Rupiah Pimpin Gerak Rally di Asia, Pasar Tunggu Gebrakan China

11063801_931912163521108_1519000897528670071_nGerak nilai apresiasi mata uang USD yang tengah terkoreksi di perdagangan pasar dunia, tak luput telah memberi angin segar terhadap gerak nilai apresiasi mata uang negara lain. Kondisi konsolidasi pasar ini berpengaruh juga termasuk terhadap gerak nilai apresiasi mata uang Rupiah Indonesia/ IDR, maupun gerak nilai indeks dan saham nasional.

Telah dilaporkan bahwa nilai apresiasi mata uang Indonesia, IDR, atau Rupiah, telah menguat atas mata uang USD. Nilai apresiasi mata uang Rupiah terpantau membaik di awal sesi perdagngan pasar di pekan ini. Nilai apresiasi dari Valuta Garuda sempat menguat sampai ke bawah kisaran level Rp. 14.200/ US. Kondisi ini terjadi, menyusul trend pelemahan mata uang Amerika Serikat di perdagangan mata uang dunia. Gerak nilai apresiasi mata uang USD/ IDR pada pagi tadi sempat tercatat di kisaran Rp. 14.303. Gerak penguatan IDR terjadi di tengah spekulasi para pelaku pasar bahwa Federal Reserve akan meunda kenaikan suku bunga hingga tahun depan.

Mata uang Rupiah sempat bergerak menguat nilai apresiasinya, bergerak melejit paling tajam sejak Desember 2013. Mata uang Rupiah melonjak sebesar 1.5% menuju kisaran level Rp. 14,284/ US setelah sempat menguat sebanyak 2.2% sebelumnya, menurut data dari bank lokal. Nilai apresiasi mata uang Rupiah telah bergerak positif menguat sebesar 2.5% pada awal sesi perdagangan pasar pekan ini, dan pergerakan nilai apresiasi USD/ IDR ini telah memangkas pelemahan tahunan menjadi sekitar 13%.

Juga dilaporkan bahwa , pergerakan nilai harga Indeks Saham Gabungan Jakarta (IHSG) juga melaju sebesar 2%, menyusul rally sebesar 3.2% pada sesi perdagangan pasar di hari Senin kemarin. Mata uang Rupiah memimpin gerak rally mata uang zona Asia pada sesi perdagangan pasar hari Selasa (06/ 10/ 2015) ini. Gerak nilai harga di bursa saham turut pula bergerak rally menuju level penutupan tertinggi dalam sebulan di tengah sinyal para pelaku pasar sedang kembali memborong aset domestik.

Menurut data yang dilansir oleh Reuters, nilai apresiasi mata uang USD dibuka pada posisi Rp14.456 atau lebih kuat dibandingkan harga penutupan kemarin di Rp14.452. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena beberapa jam kemudian mata uang USD sempat menukik tajam. Posisinya sempat berkisar di Rp14.170 sebelum naik lagi ke Rp14.300-an.
Rupiah berhasil menguat sejak awal pekan meski tidak ada kabar positif dari fundamental ekonomi dalam negeri. Kinerja Rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh pergerakan mata uang USD yang cenderung rapuh di tengah spekulasi penundaan kenaikan suku bunga di Amerika Serikat. Secara akumulatif, Rupiah masih melemah sekitar 14% terhadap mata uang USD. Apabila dalam rapat Federal Reserve Bank pada bulan Oktober ini muncul indikasi kenaikan suku bunga di 2015.

Menurut analis, ada kesempatan emas pada pasar negara berkembang termasuk Indonesia menyusul aksi jual belakangan ini. Presiden Republik Indonesia, yaitu Presiden Joko Widodo, pada pekan lalu telah meminta pada perusahaan energi negara PT. Pertamina, untuk segera mengkalkulasi kembali harga bensin domestik sebagai bagian dari paket stimulus tahap ketiga yang akan diumumkan hari Kamis mendatang. Stimulus tahap selanjutnya, dengan penyesuaian harga bahan bakar, kemungkinan akan memicu laju pertumbuhan dan konsumsi, tambahnya.

Telah dilaporkan bahwa Reseve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga pada rapat pertemuan pagi ini. Otoritas moneter sepertinya memilih untuk menunggu efek positif dari penurunan nilai tukar Dollar Australia, atau lazim disebut dengan Aussie, dan transisi pemerintahan sebelum memutus kebijakan moneternya.

Pihak Reserve Bank of Australia telah menetapkan target cash rate-nya di rekor rendah 2.0%, yang sudah bertahan sejak bulan Mei lalu. Keputusan tersebut sejalan dengan hasil survei The Wall Street Journal. Terlepas dari keputusan itu, pelaku pasar keuangan masih yakin kalau Gubernur RBA, Glenn Stevens, dan beserta para kolega akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali tahun depan. Investor melihat langkah ini diperlukan untuk merespon penurunan bisnis dan kepercayaan diri konsumen.

“Di Australia, data-data terbaru memperlihatkan pemulihan ekonomi berlanjut walaupun lajunya sedang-sedang saja,” demikian kata Gubernur Stevens. Ia mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi di bawah angka rata-rata jangka menengah, tetapi hal itu diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja yang bagus selama setahun terakhir. Sebagai catatan, pada hari inilah untuk kali pertama RBA menggelar rapat suku bunga sejak Malcolm Turnbull mengambilalih kurs perdana menteri dari tangan Tony Abbott.

