USD Menemukan Momentumnya Kembali, Kondisi China Masih Hantui Australia

USD Menemukan Momentumnya Kembali, Kondisi China Masih Hantui Australia

Pada perdagangan hari Selasa (09/ 07/ 2013) kemarin, mata uang USD kembali menemukan momentum pendukung daya penguatan harga jualnya. USD kembali menyentuh level harga tertinggi dalam 3 tahun terakhir, setelah sempat turun pada hari Senin Indeks USD kemarin naik 0.47% menjadi 84.619, lebih tinggi dari level 84.44 yang dicapai pada hari Jumat ketika meraih level tertinggi untuk pertama kalinya dalam 3 tahun terakhir. Penguatan mata uang USD tidak lepas dari anjloknya mata uang sterling dan mata uang euro.

Mata uang sterling anjlok setelah dirilisnya data output pabrik untuk per bulan Mei yang merosot 0.8% dari bulan sebelumnya setelah mencatat penurunan 0,2% pada bulan April. Kenyataan ini tidak sesuai dengan prediksi pasar, yang mana perkiraan para ekonom output pabrik akan meningkat 0.4% . Selain itu data defisit perdagangan juga dirilis negatif, defisit perdagangan pada bulan Mei bertambah menjadi 8.5 miliar pounds sementara bulan sebelumnya 8.4 miliar pounds. Serangkaian data tersebut membuat sterling anjlok menyentuh level terendah dalam 3 tahun terakhir. Bersama dengan data perdagangan yang juga lemah, angka tersebut meningkatkan resiko ekspansi pembelian aset oleh Bank of England dalam beberapa bulan mendatang. “Data tersebut telah menjatuhkan Sterling,” kata Lee McDarby, kepala dealing treasury untuk korporasi pada Investec Bank Plc di London. “Setelah beberapa data ekonomi yang cukup solid sebelumnya, angka negatif ini telah mendatangkan pukulan bagi Sterling. Dan itu menjadi pertanda yang kurang baik.” Sementara dari zona eropa dilaporkan, mata uang euro merosot setelah Standard & Poor’s memangkas rating kredit Italia menjadi ‘BBB’ dari sebelumnya ‘BBB+’. Mata uang euro juga tertekan oleh komentar pembuat kebijakan ECB, Joerg Asmussen. Asmussen berpandangan jika suku bunga masih akan tetap rendah untuk jangka waktu lebih dari 12 bulan ke depan. Sebelumnya Euro sempat terapresiasi menyusul keberhasilan negara Yunani mengamankan bailout tahap berikutnya, yang menghindarkan negara dari ancaman default pada bulan Agustus. Euro menyentuh level terendah sejak awal April kemarin. “Prospek kebijakan moneter akomodatif yang akan dijalankan ECB selama lebih dari setahun kontras dengan ekspektasi pengurangan kebijakan stimulus The Fed yang mungkin akan dilakukan pada bulan September. Hal itulah yang melukai mata uang euro,” kata Omer Esiner, kepala analis pasar pada Commonwealth Foreign Exchange di Washington D.C. Dari benua Australia dilaporkan bahwa mata uang AUD melemah, setelah kembali merebaknya kekhawatiran atas berlanjutnya perlambatan ekonomi negara China. Perlu diketahui, bahwa negara China merupakan mitra dagang utama Australia. Meskipun surplus neraca perdagangan negara China meningkat, namun rincian data yang menunjukan lemahnya aktivitas ekspor dan impor menegaskan kekhawatiran akan berlanjutnya perlambatan ekonomi negara China. Surplus neraca perdagangan naik menjadi $27,1 miliar untuk bulan Juni; lebih baik dari estimasi $27 miliar dan publikasi sebelumnya $20,4 miliar. Nilai ekspor negara China turun sebanyak 3,1%; lebih buruk dari prediksi kenaikan 4% dan publikasi sebelumnya yang meningkat 1%. Impor negara China turun sebanyak 0,7%; lebih rendah dari estimasi kenaikan 8% dan publikasi sebelumnya yang turun 0,3%. AUD/ USD kini diperdagangkan 0.9141; menjauhi level tertinggi harian 0.9186.

Negara Australia memang sangat sensitif terhadap situasi perekonomian negara China. Hal tersebut adalah karena perlambatan ekonomi negara China dapat berdampak negatif terhadap outlook eskpor Australia. Dengan kondisi ekonomi negara China yang melambat dan rapuhnya pertumbuhan Australia maka investor akan semakin cemas dengan potensi pemangkasan suku bunga RBA lebih lanjut. RBA telah isyaratkan kesiapan untuk menurunkan suku bunga jika ekonomi Australia membutuhkannya. Para pelaku pasar kini menaruh perhatiannya pada notulen rapat FMOC dan pernyataan dari Chairman the Fed, Ben Bernanke, tentang outlook ekonomi Amerika pada hari Kamis dini hari waktu Indonesia. Investor akan mencari petunjuk tentang kapan pemangkasan stimulus akan dilaksanakan, jika pemangkasan segera dilakukan maka dollar akan semakin kokoh.

About author

You might also like

Komoditas 0 Comments

Banyak Instrumen Pasar Terkoreksi, Sesi Pasar Asia Sepi

Dilaporkan bahwa indeks saham Jepang, Nikkei225, nilainya bergerak menguat untuk pertama kalinya sejak empat hari pada sesi perdagangan pasar Asia hari Kamis (03/ 09/ 2014) ini. Hal tersebut terjadi seiring

Pengaruh Besar Isu Geopolitik Warnai Pergerakan Bursa Dunia

Untuk kali pertama tahun ini, isu geopolitik berpengaruh sangat besar terhadap peta pergerakan harga produk keuangan dunia. Mulai dari saham sampai komoditi, prospeknya sangat tergantung pada kepastian perang antara kubu

Komoditas 0 Comments

Pasar Nantikan Theresa May, Pasar Antisipasi Pelantikan Trump

Gerak nilai apresiasi mata uang USD/ JPY dilaporkan telah diperdagangkan melemah turun pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Selasa. Hal tersebut terjadi seiring meningkatnya permintaan untuk mata uang safe

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image