Wall Street Terkapar Pada Akhir Sesi Perdagangan Pasar Minggu Lalu, Pasar Global Terimbas Minyak

11130170_821796094561089_8992787554848835043_nLoonie, sebutan lazim bagi mata uang Dollar Kanada, dilaporkan telah bergerak melemah, anjlok ke kisaran C$1.40 US gerak nilai apresiasinya terhadap mata uang USD. Kondisi tersebut terjadi untuk pertama kalinya sejak 2004 pada sesi perdagangan hari Jumat lalu, setelah adanya rilis data ekonomi yang meleset dari perkiraan.

Hal tersebut tentunya memicu spekulasi dari para pelaku pasar, bahwa Bank of Canada (BoC) mungkin harus berbuat lebih banyak guna mendorong pertumbuhan. Kejatuhan gerak nilai harga minyak mentah, yang merupakan komoditas ekspor terbesar Kanada, juga turut memperkuat tekanan pada bank sentral untuk kembali untuk mengambil langkah menurunkan suku bunga pada pertemuan bulan Januari setelah melakukan 2 pemangkasan tahun ini.

Loonie dilaporkan telah diperdagangkan melemah terhadap sebagian besar major currencies. Hal tersebut terjadi, setelah data perdagangan grosir secara mengejutkan mencatat kontraksi 0,6% pada bulan Oktober. Angka tersebut lebih dalam dari penurunan 0,3% pada bulan sebelumnya. Sementara harga konsumen inti bulan November tumbuh lebih lambat dari prediksi para ekonom. Core CPI, yang tidak mencakup 8 produk volatile, dilaporkan melambat 0,3% setelah tumbuh 0,3% pada bulan Oktober.

Gerak nilai apresiasi mata uang Inggris, yaitu mata uang Poundsterling, dilaporkan bergerak merangkak naik dari titik rendah 8-bulan terhadap Greenback yang melemah di sesi perdagangan pasar Amerika hari Jumat minggu lalu. Meski demikian, namun gerak nilai apresiasi mata uang Inggris tersebut masih dalam jalur pelemahan mingguan terburuknya dalam 7 minggu terakhir, seiring ekspektasi para pelaku pasar bahwa pihak berwenang dari BoE belum terburu-buru mengikuti langkah dari The Fed yang telah menaikkan suku bunga acuan.

Ketika The Fed menaikkan suku bunga acuannya pada hari Kamis dini hari minggu lalu, kemarin sebesar 25 basis point dan memberikan isyarat. Isyarat tersebut menyampaikan bahwa, di tahun depan akan terjadi 4 kali kenaikan suku bunga yang sama, Greenback bergerak melejit nilai apresiasinya terhadap major currencies. Meskipun pihak berwenang dari BoE diperkirakan akan menjadi bank sentral kedua yang menaikkan suku bunga setelah era krisis keuangan.

Namun meski demikian, para pelaku pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga belum terjadi sebelum akhir 2016, atau bahkan diundur hingga awal 2017. Apalagi data pekan ini menunjukkan laju inflasi masih dekat level nol sementara pertumbuhan upah yang melambat redakan tekanan bagi pihak BoE untuk menaikkan suku bunga.

Minouche Shafik, Deputi Gubernur BoE, telah menyatakan bahwa kebutuhan BoE untuk menaikkan suku bunga tidak begitu mendesak seperti hal nya kondisi dari The Fed. Selain itu suku bunga BoE di level rekor rendah 0.5 % tidak mewakili kisaran rendah suku bunga acuan. Minouche Shafik juga telah menegaskan bahwa Bank Of England akan berupaya mengambil pelajaran dari keputusan The Fed.

Gerak nilai apresiasi mata uang China, yaitu mata uang Yuan, dilaporkan bergerak menguat untuk kedua harinya. Hal tersebut terjadi, seiring langkah People Bank of China (PBoC) menaikkan nilai fixing untuk pertama kalinya dalam 2 pekan.

