Pihak Yunani Akhirnya Menyerah Default, Apresiasi USD Bergairah

1902079_600852683322099_1501880045_nPada sesi perdagangan pasar Asia di hari Rabu (01/ 07/ 2015) pagi ini, dilaporkan bahwa gerak harga emas spot telah bergerak dan mengalami rebound. Gerak harga emas spot sempat diperdagangkan pada level harga $ 1.773,85 US. Gerak harga emas spot dan berjangka di Divisi Comex New York Mercantile Exchange dilaporkan mengalami hasil penutupan harga sesi perdagangan pasar hari Selasa melemah pada hari Rabu (01/ 07/ 2015) dini hari tadi. Gerak harga emas ditutup tergerus seiring dengan keputusan pihak Yunani untuk tidak membayar cicilan utangnya ke IMF. Kondisi ini mengakibatkan gerak nilai apresiasi mata uang Euro telah mengalami penurunan yang tajam terhadap mata uang USD.

Negara Yunani telah menyatakan bahwa pihaknya tidak bisa membayar cicilan utang sebesar 1,6 miliar Euro kepada pihak krediturnya, IMF, pada hari Selasa kemarin. Chairman Eurogroup mengatakan bahwa sudah terlambat bagi pihak Yunani untuk bisa merundingkan kembali perpanjangan bailout untuk negaranya. Ia juga mengatakan bahwa sikap Yunani kepada para pengutangnya harus diubah terlebih dulu sebelum program baru diluncurkan. Gerry Rice, juru bicara pihak IMF telah menyatakan bahwa informasi dari para pimpinan menyatakan Yunani gagal melakukan pembayaran pinjaman pentingnya sehingga saat ini negara itu memiliki hutang dan hanya bisa dibantu oleh IMF sekali lagi jika hutang sebelumnya telah lunas. Secara teknis, pihak Yunani memang belum bisa dinyatakan gagal bayar, hanya belum bisa membayar hutangnya tepat waktu. Namun demikian, kegagalan ini juga dianggap sebagai suatu peringatan dini akan indikasi ketidak mampuan Yunani melakukan pembayaran hutang-hutangnya di minggu-minggu yang akan datang ini, misalnya kepada pinjaman mereka ke European Central Bank (ECB). Tentu saja peristiwa ini telah membuat ECB was-was dan berpikir ulang dalam memberikan bantuan lebih lanjut kepada pihak Yunani.

Kejadian ini juga akan membuat sejumlah lembaga pemeringkat berhati-hati. Negara Yunani memang belum bisa begitu saja dikatakan sebagai negara bangkrut yang gagal bayar hutang, terlebih lagi pihak IMF sendiri secara teknis dianggap bukan pemberi pinjaman komersial. Namun demikian, lembaga pemeringkat seperti Standard & Poor’s dalam pernyataannya sehari sebelumnya telah mengingatkan bahwa Yunani bisa saja menjadi negara yang benar-benar gagal bayar jika negara itu tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada sektor swasta, seperti dalam bentuk kewajiban membayar obligasi yang jatuh tempo pada 10 Juli nanti sebesar 2 milyar Euro. Bagi pihak IMF sendiri, dengan kegagalan dari pihak Yunani memenuhi tenggat waktu yang diberikan, yaitu pada hari Selasa 30 Juni pukul 06 sore waktu Washington kemarin, telah menempatkan Yunani dalam posisi tidak bisa mendapatkan bantuan keuangan kembali dari IMF hingga hutang saat ini lunas. Menjadi sebuah permasalahan adalah IMF merupakan mitra ECB dalam membantu Yunani yang membantu bukan hanya masalah keuangan saja, namun juga bantuan ahli-ahli ekonomi dan keuangan pula. Pihak IMF sendiri kini tengah mengkaji permintaan Yunani untuk memperpanjang tenggat waktu pembayaran hutang-hutangnya kembali.

