USD Dominasi Kembali Pasar, Major Terkendala Dilema Kendala Masing – Masing

USD Dominasi Kembali Pasar, Major Terkendala Dilema Kendala Masing – Masing

Indeks USD kemarin menguat ke level 82.93, sebelum data dirilis indeks USD berada dikisaran 82.78. Departemen Tenaga Kerja Amerika kemarin baru saja merilis jobless claim. Data tersebut dilaporkan bahwa penagngguran merosot sebesar 24.000 menjadi 334.000 untuk pekan yang berakhir pada 13 Juli lalu. Perkiraan para ekonom adalah, bahwa klaim pengangguran akan turun menjadi 345.000. Rilis data tersebut kembali mengencangkan spekulasi pengurangan Federal Reserve akan segera mengurangi stimulus, dan mengokohkan USD terhadap mata uang utama. Data menunjukkan klaim awal pengangguran/ jobless claim Amerika yang dirilis hari Kamis anjlok pada pekan lalu, serta peningkatan aktivitas pabrik bulan Juli di area mid-Atlantic. Sementara dalam testimoni 2 hari di depankongres, Ketua Fed Ben Bernanke menegaskan bahwa bank sentral masih berharap dapat memperlambat laju pembelian obligasi pada akhir tahun ini. “Kami masih bullish terhadap USD meskipun The Fed cederung memberikan sinyal yang mixed. Pengurangan stimulus Fed akan sangat tergantung pada data. Jika data pekerjaan bulan depan menunjukkan angka yang baik, maka kita bisa mengharapkan tapering pada bulan September. Jika tidak, ekspektasi tapering akan kembali mundur menjadi bulan Desember. Ketidakpastian ini seharusnya menjaga USD tetap rangebound,” demikian pendapat yang dikatakan oleh Peter Kinsella, analis mata uang Commerzbank.

Mata uang euro terus merosot dan saat ini diperdagangkan dikisaran level harga 1.3082. Mata uang USD menguat apresiasinya terhadap mata uang euro untuk hari ke-2 berturut-turut. Hal tersebut adalah dikarenakan ekspektasi pasar, bahwa membaiknya data ekonomi Amerika akan mendukung rencana The Fed untuk segera mengurangi kebijakan moneter ultra-longgar. Dari eropa baru saja dilaporkan bahwa, Presiden Italia, Giorgio Napolitano, memperingatkan politikus untuk tidak membahayakan koalisi pemerintah yang baru terbentuk 3 bulan lalu. Napolitano tegaskan stabilitas pemerintah tidak boleh dipertanyakan di tengah merebaknya masalah hukum dan skandal yang membelit partai PDL. “Efek buruk akan segera terlihat di hubungan internasional dan pasar keuangan; ini akan sulit untuk dipulihkan,” tutur Napolitano. Koalisi pemerintahan Perdana Menteri Enrico Letta cukup rapuh seiring meningkatnya gejolak antar partai pendukung pemerintah. Voting mosi tidak percaya hari ini terhadap Menteri Dalam Negeri Angelino Alfano akan menjadi ujian koalisi pemerintahan yang pertama. Alfano merupakan Sekretaris Jenderal PDL, partai pendukung pemerintah, yang tengah dililit skandal paska deportasi miliuner Kazakhstan Mukhtar Ablyazov. Letta telah tegaskan akan mendukung Alfano namun sekelompok anggota parlemen dari partai Demokrat tidak setuju dengan kepemimpinan Alfano. Ada kekhawatiran jika Alfano dipaksa untuk mengundurkan diri maka ini akan meruntuhkan koalisi pemerintahan. Koalisi juga harus menghadapi masalah hukum Silvio Berlusconi, pimpinan partai PDL, yang akan diputuskan pada 30 Juli mendatang dimana pengadilan akan mengambil keputusan apakah akan memenjarakan Berlusconi selama 4 tahun dan melarang Berlusconi dari jabatan publik selama 5 tahun. Mata uang poundsterling yang sebelumnya menguat terhadap USD setelah data retails sales Inggris dirilis, saat ini diperdagangkan melemah di kisaran level harga 1.5191. Sterling beranjak naik terhadap USD setelah data menunjukkan kenaikan penjualan ritel bulan Juni yang lebih besar dari perkiraan, yang menambah tanda-tanda pemulihan ekonomi Inggris. Data pekerjaan Inggris yang dirilis hari sebelumnya juga mampu melampaui ekspektasi. Namun para analis yakin jika Sterling masih akan melemah versus USD dalam jangka panjang, dengan membaiknya data Inggris serta keraguan atas sikap kebijakan BoE dan durasi program stimulus The Fed menjaga sterling dari kejatuhan yang dramatis. “Kendati kinerja ekonomi Inggris pada kuartal ke-2 cukup baik, sejumlah ketidakpastian masih membayangi. Kita tidak sedang berada pada titik dimana setiap data buruk akan mendorong pelonggaran kuantitatif lebih lanjut,” kata Simon Smith, kepala ekonom pada FxPro com.

