Saham Berbasis Eksportir Terpelanting, Mata Uang Euro Berbenah

67207_820802597993772_4206871762351445813_nGerak nilai saham Asia membuntuti kinerja bursa Wall Street dengan bergerak variatif pada awal sesi perdagangan pasar hari Jumat (04/ 09/ 2015) ini. Volatilitas pasar meningkat di awal sesi seiring para pelaku pasar yang menantikan laporan Non Farm Payroll (NFP) AS bulan Agustus, yang mungkin akan menjadi faktor penting dalam keputusan kebijakan The Fed selanjutnya. Berdasarkan hasil survey Reuters, laju ekonomi Amerika diperkirakan akan menciptakan 220.000 peluang pekerjaan pada bulan Agustus, setelah menambah 215.000 pekerjaan pada bulan Juli.

Mengawali perdagangan 0,5% lebih tinggi, indeks Nikkei 225 Jepang harus berbalik merosot lebih dari 1% seiring penguatan nilai apresiasi mata uang Jepang, Yen, terhadap USD mengikis order pembelian untuk saham-saham berorientasi ekspor. Indeks Nikkei dilaporkan telah bergerak negatif nilai kontraknya, tercatat telah turun sekitar 6,0% pada kurun waktu sepekan ini. Kondisi tersebut telah menghantarkan pergerakan nilai indeks saham Nikkei225 pada gerak penurunan mingguan dalam minggu ke-4 secara berturut-turut, yang sekaligus merupakan gerak penurunan nilai indeks saham mingguan terburuk sejak April 2014.

Gerak nilai saham Jepang dilaporkan bergerak negatif, tergelincir di tengah sesi perdagangan pasar Asia di hari Jumat (04/ 09/ 2015) ini. Hal tersebut terjadi, karena setelah adanya gerak rebound nilai apresiasi mata uang Yen terhadap mata uang Uni Eropa, Euro dan mata uang USD. Kondisi rebound tersebut tak ayal memukul gerak nilai saham-saham berorientasi ekspor dan komponen kelas berat lainnya.

Tekanan atas gerak nilai saham turut diperkuat oleh sikap kewaspadaan para pelaku pasar menjelang laporan ketenagakerjaan Amerika pada sesi perdagangan pasar Amerika di hari Jumat mala mini. Diperkirakan oleh para pelaku pasar bahwa rilis berita ketenagakerjaan Amerika tersebut, mungkin akan menjadi faktor penentu waktu kenaikan tingkat suku bunga oleh pihak Federal Reserve.

Pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis kemarin, telah dilaporkan bahwa pihak European Central Bank (ECB) telah menujunjukkan sinyal atas kesiapan untuk menyuntikkan stimulus dengan dosis yang lebih besar. Kebijakan tersebut tentunya terespons oleh gerak nilai apresiasi mata uang Euro, menenggelamkan mata uang Euro ke level terendah 5-bulan nilai apresiasi cross nya terhadap mata uang Jepang, Yen.

Sebagian besar nilai saham perusahaan berbasis eksportir telah diperdagangkan dengan lebih rendah. Kondisi tersebut seperti halnya dengan nilai saham Panasonic Corp., yang bergerak anjlok sebanyak 1,5%. Gerak nilai saham perusahaan Toyota Motor Corp. dilaporkan juga telah kehilangan nilai sahamnya sekitar 1,3%. Aksi jual juga menerpa saham-saham perbankan, dimana Mitsubishi UFJ Financial Group dan Sumitomo Mitsui Financial Group terpantau merosot nilai sahamnya masing-masing sebesar 1,4% dan 2,4%. Aksi jual saham-saham kelas berat seperti Softbank dan Fast Retailing, yang masing-masing anjlok 2,8% dan 1%, berkontribusi memberikan tekanan signifikan pada bursa.

Tingkat kenaikan upah riil yang di sesuaikan dengan tingkat inflasi Jepang naik di bulan Juli dari setahun yang lalu. Tingkat kenaikan upah riil Jepang naik untuk pertama kalinya dalam 27 bulan, dan nominal upah naik dari penurunan pada bulan sebelumnya, ditunjukkan dalam data pemerintah pada hari Jumat ini, adalah merupakan sebuah tanda untuk kenaikan secara bertahap pada nilai upah. Nilai upah riil naik sebesar 0.3% di bulan Juli pada tingkat tahunan, ini merupakan kenaikan pertama sejak April 2013.

Data ini seharusnya menjadi berita baik untuk para pembuat kebijakan yang berjuang untuk mempertahankan siklus yang baik dari kenaikan laba perusahaan yang dipimpin oleh kenaikan belanja rumah tangga melalui upah yang lebih tinggi. Total penadapatan upah naik sebesar 0.6% di tahun ini sampai bulan Juli menjadi 367.551 yen ($3,055), setelah turun di bulan Juni, yang saat ini kementerian tenaga kerja menyalahkan beberapa perusahaan yang menunda membayar bonus untuk musim panas.

