Komoditas Minyak Anjlok Lagi, RBA Tahan Kebijakan

d13340735992d9b3832a19714fe75461-6-1386x769Dilaporkan bahwa, langkah kebijakan telah diambil oleh Revese Bank of Australia (RBA) dalam rangka untuk menyikapi kondisi perekonomian saat ini. Bank sentral Australia tealh mempertahankan proyeksinya bahwa laju pertumbuhan akan berakselarasi merespon kebijakan yang longgar. Langkah tersebut diambil, meski tetap berresiko pada mitra dagang utamanya yaitu China yang telah meredupkan outlook perekonomian regional.

Dilaporkan bahwa pihak berwenang RBA telah memangkas proyeksi inflasi untuk tahun hingga Juni 2016. Pihak berwenang RBA juga telah memangkas proyeksi pertumbuhan tahun 2017 dalam pernyataan kebijakan moneter kuartalan hari Jumat. Meski demikian, namun RBA masih mempertahankan sebagian besar estimasi lainnya. Pihak berwenang RBA mengatakan bahwa, mereka mengantisipasi akselarasi pada laju pertumbuhan pendapatan dan permintaan konsumen.

Kondisi tersebut ditopang oleh meningkatnya tingkat tenaga kerja, rendahnya suku bunga, dan penurunan harga bensin, demikian yang diucapkan oleh pihak berwenang RBA. Outlook pertumbuhan China merupakan ketidakpastian besar bagi outlook perekonomian Australia, tambahnya.

Negara Australia diuntungkan dari pelemahan gerak nilai apresiasi mata uangnya, yang lazim disebut dengan istilah Aussie. Pelemahan gerak nilai apresiasi Aussie telah membantu memulihan perekonomian dari gejolak pada pasar asing dan meningkatkan daya saing industri lokal.

Hal tersebut terjadi, di mana Eropa dan Jepang sedang kesulitan dengan mata uang mereka. Pihak berwenang dari RBA mempertahankan suku bunga pada rekor rendah 2% untuk ke-9 bulannya pada hari Selasa lalu, seiring mempertimbangkan dampak gejolak pada pasar keuangan belakangan ini terhadap laju pertumbuhan global dan domestik. Para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang lebih dari 80% RBA akan memangkas suku bunga dalam waktu 6 bulan kedepan.

Gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, dilaporkan tengah bergerak menuju penguatan mingguan terbesar terhadap mata uang USD dalam lebih dari 6 tahun. Kondisi tersebut terjadi, seiring kecemasan para pelaku pasar atas gerak laju pertumbuhan global dan keraguan mengenai kenaikan suku bunga di Amerika tahun.

Kondisi tersebut menutupi dampak dari pengadopsian suku bunga negatif oleh Jepang. Gerak nilai apresiasi mata uang Yen telah menghapus pelemahannya terhadap Greenback pada sesi perdagangan pasar di pekan lalu saat Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mengenakan biaya pada simpanan berlebih dari bank-bank di bank sentral.

Prospek kenaikan suku bunga di Amerika mulai memudar seiring spekulasi bahwa Federal Reserve tidak dapat mengetatkan kebijakan moneter lebih lanjut di tengah perlambatan global. Data tenaga kerja Amerika pada hari Jumat dan laporan mengenai cadangan devisa China akhir pekan ini akan membantu menentukan tingkat permintaan safe haven dalam jangka pendek.

Dilaporkan juga bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Uni Eropa, yaitu mata uang Euro, telah menuju gerak penguatan nilai apresiasi mingguan yang terbesar sejak tahun 2011 lalu. Adanya sentimen risk-aversion yang berdampak pada mata uang Yen dan mata uang Euro dapat terus menguat jika data tenaga kerja Amerika terilis dengan kondisi hasil negatif.

Selain itu juga, yang turut mendukung gerka nilai apresiasi mata uang Yen dan mata uang Euro adalah, hasil rilis laporan cadangan devisi China mengecil, demikian menurut ekonom. Pihak berwenang dari BoJ tidak dapat menghentikan sentimen tersebut tanpa koordinasi dengan bank sentral lain, demikian tambahnya.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga di bursa saham Tokyo kembali terkoreksi. Gerak nilai harga saham di bursa Tokyo telah bergerak melemah anjlok untuk keempat harinya, menuju gerak pelemahan mingguan. Kondisi tersebut telah menghapus hasil gerak penguatan setelah adanya dorongan stimulus dari BoJ.

Gerak nilai harga saham perusahaan di sektor eksportir bergerak melemah, anjlok seiring rally pada apresiasi mata uang Yen. Gerak nilai apresiasi mata uang Yen diperdagangkan pada kisaran 116.88, menuju penguatan mingguan terbesar dalam lebih dari 7 tahun. Gerak nilai harga di indeks saham Nikkei 225 dilaporkan bergerka melemah 1.5% menuju kisaran 16,791.56.

