Minyak Masih Di Zona Lemah, Aussie Tekan Greenback

12548857_10153522796664825_8447338385842042303_nGerak nilai apresiasi Aussie dilaporkan tampak masih melanjutkan dominasinya terhadap Greenback di awal sesi perdagangan pasar di hari Jumat (04/ 11/ 2016) ini. Telah dilaporkan bahwa pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis kemarin, gerak nilai apresiasi mata uang AUD/ USD telah bergerak menguat dalam kurun waktu 5 hari beruntun.

Gerak nilai apresiasi mata uang AUD/ USD telah sempat mendekati level tertinggi dalam kurun waktu dua pecan terakhir. Gerak penguatan nilai apresiasi Aussie terjadi pada sesi perdagangan pasar Asia pagi ini terjadi, karena adanya laporan dari pihak berwenang Biro Statistik Australia.

Pihak berwenang Biro Statistik Australia melaporkan bahwa data rilis penjualan ritel Australia telah naik sekitar 0,6% di bulan September dari bulan Agustus. Hasil laporan tersebut, lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 0,4%. Hasil laporan data bulan Agustus juga direvisi naik menjadi 0,5% dari rilis sebelumnya yaitu sebesar 0,4%.

Dilaporkan juga bahwa, pihak berwenang dari Reserve Bank of Australia (RBA), telah mengeluarkan pernyataan kebijakan moneternya. Pernyataan dari pihak berwenang RBA tersebut, menunjukkan adanya optimisme akan perekonomian Austalia, meski juga menekankan penguatan gerak nilai apresiasi Aussie dapat menyulitkan transisi perekonomian.

Gerak nilai apresiasi mata uang AUD/ USD dilaporkan telah sempat diperdagangkan di kisaran level 0.7690. Gerak nilai apresiasi mata uang AUD/ USD sebelumnya telah sempat menyentuh level tertinggi harian yaitu di kisaran level 0.7696.

Gerak nilai harga di bursa saham Jepang, Nikkei, dilaporkan telah bergerak melemah tajam pada sesi perdagangan pasar di hari Jumat (04/ 10/ 2016) ini, dan telah berada di level terendah dua pekan di awal perdagangan hari ini. Hal tersebut terjadi, karena perhatian dari para pelaku pasar tengah tertuju pada hasil jajak pendapat pemilu Amerika yang akan berlangsung 8 November mendatang.

Hasil jajak pendapat menunjukkan keunggulan dari Hillary Clinton terhadap Donald Trump tampak jadi semakin menipis. Hal tersebut terjadi, setelah pihak FBI membuka kembali penyelidikan kasus email Clinton semasa menjabat sebagai Menlu Amerika.

Dampak dari kondisi tersebut menjadikan gerak nilai aset-aset safe haven menjadi menguat seiring mendekatnya waktu pemilu capres di Amerika. Gerak nilai apresiasi mata uang Yen yang dianggap sebagai salah satu aset safe haven tampak bergerak menguat terus dalam kurun waktu tiga hari terakhir hingga pada sesi perdagangan pasar di hari Kamis kemarin.

Gerak nilai apresiasi mata uang Yen dilaporkan telah sempat di perdagangkan di bawah kisaran level 103. Penguatan gerak nilai apresiasi mata uang Yen tersebut juga tentunya telah membebani pergerakan nilai harga di bursa saham Nikkei.

Dilaporkan bahwa gerak nilai harga spot Nikkei melemah sekitar 1,2% menjadi 16929,45. Gerak nilai harga indeks saham Nikkei Futures dilaporkan telah sempat diperdagangkan di kisaran level harga 16860.

Gerak nilai harga minyak mentah dilaporkan tampak masih dalam arus pelemahan. Hal tersebut terjadi, seiring dengan data peningkatan stok minyak mentah Amerika dan pesimisnya pasar terhadap kebijakan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).

Gerak nilai harga komoditas minyak mentah dilaporkan telah sempat diperdagangkan di kisaran level harga $44.65 US/ barel. Level harga support terdekat dari gerak nilai harga komoditas minyak mentah diasumsikan berada di kisaran level harga $44.30, dan level harga resisten terdekat berada di kisaran level harga $45.50 US/ barel.

Gerak reli pelemahan nilai harga minyak mentah masih dipengaruhi oleh hasil rilis data laporan stok minyak Amerika pada hari Rabu lalu. Stok minyak Amerika menunjukkan peningkatan hingga mencapai 14 juta barel di minggu lalu.

Meski demikian, namun gerak nilai harga komoditas minyak mentah telah sempat mendapatkan dorongan naik dari penyerangan terhadap jalur pipa milik Nigerian National Petroleum Corporation pada hari Rabu lalu. Dorongan lainnya juga datang dari adanyan pelemahan gerak nilai apresiasi dari mata uang USD. Tanpa mengabaikan faktor - faktor pendorong penguatan lainnya, pergerakan nilai harga komoditas minyak mentah saat ini mendapatkan pengaruh terbesar dari keputusan OPEC terkait kebijakan pembatasan tingkat produksi.

Proses kebijakan ini hingga saat ini masih belum menemukan titik terang. Hal tersebut terjadi, seiring dengan masih adanya beberapa anggota OPEC yang menolak untuk menyepakati kebijakan ini, sementara jadwal pertemuan OPEC selanjutnya untuk membahas kuota pembatasan tingkat produksi pada tanggal 30 November 2016 di Wina semakin dekat.

About author

You might also like

Berita 0 Comments

Euro Pertahankan Gain Meskipun Penjualan Retail Zona Euro Lemah

Euro pertahankan penguatannya terhadap dollar pada hari Rabu meskipun data menunjukkan penjualan retail zona Euro turun di bulan Februari, hentikan penguatan untuk bulan keempat beruntun. Biro statistik Uni Eropa, Eurostat,

Berita 0 Comments

Dollar AS Anjlok Tajam Paska Data Retail Sales

Dollar AS terkoreksi tajam paska rilis data retail sales yang melemah ke -0.6% jauh lebih buruk dibanding estimasi +0.3%. Alhasil pairing EURUSD meroket setelah sempat menyentuh level dibawah 1.0500 sehari

Berita 0 Comments

Poundsterling Kembali Coba Intai Level Tertinggi Sejak Agustus 2011

Mata uang poundsterling Inggris tampak masih berniat untuk melanjutkan pergerakan menguatnya terhadap dollar AS pada perdagangan Senin ini (30/12). Mata uang Inggris ini di sesi perdagangan Jumat mengalami lonjakan hingga

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image