Dari benua Australia dilaporkan, bahwa mata uang AUD diperdagangkan dikisaran level harga 0.9159, setelah merespons hasil rilis data Amerika kemarin. Mata uang AUD menyelesaikan kenaikan pertama kalinya sejak pertengahan Juni sebelum laporan inflasi pekan depan yang mungkin dapat mempengaruhi keputusan tingkat suku bunga Reserve Bank di bulan Agustus. Yield obligasi Australia jangka panjang turun untuk pekan ini setelah ketua Federal Reserve Ben S. Bernanke isyaratkan untuk tidak akhiri stimulus moneter Amerika dalam jangka pendek. Mata uang Selandia Baru kembali meraih penguatan mingguan setelah Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan bahwa negaranya akan mencari cara untuk pertahankan pertumbuhan ekonomi sampai dengan batasnya dan ingin hindari “inflasi yang tinggi”. “Ketakutan atas masalah pengurangan QE dan cerita dari pertumbuhan China, keduanya telah membuat sedikit dorongan kepada Aussie. Jika data inflasi Australia “hasilnya sangat lemah, kemungkinan penurunan suku bunga meningkat cukup drastis, dan jika hasilnya baik maka RBA dapat menunggu sedikit lebih lama untuk masalah suku bunga,” kata Darryl Conroy, seorang analis di Suncorp Bank di Brisbane. Dari negeri sakura, Jepang, mata uang yen telah berada pada kisaran level harga 100.288, setelah rilis data Amerika kemarin. Mata uang Negara Jepang, yen, menuju penurunan mingguan terhadap semua mata uang utama. Hal ini merupakan reaksi pasar, sebelum pemilihan yang mungkin akan berikan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mandat untuk mengejar kebijakan yang telah membantu mendorong mata uang turun sebesar 14 % pada tahun ini. Kemenangan pada pemilihan tanggal 21 Juli telah berikan koalisi Abe kontrol di kedua dewan parlemen, memperkuat kemampuannya untuk melakasanakan tiga rencana dari pelonggaran moneter, stimulus moneter dan deregulasi yang dikenal dengan nama Abenomics. Mata uang USD pertahankan penguatan untuk hari kedua terhadap euro menjelang data Amerika pekan depan yang mungkin akan tunjukan sinyal perbaikan dalam pasar perumahan, menambahkan kemungkinan Federal Reserve untuk perlambat pelonggaran moneter. “Tiga anak panah dari Abenomics telah jelas dapatkan daya tarik dalam popularitas, dan salah satu anak panahnya adalah pelonggaran moneter yang berkontribusi dalam melemahkan yen. Hasil yang positif dari Abe akan membantu dia mendorong pelonggaran lebih lanjut yang berlawanan dengan kuatnya ekonomi Amerika dan pengurangan stimulus moneter,” demikian apa kata Greg Gibbs, analis senior mata uang di Royal Bank of Scotland Group Plc di Singapore.

About author

You might also like

Umum 0 Comments

Kemungkinan Emas Cenderung Flat, Harga Minyak Bisa Menguat Di Pasar

Emas diperdagangkan pada kisaran yang cukup besar baik dipasar berjangka maupun pasar spot. Harga emas diperdagangkan bergerak anjlok selama awal sesi pedagangan pasar kemarin (17/ 06/ 2014), setelah hembusan berita

Forex News 0 Comments

Apresiasi AUD/ USD Jelang NFP Berinteraksi Melemah, Pasar Cenderung Lepas Yen

Mata uang USD menguat ke level tertinggi 6-minggu di atas 100 per yen pada hari Kamis kemarin. Hal ini dipicu spekulasi bahwa tanda-tanda perbaikan ekonomi Amerika akan memaksa Federal Reserve

Berita 0 Comments

Aussie Waspadai Kondisi Perekonomian Australia

Aussie melemah setelah publikasi data penjualan ritel dan neraca perdagangan Australia isyaratkan masih rapuhnya momentum pertumbuhan ekonomi negeri Kangguru tersebut. Penjualan ritel Australia hanya mencatatkan kenaikan 0,2% untuk bulan Februari;

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image