meningkat.

Dalam laporan bulanan, EIA memperkirakan rata-rata harga minyak WTI tahun ini $49,23 US/ barel, turun dari proyeksi sebelumnya $49,62 US. Untuk tahun 2016 diturunkan menjadi $53,57 US dari sebelumnya $54,42 US. Sementara proyeksi harga minyak Brent tahun ini sebesar $54,07 US, turun dari sebelumnya $54,40 US. Di laporan yang sama EIA memperkirakan produksi minyak Amerika tahun ini sebesar 9,22 juta barel per hari, turun dari proyeksi sebelumnya 9,36 juta barel, dan untuk tahun 2016 diturunkan sebesar 1,6% menjadi 8,82 juta barel per hari.

Sedangkan versi dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa angka persediaan minyak Amerika naik 2,1 juta barel dalam sepekan yang berakhir 4 September. Analis yang disurvei Platts sebelumnya memperkirakan kenaikan 300.000 barel. Tidak seperti biasanya, EIA di pekan ini akan merilis data persediaan minyak pada hari Kamis akibat libur di awal pekan.

About author

You might also like

Segala Sektor Ekonomi Global Rentan Imbas China, Apresiasi USD Dominan Selain Terhadap Jepang

Dilaporkan bahwa pada sesi perdagangan pasar Amerika di hari Selasa kemarin bahwa, Greenback bergerak menguat naik nilai apresiasinya menuju ke level tertinggi terhadap mata uang Uni Eropa, yaitu mata uang

Forex News 0 Comments

Gerak Nilai Harga Di Bursa Saham Jepang Naik, Amerika Libur Hari Thanksgiving

Telah dilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang USD terdongkrak oleh rils data positif, sehingga mampu bergerak rebound menguat kembali. Apiknya data-data ekonomi Amerika pada sesi perdagangan pasar hari Rabu

Berita 0 Comments

Gerak USD Bergerak Melambung, Mata Uang Euro Bergerak Positif

Gerak nilai apresiasi mata uang Euro dilaporkan tampak bergerak naik. Hal tersebut terjadi, karena optimisme bahwa Angela Merkel dari Jerman telah sukses dalam pembicaraan koalisi setelah berbulan-bulan mengalami kebuntuan, sementara

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image