Banyak pengamat ekonomi yang yakin kalau perubahan di pemerintahan bisa mengurangi risiko resesi negeri kangguru. Terutama jika melihat pada latar belakang karir Turnbull yang merupakan seorang bankir dan pebisnis. Ia sudah menggelar pertemuan dengan para pelaku usaha untuk menganalisa titik lemah ekonomi domestik. Hasilnya diharapkan bisa menjadi panduan program pemulihan ekonomi selama masa jabatannya.

Gross domestic product Australia tumbuh 0,2% pada kurtal II dibandingkan triwulan sebelumnya dan naik 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tingkat pertumbuhan ini merupakan yang terendah sejak Maret 2011, kala terjadinya bencana banjir besar. Sektor ekonomi sendiri masih bisa menikmati keuntungan dari penurunan nilai tukar Dollar Australia, yang rasionya sudah mencapai 25% selama setahun terakhir. Sayangnya, harga-harga komoditas masih belum normal seiring dengan penurunan ekonomi China.

Sebuah ulasan mengenai peluang perubahan suku bunga Amerika The Fed disampaikan oleh Goldman Sachs Group Inc.. Goldman Sachs Group Inc. mengatakan ada peluang kemungkinan bahwa Federal Reserve akan menunda rencana kenaikan suku bunga hingga tahun 2016, atau lebih lama lagi. Sementara kenaikan di bulan Desember masih menjadi proyeksi utama Goldman, melambatnya output dan sektor tenaga kerja mungkin akan membuat para pembuat kebijakan mempertahankan kebijakan suku bunga di dekat level nol untuk “lebih lama lagi hingga 2016 atau lebih lama lagi, menurut Jan Hatzius, kepala ekonom Goldman Sachs di New York.

Para pelaku pasar telah memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini meski petinggi The Fed termasuk gubernur Janet Yellen dan William C. Dudley telah mengatakan bahwa ekspektasi mereka untuk kenaikan di tahun 2015. Presiden The Fed bagian Kansas City, Esther George, dan Presiden The Fed bagian San Francisco, John Williams, dijadwalkan akan memberikan pernyataan pada hari Selasa. Peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini telah turun menjadi 35.2%, dari sebesar 60% pada akhir bulan Agustus lalu, menurut data futures Bloomberg. Peluang kenaikan pada pertemuan selanjutnya pada tanggal 27-28 Oktober telah turun menjadi hanya 10% menyusul data tenaga kerja bulanan pekan lalu yang mengecewakan.

Gerak nilai harga minyak mentah berjangka dilaporkan telah ditutup tidak jauh dari level puncak dalam 2-pekan pada sesi perdagangan pasar hari Senin kemarin. Hal tersebut terjadi, seiring harapan bahwa China mungkin akan bertindak lebih lanjut guna merangsang ekonomi. Kesediaan Rusia untuk melakukan pertemuan dengan produsen utama minyak lainnya juga turut mendorong sentimen pasar.

Pihak World Bank pada hari Senin kemarin telah memperkirakan bahwa gerak laju ekonomi China akan mampu mencatat pertumbuhan 7% untuk tahun ini dan akan melambat secara bertahap selama 2 tahun ke depan. Proyeksi tersebut memicu ekspektasi bahwa Beijing akan mengambil langkah-langkah tambahan untuk mempercepat pertumbuhan, yang dapat mendongkrak permintaan untuk energi. Sedangkan Rusia, yang merupakan salah satu dari 3 produsen teratas minyak dunia, telah menyatakan mengatakan siap untuk bertemu dengan OPEC dan produsen non-OPEC guna membahas kondisi pasar. Sebuah pertemuan lain antara pejabat Rusia dan Arab Saudi juga dijadwalkan akan berlangsung akhir Oktober, menurut keterangan Menteri Energi Rusia Alexander Novak.

Namun kenaikan harga ’emas hitam’ nampaknya masih terbatasi oleh perang harga yang terjadi di antara beberapa produsen. Pada hari Minggu kemarin Arab Saudi secara tak terduga mengumumkan akan memangkas harga jual minyak mereka. Langkah tersebut diambil menyusul keputusan Iran, Irak dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah lainnya yang menurunkan harga jual resmi minyak mereka hingga di bawah harga minyak dari Arab Saudi pada bulan lalu.

About author

You might also like

Gerak Nilai Harga Bursa Saham Asia Terkoreksi, Iran Kembali Lempakan Isu Tekan Harga Hingga Minyak Kembali

Gerak nilai apresiasi dari mata uang Australia, yang lazim disebut dengan Aussie, dan mata uang Selandia Baru, yang lazim disebut dengan istilah Kiwi, dilaporkan telah bergerak secara melemah. Hal tersebut

Fundamental

Gerak Nilai Harga Minyak Terjerembab Lagi, Won Terkoreksi Karena China

Now Nike Shox has grow to turn jordan 11 72-10 into a new jordans reasonably mature item kind, the engineering of Shox is involving cushioning, jordan 11 72-10 or shock

Fundamental 0 Comments

Kemungkinan Emas Cenderung Flat, Harga Minyak Bisa Menguat Di Pasar

Emas diperdagangkan pada kisaran yang cukup besar baik dipasar berjangka maupun pasar spot. Harga emas diperdagangkan bergerak anjlok selama awal sesi pedagangan pasar kemarin (17/ 06/ 2014), setelah hembusan berita

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image