Sentimen mixed juga mewarnai kondisi perdagangan di pasar saham Korea Selatan. Dilaporkan bahwa gerak nilai indeks KOSPI terpantau turun sebesar 0,9% menyusul tergelincirnya saham-saham unggulan. Saham Samsung Electronics terpangkas hingga sebesar 0,5%, diikuti oleh penurunan 0,3% saham produsen chip SK Hynix. Sedangkan untuk nilai saham LG Display dan Samsung SDI bergerak menguat masing-masing senilai 3,3% dan 2,2%. Di sektor otomotif, saham Hyundai Motor dan Kia Motors sama-sama mencatat pelemahan lebih dari 1%.

Di Hong Kong, gerak nilai pasar saham kembali dibuka setelah menjalani libur pada hari Kamis kemarin. Gerak nilai indeks Hang Seng 33 dilaporkan mengalami kondisi terkoreksi. Indeks Hang Seng 33 dilaporkan mengalami koreksi sekitar 0,4% di awal sesi, dengan perdagangan diperkirakan akan berlangsung tipis seiring masih diliburkannya perdagangan pasar saham China.

Mata uang Uni Eropa, Euro, tampak mulai memulihkan diri pada awal sesi perdagangan pasar di hari Jumat (04/ 09/ 2015) ini. Hal ini terjadi setelah pihak European Central Bank ECB berikan penilaian serius terhadap ekonomi zona Eropa dan menunjukkan bahwa mereka mungkin siap untuk program stimulus yang lebih masif.

Mata uang Euro tergelincir ke level $1.1087 US, dari level di atas $1.1200 US semalam terhadap USD. Nilai apresiasi mata uang Euro saat ini telah bergerak di kisaran $1.1127 US. Nilai apresiasi mata uang Euro terhadap mata uang Jepang, Yen, telah dilaporkan tergelincir ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan di 133.13 sebelum kembali ke level 133.63.

Telah dilaporkan pula bahwa, puluhan petani dari bagian barat Perancis mengendarai traktor mereka di jalan raya A10, di luar Paris, perancis pada hari Kamis (03/ 09/ 2015) kemarin.  Ratusan traktor tersebut bergerak menuju kota Paris untuk mengikuti aksi protes memohon bantuan tambahan dengan adanya harga rendah dan biaya tinggi di negara penghasil pertanian terbesar Uni Eropa tersebut.

Lebih dari 1.000 traktor milik para petani berdatangan ke jalanan di ibukota Paris, Prancis. Aksi ini dilakukan para petani untuk memprotes merosotnya harga pangan. Seperti yang telah dilansir oleh AFP, pada hari Kamis (03/ 09/ 2015) kemarin, bahwa beberapa traktor mulai tiba di Place de la Nation, wilayah timur Paris pada jam-jam sibuk pagi hari ini. Warga Paris dihimbau untuk tidak menggunakan mobil pribadi, mengingat lalu lintas berpotensi lebih padat dari biasanya.

Dengan mengendarai traktor mereka, para petani datang dari segala penjuru Prancis secara perlahan. Aksi ini didasari kemarahan atas merosotnya harga pangan yang menurut mereka, disebabkan oleh kompetisi dengan produk asing, adanya sanksi Rusia, dan kesepakatan dari supermarket maupun distributor lokal.

Dibutuhkan waktu seminggu bagi para petani dari pinggiran Prancis ini untuk tiba di Paris. Mereka melaju dari wilayah masing-masing dengan kecepatan 35 kilometer per jam. Traktor pertama tiba dari wilayah Brittany, yang ada di barat laut negara tersebut, yang banyak memproduksi susu dan daging babi.

Serikat petani terkemuka di Prancis, FNSEA menyatakan akan ada 1.733 traktor dan juga puluhan mobil maupun bus yang ikut aksi ini. Kepolisian setempat menyebutkan, ada lebih dari 1.300 traktor yang saat ini tengah mendekati Paris. Untungnya, banyak warga yang mematuhi imbauan polisi dan memilih menggunakan transportasi publik pada Kamis pagi waktu setempat. “Tidak ada banyak kemacetan yang disebabkan demonstran. Hanya terbatas,” tutur juru bicara pusat informasi lalu lintas Paris.

Kombinasi berbagai faktor, mulai dari kebiasaan diet konsumen, lesunya permintaan China dan embargo Rusia terhadap produk-produk Barat telah mendorong penurunan tajam harga pangan seperti daging sapi, daging babi dan susu. Delegasi sekitar 100 petani telah mendatangi kantor Parlemen Prancis pada Kamis (3/9) waktu setempat untuk menyampaikan tuntutan mereka. “Menyampaikan tuntutan dan keluhan dari dunia pertanian dan pedesaan yang berada di ambang kehancuran dan mengharapkan banyak hal dari perwakilan nasional,” demikian pernyataan pihak Serikat Petani Prancis, FNSEA.

