Yen Sulit Koreksi, Jepang Dalam Kondisi Sulit

Yen Sulit Koreksi, Jepang Dalam Kondisi Sulit

20120828104614709Negara Jepang secara umum tertekan kondisi perekonomiannya saat ini. Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, sedang menghadapi situasi dilematis terkait kebijakan fiskal negara Jepang yang akan diambilnya. Wacana kenaikan pajak konsumsi sebanyak 10% tahun depan berpotensi gugur karena perekonomian negeri sakura masih belum pulih. Pemerintah sudah menaikkan pajak penjualan dari 5% menjadi 8% pada bulan April 2014, di mana efeknya benar-benar menghambat laju pertumbuhan nasional. GDP Jepang menciut 7.1% dibandingkan kuartal II 2013, seperti ditunjukkan oleh laporan pertumbuhan ekonomi hari Senin lalu (08/ 09/ 2014).

Menurut apa yang disampaikan oleh Yoichi Masuzoe, Gubernur Tokyo, pemerintah pusat sedang dihadapkan pada posisi sulit. Rencana kenaikan pajak konsumsi di tahun 2015 terkendala oleh perlambatan ekonomi dalam negeri. Apabila salah langkah dalam menentukan strategi fiskalnya, upaya perbaikan pos fiskal bisa berbuntut pada stagnasi perekonomian. Masuzoe kepada CNBC juga menyampaikan bahwa, nilai produk domestik bruto sedang turun. Jadi, wacana ini adalah keputusan yang sulit. “Saya rasa, Abe harus menaikkannya dan siap menghadapi segala kemungkinan,” tambah Masuzoe. Menurutnya, atas nama pemerintah Tokyo, perekonomian akan segera membaik terutama di tengah euforia Olimpiade yang akan digelar dalam 6 tahun ke depan. Tokyo optimis pesta olahraga antar negara ini bisa menaikkan gairah bisnis dan investasi di berbagai sektor ekonomi, khususnya di ibukota. Kalaupun ada kendala yang mungkin menghadang, tak lain yaitu kurangnya jumlah tenaga kerja untuk pembangunan fasilitas olahraga. Negara Jepang bahkan sempat berkeliaran di zona merah pada perdagangan hari Rabu (10/ 09/ 2014), terutama akibat terseret pasar Wall Street yang berakhir negatif semalam terkait kecemasan para pelaku pasar bahwa Federal Reserve Amerika akan menaikan suku bunga acuan lebih cepat dari perkiraan semula. Kalangan pelaku pasar di Wall Street melepas posisinya lantaran imbal hasil treasuri Amerika untuk luar negeri dan domestik meningkat tajam. Kenaikkan yield tersebut terjadi menyusul sebuah survei dari The Fed cabang San Francisco. Hasil survey tersebut mencatat bahwa ekspektasi kalangan pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga Amerika jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan para anggota The Fed itu sendiri. Survei tersebut menyiratkan bahwa para pelaku pasar mengharapkan The Fed dapat mempertahankan kebijakan moneternya ditengah spekulasi Bank Sentral Amerika yang hendak mempercepat stimulus lebih cepat dari yang diharapkan. Hal tersebut telah menunjukkan indikasi bahwa isu kenaikkan suku bunga, kini telah menjadi wacana di kalangan elite moneter pada bank sentral dalam setiap kali mengadakan rapat. Sehingga hal itu memperkuat dugaan bahwa kenaikkan suku bunga Amerika akan terealisasi lebih cepat dari jadwal semula. Namun demikian pelemahan apresiasi mata uang yen yang masih tertekan di atas kisaran level harga 106 per USD, mampu membatasi penurunan indeks saham Nikkei lebih dalam. Tercatat bahwa saham TDK Corp. dan Softbank Corp. masing-masing merosot sekitar 1.8%. Renesas Electronics Corp. dan Dentsu Inc. nilai sahamnya tergerus sekitar 1.7%. Sedangkan saham Kajima Corp. Melorot (-1.1%). Untuk saham Japan Display Inc. dan Sharp Corp. masing-masing terkoreksi 2% dan 0.9%. Sumitomo Metal Metal Mining Co. sahamnya juga anjlok hingga 4.8%. Hingga pukul 11.30 WIB, indeks utama Nikkei (N225) masih tercatat melemah (-0.13%) dan terkikis (-19.88) poin pada kisaran 15729.27. Sedangkan apresiasi mata uang USD/ JPY masih diperdagangkan pada kisaran level harga 106.32 setelah melemah hingga ke level harga 106.36.

Pelaku ekonomi kini bertanya-tanya, apakah perdana mentri Abe jadi menaikkan pajak konsumsi Oktober tahun depan. Selain itu, masih ada lagi masalah lebih besar yang dihadapi oleh pemerintah Jepang. Masalah tersebut adalah mengenai bsarnya jumlah hutang yang melambung tinggi hingga lebih dari dua kali lipat nilai perekonomiannya yang sebesar $5 triliun US. Pemasukan dari kenaikan pajak konsumsi akan bisa menutup berkurangnya pemasukan akibat pemberian keringanan pajak kepada perusahaan dari 40% menjadi 30%. Pemerintah berharap strategi berupa alokasi pajak ini mampu mengurangi beban hutang publik yang kian menumpuk.

About author

You might also like

USD Masih Perkasa, Kredit Perumahan Australia Tekan Aussie

Mata uang USD diperdagangkan menguat ke level tertinggi apresiasinya terhadap mata uang utama lainnya. Hal ini karena imbas serangkaian data ekonomi di minggu lalu, yang mendukung mata uang negeri Paman

Berita 0 Comments

Aussie Waspadai Kondisi Perekonomian Australia

Aussie melemah setelah publikasi data penjualan ritel dan neraca perdagangan Australia isyaratkan masih rapuhnya momentum pertumbuhan ekonomi negeri Kangguru tersebut. Penjualan ritel Australia hanya mencatatkan kenaikan 0,2% untuk bulan Februari;

Debat Capres Amerika Berimbas Di Pasar Global, Nikkei Terkoreksi Melemah

Dilaporkan bahwa gerak nilai apresiasi mata uang Yen telah bergerak melemah di sesi perdagangan pasar Asia pada hari Selasa. Hal tersebut terjadi, setelah gerak nilai apresiasi mata uang Yen sempat

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Reload Image