Valuta Major Diprediksi Masih Bisa Tekan USD, Suriah Masih Akan Disuplay Senjata Oleh Rusia

Valuta Major Diprediksi Masih Bisa Tekan USD, Suriah Masih Akan Disuplay Senjata Oleh Rusia

401963_519236668141261_787532945_n

Mata uang USD terlempar dari level puncak 7-pekan terhadap euro pada sesi pasar mingu lalu. Hal tersebut terjadi setelah data krusial ketenagakerjaan Amerika mengecewakan para pelaku pasar. Rilis laporan NFP Amerika minggu lalu untuk bulan Agustus hanya menunjukkan pertumbuhan di bawah ekspektasi, dengan tingkat pengangguran turun ke level terendah 4½-tahun seiring berkurangnya pencari kerja. Hal ini dapat menunda rencana Fed untuk mengurangi stimulus moneter dalam pertemuan kebijakan 17-18 September mendatang.

Eskalasi kecemasan terhadap konflik Suriah juga membuat mata uang USD kembali berada di bawah tekanan kuat Swiss Franc dan yen. “Meskipun tingkat pengangguran berkurang, revisi turun data NFP bulan-bulan sebelumnya yang mencapai total 74.000 telah menekan imbal hasil treasury dan USD. Namun revisi turun itu terjadi setelah beberapa bulan revisi naik. Jadi secara keseluruhan, saya pikir tren pasar tenaga kerja masih cenderung menunjukkan perbaikan. Kami di BNP Paribas tetap percaya jika Federal Reserve akan melakukan tapering pada bulan Desember.

Laporan hari ini (Jumat lalu) masih konsisten dengan proyeksi kami,” demikian kata Kiran Kowshik, analis mata uang BNP Paribas di New York. Mata uang yen melemah di awal sesi Asia setelah Tokyo terpilih sebagai tuan rumah untuk Olimpiade 2020. Apresiasi USD/ JPY menyentuh level psikologis 100. Para pelaku pasar yakin kemenangan Tokyo dapat menjaga momentum pemulihan ekonomi negara Jepang. Komite Olimpiade Tokyo memprediksi Olimpiade dapat menciptakan 150.000 pekerjaan dan memberikan ekonomi dorongan senilai 30 miliar USD. Tokyo berhasil mengalahkan Madrid dan Istanbul dalam kontes tuan rumah Olimpiade. Meski demikian, aksi profit-taking terlihat membebani keberlanjutan pelemahan mata uang yen. Para pelaku pasar juga terlihat masih khawatir dengan situasi Suriah setelah Presiden Rusia mengatakan akan tetap melanjutkan penjualan senjata kepada Suriah meskipun ada serangan militer. Keraguan para pelaku pasar atas potensi pengurangan pemberian stimulus moneter Federal Reserve juga membuat para pelaku pasar enggan mendorong pelemahan yen lebih lanjut. Publikasi data non-farm payrolls Amerika yang tidak setinggi prediksi analis membuat para pelaku pasar ragu apakah Fed akan mulai kurangi stimulus pada pertemuan September. Namun, komentar terakhir dari Fed’s George dan Fed’s Evans isyaratkan potensi pengurangan stimulus pada pertemuan minggu depan masih mungkin terjadi. Apresiasi AUD/ USD naik tipis 0,03% menjadi 0,9194. Apresiasi cenderung mencari dukungan di 0,9115 pada perdagangan di hari Jumat dan terjadi hambatan tertinggi di 0,9232 sejak 19 Agustus, Aussie naik 3,11% pada sesi pasar minggu lalu. Aussie juga diperdagangkan lebih tinggi setelah China manyatakan ekspor pada bulan Agustus naik 7,2% dari 5,2% dari bulan Juli dan mengalahkan ekspektasi sebesar 5,5%, untuk impor naik sebesar 7%. Surplus China di bulan Agustus meningkat menjadi 28,6 miliar USD, dari sebelumnya sebesar 17,8 miliar USD. Peminpin partai Konservative, Tony Abbot, memimpin sementara perolehan suara dibanding PM sekarang, Kevin Rudd, untuk menjadi PM Australia yang baru. Meskipun hasil akhir belum selesai dihitung, tetapi secara matematis sungguh tak mungkin Rudd untuk memenangkannya kembali. Beberapa media menginginkan Abbot menjadi Ronald Reagan di Australia. Ronald Reagan memimpin Amerika di era 1980 - 1988, yang pada waktu itu membuat pasar saham Amerika mempunyai era atau trend yang positif dimana hal ini belum pernah terjadi pada sejarah Amerika. Dalam pidatonya, Abbott mengatakan akan membentuk pemerintah yang kompeten, dapat dipercaya dan dengan sabar mengatur dalam memberikan komitmen. Apresiasi cross AUD/ JPY naik 0,55% menjadi 91,61 sementara cross AUD/ NZD naik 0,40% menjadi 1,1526.

Dari Inggris dirilis review pada hari Sabtu lalu, bahwa sterling terapresiasi ke level tertinggi 2-minggu terhadap USD. Hal ini terjadi setelah data ketenagakerjaan Amerika bulan Agustus meredam ekspektasi tapering olehThe Feds. Sebelumnya, mata uang sterling sempat berada di bawah tekanan ketika data menunjukkan output industri Inggris merosot jauh di bawah perkiraan dan deficit perdagangan melebar tajam pada bulan Juli. Data negatif itu sekaligus menghentikan konsistensi data-data ekonomi Inggris yang terus menunjukkan penguatan baru-baru ini, yang telah memicu spekulasi kenaikan suku bunga lebih cepat. “Sterling diuntungkan oleh tindakan para Para pelaku pasar yang memangkas posisi long Dollar pasca data NFP. Saya melihat potensi kenaikan Sterling lebih lanjut masih terjaga, mengingat fundamental Inggris yang relatif masih positif akhir-akhir ini,” kata Neil Jones, kepala penjualan hedge fund Eropa pada Mizuho Bank Ltd. di London.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Euro Merespon Negatif Data PMI Italia

Euro kembali merosot di bawah $1.34 pada hari Selasa menyusul rilis data sektor jasa Italia yang lebih lemah dari harapan. Kendati data PMI dari negara Eropa lainnya mampu memenuhi ekspektasi

Forex News 0 Comments

Suku Bunga Amerika Dinaikkan The Fed, BoJ Tampak Akan Bertahan

Telah dilaporkan bahwa, gerak nilai apresiasi mata uang USD bergerak positif, menguat terhadap mata uang Eurogroup, yaitu mata uang Euro. Gerak penguatan nilai apresiasi Greenback juga turut berdampak pada nilai

Emas Sempat Koreksi Kemarin, Pasar Tunggu Data Hari Ini

Pada sesi pasar hari Selasa (23/ 09/ 2014) ini, harga emas diperdagangkan lebih rendah menjelang dirilisnya data PMI Manufaktur Tiongkok pada pagi tadi. Selama berlangsungnya perdagangan di sesi Asia, emas

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image