Perkembangan selanjutnya justru berbalik arah, dimana para kreditor Eropa kepada Yunani menolak permintaan agar memberikan bantuan talangan hutang kembali. Sinyal yang jelas memang belum muncul atas kegagalan fungsi keuangan dan politik di Yunani, dimana pada Minggu (28/06) telah dikabarkan bahwa perbankan Yunani akan menutup bank-bank mereka setidaknya selama sepekan guna menjaga kepanikan para penabung yang diduga akan melakukan penarikan uang mereka secara besar-besaran. Jacob Funk Kirkegaard, peneliti senior dari Peterson Institute for International Economics di Washington, menyatakan bahwa keterlambatan yang demikian ini akan menempatkan Yunani layaknya suatu perusahaan yang tidak terhormat. Yunani tentu akan kami masukkan sebagai negara yang telah gagal atau tumbang, sebuah perlambang yang sangat dramatis tentunya.

Dalam sejarah IMF, Yunani merupakan negara maju yang pertama gagal dalam melakukan pembayaran kewajibannya kepada lembaga donor yang bermarkas di Washington ini. Bahkan merupakan kegagalan bayar dana pinjaman yang paling besar dalam sejarah organisasi tersebut. Lebih buruk dibandingkan dengan Sudan yang saat ini masih memiliki hutang ke IMF sebesar $1.4 milyar yang dipinjamnya sejak dekade 1980s. Negara-negara yang gagal bayar dan masih memiliki kewajiban kepada IMF adalah Irak, Bosnis dan Afghanistan. The European Central Bank, yang selama ini memberikan bantuan bagi perbankan Yunani, kedepannya hanya akan memberikan bantuan keuangan kepada bank-bank yang benar-benar kokoh. Masalahnya adalah perbankan di Yunani sendiri sangat terkait erat dengan pemerintahan yang ada, dengan demikian tentu sulit untuk mencari mana bank-bank yang benar-benar mampu, manakala pemerintahannya sendiri gagal bayar ke IMF. Dengan demikian, ini mungkin dampak terbesar dari kegagalan pembayaran ke IMF.

Pada menit-menit terakhir sebelum habis tenggat yang diberikan, pemerintah Yunani mengajukan permohonan dana talangan kepada para kreditor Eropa agar IMF tidak dilibatkan dalam hal ini. Tentu saja permintaan Yunani ini akan sangat berat dikabulkan. Jerman saja mau membantu Yunani dengan syarat adanya keterlibatan pihak IMF. Dengan permohonan tersebut, sebenarnya Yunani juga secara tidak langsung menantang status lembaga donor internasional itu sebagai pendonor paling dibutuhkan di dunia. Dalam sebuah hirarki kreditor dimana melibatkan sektor swasta, umumnya mereka ini yang terlebih dahulu kehilangan uangnya sebelum IMF. Dalam kasus Yunani ini, tidak ada pembayaran bagi para kreditor besar, dengan kata lain tidak banyak perbedaan anatra IMF dan kreditor Eropa, sama-sama tidak terbayar. Berdasarkan kesepakatan Yunani dengan negara-negara lain di Zona Euro, kegagalannya dalam membayar kewajibannya ke IMF akan membuat negara-negara tersebut bisa meminta pengembalian hutang kepada mereka lebih cepat. Setidaknya ada 131 Milyar Euro yang mereka pinjamkan ke Yunani.

Memang negara-negara itu diperkirakan tidak akan serta-merta langsung menarik hutangnya ke Yunani, namun kegagalan pembayaran kepada IMF tetap membuka pilihan itu dikemudian hari. Hubungan Yunani dengan negara-negara Eropa lainnya juga tentu semakin sulit, setidaknya Yunani akan semakin sulit mendapatkan kepercayaan kembali untuk mendapatkan bantuan dana dan perbaikan bagi perekonomiannya. “Para pelaku pasar kini hanya tidak percaya bahwa Perdana Menteri Alexis Tsipras akan membiarkan situasi ini semakin gawat. Saya kira ada harapan dan keyakinan bahwa kesepakatan akan muncul” sebelum 5 Juli saat bailout referendum”, demikian kata Managing director dan penasihat keuangan senior Wescott Financial Advisory Group, Richard Gotterer. Gerak harga emas yang biasanya memperoleh dukungan di saat ekonomi global dipenuhi ketidakpastian tampak tidak terpengaruh. Para pelaku pasar berpendapat bahwa ini merupakan sinyal bahwa ekonomi dan kondisi Yunani sudah tidak lagi menjadi kekhawatiran yang membuat para pelaku pasar merasa harus mengoleksi safe haven.

