Major Currencies Menggeliat Setelah Natal, Laporan Industri China Turun

Untitled-1Gerak nilai apresiasi mata uang Inggris, yaitu mata uang Poundsterling, dilaporkan telah membukukan catatan gerak penguatan mingguan. Gerak nilai apresiasi mata uang Sterling telah bergerak menjauhi level terendah dalam kurun waktu delapan bulan.

Gerak rebound nilai apresiasi dari mata uang Inggris ini, kemungkinan akan bisa untuk berlanjut pada sesi perdagangan pasar di hari Senin ini. Hal tersebut memungkinkan, karena gerak nilai apresiasi mata uang USD tampak tengah menunjukkan gerak pelemahan. Gerak pelemahan niali apresiasi Greenback terjadi, meskipun hasil rilis data klaim tunjangan pengangguran mingguan Amerika telah diirlis lebih baik dari ekspektasi pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis lalu. Federal Reserve Amerika diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga pada bulan Maret 2016 mendatang.

Gerak nilai apresiasi Sterling sebelumnya terkoreksi kuat, merosot hingga menyentuh level terendah dalam kurun waktu delapan bulan. Hal tersebut terjadi, setelah para ekonom mengatakan bahwa pihak berwenang Bank of England (BoE) paling cepat akan menaikkan suku bunga pada bulan Mei di tahun depan. Para pelaku pasar perdagangan di sektor finansial bahkan lebih pesimis dengan memperkirakan kenaiklan suku bunga di Inggris baru akan terjadi pada akhir 2016 atau awal 2017.

Negara Inggris juga tengah menghadapi risiko “Brexit”. Yaitu kondisi dimana hasil polling menunjukkan jumlah warga yang ingin Inggris keluar dari Uni Eropa mulai berimbang dengan yang ingin bertahan. Dalam kurun waktu dua pekan lalu volatilitas Sterling meningkat ke level tertinggi sejak Mei. Kondisi tersebut terjadi, setelah David Cameron, Perdana Mentri Inggris, mengatakan ada “momentum” untuk mencapai kesepakatan mengenai keanggotaan Inggris di Uni Eropa pada pertemuan para pemimpinnya 18 - 19 Februari mendatang.

Gerak nilai apresiasi mata uang Australia, yang lazim disebut dengan Aussie, dilaporkan telah bergerak menguat. Penguatan gerak nilai apresiasi mata uang Aussie tersebut terjadi, akibat dari adanya gerak rebound dari nilai harga komoditas bijih besi.

Gerak nilai harga komoditas bijih besi telah menyentuh level terendah 7 tahun yaitu senilai $38,30 US/ ton pada 11 Desember lalu. Hal tersebut turut berimbas terhadap gerak nilai apresiasi mata uang Aussie. Pulihnya gerak nilai harga komoditas ekspor utama dari Australia tersebut, kiranya akan mampu untuk bisa memberikan dorongan penguatan naik bagi gerak nilai apresiasi Aussie yang baru membukukan penguatan mingguan pertama dalam tiga pekan terakhir.

Gerak nilai harga komoditas bijih besi dilaporkan telah terkoreksi kuat, bergerak melemah pada sesi perdaganag pasar di hari Jumat minggu lalu. Meski demikian, namun gerak nilai harga komoditas bijih besi telah berhasil mencatatkan gerak nilai penguatan dalam kurun waktu dua pekan beruntun.

Kondisi tersebut terjadi, setelah mendapat sentimen positif dari tanda-tanda berkurangnya supply di China, yang merupakan konsumen utama bijih besi. Dilaporkan bahwa nilai kontrak komoditas bijih besi di Dalian Commodity Exchange bulan Mei, bergerak melemah sekitar 0,3% sehingga menjadi 304,5 Yuan atau sekitar $47,06 US/ ton, namun mencatat penguatan 2,4% dalam sepekan.

Meski demikian, penguatan gerak nilai harga komoditas bijih besi tersebut, diperkirakan hanya akan berlangsung sementara. Hal tersebut diasumsikan karena, mengacu pada hasil polling terbaru dari Reuters menunjukkan rata-rata gerak nilai harga bijih besi di 2016 adalah sekitar $47 US/ ton dan sekitar $45 US/ ton di 2017. Angka tersebut lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yaitu sekitar $50 US/ ton di 2016 dan 2017. Negara Australia sendiri telah menurunkan proyeksi dari gerak nilai harga komoditas bijih besi 2016 menjadi $40,40 US/ ton, dari proyeksi sebelumnya yaitu sekitar $50 US/ ton.

Gerak nilai harga di bursa Wall Street dilaporkan ditutup mixed pada sesi perdagangan pasar yang singkat pada menjelang Natal lalu. Meski demikian, namun gerak nilai harga di bursa Wall Street telah sukses mempertahankan sebagian besar perolehan keuntungan selama sepekan.

Hal tersebut karena dipicu oleh gerak rebound dari gerak nilai harga komoditas. Indeks utama Amerika rata-rata mengakhiri pekan dengan kenaikan 2,5%, yang menjadi kinerja mingguan terbaik sejak pekan yang berakhir 20 November. Sebelumnya, para pelaku pasar justru mengabaikan data yang menunjukkan klaim pengangguran mingguan turun menjadi 267.000 pada pekan lalu, yang mematahkan estimasi 270.000.

Gerak nilai harga indeks saham S&P500 dilaporkan telah ditutup sekitar 0,16% lebih rendah. Hal tersebut terjadi, seiring kemerosotan sektor energi yang telah turut menyeret semua sektor, terkecuali di sektor perawatan kesehatan.