Gerak nilai harga saham produsen otomotif dilaporkan telah bergerak melemah anjlok. Gerak nilai harga saham perusahaan Mazda Motor Corp. dilaporkan melemah anjlok sekitar 5%. Kondisi tersebut terjadi, setelah pihak perusahaan Mazda Motor Corp. melaporkan adanya penurunan pada pendapatan bersih.

Gerak nila harga saham perusahaan Nissan Motor Co. turut pula anjlok sebanyak 3.8%. Untuk gerak nilai harga saham perusahaan Toyota Motor Corp. dilaporkan bergerak melemah sekitar 2.8% menjelang rilis laporan earningsnya.

Gerak nilai harga saham di sektor perbankan dilaporkan bergerak melemah anjlok, setelah perusahaan Citigroup Inc. memangkas rating 3 sebagai bank terbesar di Jepang. Perusahaan Mitsubishi UFJ Financial Group Inc., Sumitomo Mitsui Financial Group Inc. dan Mizuho Financial Group Inc., kesemuanya anjlok setidaknya 2.8%, memperdalam penurunan menjadi lebih dari 10% semenjak BOJ memperkenalkan tingkat suku bunga negatif sepekan lalu.

Gerak nilai harga saham perusahaan Toshiba Corp. dilaporkan bergerak melemah anjlok sekitar 14% ke level rendah 36-tahun. Kondisi terseut terjadi, setelah memperlebar outlook kerugian menjadi 710 milyar Yen atau sekitar $6 milyar US. Hal tersebut terjadi, seiring grup industri tersebut meneruskan restrukturisasi pasca skandal akunting.

Gerak nilai harga saham perusahaan Sharp Corp. bergerak positif, dengan menguat sekitar 8.8%. Gerak nilai harga perusahaan Sharp Corp. telah memperpanjang gerak rally sebesar 17% pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis. Kondisi tersebut terjadi, setelah perusahaan Foxconn Technology Group mengatakan pertemuannya dengan produsen elektronik tersebut terkait proposal bailout.

Gerak nilai harga komoditas minyak dilaporkan terkoreksi, berbalik melemah sekitar 1,7% dalam sesi volatile pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis. Kondisi tersebut terjadi, seiring keraguan atas potensi pemangkasan output oleh produsen besar meredam dukungan yang datang dari pelemahan mata uang USD.

Spekulasi tentang kemungkinan pembicaraan antara Organization of the Petroleum Exporting Countries dan produsen minyak lain untuk memangkas produksi telah memicu volatilitas di pasar minyak. Seperti yang dikutip dari seorang pejabat Iran, Tehran telah menyatakan dukungan terhadap wacana pertemuan tersebut. Yang meningkatkan harapan bahwa mereka juga mungkin akan turut andil dalam menopang harga minyak, yang telah berada di dekat level terendah sejak tahun 2003.

Sementara Menteri Perminyakan Venezuela, Eulogio del Pino, mengatakan jika pertemuan dengan Qatar, yang menjabat kepresidenan OPEC untuk tahun 2016, telah berjalan dengan “baik dan produktif”. Selanjutnya Del Pino dijadwalkan untuk bertemu Menteri Perminyakan Saudi, Ali al-Naimi, pada hari Minggu mendatang sebagai bagian dari tur untuk melobi langkah-langkah mengatasi penurunan harga.

Namun sejauh ini belum ada satupun anggota OPEC dari negara-negara Teluk, termasuk eksportir top Arab Saudi, yang secara terbuka mendukung seruan untuk menggelar pertemuan darurat.

Para pelaku pasar tengah menantikan data non-farm payrolls Amerika di sesi perdagangan pasar Amerika di hari Jumat. Data tersebut akan dirilis, setelah data pesanan pabrik menunjukkan penuruan di bulan Desember.

About author

You might also like

Forex News 0 Comments

Rupiah Kembali Terpukul oleh Penguatan Dollar

US Dollar kembali menguat terhadap Rupiah dan beberapa mata uang lainnya. USD/IDR melewati resistance tengah 20-hari Bollinger di level 13.060 setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS). Indeks Dollar menguat

Forex News 0 Comments

Aussie Terperosok Setelah Pernyataan RBA

Setelah melambung hingga nyaris ke level $0.9300, dollar Australia atau Aussie kemudian langsung terkoreksi tajam tidak lama setelah Bank Sentral Australia (RBA) kembali memutuskan suku bunga unchanged pada 2.5%. Koreksi

Pasar Amerika dan Kanada Libur, Yen dan Emas Tampak Merangkak

Pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Rabu(11/ 11/ 2015) ini, gerak nilai apresiasi mata uang Jepang, yaitu mata uang Yen, terhadap Greenback, dilaporkan kembali berhasil menekan balik. Gerak nilai

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image