Gerak harga emas spot pada penutupan sesi perdagangan pasar hari Selasa di hari Rabu dini hari tadi dilaporkan tampak sempat mengalami penurunan sebesar 1,2 % dan mencapai posisi paling rendah sejak tanggal 5 Juni di level $ 1.166,35 US/ troy ons. Akan tetapi di akhir perdagangan harga ditutup melemah sebesar 0,7 % di level $ 1.171,05 US/ troy ons. Gerak harga emas berjangka di Divisi Comex New York Mercantile Exchange juga mengalami gerak penurunan harga di akhir perdagangan bulan Juni. Gerak harga emas berjangka ditutup turun sekitar $7,20 US di level harga $ 1.171,80 US/ troy ons. Telah dilaporkan juga bahwa pada sesi perdagangan pasar di hari Rabu (01/ 07/ 2015) ini, dengan mengacu pada situs resmi logam mulia bahwa, harga emas yang dijual PT. Aneka Tambang, Tbk (Antam) di harga Rp 552.000. Untuk harga buyback logam mulia milik Antam di hari Rabu (01/ 07/ 2015) ini, dilaporkan senilai Rp 495.000. Berikut ini adalah merupakan daftar harga emas yang dijual oleh Antam pada sesi perdagangan pasar di Rabu (01/ 07/ 2015) ini, yaitu untuk harga emas pecahan 500 gram - Rp 256.300.000, pecahan 250 gram - Rp 128.250.000, pecahan 100 gram - Rp 51.350.000, pecahan 50 gram - Rp 25.700.000, pecahan 25 gram - Rp 12.875.000, pecahan 10 gram - Rp 5.180.000, pecahan 5 gram - Rp 2.615.000, dan untuk pecahan 1 gram - Rp 552.000.

Diperkirakan bahwa pergerakan harga emas spot hari ini akan cenderung untuk bergerak melemah. Trend bearish masih terjadi di gerak harga emas. Kemungkinan kenaikan suku bunga acuan di Amerika masih menjadi fokus para pelaku pasar. Pada sesi perdagangan pasar hari ini, gerak harga emas berpotensi mengetes level resistance pada level harga $ 1.180 US/ troy ons. Apabila pergerakan harga ternyata berhasil menembus level harga tersebut, maka gerak harga emas akan berpotensi melanjutkan gerak peningkatan harganya kembali menuju ke level $ 1.190 US. Sedangkan apabila yang terjadi adalah pergerakan melemah, maka gerak harga emas akan berpotensi kembali ke level harga support yaitu pada level $ 1.165 US. Jika berhasil ditembus harga akan melanjutkan pelemahan ke level $ 1.160 US.

Mulai menilik perkembangan ekonomi zona Asia, aktivitas manufaktur di Korea Selatan berkontraksi untuk empat bulan beruntun dibulan Juni dan turun ke level terendah dalam tiga tahun, ditunjukkan oleh survei dari pihak swasta pada hari Rabu ini. Indeks manajer pembelian dari Nikkei datang di level 46.1 di bulan Juni, lebih rendah dari pembacaan bulan Mei di level 47.8. Itu adalah pembacaan terbaru untuk level terlemah sejak September 2012. Pembacaan di atas level 50 indikasikan ekspansi di dalam aktivitas manufaktur, sementara itu pembacaan di bawah itu sinyalkan kontraksi.

Telah juga dirilis sebuah laporan resmi dari negara China pada hari Rabu (01/ 07/ 2015) ini, menunjukkan bahwa aktifitas manufaktur China telah mengalami gerak penurunan pada bulan Juni. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Markit menyatakan bahwa HSBC PMI Manufaktur Tiongkok telah alami penurunan yang disesuaikan secara musiman menjadi 49.4 di bulan Juni dari 49.6 di bulan Mei. Para pelaku pasar telah memperkirakan bahwa HSBC PMI Manufaktur China akan stabil pada level 49.6 di bulan Juni. Negara China merupakan Negara konsumen Komoditas emas terbanyak di dunia, karena emas sangat berhubungan erat sekali dengan budaya negara tersebut. Gerak harga minyak mentah juga telah dilaporkan apabila bergerak sedikit menguat di sesi Asia pada hari Rabu setelah data manufaktur dari China berikan dorongan positif dari data cadangan minyak Amerika dari kelompok industri yang hasilnya pesimis.