Hal tersebut dilakukan di tengah spekulasi para pelaku pasar bahwa China akan menepis spsekulasi depresiasi satu arah. PBoC tidak akan menyingkir dari intervensi penuh atau mentolerir pelemhan berlebih pada gerak nilai apresiasi mata uang Yuan, seiring adanya aliran modal keluar, demikian menurut pandangan dari salah satu strategis. Pelemahan gerak nilai apresiasi mata uang China dalam 2 pekan terakir tersebut, adalah hanya merupakan sebuah fenomena pasar yang disebabkan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve, demikian menurut Xinhua News Agency.

Gerak nilai apresiasi mata uang Yuan menguat sebanayk 0.03% menuju kisaran level 6.4798 di Shanghai, demikian menurut China Foreign Exchange Trade System. Gerak nilai apresiasi mata uang Yuan spot offshore di Hong Kong menguat sebesar 0.11% menjadi 6.5496. Pihak berwenang PBOC menaikkan batas fixing untuk yuan onshore sebanyak 0.09% menjadi 6.4753, setelah menuruntkannyan sebanyak 1.5% dalam 10 hari. Menurut strategis, kemungkinan PBOC menginginkan yuan untuk berfluktuasi, bukan melemah.

Federal Reserve Amerika kemungkinan akan kembali menaikkan suku bunga dalam 3 bulan ke depan, demikian menurut dua pertiga ekonom yang disurvey oleh Reuters. Meskipun pembuat kebijakan telah mensinyalkan jika suku bunga tidak akan meningkat secara cepat pada tahun depan. Sebanyak 77 dari 120 ekonom dalam jajak pendapat yang digelar Reuters beberapa hari setelah pengumuman keputusan kebijakan suku bunga The Fed mengatakan kenaikan suku bunga berikutnya akan terjadi pada bulan Maret. Sedangkan sisanya memperkirakan kenaikan akan dilakukan pada kuartal ke-2 tahun depan.

Pada 16 November lalu, The Fed telah memutuskan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade, seiring keyakinan bahwa ekonomi Amerika akan mampu mengatasi biaya pinjaman yang lebih tinggi setelah bertahun-tahun ditopang oleh stimulus dan suku bunga mendekati nol. Namun Janet Yellen, yang memimpin penentuan suku bunga Federal Open Market Committee (FOMC), menegaskan bahwa kenaikan selanjutnya akan dilakukan secara bertahap. Mengingat prospek inflasi dan harga minyak yang lemah, penguatan Greenback yang melukai produsen Amerika, dan kerapuhan ekonomi global, the Fed mungkin harus berhati-hati dalam menaikkan suku bunga di masa mendatang.

Telah dilaporkan bahwa gerak nilai harga di bursa Wall Stret terkoreksi dan bergerak anjlok tajam pada sesi perdagangan pasar Amerika di hari Jumat minggu lalu, Hal tersebut terjadi, seiring langkah dari para pelaku pasar yang mempertimbangkan penurunan gerak nilai harga harga minyak dan data ekonomi pasca kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. Berakhirnya kontrak options juga turut menambah volatilitas pada bursa saham. Dengan penurunan pada hari Jumat, indeks saham utama Amerika menghapus penguatan pekan ini.

Gerak nilai harga indeks saham Dow Jones dilaporkan telah ditutup secara melemah sekitar 370 poim seiring aksi jual yang bertambah deras menjelang penutupan. Hampir semua komponen melemah dipimpin oleh Boeing dan Goldman Sachs. Gerak nilai harga saham Disney tumbang untuk ditutup melemah hampir sebanyak 4% pasca BTIG menurunkan rating sahamnya menjadi “sell” dari “neutral.”

Gerak nilai harga indeks saham S&P 500 dilaporkan bergerak melemah lebih dari 1.5%, dipimpin oleh saham sektor keuangan yang anjlok sebanyak 2.5%. Nasdaq melemah sekitar 1.6% untuk ditutup di bawah level psikologis 5,000. Gerak nilai harga saham Apple ditutup melemah sekitar 2.8%.