Industri di sektor energi tampak masih menjadi fokus, setelah gerak nilai harga sahamnya tergelincir sekitar 0,5%, meskipun gerak nilai harga komoditas minyak mampu mencetak kenaikan dalam kurun waktu 3 hari beruntun. Dalam kurun waktu sepanjang tahun ini, industri sektor energi masih menjadi yang terburuk di ruang lingkup gerak nilai harga indeks saham S&P500, dengan tercatat telah kehilangan lebih dari 20% angka keuntungan.

Gerak nilai harga di Nasdaq Composite Indeks dilaporkan ditutup menguat tipis sekitar 0,05%. Kondisi tersebut terjadi, karena ditopang oleh kinerja positif dan menguatnya nilai harga saham- saham di sektor industr semikonduktor dan bioteknologi.

Gerak penurunan nilai harga saham perusahaan Chevron yang tercatat lebih dari 1%, serta melemahnya gerak nilai harga saham perusahaan Exxon Mobil, telah membebani gerak nilai harga indeks saham Dow Jones Industrial Average. Kondisi tersebut telah memaksa gerak nilai harga indeks saham Dow Jones ditutup 0,29% lebih rendah. Gerak nilai harga saham dari perusahaan Exxon Mobil dilaporkan melemah sebesar lebih dari 0,5%.

Dilaporkan bahwa nilai laba yang didapat oleh perusahaan industri China, tercatat turun sebesar 1.4% di bulan November dari setahun lalu. Kondisi tersebut telah menandai kondisi penurunan beruntun selama 6 bulan, demikian menurut data biro statistik pada hari Minggu.

Laporan hasil laba industri, yang mencakup perusahaan besar dengan pendapatan lebih dari 20 juta Yuan, atau sekitar $3.1 juta US, dari operasional utamanya. Nilai tersebut turun sekitar 1.9% dalam 11 bulan pertama tahun ini dibanding periode yang sama setahun lalu, demikian menurut laporan dari National Bureau of Statistics (NBS) pada situsnya. Nilai laba industri bulan November sedikit membaik dari bulan sebelumnya, di bulan Oktober nilai perolehan laba turun sebanyak 4.6% dari setahun lalu.

Laporan data perolehan laba industri bulan November sesuai dengan data output sebelumnya dan menunjukkan sinyal stabilisasi. Kondisi tersebut sejalan dengan data belakangan ini dari negara-negara di Asia, demikian menurut ekonom Commerzbank di Singapura. Ditambahkan pula bahwa, laporan data tersebut sedikit di atas ekspektasi pasar. Pihak NBS telah mengatakan bahwa hasil investasi untuk perusahaan industri di bulan November naik sebanyak 9.25 milyar Yuan atau sekitar $1.43 milyar US dari tahun sebelumnya. Kenaikan pada perolehan laba bulan November disebabkan oleh sektor manufaktur otomotif dan listrik, naik sebanyak 35% dan 51% dari setahun sebelumnya, membantu mengecilkan penurunan secara keseluruhan.

Gerak nilai harga minyak dilaporkan telah bergerak turun pada sesi perdagangan pasar Asia di hari Senin. Kondisi tersebut terjadi, setelah berakhirnya libur Natal akhir pekan lalu. Dilaporkan bahwa gerak nilai harga minyak jenis WTI masih mempertahankan premi terhadap kontrak Brent. Menurut para pelaku pasar, gerak nilai harga minyak secara umum masih lemah, sehingga trendnya masih turun, namun tetap harus waspada terhadap pergerakan tajam seiring rendahnya likuiditas di antara Natal dan Tahun Baru.

Perdagangan komoditas minyak Amerika, dlilaporkan tengah mengetat di bulan Desember. Hal tersebut terjadi, menyusul berkurangnya aktivitas pengeboran, suplai yang terlepas dari rekor tinggi serta prospek ekspor minyak mentah setelah dilarang selama 40 tahun. Bersamaan dengan itu, kondisi perdagangan komoditas minyak internasional masih kelebihan suplai. Kondisi tersebut terjadi, karena produsen seperti Rusia dan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), memproduksi minyak mentah 0.5 - 2 juta barel/ hari lebih banyak dari permintaan pasar.

Faktor lain penyebab kurang bergairahnya gerak perdagangan pasar, adalah karena laju ekonomi dari para negara maju dan berkembang, terutama di kawasan Asia, sedang melambat. Output industri Jepang dilaporkan bergerak melemah, turun sebanyak 1.0% di bulan November dari bulan sebelumnya, demikian menurut data pemerintah hari Senin. Hal tersebut telah menunjukkan bahwa melambatnya permintaan dari negar berkembang terus membayangi outlook perekonomian di negara Jepang.

About author

You might also like

Komoditas 0 Comments

Penguatan Harga Emas Diperkirakan Hanya Sementara, Pasar Masih Amati Fundamental

Harga emas tampak telah bisa bergerak menguat pada perdagangan hari ini (25/ 09/ 2013) meskipun dalam area gerak yang sempit. Pergerakan harga yang cukup fluktuatif di tengah kekhawatiran bahwa The

Berita 0 Comments

Aussie Teruskan Penguatan, Shanghai Tak Seirama Dengan Hang Seng

Gerak reli nilai apresiasi mata uang AUD/ USD yang tajam terjadi pada sesi perdagangan pasar di hari Rabu kemarin berlanjut pada hari Kamis (03/ 03/ 2016) ini. Dilaporkan bahwa gerak

Gerak Emas Cenderung Mix, Pelaku Pasar Tunggu NFP

Pada sesi hari Jumat (07/ 11/ 2014) ini, gerak harga emas merangkak lebih tinggi namun cenderung melemah. Pada hari sebelumnya, dilaporkan gerak harga emas melemah turun ke posisi terendah dalam