Minyak mentah pada sesi perdagangan hari Selasa mengakhiri babak pertama tahun ini dengan kenaikan yang lumayan, menetap lebih tinggi untuk akhir sesi Selasa karena tenggat waktu kesepakatan akhir atas program nuklir Iran diperpanjang sekitar seminggu mendatang. Sementara itu, pasar keuangan tetap gelisah karena menteri keuangan di zona Eropa telah menolak permintaan menit-menit terakhir dari pihak Yunani untuk memperpanjang program bailout, tetapi mereka mengatakan akan mempertimbangkan permintaan untuk program penyelamatan baru tersebut. Pihak Teheran dan Barat seharusnya memiliki kesepakatan pada akhir sesi hari Selasa kemarin mengenai program nuklir Iran, yang diharapkan akhirnya akan mengirim beberapa juta barel minyak Iran ke pasar global setelah sanksi terhadap bangsa tersebut terangkat. Namun pihak dari Departemen Luar Negeri Amerika telah mengatakan bahwa pihaknya secara efektif memperpanjang batas waktu untuk pembicaraan hingga 7 Juli. Richard Hastings, ahli strategi makro Global Hunter Securities, mengatakan ia percaya Iran “tidak mungkin untuk memindahkan minyaknya ke pasar minyak global karena hanya akan memperparah kelebihan pasokan, sebagian karena permintaan global untuk produk mereka sudah begitu penuh.” Sebelumnya, American Petroleum Institute mengatakan bahwa cadangan minyak mentah AS melonjak 1.875 juta barel pada pekan lalu, sementara itu minyak suling naik 263.000 barel dan suplai bensin bertambah 334.000 barel. Pada sesi perdaganga pasar Amerika di hari Rabu malam nanti, pihak Departemen Energi Amerika akan merilis angka cadangan minyak yang akan dipantau dengan ketat oleh para pelaku pasar.

Di New York Mercantile Exchange, West Texas Intermediate untuk pengiriman Agustus ditutup menguat $ 1,14 US, atau 2% untuk selanjutnya menetap di level $ 59,47 US/ barel. Ini menghentikan kerugian selama empat sesi lebih dari 4%. Pelacakan kontrak teraktif, harga naik sekitar 11,6% secara year to date. Untuk bulan ini, harga masih membukukan kerugian sekitar 1,4%. Brent Crude Oil untuk pengiriman Agustus naik $ 1,58 US, atau 2,6% ke level $ 63,59 US/ barel di ICE Futures Exchange London.

Indeks mata uang USD dilaporkan kembali menunjukkan kekokohannya. Namun secara terperinci apabila melihat kenaikan nilai apresiasi mata uang USD ini masih dibatasi oleh kekuatan mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen dan mata uang Australia, yaitu Aussie. Meskipun demikian index mata uang USD berhasil menutup bullish dini hari tadi. Hali ini karena laporan indikator fundamental sektor konsumsi masyrakat Amerika yang sangat mengesankan. Pada laporan tersebut, nilai America’s Consumer Confidence telah menorehkan nilai indeks naik di atas perkiraan sebesar 101.4 dari laporan sebelumnya sebesar 94.6. Sementara Chicago PMI menorehkan nilai yang lebih baik 49.4 dari laporan sebelumnya 46.2, namun masih di luar ekspektasi keluar dari nilai kontraksi.

Untuk sesi perdagangan pasar hari Rabu (01/ 07/ 2015) ini, beberapa rilis indikator fundamental ekonomi penting dari Amerika akan menjadi penggerak pasar. Data fundamental tersebut diantaranya adalah data ADP Non-Farm Employment Change yang menggambarkan jumlah lapangan kerja baru yang tercipta pada bulan yang lalu, yang memiliki angka perkiraan naik. Selian itu dari sektor manufaktur, Institute for Supply Management akan melaporkan survei mengenai kondisi bisnis saat ini termasuk output produksi, ketersediaan produk, aktivitas pengiriman, jumlah pesanan dan jumlah tenaga kerja. Gerak nilai index mata uang USD bergulir di kisaran 95.554, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup naik di level 95.529 dengan mencapai tinggi pada 95.676 dan rendah pada 94.847.

