USD Menguat Di Akhir Pekan Atas Major Currencies, Meski Yen Tak Bergeming

0a0a_0a0_0002_12651_0a0aaa01_00110504_02765427a_nDilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang dengan berbasis pada gerak nilai harga komoditas telah mendapakan tekanan yang kuat. Hal tersebut terjadi, setelah dirilisnya laporan inflasi Amerika untuk bulan Januari.

Laporan angka inflasi Amerika untuk bulan Januari tersebut telah dirilis dengan hasil yang ternyata lebih baik dari ekspektasi para pelaku pasar. Gerak nilai apresiasi Greenback terhadap major currencies tampak mendominasi.

Greenback menguat gerak nilai apresiasinya terhadap major currencies setelah tingkat inflasi bulan Januari Amerika dilaporkan bertumbuh dengan laju yang lebih baik dari ekspektasi para analis. Kenaikan angka inflasi ini menjadi berita baik bagi gerak nilai apresiasi mata uang USD yang masih mencari petunjuk arah kebijakan moneter Federal Reserve selanjutnya.

Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Australia, yang lazim disebut dengan istilah Aussie, dan mata uang New Zealand, yang lazim disebut dengan istilah Kiwi, tampak melemah terhadap mata uang USD lebih dari 1%. Hal yang sama juga terjadi atas gerak nilai apresiasi mata uang Kanada, yang lazim disebut dengan istilah Loonie, dengan bergerak melemah sekitar 0,8%. Pelemahan gerak nilai harga komoditas minyak mentah telah lebih dahulu membebani gerak nilai apresiasi dari Aussie, Kiwi, dan Loonie terhadap Greenback.

Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Aussie telah mencatatkan kerugian terbesar sebagai dampak dari pernyataan dari anggota dewan Reserve Bank of Australia (RBA). Telah dilaporkan bahwa pihak berwenang RBA menilai valuasi Aussie yang masih tinggi.

Hasil laporan inflasi bulan Januari dari Kanada yang memuaskan pun, ternyata masih belum mampu untuk bisa membendung dampak negatif dari penguatan gerak nilai apresiasi mata uang USD. Pelemahan gerak nilai harga komoditas minyak mentah cukup kuat menekan gerak nilai apresiasi Loonie.

Gerak nilai harga komoditas minyak mentah yang sudah tertekan dengan laporan suplai minyak mentah Amerika, semakin tertekan oleh gerak penguatan nilai apresiasi mata uang USD. Stock minyak Amerika dilaporkan telah mencapai rekor tertinggi dari produksi selama ini.

Gerak penguatan nilai apresiasi mata uang USD cenderung menekan perdagangan komoditas yang berdenominasi dengan Greenback. Komoditas-komoditas tersebut seperti minyak mentah dan emas. Hal tersebut terjadi, karena akan dinilai menjadi lebih mahal bagi pembeli pemegang mata uang lain.

Gerak nilai harga di bursa saham Jepang dilaporkan bergerak melemah. Kondisi tersebut terjadi, setelah membukukan kenaikan mingguan terbesar dalam enam tahun. Hal tersebut terjadi, karena gerak nilai harga saham dari perusahaan di sektor perbankan dan komoditas bergerak melemah, melorot di tengah penguatan gerak nilai apresiasi mata uang Yen.

Gerak nilai harga indeks saham Nikkei 225 dilaporkan telah bergerak melemah sekitar 0.6% menjadi 15.920, dan gerak nilai apresiasi mata uang Yen diperdagangkan di kisaran level 112.65. Angka tersebut berada di dekat level terkuat dalam kurun waktu sepekan.

Gerak nilai apresiasi Greenback terhadap mata uang Yen tampak terkoreksi melemah. Hal tersebut terjadi, walaupun hasil rilis data pada sesi perdagangan pasar di hari Jumat minggu lalu telah menunjukkan bahwa nilai harga konsumen di Amerika selama periode Januari naik hampir ke level tertinggi dalam empat tahun.

Kepala analis sekuritas di Okasan Securities Co di Tokyo mengatakan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Yen yang berada di level 112 impilkasikan penuruna single digit di dalam laba perusahaan. Mungkin saja bursa saham Jepang tidak akan dapatkan dukungan pada hari ini.

Dia juga menambahkan bahwa suku bunga Amerika di masa depang menunjukkan ada peluang untuk lebih tinggi. Meski demikian, namun meskipun begitu ada perbedaan nilai imbal hasil, gerak nilai apresiasi mata uang Yen tidak akan melemah saat ini karena sulit untuk para pelaku pasar mengambil resiko.

Gerak nilai harga komoditas minyak dilaporkan bergerak menguat di sesi perdagangan pasar Asia pada hari Senin ini, dengan nilai kontrak bulan selanjutnya naik setelah penurunan aktivitas pengeboran di Amerika pada pekan lalu. Pada sesi prdagangan pasar pada hari Jumat lalu, gerak nilai harga komoditas minyak terkoreksi kuat bergerak turun tajam.

Kondisi tersebut terjadi, karena para pelaku pasar fokus pada melimpahnya suplai global. Selain itu, para pelaku pasar juga berada di tengah keraguan atas kemungkinan pemangkasan kolektif yang akan terjadi dalam waktu dekat.

Dilaporkan di New York Mercantile Exchange bahwa, gerak nilai harga komoditas minyak mentah untuk kontrak bulan Maret menguat sekitar 0.90% menjadi $32.29 US/ barel. Pada sesi predaganga pasar di hari Jumat lalu, lembaga konsultan Baker Hughes mengatakan bahwa jumlah rig aktif di Amerika turun sebanyak 26 menjadi 413 dalam periode pekan yang berakhir 19 Februari.

About author

You might also like

Komoditas 0 Comments

Minyak Bertahan di Atas $98 Jelang Data Persediaan

Minyak diperdagangkan pada level tertinggi dalam enam pekan terakhir, diatas level $98 per barel, jelang data persediaan minyak AS dirilis oleh EIA hari ini. American Petroleum Institute kemarin merilis data

Greenback kembali Tekan Sterling, Minyak Merangkak Naik

Dilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang Poundsterling, kembali mengalami tekanan dari Greenback. Gerak nilai apresiasi mata uang GBP/ USD tengah mengalami tekanan di pasar Asia, dengan berada di kisaran

CFD News 0 Comments

Pasar Waspada Jelang FOMC, China Masih Beresiko Global

Pada sesi perdagangan pasar di hari Selasa (15/ 09/ 2015) ini, gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, yaitu matauang Yen, dilaporkan bergerak positif. Gerak nilai apresiasi mata uang Yen menguat

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image