Buruknya data-data ekonomi domestik dan luar negeri membuat mata uang Australia yang lazim disebut dengan Aussie, bergerak melemah nilai apresiasinya di sepanjang pekan ini. Kondisi tersebut terjadi dan berpotensi mencatat penurunan dalam empat pekan beruntun. Mata uang komoditas ini mendapat sentimen negatif sejak awal pekan setelah China yang melaporkan penurunan aktivitas manufaktur.

Nilai apresiasi mata uang Aussie sangat sensitif dengan data dari China. Negara China adalah yang merupakan mitra dagang yang terbesar dari negara Australia. Nilai apresiasi mata uang AUD/ USD pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis kemarin, dilaporkan telah berakhir di level 0.7062, dengan level terendah harian 0.6992, dan tertinggi 0.7062.

Sentimen negatif dalam dua hari terakhir datang dari data-data domestik. Pada hari Rabu lalu, pihak terkait dari Biro Statistik Australia telah melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua sebesar 0,2%, dari kuartal pertama yang tumbuh 0,9%. Kondisi tersebut lebih rendah dari estimasi para pelaku pasar sebelumnya yaitu sebesar 0,4%. Sementara pada hari Kamis kemarin telah dilaporkan bahwa angka penjualan ritel turun sebesar 0,1% di bulan Juli, mematahkan estimasi kenaikan 0,4% oleh para pelaku pasar.

Nilai apresiasi mata uang Aussie terhadap mata uang USD saat ini berada di level terendah dalam kurun waktu enam tahun. Hal ini oleh pihak Reserve Bank of Australia (RBA) disebutkan adalah karena sedang menyesuaikan dengan penurunan harga komoditas. Pernyataan tersebut telah dilontarkan pada rapat moneter pada hari Selasa lalu, dan sama dengan pernyataan pada rapat moneter bulan Agustus.

Aussie diperkirakan akan terus melanjutkan pelemahan hingga tahun depan akibat penurunan harga komoditas, pelambatan ekonomi China, serta pertumbuhan sektor non-pertambangan Australia yang belum mampu mengimbangi penurunan sektor pertambangan. Mengutip media The Sydney Morning Herald, Shane Oliver, Kepala Ekonom AMP Ltd., memperkirakan bahwa nilai apresiasi mata uang Aussie akan menyentuh kisaran level $0.60 di akhir tahun 2016. Perkiraan akan penurunan gerak nilai apresiasi Aussie lebih jauh dilontarkan oleh Adam Boyton, yang merupakan Kepala Ekonom Deutsche Bank. Adam Boyton juga telah memperkirakan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Aussie akan menyentuh $0.60 di akhir 20116, dan bahkan dapat melanjutkan pelemahan ke kisaran level $0.50.

Para pelaku pasar mungkin tidak akan mengambil banyak tindakan menjelang data Non Farm Payroll (NFP) yang akan dirilis pada malam nanti dengan tidak ada dorongan dari pasar China yang masih ditutup untuk hari libur. Hasil data NFP yang solid akan meningkatkan kemungkinan untuk kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada bulan ini. Sebaliknya, angka yang lemah dapat merubah pandangan untuk kenaikan suku bunga di bulan ini. Hasil survei pasar menunjukkan kenaikan sebesar 220.0000 pekerja pada bulan Agustus, dari bulan sebelumnya yang menunjukkan kenaikan sebesar 215.000 pekerja.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Yen Melambung Jelang Referendum Crimea

Yen diperdagangkan menguat empat hari beruntun, menuju penguatan mingguan terbesar dalam tujuh pekan terakhir. Peningkatan ketegangan di Crimea membuat yen banyak diminati investor sebagai safe haven. Crimea akan mengadakan referendum

Komoditas 0 Comments

Greenback Tampak Masih Tekan Major Currencies, Pasar Perhatikan Rilis Laporan Ekonomi Amerika Mendatang

Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang USD tampak masih mempertahankan gerak penguatannya terhadap major currencies pada sesi perdagangan pasar di hari Senin. Gerak nilai apresiasi Greenback dilaporkan telah sempat

Berita 0 Comments

Mata Uang Yen dan Euro Jadi Alternatif Save Haven, Laju Ekonomi Korea Selatan Tertekan

Gerak nilai apresiasi mata uang negara Kanada, yaitu Canadian Dollar, atau yang lazim disebut dengan istilah Loonie, dilaporkan telah terkoreksi dan bergerak melemah. Gerak nilai apresiasi Loonie terhadap Greenback bergerak

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image