Aussie melanjutkan penguatan terhadap mata uang USD menyusul data ekonomi yang dirilis dari Negara China dan dari dalam negeri Australia. Data dari pemerintah China menunjukkan indeks aktivitas manufaktur melanjutkan ekspansi di bulan Juni. Optimisme akan membaikkanya ekonomi China muncul sejak akhir pekan lalu saat bank sentral China menurunkan suku bunga acuan, dan giro wajib minimum bank-bank tertentu. Dalam pernyataannya bank sentral China menyebut langkah tersebut diambil untuk menstabilkan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Sedangkan dari dalam negeri Australia sendiri, Biro Statistik Australia beberapa saat lalu melaporkan jumlah persetujuan membangun naik 2,4% di bulan Mei, setelah merosot 4,4% bulan sebelumnya. Dan lebih tinggi dari ekspektasi 1,2%. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah persetujuan membangun di Australia bergerak liar dengan menunjukkan kenaikan dan penurunan silih berganti di setiap bulan. Bank sentral Australia menaruh perhatian terhadap sektor perumahan akibat dikhawatirkan akan terjadi bubble. Telah dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang AUD/ USD telah sempat diperdagangkan dikisaran 0.7718, menjauhi level terendah harian 0.7687.

Dari Inggris, dilaporkan bahwa hasil revisi data pertumbuhan ekonomi Inggris belum mampu mendongkrak kinerja Poundsterling pada perdagangan Selasa kemarin. Mata uang Inggris tersebut pada sesi Asia hari ini (01/6) kembali melanjutkan pelemahan terhadap mata uang Amerika, USD. Office for National Statistic pada hari Selasa kemarin merevisi naik pertumbuhan ekonomi Inggris kuartal pertama menjadi 0,4% dari rilis sebelumnya sebesar 0,3%. Revisi tersebut sejakan dengan ekspektasi para pelaku pasar. Di saat yang sama defisit current account dilaporkan berkurang menjadi -£26,5 milyar, dari bulan sebelumnya -£28,9 milyar, namun masih lebih besar dari ekspektasi ekonom sebesar -£23,7 milyar.

Faktor penekan gerak positif dari Sterling pada perdagangan Selasa kaemarin adalah pernyataan dari anggota Monetary Policy Committee Bank of England, Andy Haldane. Haldane yang juga kepala ekonom BoE tersebut mengatakan kenaikan suku bunga terlalu cepat dapat menimbulkan resesi di Inggris, dan ia berencana untuk mengusulkan mempertahankan suku bunga 0,5% dalam jangka pendek hingga menengah.

Fokus para pelaku pasar hari ini berkenaan dengan apresiasi mata uang GBP/ USD, adalah para pelaku pasar tengah menanti data aktivitas manufaktur Inggris yang akan dirilis sore ini, dan disusul data rilis dari Amerika. Selain itu perhatian pasar juga tertuju pada Gubernur Bank of England (BoE) yang akan mengadakan konfrensi pers Laporan Stabilitas Finansial. Apresiasi mata uang GBP/ USD sempat ditransaksikan pada kisaran 1.5697, setelah sempat menyentuh level terendah harian 1.5673, dengan level tertinggi 1.5714.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Aussie Bidik Level Tinggi, Outlook Bullish

Reli valuta ditopang oleh kesepakatan yang dicapai oleh para pemangku kebijakan AS untuk mencegah kenaikan pajak masif dan pemangkasan pengeluaran yang dikenal dengan “fiscal cliff”. Hari ini nilai tukar Dolar terpantau

Gerak Nilai Harga Minyak Terjerembab, Jepang Terbeban Pajak Tinggi

Gerak nilai apresiasi mata uang uni Eropa, yaitu mata uang Euro, pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis (08/ 10/ 2015) ini, tampak bergerak agak jatuh terhadap Greenback. Hal tersebut

USD Tertekan Akibat Merebaknya Spekulasi Atas Keputusan The Fed

Mata uang USD tidak banyak berubah diperdagangan pasar asia menjelang dimulainya rapat The Fed selama dua hari untuk menentukan kelanjutan program stimulus moneter. The Fed diperkirakan academic research paper akan

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image