Gerak nilai harga minyak mentah Amerika untuk kontrak bulan Februari ditutup turun di kisaran $35.80 per barel. Baker Hughes mengatakan jumlah rig minyak naik sebanyak 17, pasca penurunan selama 4 pekan berturut-turut. Analis juga mengatakan bursa saham mendapat tekanan turun dari penurunan indeks PMI sektor jasa Amerika oleh Markit untuk bulan Desember menjadi 53.7 dari 56.1 di bulan November, dan merupakan angka terendah dalam 12 bulan.

Jeffrey Lacker, Presiden The Fed bagian Richmond, mengatakan bahwa kenaikan suku bunga the Fed menunjukkan seberapa jauh perekonomian Amerika telah membaik. Ia menambahkan bahwa divergen kebijakan oleh para bank sentral bukanlah sesuatu yang harus dicemaskan. Dirinya juga mengatakan bahwa proyeksi The Fed yang mensinyalkan kenaikan suku bunga sebanyak 4 kali di tahun 2016 menunjukkan apa yang dimaksud oleh The Fed saat mengatakan bank sentral mengantisipasi kenaikan suku bunga dengan laju yang bertahap.

Gerak nilai harga minyak mentah berbalik melemah setelah data menunjukkan adanya peningkatan jumlah rig minyak yang aktif di Amerika untuk pertama kalinya dalam 5-pekan. Dilaporkan bahwa, gerak nilai harga minyak mentah berakhir turun $0.28 atau 0,8% di level $34.55 US/ barel.

Gerak nilai harga minyak mentah bertahan di dekat level terendah lebih dari 6-tahun dan membukukan kerugian mingguan di tengah kecemasan investor akan tingginya suplai minyak Amerika serta potensi berkurangnya permintaan produk energi dalam musim dingin yang lebih hangat. Dalam laporan terbaru yang dikeluarkan perusahaan oil service Baker Hughes, perusahaan energi Amerika menambahkan 17 rig minyak dalam sepekan yang berakhir tanggal 18 Desember dan total jumlah rig minyak yang aktif menjadi 541 rig. Volume perdagangan yang tipis juga berkontribusi dalam volatilitas harga yang sempat menguat di awal sesi.

Negara Rusia, pada hari Jumat lalu mengatakan tidak mempertimbangkan untuk berkoordinasi dengan anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) terkait kebijakan produsi, lapor Reuters. Pernyataan ini berbeda dari sinyal yang dikeluarkannya sebelumnya terkait kesediaannya untuk memangkas produksi minyaknya untuk membantu menaikkan harga. Negara Rusia adalah merupakan negara produsen minyak terbesar kedua dunia setelah Amerika.

About author

You might also like

Komoditas 0 Comments

Pengunduran Summers Dan Perkiraan Langkah The Fed Imbas Pasar, Emas Sempat Rebound Setelah Koreksi

BursaBerjangka emas pada awal perdagangan minggu ini mengalami kenaikannya lagi setelah berita pengunduran diri Lawrence Summers dari pencalonan menjadi kepala bank sentral Amerika pengganti Ben Bernanke pada akhir pekan kemarin.

Komoditas 0 Comments

Pihak Yunani Akhirnya Menyerah Default, Apresiasi USD Bergairah

Pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Rabu (01/ 07/ 2015) pagi ini, dilaporkan bahwa gerak harga emas spot telah bergerak dan mengalami rebound. Gerak harga emas spot sempat diperdagangkan

Aussie Respon Positif RBA, NFP Ditunggu Pasar

Gerak harga emas ditutup sedikit lebih tinggi selama sesi perdagangan pasar hari Kamis semalam (06/ 08/ 2015), namun masih dalam kisaran yang sempit, diperdagangkan dengan penuh kehati-hatian jelang data puncak

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image